Lost Feeling

Lost Feeling
Like Diamonds


__ADS_3

"Ian, aku akan tidur de-"


"Tidaaaaak, kau tidak boleh tidur denganku." Ia berusaha menjauhkan Kakaknya dari hadapannya.


"T-Tidak! Aku akan tetap tidur denganmu!" Ucap Lazel dengan keras kepala.


"Tidak boleh! Kembali ke kamarmu sana!" Ian berusaha mendorong Lazel dengan kakinya dan juga tangannya, tapi Kakaknya itu memiliki kekuatan yang tidak boleh diremehkan.


"Aku tidak-uwaa!"


"Ini tasmu, silahkan gunakan kamar ini sepuasnya." Hyunjae akhirnya kembali setelah membantu membawakan tas Ian ke dalam kamarnya dan menarik Lazel seperti sebelumnya.


"Lepaskan aku!" Layaknya anak kecil, tangannya terus meronta untuk dilepaskan.


"Kalau begitu beristirahatlah." Ujar Hyunjae sebelum meninggalkan kamar itu.


Setelah berusaha untuk menjauhkan Lazel dari Ian akhirnya mereka meninggalkan kamar tersebut.


Keduanya pun kembali ke kamar sebelumnya.


"Hah~ lepaskan saja dramamu itu jika Ian berada di dalam kamarnya." Ujar Hyunjae yang memasukan kedua tangannya ke dalam saku.


"Hah?" Wanita berambut perak itu menoleh.


"Huh?" Karena tindakannya, Hyunjae pun melakukan hal yang sama.


"Apanya?"


"Huh? Dramamu?"


"Drama? Apakah aku sedang melakukan drama?" Lazel semakin bingung dengan apa yang diucapkan Hyunjae padanya.


"Ternyata wanita ini memang banyak bertingkah di hadapan Adiknya sendiri." Batinnya.


...◇• •◇...


Ketika sampai di kamar mereka, kedua langkahnya terhenti dan memasang wajah datarnya seperti biasa. Ia sama sekali tidak ingin melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu.


Hyunjae sudah menduga jika hal itu akan terjadi, "biar ku luruskan satu hal, tidak ada satupun selain kau dan aku yang menempati kamar ini." Jelasnya.


"Cukup gesit bagimu untuk memindahkan semua barang milikku." Ucapnya yang mengarah pada koper merah, laptop dan juga benda-benda khas lainnya yang hanya dimiliki Lazel seorang.


"Dia mengalihkan pembicaraan." Batinnya.


Hyunjae memainkan ponselnya sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang, sedangakan Lazel tengah mencari sesuatu di dalam kopernya.


Ia menggenggam sebuah kain hitam dan berjalan mendekat ke arah Hyunjae, "keluarlah, aku akan berganti." Pintanya.


Kepalanya hanya terangkat, namun tubuhnya enggan bergerak, "hah?? Tidak mau, ranjang ini kesepian tanpaku." Balasnya dengan menggulingkan tubuhnya ke sisi lain.


Lazel mulai kesal pada tingkah Hyunjae, "apa kau ingin aku yang menghusirmu?" Ancamnya.


"Coba saja~" dari nadanya saja, ia tahu jika Hyunjae mencoba untuk membuatnya marah.


"..............." kedua iris pinknya itu menatapi sekitar lalu mendapatkan sesuatu yang menarik.


Kedua tangannya mengangkat benda tersebut dengan kuat dan mengambil ancang-ancang untuk ia lemparkan pada seseorang yang berhasil membuatnya kesal


BRUAK!


...◇• •◇...


"Apa terjadi sesuatu? Baru saja aku mendengar suara bantingan yang cukup kuat." Ian mengunjungi Ruang Tengah yang disana terdapat Hyunjae sedang mengelus punggungnya.


"Huh? Tidak, aku tidak mendengar apapun." Jawab Hyunjae.


Lampu-lampu di halaman sudah terang benderang karena hiasan cahaya. Air mancur yang terletak di tengah-tengah halaman juga terlihat cantik dengan cahaya biru muda yang menghiasi sekitar.


"Di mana Kak Lazel?" Tanya Ian yang ikut duduk di samping Hyunjae.


"Dia sedang mengganti pakaian." Jawabnya dengan kedua tatapan fokus pada layar ponselnya.


Kakinya melangkah senada dengan tangan kanannya memegang tangkai tangga, "hm~ apakah kita harus memesan sesuatu untuk makan malam?" Ujarnya.


"Hm?" Kedua pria itu sama-sama menoleh pada kedatangan Lazel yang sedang menuruni anak tangga.

__ADS_1


"Aku memang satu-satunya perempuan disini, tapi aku tidak pandai memasak." Setelah menuruni anak tangga ia mencoba untuk bergabung di Ruang Tengah.


Perasaannya menjadi aneh saat kedua pria itu terus menatapi dirinya semenjak turun dari tangga, "apa-apaan tatapan kalian itu." Ucapnya sambil mengambil posisi duduk secara perlahan.


