Lost Feeling

Lost Feeling
Heartless Figure


__ADS_3

"Aku sebenarnya sangat ingin tahu, apa maksud dari ucapanmu itu. Tapi... apa hubungannya dengan Heul?"


Seperti yang sudah ia duga, Hyunjae pasti tidak akan tinggal diam dan menerima keputusannya begitu saja. Dan pertanyaan pasti akan kembali terlontar.


"Selama Ibu dan Ayah tidak tahu, bukankah itu baik-baik saja?"


"Apa hubungannya dengan Heul, jawab pertanyaan ku." Hyunjae semakin tertekan dengan rasa penasarannya dan juga tingkah Lazel.


"Aku mempunyai firasat, bahwa dia berusaha mengambilmu dariku. Meskipun aku sama sekali tidak pernah berniat untuk turun tangan pada permainan bodoh ini,"


"Tapi... bisa saja tindakannya itu membuatku melakukan hal yang sama pada Hyunji pada tujuh tahun yang lalu,"


"Aku masih bisa menyangkalnya karena waktu itu Hyunji adalah seorang pria, sekaligus ketua dalam sebuah Organisasi Militer,"


"Tapi... kau tahu sendiri bukan? Pria atau wanita... aku sama sekali tidak pernah membedakan mereka."


Alasannya masih sangat sulit dipahami, namun ada sebuah kemungkinan. Bahwa wanita itu berusaha untuk menjauhkan dirinya, sehingga dia dapat melakukan apapun seperti yang sebelumnya dijelaskan padanya.


Dan alasan lainnya adalah kebencian, tindakan yang Hyunjae miliki tentu saja mendapatkan rasa benci dari orang manapun, termasuk Lazel. Bisa saja wanita itu muak dengan dirinya dan-


"Kau terlalu banyak berpikir," sahut Lazel yang melihat Hyunjae berpikir. "Bukankah kita harus segera kembali?"


"Bagaimana jika aku menolaknya?"


"Ah! Apa kau tiba-tiba jatuh cinta denganku? Sehingga kau tidak ingin menjauh dariku?"


"..............." ia sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan terakhir yang diucapkan oleh Lazel. Karena sedikit pesan tersirat Hyunji masih melekat pada pikirannya.


"Kalau begitu maka ku anggap ya."


"!!!!"


"Akan kuberi dua pilihan padamu, dan kau harus memilih salah satunya," Lazel mulai mengangkat tangan kanannya dan membentuk piece. "Pertama, aku akan menjawab tiga pertayaan dari rasa penasaranmu itu. Kedua, ikuti perkataanku untuk tinggal dengan Heul. Pilih saja yang mana kau inginkan."


"Aku tidak memiliki masalah jika tinggal bersama Heul, tapi aku tidak bisa melepaskan hal yang pertama,"


"Dan jika aku memilih yang pertama... mungkin dia akan melakukan apapun demi instingnya, meskipun hal itu masih dipertanyakan."


Mereka masih di tempat yang sama, Lazel membuat begitu banyak kalimat yang membuat Hyunjae berpikir keras mengenai pilihannya.


"Ku-"


Drrt!


Perbincangan mereka berakhir begitu saja setelah ponsel Lazel berdering. Mau tak mau ia harus mengangkatnya.


"Ian? Ada-"


^^^"Hei! Apa yang kalian lakukan?! Mengapa lama sekali hanya membeli sebuah minuman?"^^^


"K-Kami hampir tiba."


^^^"Hahaha~ jangan-jangan mereka-"^^^


^^^"I-Ibu, lebih baik kau tidak ikut campur."^^^


"..............."


Lazel langsung menutup panggilan itu.


"Besok," kini ia kembali menatap Hyunjae. "Aku akan menunggu pilihanmu besok."


...◇• •◇...


"K-Kenapa kau harus kembali secepat ini..."

__ADS_1


"W-Waktu liburan sudah berakhir bukan? Jadi aku harus kembali bekerja." Ujar Lazel yang mendapatkan pertahanan kuat dari Ibunya.


"Mereka punya rumah sendiri." Sahut Hyunji dengan wajah datarnya.


Bahkan hanya untuk meninggalkan rumah itu sangat berat.


Setelah Natal dan Tahun Baru berakhir. Seperti yang sudah dibicarakan saat sebelumnya. Mereka akan langsung kembali.


Tatapannya mengarah pada kucing yang berada di dalam pelukan Lazel, "kalau begitu biarkan Gilver disini, kami bahkan baru saling mengenal beberapa hari."


Hyunjae ikut turun tangan saat Ibunya ingin membawa Gilver.


