Lost Feeling

Lost Feeling
Go Together


__ADS_3

Langkah kakinya begitu cepat. Wanita berkacamata hitam itu baru saja tiba beberapa menit yang lalu di bandara, terlihat dari sebuah kaca yang sangat besar tepat di sampingnya jika pesawat khas milik Hyunjae baru saja tiba.


Kedua matanya melihat jam melalui ponselnya, "syukurlah aku tepat waktu." Tukasnya.


Jas luaran berwarna hitam itu terbuka dan memperlihatkan kemeja dalamnya yang berwarna putih. Rambut peraknya terkepang dengan cantik dengan sebuah pita kupu-kupu biru yang menghias rambutnya.


Pernerbangan mereka memang begitu mendadak, namun tidak begitu merepotkan jika mereka menggunakan pesawat pribadi milik Keluarga Pietra.


Kedatangannya begitu santai, sebuah ponsel dan juga tiket atau paspor untuk pergi ke Amerika.


Selain itu, di perusahaan milik Lazel. Seorang pria yang selalu menempel pada wanita itu terkejut bukan main saat mendengar kepergian Bos mereka yang mendadak.


"A-Apa yang kau katakan Byul?!"


"Telingaku sakit," lirihnya. "Memang itulah yang sedang Nona dan Tuan rencanakan, dan kepergian mereka akan dilaksanakan sekarang juga. Mungkin saja, mereka baru lepas landas."


Egis membuat Byul kwalahan dengan sikapnya. Setelah bertanya mengenai kepergian Lazel yang begitu cepat, akhirya Byul memberitahukan alasan sebenarnya pada Egis. Seketika pria berambut emas itu melamun seperti orang kehilangan arah.


"Hm?" Asisten pribadi Lazel memeprhatikan Egis dengan bingung, "ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Byul.


"Haha~ ya aku baik-baik saja," ia kembali pada posisi dan tempat seharusnya berada. Wajahnya begitu sedih setelah mendengarkan kepergian Bosnya menuju Amerika. "Pfft... memangnya apa hakku untuk ber-"


"????" Ia merogoh sakunya dan meraih ponselnya karena mendapatkan sebuah nontifikasi.


^^^"Kupikir ini akan menjadi kepergian yang cukup lama, kuharap kau dan Byul bisa mengatasi pekerjaanku untuk sementara - Amerika."^^^


Saat mendapatkan pesan dari Bosnya, kedua matanya membaca pesan itu dengan teliti.


Sorot matanya yang selalu terbuka lebar dan memancarkan keceriaan, kini terlihat begitu menenangkan. Ia memberikan senyumannya pada layar ponselnya sendiri dengan senyuman yang berbeda.


"Haha~ sudah kuduga, kau memang wanita yang menarik." Senyumnya.


...◇• •◇...


Di dalam sebuah pesawat yang sudah berada di ketinggian ribuan meter. Tatapanya terus memandangi pemandangan luar dari jendela, sedangkan pria yang ada di hadapannya tengah membaca sebuah berkas.


Tangannya menompang wajahnya, "aku lupa menceritakan pada Egis mengenai pria bertopeng itu." Batinnya


...◇• •◇...


Kepergian Bos mereka tepat di tengah hari. Sebagai bawahan, beberapa dari mereka membantu tugas-tugas dari Nona Direktur mereka.


Vicy memperhatikan Egis yang terkadang bersemangat dan terkadang tidak. Dan sikapnya yang aneh itu mulai terjadi saat Bos mereka meninggalkan negara dan pergi menuju Amerika.


Pemikiran Vicy begitu datar namun keruh, "aku tahu jika kau dan Bos begitu lengket, tapi kau tidak akan bisa membantunya jika terus bersedih." Ujar Vicy yang baru saja meletakkan dokumen-dokumen di atas meja Egis.


"Apakah ekspresiku begitu terlihat?"


"Tentu saja bodoh!"


"..............." sudah lebih dari cukup saat Lazel mengirimkan pesan padanya mengenai kepergian dirinya. Namun ia tidak bisa memikirkan seberapa lama Bosnya berada di Negeri Asing.


...◇• •◇...


Amerika tidak begitu jauh dari negaranya, namun perjalan mereka tidak begitu cepat karena keadaan langit. Setidaknya mereka harus tiba sebelum malam.


Menurut pengiraannyacan perhitungannya, dua bulan yang lalu dirinya pernah pergi mengunjungi Amerika, lalu kembali dalam waktu satu bulan. Mungkin saja kali ini akan lebih lama.


Ia tidak seperti Hyunjae, pria itu bahkan dapat hidup melebihi satu tahun. Asal kalian tahu, Hyunjae sempat tinggal di sana selama tiga tahun, setelah itu kembali lalu pergi lagi selama masa sekolahnya hingga ia lulus dan menjadi Direktur di usia mudanya.


