Lost Feeling

Lost Feeling
Pay


__ADS_3

Sorot lampu putih mulai tertuju pada dua kediaman yang berada di satu lingkup yang sama. Deruman mobil sport itu berjalan dengan gesit hingga lampu sorot  berwarna merah di bagian belakang mobil menyala saat memasuki basement yang berada di kedua Villa tersebut.


"Aku lelaaah~" keluhnya dengan wajah yang terlihat tak berdaya.


Ia meraih jasnya dan juga beberapa barangnya, termasuk beberapa makanan yang dia beli sebelum kembali ke rumah. Hyunjae adalah tipe yang hobi memerintah orang lain, padahal perintahnya itu untuk masalah pribadinya sendiri.


Namun, Lazel mencoba untuk tetap membelinya. Lagipula pria berwajah tampan setengah suram itu sudah mendapatkan kesalah pahaman besar terhadap dirinya dan juga Gyuu.


Rambut perak panjangnya terikat ke belakang, saat ini penampilannya masih luar biasa seperti sebelumnya.


Pintu merah itu terangkat ke atas lalu Lazel melangkahkan kakinya dengan high heels yang tidak begitu tinggi.


Suara ketukan langkahnya menggema di seisi ruangan itu yang terdapat dengan beberapa kendaraan mewah.


...◇• •◇...


"Aku pulang~" ucapnya dengan nada yang datar.


Saat mulai masuk ke Ruang Tengah, seperti biasa, ia selalu menemukan satu orang yang sudah bersantai di atas sofa bersama dengan kucing peraknya.


Perlahan ia berjalan menuju meja dan meletakkan bawaannya.


"Hyunjae, makanlah. Aku baru saja-"


"Hm~ ternyata kau ingat untuk pulang." Sahut Hyunjae yang tidak bergerak dari posisinya.


"????"


"Kupikir kau tidak akan pulang."


Lazel meletakkan semua barangnya dan mulai menatap Hyunjae dengan konsentrasinya, "kau... marah?" Ujarnya dengan raut wajah yang berubah.


"T-Tidak!"


"Apa dia benar-benar marah?" tutur Lazel dalam hati. "Aku baru saja pergi ke rumah Ian, sudah lama aku tidak melihat dirinya."


"Hm~"


Sepertinya Lazel cukup kelelahan untuk meladeni Hyunjae dalam berdebat, untuk sementara ia akan membiarkan pria itu melakukan apa yang dia inginkan.


Ia tidak mengucapkan sepatah kata apapun lagi dan pergi begitu saja menuju lantai atas.


"Oh, apa yang kau pikirkan saat aku bersama dengan Gyuu, itu bukan seperti hubunganmu dengan para wanita di luar sana." Ujar Lazel yang saat ini berada di tengah-tengah tangga.


Pria berambut hitam itu spontan menoleh dengan alis yang tertekuk, "hah?!-"


"Aku tidak peduli tentang tanggapan yang kau berikan, hanya itu yang bisa ku beritahu." Selanya.


...◇• •◇...


Amplop merah itu saat ini berada di tangannya, meskipun ada sedikit perasaan bimbang pada hari esok, namun Lazel akan tetap menemui Ian sebagai Wali. Lagipula besok adalah hari kelulusan Adik satu-satunya yang dia miliki, tentu saja menjadi hal yang membahagiakan dibandingkan apapun.


Kalung perak itu menggantung tepat di depan bra nya yang berwarna merah gelap. Saat ini ia menginginkan suasana yang dulu, dimana tidak ada orang sehingga ia bisa mengenakan apapun.


Drrt!


Lazel mengangkat panggilan itu dalam penampilan sexy nya, "ada apa?"


^^^"..............."^^^


"Tidak, aku tidak akan hadir besok." Tangannya membuang amplop merah itu pada sebuah tempat sampah yang tak jauh darinya.


^^^"..............."^^^


"Ya, aku akan mengurusnya."

__ADS_1


Baru saja Lazel medapatkan panggilan dari Byul mengenai hari esok, dan Lazel sudah memberikan jawabannya, jika dirinya tidak menghadiri pertemuan besok.


"Ngomong-ngomong... aku sangat kesal pada pria i-" ucapannya terputus, dan seketika ia berdiri dari duduknya. "Tunggu~ tunggu~ bukankah ada sesuatu yang ku lupakan?"


"Y-Ya mengenai permintaan apa sajanya itu," seketika wajahnya berseri bangga dan merasa hebat dalam hal apapun. Kedua tangannya memegang kedua sisi pinggangnya dan memberikan ekspresi sombong. "Hahaha! Dengan begini aku tidak per-"


"TIDAAAK! Aku tidak bisa seperti ini! Jika pria itu marah semuanya akan sulit berjalan sesuai rencana!"