"Apapun yang Kakak kenakan selalu tampil cantik." Ucap Ian dengan jujur.


"Hei, dari mananya Kakakmu terlihat cantik?"


"Hm? Bukankah dia memang terlihat seperti itu?"


Kakinya menyilang, dan tangan kanannya menompang dagunya, "hohoho~ tentu saja, Lazel Pietra tidak mungkin tidak cantik." Kini wajahnya terlihat seperti Penyihir.


"Dia tidak waras." Gumam Hyunjae.


"Hm." Angguk Ian.


"Baiklah anak-anak, apa yang akan kita makan malam ini?" Tanya Lazel yang sudah mempersiapkan ponselnya.


"Burger?" Ucap Ian.


"Pizza?" Ucap Hyunjae yang berbeda pendapat.


"Oke sepakat! Kita akan memesan ramen." Ujar Lazel yang langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa.


"..............." kedua pria itu terlihat sangat putus asa. "Kalau begitu apa gunanya bertanya?" Keduanya pun berpikir mengenai hal yang sama.


...◇• •◇...


Setelah menunggu beberapa menit untuk kedatangan pesanan mereka. Salah satu dari ketiga Manusia itu seperti tidak mendapatkan sebuah keadilan.


Tatapannya terus tertuju pada dua wajah kembar di sisi yang berbeda, "h-hei-"


"Iaaan! Ini milikmu!" Ujar Lazel yang menyerahkan beberapa bungkus burger ke hadapan Adiknya.


"Hahaha! Terima kasih~"


"Uuuuu~ kau sangat manis." Tangannya mencubit pipi Adiknya dengan geram.


Tatapannya mengarah pada setiap makanan yang ada di atas meja, "hanya ada ramen dan burger..." ucapnya dalam hati.


Seketika Hyunjae merasakan hawa-hawa yabg aneh mulai bertebaran.


Tatapan wanita itu sangat mengerikan, bahkan kebenciannya dan kekesalannya sangat terlihat jelas untuk Suaminya sendiri.


Sedangkan Hyunjae sangat mengerti dari semua perbuatan Lazel padanya, "dia sengaja... wanita ini pasti sengaja!!"


Makan malam mereka di penuhi dengan ramen dan juga burger kesukaan Ian. Apapun isinya Adiknya itu sangat menyukai daging, sama seperti Kakaknya.


"Hm~ Istriku makan begitu lahap."


"OHOOK!" Dalam hati ia tersedak, "apakah langka melihatku seperti ini?" Tanya Lazel yang berusaha tenang.


"Apa?! Apa lagi yang pria ini lakukan?!" Lazel mulai mengamati gerak-gerik serta tipuan murahan yang akan dilakukan Hyunjae.


Hyunjae menyipitkan kedua matanya dan menyanggah dagunya serta menatap Lazel dengan dalam, "haha~ bukankah kau selalu sibuk dengan pekerjaan? Sehingga melupakan diriku yang-"


"Kak, aku ingin menonton siaran favoritku di dalam kamar, aku hampir kehabisan atmosfer disini."


Lazel seketika termakan jebakan Hyunjae sehingga membuat Ian pergi bersama dengan makanannya, "I-Ian! Jangan tinggalkan Kakakmu ini bersama dengan Makhluk Pendosa seperti dia!"


Kepergian Ian membuat Hyunjae merasa menang atas taruhan yang ia berikan. Sedangkan Lazel merasa tersiksa karena sangat bodoh sehingga dirinya menanggapi semua ucapan Hyunjae tanpa berpikir jika itu semua adalah jebakan.


Karena jika ada Ian bersama mereka, kedua Manusia itu tidak akan bisa berdebat dengan bebas. Oleh karena itu Hyunjae menggunakan sebuah trik sehingga Ian bisa meninggalkan mereka.


"Berikan ramen itu padaku." Ucap Hyunjae yang mulai berdiri dari duduknya.


Kedua tangannya melindungi ramen-ramen yang akan di mangsa oleh Hyunjae, "t-tidak! Aku akan melindungi mereka."


"Hm~" Hyunjae lebih menajamkan tatapannya dan terus bergerak perlahan mendekati Lazel.


"K-Kenapa wajahnya seperti itu?" Nyali untuk melindungi dirinya dan juga makanannya perlahan menghilang.


Hyunjae membuka resleting jaketnya sehingga memperlihatkan kaos hitamnya yang ketat, sehingga menampakkan sedikit lekukan di perutnya.


"Kalau begitu..."

__ADS_1


...◇• •◇...


"Yo, bagaimana keadaan kalian?"