Sedangkan Lazel, Luar Negeri memang menarik, beberapa macam tempat hiburan ada dimana-mana. Namun baginya itu biasa-biasa saja, dan ia tidak pernah berniat untuk tinggal di sana.


"Sepertinya kita bisa tiba sebelum malam." Ujar Hyunjae yang menatap jam tangannya


Ia menoleh dan menyilangkan kakinya, "baguslah, setidaknya sediakan waktu selama sepuluh hingga lima belas menit untuk istirahat." Ucapnya.


"Lima menit."


"Lima menit?"


Hyunjae merasa jika waktu yang ia tentukan begitu singkat, "ya, apa kau baik-baik saja dengan itu." Raut wajahnya terlihat khawatir.


"Aku baik-baik saja." Jawabnya singkat.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, pelayan mereka datang dan memberitahukan jika pesawat akan segera melakukan pendaratan di Bandara Amerika.


Keduanya pun memasang pengaman. Lazel memperhatikan pemandangan dari atas, beberapa rumah dan sebuah bandara sudah terlihat jelas.


Sepertinya waktu tiba mereka sesuai dengan yang diperhitungkan.


...◇• •◇...


Di sebuah rumah yang sangat mewah, besar dan juga lebar. Terdapat dua tangga dari luar yang mengarahkan pada lantai yang sama namun disisi yang berbeda.


Seorang pria dengan seragam hitamnya dan juga topi sebagai pelengkap baru saja tiba dan menghampiri sosok wanita yang hampir menyerupai wajahnya sedang bermain dengan seekor kucing.


"Ibu terlihat senang hari ini." Ujar Hyunji yang baru saja tiba di ruang televisi. Lalu menyantaikan dirinya di atas sofa berwarna abu-abu.


Wanita dengan rambut pendek setinggi pundak itu menoleh, "oh! Hyunnie sudah kembali~" ucap Nezra yang tersenyum pada Putranya.


Hyunji baru saja pulang dan langsung bertemu dengan Ibunya.


"Hari ini Lazel dan Hyunjae pergi ke Amerikaa~" ucapnya dengan senang.


Byuur!


Minuman yang ada di mulutnya tersembur begitu saja.


"Hahaha~ kau pasti terkejut kan~" Cherry ia letakkan di lantai dan membiarkannya bermain sendiri. Wajahnya pun menatap kesal ke arah anaknya sendiri. "Dasar anak sialan! Apa tidak ada kalimat maaf untuk Ibumu karena tindakan cerobohmu itu?" Ucap Nezra dengan wajah yang terlihat dengan urat-urat kekesalannya.


"M-Maaf," Hyunji langsung mengucapkannya. "Kepribadiannya seketika berubah." Batinnya.


Nezra melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menyilangkan kedua kakinya. "Seharusnya aku menolak kepergian mereka berdua." Keluhnya sambil memijat keningnya.


"Memangnya kenapa?"


"Meskipun aku memang tidak memikirkan masalah mengenai seorang cucu, tapi aku masih tidak bisa membiarkan mereka berdua saling sibuk sehingga sulit untuk meluangkan waktu."


"Aku tahu mereka tidak memikirkan ini, tapi ketidak pikiran itu membuat diriku gelisah."


"..............." Hyunjae sedikit terkejut dengan ucapan terang-terangan dari Ibunya. Kalimat itu sudah berulang kali terlontar, terkejut atau tidak, ia tidak memiliki hak untuk ikut campur. Bahkan menjawab kalimat dari Ibunya cukup menyulitkan dirinya.


"Ah~ Ibu sampai mengingat masa lalu, saat itu ayahmu sangat tampan~"


"Kyaaa~ memikirkannya saja membuatku malu~ tapi sekarang wajahnya terlihat tua, sepertinya aku harus mencari Duda baru yang kaya raya."


"Huh?"


Hyunjae kembali berpikir mengenai masa depan, mungkin yang di harapkan keluarga mereka adalah yang terbaik dan terus melanjutkan hubungan hingga akhir hayat. Tapi kedua pasangan itu sendiri sudah menetapkan keputusan dan rencana mereka.


Sebuah bantal sofa melayang tepat di wajahnya.


"Apa yang Ibu lakukan?!"


"Seharusnya aku yang menanyakan itu," balas Nezra yang menatap Hyunji dengan serius. "Apa yang kau pikirkan?"


"Haah~ Ibu terlalu khawatir pada mereka berdua, bukankah sepuluh tahun adalah waktu yang sangat lama? Mungkin memang ada kendala dalam hubungan mereka, tapi bukan berarti mereka langsung mengakhirinya begitu saja."


Hyunji merasa jika Ibunya tidak memberi respon apapun.


"??!!" Ia melihat Ibunya yang terkesipu sehingga tak mampu mengeluarkan kata-kata.


