Lost Feeling

Lost Feeling
Bid


__ADS_3

"Singkat saja... aku ingin semuanya selesai... dengan begitu, aku bisa pergi, dan membawa Ian bersamaku."


Jam dinding terus berdetik. Jendela masih terasa begitu dingin.


Kedua kaki yang menapak dan merasakan sensasi lembut. Berdiri di atas sebuah permukaan yang tebal.


Kedua tangannya menyilang di depan dada dan memperhatikan kalender yang tergantung di sebuah dinding.


Kesepakatan yang diberikan akhirnya telah mendapatkan jawaban. Meskipun begitu, tidak mungkin pria itu akan tinggal diam.


Dan... seharusnya ini memang terlalu lama dan terlalu jauh. Sebisa mungkin dirinya membuat Ian bisa menerima sebuah kenyataan pada akhir cerita nanti.


"Baiklah... aku tidak harus berdiam diri terlalu lama disini." Ujarnya.


Kakinya pun melangkah dan menuruni anak tangga dengan santai. Jas hitam yang menempel padanya ia rapikan, serta ia merogoh ponsel dari celana yang dikenakan.


Tatapannya melihat jam dan juga beberapa jadwal untuk hari ini.


"Yana, ambilkan kunci mobilku." Titahnya.


"Ini Nona." Yana berdiri di Ruang Tengah dan memberikan sebuah benda yang sesuai dengan permintaan Nonanya.


Ia meraih mantel yang dibawakan oleh pelayan lainnya dan mengambil kunci dari telapak tangan Yana, "mungkin aku akan kembali di larut malam, jadi kalian tidak perlu memasak makanan malam untukku."


"Baik Nona."


Rambut perak yang terhias dengan kupu-kupu  perak, keduanya terlihat senada saat dikenakan.


...◇• •◇...


Dua minggu berlalu. Semenjak kepergian orang tuanya dan juga kesepakatannya dengan Hyunjae.


Mulai dari titik itu, dirinya tidak pernah mengeluhkan apapun. Namun semuanya sangat terlihat dari wajahnya saja, jika dirinya sangat kelelahan.


Salju mulai berhenti turun, namun matahari belum menunjukkan dirinya serta salju yang belum meleleh.


Kakinya menancap gas dengan perlahan, mengambil kecepatan di atas rata-rata hanya membuat masalah.


Dalam beberapa menit, akhirnya ia tiba di sebuah perusahaan. Dimana mereka mengelola perhiasan. Yaitu Pietra Aplic Enterteiment.


"Hm?"


Saat memasuki basement, salah satu kendaraan membuatnya bertanya-tanya. Hanya melihatnya saja ia sudah menduga sesuatu.


Tangan kirinya membuka pintu mobil ke atas lalu menutupnya kembali. Dan yang ia tatap saat ini adalah mobil yang terparkir tak jauh darinya.


Kedua alisnya tertekuk dan membulatkan kedua matanya, "jangan-jangan..."


...◇• •◇...


Langkahnya begitu tergesa-gesa. Bahkan setelah memiliki libur yang cukup panjang, seluruh pegawainya mengucapkan sapaan untuknya, namun wanita beriris merah muda itu tidak memberikan balasan apapun.


Perusahaan yang kini berada di tangan Lazel memiliki sepuluh lantai gedung utama yang berada di sisi kiri dan memiliki jumlah lantai yang sama pada gedung produksi di sisi kanan. Sebagai Direktur perusahaan itu, posisinya berada di gedung utama paling teratas.


Untuk seluruh pegawai biasa, mereka berada di gedung produksi. Yang menempatkan dan memproduksi perhiasan.


Kedua gedung itu saling menyambung di bagian tengahnya.


Saat ini dirinya masih terus menelusuri koridor dan pada akhirnya tiba di sebuah lift.


Ia tidak mengatakan apapun, hanya saja tatapannya begitu waspada.


...◇• •◇...


Ruangannya berada di sebuah lantai yang di tempati oleh beberapa pegawai utama.


Dan tujuannya itu sudah berada di depan matanya sendiri.


Melihat Bos mereka berada di sana, salah satu staff yang berada di tempat mereka menghampiri Lazel.


"Nona, Tuan-"

__ADS_1


Langkahnya bergerak tanpa henti dan melewati staff nya begitu saja, "diamlah." Sela Lazel dengan kerutan di kedua alisnya.


"B-Baik."


Tangannya pun menggenggam pintu ruangannya lalu melihat siapa yang ada di dalam ruangannya.


Cklek!


"Oh, akhirnya kau tiba." Ujar seseorang yang tengah duduk santai di atas sofa.