"Lagipula aku sudah berniat untuk tidak mencari pertengkaran dengannya hingga urusanku selesai."


Saat ini permasalahan besarnya datang begitu saja. Seharusnya hal ini menjadi mudah karena Hyunjae tidak akan mengingat kesepakatan mereka. Tapi... saat giliran Lazel yang harus menggali kuburannya sendiri.


Ia meraih pakaiannya lalu mengenakannya sehingga menutupi seluruh permukaan sexy yang dia miliki. Dengan langkah yang begitu lemah gemulai, mau tak mau ia harus melakukannya.


Saat tiba di depan pintu, seketika niatnya menghilang dan justru menghantupkan dahinya pada pintu.


"Tidak! Itu mustahil untuk wanita bernama Lazel sepertiku!"


...◇• •◇...


Seorang wanita dengan kaos hitam itu baru saja menuruni anak tangga dengan rambut perak yang terikat biasa ke belakang.


"Kau tidak memakannya?" Tanya Lazel yang baru saja tiba di Ruang Tengah dengan ponsel yang berada di genggamannya.


"Aku sudah makan bersama dengan Hyunji." Jawab Hyunjae yang masih bersantai di tempat yang sama.


Kepalanya menoleh dengan cepat, "benarkah?! Kalau begitu aku akan mengambilnya kem-"


Sebuah kaki baru saja menghalangi tangannya untuk meraih makanan tersebut.


"Huh?" Lazel mengangkat wajahnya dan menatap Hyunjae dengan tatapan mautnya, "apa kau ingin mencari ribut denganku?" Ancamnya dengan raut wajah yang menantang.


"Kau sudah memberikannya padaku, dan kau ingin mengambilnya kembali? Apa kau punya hati?" Tutur Hyunjae dengan kaki yang menghusir Lazel dari tumpukkan makanan itu.


"!!!!" Bagai panah api yang menembus jantung dan hati secara bersamaan. Belum lagi sebuah kaki yang begitu mudahnya melayang di hadapannya, "bukankah kau baru saja makan dengan Kak Hyunji?" Kini Lazel menepis kaki itu dari hadapannya.


"Jika kau sudah makan, lebih baik ini semua untukku saja! Tidak baik membuang makanan!"


"Hah?? Siapa yang akan membuangnya?"


"Tentu saja kau! Kau sudah menolak makanan enak ini!"


"Sejak kapan aku menolaknya? Bukankah aku hanya mengatakan padamu jika aku sudah makan malam dengan Hyunji?"


"..............." untuk sesaat Lazel tidak mengatakan apapun dan mengoreksi serta mengingat kembali perdebatan yang mereka lontarkan. "Hm." Angguknya dengan wajah serius.


"Hanya anggukan?! Kau ini menyebalkan sekali!"


"Sialan! Aku tidak akan membalas mulutmu itu karena pada awalnya aku lah yang salah." Batin Lazel yang mencoba menahan rasa malu dan juga rasa kesalnya karena harus menerima kesalahannya.


Kini Lazel duduk di atas lantai dengan alas lembut yang mengelillingi sekitar sofa.


"Kemarilah." Ujar Hyunjae yang meletakkan ponselnya begitu saja dan mulai berbicara pada Lazel.


"Ada apa? Bukankah kau masih marah?" Tukasnya dengan wajah yang menyeramkan.


Hyunjae sedikit mengehela nafas dan sekilas melihat Lazel yang kembali menunduk sambil bergumam, "sepertinya dia yang lebih marah dibandingkan diriku," ucap Hyunjae dalam hatinya. "Tidaak, aku tidak marah sama sekali." Ucapnya santai.


"Benarkah? Lalu mengapa makanan ini tidak boleh untukku?" Sindirnya pada setumpuk makanan lezat yang berada di atas meja.


"Kau masih membahas makanan?" Hyunjae tidak menyangka jika Lazel belum melepaskan rasa kesal pada kekalahannya


"Kenapa? Kau tidak suka?" Ucapnya kesal.


"Ada sesuatu yang lebih penting, kemarilah." Ujar Hyunjae yang mengambil posisi nyaman sambil menepuk kedua pahanya.

__ADS_1


"????" Lazel yang tidak memahaminya langsung mengeluarkan ekspresi wajah yang kebingungan.


...◇• •◇...


"Kau... cemburu bukan?"