...◇• •◇...


Tangannya menyanggah pada jendela dan menggunakan telapak tangannya untuk menahan wajahnya yang menyandar.


Hyunjae fokus pada jalanan seolah-olah tidak memikirkan apapun selain keselamatan.


Pada kenyataannya, ia masih memikirkan kalimat Lazel.


"Jadi-"


"UWAAAAAAA!!!" Teriak Hyunjae sekuat mungkin.


"!!!!" Lazel menutup kedua telinganya serapat mungkin, "m-mengapa kau berteriak?!" Tanya Lazel dengan nada yang sama.


"Kau mengejutkanku! Aku sedang berpikir mengenai ucapanmu!" Jawab Hyunjae dengan pandangan yang masih lurus.


"Memutuskannya tanpa berpikir itu adalah jalan yang mudah, untuk apa kau membuatnya semakin sulit."


"Jika aku memilih yang pertama, kau akan melakukan sesuatu pada Heul bukan?" Tanya Hyunjae dengan hati-hati.


"Jangan mengatakannya seolah-olah aku akan melakukan tindakan kriminal. Lagipula aku hanya menyerang orang-orang yang berusaha menggangguku."


"Aku mengerti... dia menyuruhku untuk tinggal dengan Heul untuk menjaga wanita itu darinya. Dan jika aku memilih yang pertama, Lazel tidak akan memberi ampunan pada orang yang mengganggu dirinya,"


"Apa kau bodoh? Sudah ku katakan berulang kali. Aku tidak akan menyerang seseorang yang tidak memiliki masalah denganku. Tentu saja akan berbeda cerita jika wanita itu mengangguku."


Sejauh ini, dirinya tidak pernah salah sasaran. Selain mempercayai instingnya, Lazel juga memerlukak bukti kuat lainnya, tapi... terkadang ia bisa lepas kendali hanya karena sebuah prasangka yang belum pasti.


Sejujurnya sedikit sulit untuk menanganginya, tapi... dengan tidak adanya Hyunjae, mungkin saja tujuannya semakin dekat.


...◇• •◇...


Hampir satu bulan lebih mereka meninggalkan Villa dan mendiami Rumah Utama. Tidak begitu lama, setelah semuanya usai, Lazel memutuskan untuk kembali secepat mungkin.


Saat ini mereka baru saja tiba di rumah, Rumah Kaca favoritnya, ladang bunga yang terletak di belakang kediamannya.


Kembali ke rumah sepertinya lebih menenangkan. Setelah melewati hari-hari yang berat, dengan kehilangan kedua orang tuanya.


Ia bergegas turun dari mobil, lalu memasuki rumah.


"..............." kesenangannya terganggu begitu saja. "Hei, rumahmu bukan disini, untuk apa kau terus mengikutiku?" Tanya Lazel pada Hyunjae yang begitu santainya menduduki sebuah sofa yang ada di Ruang Tengah.


"Oh tidak~ aku mulai terbiasa tinggal denganmu, jadi apa bisa-"


"Kembalilah."


Kepalanya menyandar dan menatap ke langit-langit ruangan, "sikapmu benar-benar berubah, yang masih terlihat sama hanyalah mulut kasarmu." Ujarnya.


"Memangnya aku peduli." Balas Lazel yang merasa tidak terbebani dengan kepribadiannya.


"..............." sepertinya Hyunjae sedikit merasa kesal dengan tingkah laku Lazel. "Kau suka sekali mengubah-ubah tindakanmu. Terkadang kau bersikap manis, lalu berperilaku layaknya wanita yang penuh dengan perhatian, tapi-"


"Dan kau menanggapinya dengan serius?" Kekehnya, "ayolah~ Heul lebih manis dan lebih sopan dibandingkan diriku yang brengs*k ini." Sambungnya dengan ekspresi tak peduli.

__ADS_1


...◇• •◇...


Pria itu sama sekali tidak mengerti tindakan serta perilaku Lazel padanya. Tapi apapun yang dikatakan, semuanya selalu mengenai sebuah fakta.


"Kalau begitu, pertanyaan pertamaku, siapa itu... Sung Wonhae." Tanya Hyunjae.


Dari pertanyaannya saja sudah membuktikan bahwa Hyunjae memilih untuk bertanya dibandingkan tinggal dengan Heul.


"Pria yang kusukai," jawab Lazel tanpa ragu sedikit pun. "Aku tidak menyangka... jika Hyunjae akan memilih untuk memuaskan rasa penasarannya dibandingkan melindungi wanita itu. Tapi... bisa saja dia memiliki bawahan untuk menjaga wanita itu. Yaah~ selama tidak menganggu diriku, dia pasti aman." Lazel benar-benar berpikir panjang dalam hal ini.