Kedua matanya hampir tidak melihat dengan baik, dan kini ia mengetahui siapa yang ingin bertemu dengannya.


"H-Hyunjae?"


...◇• •◇...


Selain Perusahaan perhisan yang di pegang oleh Lazel. Perusahaan yang berada di bawah kendali Hyunjae memiliki tempat lebih besar. Karena tempat itu adalah pusat dari seluruh pekerjaan.


Bahkan setelah memasuki gerbang pertama, orang-orang harus memasuki lebih dalam menggunakan kendaraan.


Dan kini... pemilik perusahaan besar itu berada disini. Dan mengejutkan Lazel.


Ia melihat wajah Istrinya yang terlihat sedikit aneh, "mengapa kau terlihat tegang?" Tanya Hyunjae yang berdiri dari tempatnya dan melangkahkan kakinya mendekati Lazel.


"Aku baik-baik saja," sahutnya sambil menyodorkan telapak tangannya ke hadapan Hyunjae "Apa yang Anda lakukan disini?" Kini ia mulai bertanya pada intinya.


"Haah~ awalnya aku ingin basa-basi denganmu." Ucap Hyunjae yang berjalan ke sisi lain.


"Maaf, tapi aku tidak memiliki waktu luang untuk meladeni omong kosongmu."


"Kalau begitu... aku memutuskan untuk membantumu." Kini Hyunjae mengucapkannya secara langsung.


"Hah??" Tentu saja ucapan yang terang-terangan itu mendapatkan tanggapan bingung dari Lazel.


"Balas dendam."


...◇• •◇...


Bahkan hanya sedikit yang dijelaskan, dalam sekejap ia memiliki seseorang yang ingin membantu dirinya.


"Kau selalu meletakkan hal yang baik saat melakukan negosiasi dengan Perusahaan Amerika, jadi... tidak salah jika aku ingin membantumu," jelas Hyunjae. "Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasihku." Sambungnya.


Wajah Hyunjae begitu menggoda jika ditatap oleh kaum wanita. Memiliki sorot mata yang tajam, serta ekspresi yang selalu membuat siapapun akan jantungan dibuatnya.


Akan tetapi... Lazel membuat dan meyimpulkam semuanya menjadi omong kosong. Karena dirinya adalah seseorang yang mengetahui luar atau dalam dari sisi Hyunjae.


Tubuhnya kembali terduduk dan menatap Lazel yang masih berdiri di dekat pintu? "Jadi... bagaimana jawabanmu?" Pria dengan tindik di daun telinganya itu menyeringai kecil.


Untuk sesaat ia tidak menjawabnya. Ia lebih mengutamakan jalan pikirannya. Memang lebih menguntungkan jika memiliki bantuan lagi, terutama tawaran dari Hyunjae. Yang memiliki akses dalam dan luar, layaknya Mafia Malam milik Ayahnya.


Jujur saja, Hyunjae sangat sempurna jika dikatakan sebagai pria licik. Bahkan kelicikannya dapat mengelabuhi keluarga besarnya sendiri, bukan hanya mereka. Melainkan seluruh dunia.


Tetapi... bahkan sehebat apapun, mereka terus mencari dan mencari. Walaupun harapan masih terus berjalan.


Ia melepaskan mantel yang ia kenakan, lalu berjalan menuju mejanya.


Rambut peraknya, terlihat cantik dan berkilau serta dengan sebuah pita kupu-kupu yang menghiasi rambut belakangnya, posisi yang selalu sama saat meletakkan benda hias tersebut.


"Terima kasih atas tawarannya, tapi..." kedua tangannya menyatu dan menutupi mulut serta dagunya, "aku harus menolaknya." Sambungnya.


"Bukankah kau sangat beruntung bisa memanfaatkan diriku untuk kepentingan pribadimu?"


"Ya, itu benar. Tapi, tidak ada hal yang istimewa dari tindakanmu nanti."


"Kau meremehkanku?" Kini Hyunjae merasa sedikit kesal dengan ungkapan dari Lazel.


"Tidak, tapi apa yang ku katakan itu benar." Jawabnya.


Pria berjas hitam itu mengacak rambutnya, "arghh! Kau memang sangat mengesalkan!" Sikapnya saat marah sangat menunjukkan sisi kekanak-kanakan.


Ia melihat Hyunjae dari tempatnya sambil berpikir, "kau... bahkan masih bisa dianggap pemula untuk membantu diriku."

__ADS_1


...◇• •◇...


"Dimana Egis?"