"!!!!" Mendengar perkataan seperti itu dari Saudaranya sendiri membuat wajahnya memerah.


"Sudah kuduga." Ujar Hyunji dengan menepukkan kedua tangannya sebagai tanda kepastian.


"C-Cemburu?"


"Sudah hal yang wajar jika kau menyukai seseorang akan merasa cemburu jika dia dekat dengan orang lain, apalagi sampai harus membuatmu salah paham."


Hyunjae memperhatikan wajah Hyunji dengan teliti, "aku cukup terkesan dengan pencerahan darimu, tapi entah mengapa kau belum menikah hingga-"


"Apa kau ingin ku siram dengan kopi panas?" Sela Hyunji yang sudah mengambil ancang-ancang.


"Tidak tidak." Gelengnya kuat.


"Bukankah sudah ku katakan sebelumnya, jangan mudah salah paham atau percaya pada sesuatu yang tidak kau saksikan secara langsung."


"Tapi bagaimana jika Lazel benar-benar melakukannya?"


"Jika kau berpikir mengenai dirinya dengan pemikiranmu yang naif, apakah kau pernah berpikir juga bagaimana pendapatnya mengenai dirimu sendiri?"


"I-Itu..."


"Bahkan dia berulang kali melihatmu dengan perempuan yang berbeda-beda di setiap harinya,"


"Kau yang jarang menyentuh rumah dan lebih memilih untuk tinggal dengan berbagai macam perempuan di luar sana, apakah kau pernah mendengar komentar Lazel mengenai keburukan yang dia saksikan secaran langsung?"


...◇• •◇...


Pencerahan dari seorang Pendeta Cinta, yaitu Hyunji membuatnya sedikit sadar pada apa yang sudah dirinya perbuat. Menurut apa yang sudah dia alami, Lazel merupakan sosok wanita tanpa hati yang masih bingung bagaimana cara mengapresiasikan keadaan hatinya.


Terkadang tindakan di luar batas terjadi begitu saja tanpa dia sadari apa faktor tindakannya tersebut. Dan bencana apa yang bisa menyerangnya secara langsung.


Saat ini, untuk yang pertama kalinya ia merasakan panas di sekujur wajah yang mulai mengalir ke seluruh tubuhnya. Bahkan ia tidak mengetahui bagaimana ekspresinya saat ini dan bagaimana Hyunjae memandang wajahnya dalam jarak sedekat ini.


"Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Lazel dengan kedua tangan yang memegang sandaran sofa yang ada belakang kepala Hyunjae.


"Bukankah ini adalah tindakanmu sendiri saat mengancamku di dalam mobil?" Ujar Hyunjae yang menaikkan salah satu alisnya dengan bibir yang masih tertekuk.


"Tapi ini sungguh berbeda, dan bagaimana bisa kau masih mengingatnya?"


"..............." Hyunjae menyadari jika dua buah lengan yang berada di kedua sisi wajahnya itu terbentang sehingga memperlihatkan lengan yang mulus tanpa noda sedikit pun.


"Hei, apa kau mendengarku?" Kini Lazel mulai merasa kesal pada Hyunjae yang mengabaikannya.


"Jika saja saat itu kau bertindak lebih dari ini... aku sama sekali tidak bisa berpikir, apakah aku bisa mengontrol diriku? Ataukah kau sanggup menyingkirkanku?"


Sesungguhnya posisi mereka saat ini bisa saja membangkitkan gairah pada keduanya. Tapi... Lazel masih menganggap semuanya baik-baik saja meskipun detak jantungnya saat ini sama sekali tidak terkendali.


Hyunjae yang duduk dengan posisi biasa, bersama dengan Lazel yang berada di pangkuannya. Sungguh pemikiran di luar batas, bahkan Hyunjae sangat penasaran, bagaimana tanggapan yang akan diberikan Lazel padanya.


"Tetaplah seperti ini untuk sesaat."


Lazel mulai menggerakkan tangannya dan memegang kedua paha Hyunjae yang berada di bawah dudukannya, "apa kakimu baik-baik saja? Apa mereka tidak berat saat-"


"Jangan menyentuhku."


"B-Baik," ia langsung melepaskan kedua tangannya dan mulai merasa semakin aneh. "Ada apa dengannya? Dia terlihat sedikit..."


Kedua sorot mata yang terlihat sayu namun sangat tajam layaknya pedang, bersamaan dengan cahaya yang memantul pada iris abu-abu yang dia miliki.

__ADS_1


"Jangan bertindak apapun yang bisa membuatku akan menerkam dirimu." Ucapnya dengan suaranya yang berat.


"A-Apa..."


__ADS_2