"Ternyata Ian tidak mengarang apapun." Pikir Hyunjae.


Kepulangan mereka dihadapi dengan sesuatu yang sangat serius. Pertanyaan dan jawaban yang terus terlontar dengan serius.


Lazel mengambil posisi duduk di hadapan Hyunjae, serta menatap pria itu dengan tajam. Sedangkan Hyunjae... ia sangat meletakkan titik fokusnya pada Lazel.


"Kedua... apa yang kau lakukan selama sepuluh tahun ini setelah kematian Sung Wonhae?"


"Membalaskan dendamku."


"!!!!" Hyunjae terkejut bukan main saat mendengarnya, "a-apa kau bilang?! Balas dendam?! Balas dendam yang terjadi pada sepuluh tahun yang lalu?! Apa kau serius?!" Tanya Hyunjae yang sampai berdiri dari tempat duduknya.


"Ya, begitulah."


"K-Ketiga! Apa kau sudah menemukan pe-"


"Pertanyaan berakhir." Selanya.


"Hah?! Bagaimana mungkin?!"


"Kau sudah mengucapkan yang terakhir. Jadi pergilah." Titahnya.


Hyunjae awalnya tidak mengetahui apa yang dikatakan Lazel. Namun ia tidak menyadari pada bagian kalimat terakhirnya, hal itu juga mendapat perhitungan darinya.


...◇• •◇...


Untuk pertama kalinya ia memikirkan sesuatu dari seseorang yang selama sepuluh tahun menjalin hubungan dengannya.


Dan terlebihnya, wanita itu sedang menjalankan dendamnya pada kematian Sung Wonhae. Padahal pertanyaan terakhirnya mungkin bisa memecahkan rasa penasarannya.


Apa dia sudah menemukan orang itu?


Jika iya, maka apa rencana yang akan dia buat?


Bahkan Hyunjae sendiri tidak bisa menyebutnya sebagai rencana. Sedikit kecurigaan saja, bagi Lazel itu adalah ancaman yang bermain-main pada dirinya sehingga bisa saja orang tidak bersalah akan terkena serangan dari Lazel.


Sung Wonhae, pria pertama yang disukai oleh Lazel. Kemudian meninggal pada sepuluh tahun yang lalu dalam kecelakaan besar, meskipun hanya nyawa satu orang yang terenggut, hal itu sama saja mengambil sedikit hatinya yang tersisa.


Seharusnya hal ini bukan menjadi urusannya, tapi... tindakan senekat itu, mungkin hanya dirinya saja yang mengetahuinya. Jika ada orang lain itu sangat mustahil, dirinya adalah menantu dari Keluarga Besar Pietra. Tidak mungkin Lazel melakukan sesuatu yang menyangkut pada masa lalu.


Memang sangat menyesakkan, hingga kini pelaku belum tertangkap. Bahkan Polisi tidak mampu mencarinya dengan detail, mereka hanya menyebarkan berita mengenai kematiannya.


"Ck! Mengapa dia menjadi seperti ini? Dia tidak memandang pria maupun wanita. Apa dia berniat memelayangkan tangannya pada orang lain begitu saja?"


"Atau jangan-jangan... selama ini wanita itu memang tidak pernah menyerah, dan terus..." Hyunjae tidak sanggup memikirkannya lagi. "Selama sepuluh tahun, hingga kini, yang dia lakukan adalah membalaskan dendamnya. Kini aku hanya mengetahui setengah dari kenyataanya saja." Keluh Hyunjae.


Di depan jendela kamarnya, dan menatapi salju yang berada di luar jendela.


"Dia... seperti sosok yang tidak mempunyai hati."


Setelah berdiam diri beberapa saat, kalimatnya barusan membuatnya sedikit tersadar.


"Sosok... tanpa... hati," kini pria berjaket putih itu bangkit dari duduknya dan menempelkan salah satu tangannya di jendela. "Kematian pria yang dia sukai, bahkan terus membalaskan dendamnya selama sepuluh tahun." Hyunjae mencoba merangkaikan semua yang ia tahu mengenai Sung Wonhae.


Kedua matanya membulat, dadanya terus terpompa karena sesaknya nafas yang ia hirup.

__ADS_1


"Keras kepala yang dia miliki... tindakan yang selalu kasar... tidak memperdulikan apapun selain uang... Lazel..."


Ia menatap lurus dan menekuk kedua alisnya, "dia telah... kehilangan perasaannya sendiri."


__ADS_2