^^^"Yang benar saja! Salah satu dari mereka yang menjadi lawanku begitu kuat!" Ucap Argo yang memasang wajah histeris di layar.^^^


^^^"Hm? Jangan menyalahkan karena mereka kuat, salahkan dirimu sendiri karena lemah." Sahut Kim yang terlihat sedang menyelipkan kelingkingnya di rongga hidungnya.^^^


Setelah kembali dari Jerman, Ian menghubungi kedua temannya dan menanyakan keadaan mereka. Salah satu dari mereka bertiga mengalami cedera ringan yang membuat lengannya sulit bergerak.


"Tapi kau menang kan?"


^^^"Tentu saja, kau pikir aku-"^^^


^^^"Meskipun berada di urutan kedua." Sahut Kim.^^^


^^^"Diam kau Kim!"^^^


Mendapatkan cedera apapun, hanya akan membuat pria itu semakin kuat. Jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan, dan jika dirinya kalah, maka hanya perlu lebih kuat dibandingkan musuhnya.


Saat melakukan pertandingan Bela Diri Taekwondo di Jerman, Ian memperoleh juara pertama seperti biasa. Telinga orang-orang sama sekali belum terbiasa dengan kehebatan yang dimilikinya.


^^^"Bahkan... lawanmu harus berteriak histeris seperti itu."^^^


^^^"Itu adalah kesalahannya sendiri, bukankah ada pilihan untuk menyerah? Lagipula yang menjadi lawan mereka bukan hanya sekedar pria biasa, melainkan Monster."^^^


Pembahasan mereka siapa lagi kalau bukan tertuju pada Ian. Pria penuh bakat sepertinya handal dalam melakukan apapun sangat siap mempertaruhkan apapun di atas ring.


Ia menyanggah dagunya dan menatap ke layar ponsel, "aku hanya... melakukan apa yang menjadi tugasku."


...◇• •◇...


Selain itu... saat ini kedua pasangan Suami Istri tak saling mencintai itu tengah heboh dalam kelakuan yang mereka perbuat.


Wanita dengan dress hitam itu terus berlari menghindari Hyunjae sembari melindungi ramen yang masih terbungkus rapi dalam kotak.


"K-Kenapa kau mengejarku?! Bukankah aku sudah meletakkannya di atas meja?!" Teriak Lazel yang berusaha menghindar dari pria beriris abu-abu itu.


"Aku hanya ingin mencoba untuk mengambilnya langsung darimu, lalu mengambil semuanya." Ujarnya dengan seringainya yang licik.


"DIAAAAAM! Bahkan aku belum memakannya sedikit pun!" Bentaknya.


"Belum sedikit pun?" Telunjuknya mengarah ke atas meja, "mangkuk yang tertumpuk disana, bahkan aku tidak bisa menghitungnya dari sini."


Terkadang pria itu berlari dan terkadang berjalan, namun ia berusaha untuk tetap waspada agar tidak tertangkap oleh Hyunjae.


Bahkan Lazel sudah mengetahui jika Hyunjae cukup kelelahan karena mengejar dirinya. Tapi dia sama sekali tidak kelelahan.


Ruangan Tengah yang mereka gunakan sebagai arena begitu luas. Sehingga Lazel dengan mudah melarikan dirinya dari Hyunjae.


Dan...


"Hahahahahaha~"


"HENTIKAAAAAAAAN!!" Lazel berusaha berlari sekuat mungkin dari Hyunjae yang mengejar dirinya.


Rambut peraknya terkibar ke belakang dengan dress hitam yang terlihat berantakan.


Sehingga langkahnya terhenti di bagian tengah tangga yang menuju lantai atas.


"B-Baiklah aku menyerah, kau bisa mengambilnya." Ujar Lazel yang terus berjalan mundur di tengah-tengah tangga.


Tangan kirinya memegang pinggangnya, dan tangan kanannya mengadah ke atas dan terjulur di hadapan Lazel, "kalau begitu bawa kemari." Ucapnya dengan senyuman.


"Sialan! Pria ini mempermainkanku!" Batinnya kesal.


Ujung-ujung rambutnya terlihat basah, ia terus mengusapnya ke belakang dengan tangannya yang besar. Jaket yang menutupi tubuhnya kini sudah terlepas, sehingga memperlihatkan tubuhnya yang besar dari balik kaos hitam yang ia kenakan.


Langkah pria itu semakin mendekat, sedangkan Lazel terus melangkah mundur.


Cahaya dari lampu gantung tersorot pada wanita yang memiliki iris pink itu, dress hitamnya yang berkibar menampakkan corak kupu-kupu yang besar dari beberapa bagian dress tersebut.


Rambut peraknya tergerai panjang, dan beberapa poni menutupi kedua tatapannya. Namun pandangannya terus tertuju pada Hyunjae.


"..............."

__ADS_1


Hyunjae yang berada di bawahnya hanya bisa terdiam setelah melihat sesuatu yang menakjubkan dari Lazel.


Seorang wanita yang berdiri di tengah tangga sambil menatap ke bawah, dengan rambut peraknya dan iris kaca layaknya berlian. Dari jarak yang tidak begitu jauh, ia memberikan tatapan terbaiknya.


__ADS_2