"W-Wah! Kau jenius perjaka!" Puji Nezra dengan kedua acungan jempol.


"Haah?! Kalimat apa itu?!"


"Hahaha! Cepatlah menikah dan jangan biarkan wajahmu cemburu saat melihat Adikmu."


"Cemburu?"


"Kalau perlu Ibu akan carikan jodoh secantik dan semanis Lazel~"


"Apakah wajahku terlihat seperti itu?"


"Hah~ memikirkannya saja membuat diriku merindukannya~"


"Tidak, itu bukanlah ekspresi kecemburuan, meskipun aku memang menyukai Adik Iparku sendiri, tapi..." ia menatap Ibunya yang memelototi ponselnya untuk menghubungi Lazel. "Aku selalu melihat mereka dengan perasaan kasihan."

__ADS_1


...◇• •◇...


Baru saja mereka tiba di sebuah hotel dan memesan kamar, wanita dengan jas hitam itu langsung tertidur pulas, bahkan mengganti pakaian saja sudah tidak sempat untuk dilakukan.


Langit hampir gelap, dalam beberapa jam ke depan keduanya harus hadir dalam meeting yang dilakukan di sebuah perusahaan nomor satu di Amerika. Dan letaknya di Ibu Kota, tak jauh dari penginapan mereka.


Hyunjae kembali ke kamarnya setelah melakukan beberapa registrasi, ia melihat Lazel yang sudah tak memiliki tenaga terkapar di atas ranjang.


"Haah~ sudah kuduga jika dia kelelahan." Gumam Hyunjae yang merebahkan dirinya di atas sofa dan mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


Bahkan setelah tiba di bandara, mereka harus mengunjungi perusahaan itu dan membuat perjanjian secara langsung.


Kelelahan merubuhi mereka berdua.


...◇• •◇...


"A-Astagaaaa... aku tidak bisa bernafas!"


"Ketindihan setan?! Apakah hal seperti itu nyata?! T-Tunggu jika iya, aku belum sempat bertobaaaaat!"


"!!!!" Kedua matanya langsung terbuka dan langsung menyadari jika ada sesuatu yang menindih tubuhnya.


Pria berkaos hitam itu tengah tertidur pulas dalam posisi telungkup sambil merebahkan sedikit tubuhnya pada Lazel.


Samar-samar ia melihat, "Hyunjae? Sejak kapan dia-" bola matanya mengarah pada perut pria itu yang pakaiannya sedikit terangkat.


"H-HUWAAAAAAA!!" Refleks kepalan tangan kanannya menghajar perut itu sekuat mungkin.


GUBRAK!


"A-Ada apa?!" Pria itu mendadak bangun yang sudah berada di atas lantai dan menatap sekitar dengan wajah bodohnya.


"Sakit! Apa yang kau lakukan bodoh!" Teriaknya yang baru saja sadar atas tindakan Lazel padanya.


Wanita itu memasang wajah terkejut dan penampilannya begitu tidak baik," "k-kau membuatku terkejut!"


"Aku hanya tertidur, apa itu sangat mengganggumu?"


"Kau menindih tubuhku! Apa kau pikir aku bisa bernafas dengan kondisi maut seperti itu?!"


"Hanya itu?"


"H-Hm!" Angguk Lazel.


Drrt!


"P-Ponselmu berdering." Ujar Lazel yang menunjuk pada meja yang ada di samping ranjang.


"Lihat siapa yang menghubungiku?" Ujarnya yang perlahan berdiri menahan perih tepat di perutnya, "si-"


Ponsel yang berada di genggamannya hampir terlempar, "I-Ibu Nezra!" Ucap Lazel yang seketika terkejut.


"Nani?" Kedua mata Hyunjae membulat setelah mendengar nama Ibunya.


"Kemari kau! Ibu akan menggunakan video call untuk panggilannya!"


Dengan satu kali loncatan, Hyunjae berhasil duduk di samping Lazel lalu segera mengangkat panggilan itu dengan hati-hati.


^^^"Holaaaa~"^^^


setelah mengangkat panggilan itu, terlihat Nezra yang nampak senang dan juga Hyunji yang duduk di samping Ibunya dengan wajah terkejut.


"Apa kalian-" bahkan Nezra sama terkejutnya setelah memperhatikan kedua anaknya yang berada di tempat jauh.


^^^"KYAAA!!! Apakah aku mengganggu kalian?"^^^


Nezra berteriak begitu kuat sambil memasang wajah memerah.


"A-Apa maksud Ibu?" Tanya Lazel yang bingung dengan keadaan, sama halnya dengan Hyunji.


Mereka berdua melihat jika Hyunji mendekat ke arah layar ponsel.


^^^"Kalian terlihat 'berantakan'."^^^

__ADS_1


"..............."


__ADS_2