"Dia meninggalkan tempatnya untuk mengerjakan sesuatu yang penting, tapi... entah mengapa hingga kini dia belum kembali."


Di saat-saat seperti ini, dirinya sangat membutuhkan pria berambut kuning itu. Mungkin dengan bantuannya, dia dapat menghusir Hyunjae untuk pergi dari ruangannya.


Rasanya sangat menjengkelkan. Bukannya pergi dan melakukan sesuatu di tempatnya sendiri, pria itu justru menyantaikan dirinya di dalam ruangan milik Lazel.


Di dalam sebuah pintu kaca itu terdapat pintu lagi yang berwarna cokelat gelap. Dimana ruangan pribadinya berada.


Menatapnya dari kejauhan saja sudah membuatnya kesal.


...◇• •◇...


Tangan kanannya menutup wajahnya sendiri sambil mengeluhkan sesuatu, "ya Tuhan... sampai kapan Playboy darat itu ada disini." Batinnya.


Mau bagaimana lagi, mau tak mau dirinya harus bekerja meskipun ada Hyunjae di dalam ruangannya.


Tangan kanannya membuka pintu secara perlahan.


Hyunjae yang sedang bermain ponsel membalikkan wajahnya, dan menatap ke arah Lazel yang sudah kembali ke ruangan itu. "Oh, kau kembali."


"Sudah berapa kali orang ini mengucapkan awal kalimat yang sama, dan wajahnya begitu jeleeek!"


Kakinya melangkah pada tempatnya dengan ekspresi wajah yang datar.


Hyunjae menyandarkan wajahnya pada tangannya, "hm... kau terlihat menawan juga."


"Terima kasih pujiannya." Balas Lazel yang mulai menyibukkan dirinya di depan meja.


"..............."


Untuk seterusnya, Hyunjae sama sekali tidak memberanikan diri untuk bersuara. Karena meja besar yang ada di hadapan wanita itu bisa saja terangkat dan terbang ke arahnya.


"Membayangkanya saja aku tidak sanggup." Pikirnya.


...◇• •◇...


Kedua matanya terus mengarah pada layar laptop. Ia begitu fokus dalam menadalami sebuah pekerjaan.


Tapi... dibalik wajah seriusnya itu, kepalanya juga ikut bekerja dengan berpikir keras.


"Pada akhirnya aku keliru... awalnya aku ingin bertanya pada Hyunjae mengenai Egis. Karena pada saat acara malam itu aku menemukan Egis, bisa saja bukan jika Egis merupakan kenalannya,"


"Tapi... justru dia langsung mengetahuinya dan menebak hal-hal yang aneh. Sudah pasti jika dia tidak mungkin mengenal Egis."


Meskipun Egis sudah menjawab rasa penasarannya, entah mengapa jika mempercayainya terasa begitu sulit.


"Hojung?" Saat asik berpikir, ia membaca sebuah tulisan bercetak tebal yang berada di layar laptopnya.


"Kau mengenal mereka?" Tanya Hyunjae setelah mendengar sebuah marga dari keluarga terkenal.


Lazel menolehkan wajahnya dan melihat ke arah Hyunjae yang bertanya pada dirinya.


"Tidak juga, tapi.. hm... apa ya? Sulit untuk mengatakan kenal atau tidak kenal." Lazel cukup sulit untuk mendeskripsikan mengenai keluarga itu.


"Putra mereka sudah berada di negara ini cukup lama, namun kabarnya Ayahnya baru saja kembali dalam waktu yang cukup lama."


Ia mengusap dagunya, "hm... mengenai hal ini, aku sudah mendengarnya dari Byul secara langsung."


"Eun Hojung... beserta Putra satu-satunya yang mereka miliki, Gyuu Hojung." Jelas Hyunjae.


"Gyuu?" Lazel sedikit berpikir mengenai nama itu, "China? Tidak tidak, mugkin dia memiliki darah campuran." Pikirnya.


Tubuh pria berambut hitam itu semakin menempel pada sofa, "asal kau tahu... mereka itu licik. Jadi kusarankan jangan tebar pesonamu pada mereka, terutama pria bernama Gyuu itu."


"Bagaimana bisa kau mengucapkan hal seperti itu? Bahkan kau juga tidak mengetahui secara dalam mengenai Gyuu Hojung," sahut Lazel yang merasa tidak setuju dengan tanggapan Hyunjae. "Lagipula kau itu juga licik, jadi berhentilah menyamakan orang lain dengan dirimu." Batinnya kesal.


"Hanya saja... aku lebih khawatir jika kau bersamanya."

__ADS_1


"..............."


__ADS_2