
Biasanya... seorang perempuan berdiri layaknya sosok wanita yang anggun dan juga menawan. Mereka menggunakan harga diri mereka sebagai kepribadian dan juga mahkota dalam hidup.
Tetapi... hal itu berbeda dengan wanita beriris perak itu. Sifat perempuan darinya sama sekali tidak ada. Yang menunjukkan ciri khasnya adalah warna rambut, warna iris, serta warna kulit yang putih seperti salju.
Banyak orang yang berkata jika perempuan yang memiliki sifat laki-laki itu luar biasa, hebat dan segala pujian lainnya. Ya itu memang menakjubkan.
Namun... yang Lazel dapatkan adalah penghinaan, kecemburuan, serta iri dari banyak orang lainnya. Meskipun ada beberapa dari mereka yang meletakkan pujian, rasa ketidakpeduliannya itu tetap berjalan.
Mungkin itu adalah salah satu penyebab sumber kebencian orang pada dirinya.
Wajah dingin serta datar. Terkadang keangkuhan dalam dirinya terlihat sehingga menurut orang-orang ia sangat suka merendahkan orang lain.
"H-Huh?" Ungkapan Hyunjae membuatnya sedikit terkejut.
"Hm? Memangnya ada yang salah dari ucapanku?" Tanya Hyunjae yang kini semakin tertarik untuk berbincang dengan Lazel.
"T-Tidak... hanya saja... mengapa kau mengatakan seperti itu?" Tanya Lazel yang kebingungan.
"Hah? Memangnya aku harus mencibirmu seperti orang lainnya? Seseorang sepertimu itu harusnya bersyukur. Tanpa orang lain kau bisa melindungi dirimu sendiri dan orang-orang terdekatmu,"
"Dengar Lazel... melindungi orang itu tidak salah. Tapi yang salah adalah bagaimana caramu untuk melindungi mereka,"
"Mengorbankan dirimu, membuat dirimu terluka demi orang lain itu sama sekali tidak keren,"
"Ingat ini... prioritaskan seseorang yang membutuhkan bantuanmu dibandingkan membalas perbuatan orang itu terhadap seseorang yang kau bantu."
"..............." untuk ke sekian lamanya, ada seseorang yang mengetahui mengenai dirinya. Meskipun tidak bisa dibilang untuk pertama kalinya, ia merasa jika ada orang lain yang dapat membuat sadar selain orang yang ada di masa lalunya.
Sepertinya kali ini dirinya mendapatkan sesuatu yang besar.
"Sepertinya aku tahu mengapa para wanita begitu mencintaimu." Kini Lazel merasa tidak ragu dan tidak malu untuk memperlihatkan wajahnya.
"Hm? Bukankah aku sangat tampan? Uangku juga banyak. Tubuhku juga sangat se-"
"Kau memiliki kalimat yang bagus serta pemikiran yang jernih. Kurasa kebanyakan wanita di luar sana selalu mendengarkan ocehan panjangmu." Jelas Lazel dengan kepercayaan dirinya yang tinggi.
"M-Mengapa kau mengatakannya seperti itu?"
"Hah? Kenapa memangnya? Apakah aku harus menyebutmu sebagai lintah darat di setiap kehidupan?" Kini Lazel kembali menyeramahi Hyunjae.
"Bwaahahahaha! Aku memang hebat!" Tawa Lazel dengan membanggakan dirinya sendiri.
Di sela-sela tawa Lazel yang mendekati layaknya Setan level tinggi. Saat ini Hyunjae semakin merasakan aneh di dalam dirinya.
"Tidak... kau salah..." ia menatap wanita itu dengan ekspresi berbeda. "Kau... kau adalah satu-satunya seseorang yang mendapatkan pencerahan dariku secara langsung."
...◇• •◇...
"Lazel... apa kau akan ikut?" Tanya Hyunjae yang baru turun dari tangga dan memakai pakaian biasa dengan kaos putih serta jaket abu-abu yang menutupinya.
"Haah? Tidak, aku tidak mau." Jawab Lazel yang kini semakin lengket dengan sofa dan juga televisi yang terus menyala.
Ia memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "benarkah? Hm... sayang sekali, rencananya aku akan pergi berbelanja pakaian, mungkin-"
"Hyunjae, kau adalah pelita dalam dompet-maksudku hidupku." Sela Lazel dengan menunjukkan wajah yang serius.
"..............." ia sangat mengenal Lazel dengan baik. "Bukankah kau baru saja mengatakan tentang dompetku?" Batinnya.
...◇• •◇...
Keretakkan kecil di pergelangan kakinya kini hampir pulih. Tanpa bantuan alat apapun, ia dapat berjalan sendiri, meskipun terkadang Hyunjae masih sangat mengkhawatirkan hal tersebut.
Berkat bantuan penuh dari Hyunjae, tubuhnya benar-benar terawat dengan baik. Meskipun terkadang pola makan yang selalu membuat dirinya merasa tertekan.
Hyunjae masih melarang Lazel untuk pergi bekerja atau membawa mobil sendiri. Oleh karena itu ia berniat untuk terus berada di rumah selama penyembuhan Lazel.
Dalam beberapa menit, akhirnya mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang memiliki tempat terbesar di kota.
Sebuah mobil LaFerarri baru saja memasuki basement.
__ADS_1
"Whoa... kira-kira sejak kapan terakhir kali aku berbelanja?" Ujar Lazel yang kini mulai mengeluarkan jari-jarinya untuk menghitung.
Sebuah ingatan membuat wajahnya kembali murung.
"Terakhir kali... saat aku pergi bersama Ayah, Ibu... dan juga Ian."
Karena terlalu banyak berpikir dan mengingat, ia tidak menyadari jika saat ini mobil sudah terparkir.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Hyunjae yang menarik beberapa rambut Lazel.
"Sakit bodoh!" Tukas Lazel yang membalasnya dengan menusuk pinggang Hyunjae.
Sebelum keluar dari sana, Hyunjae bergegas terlebih dahulu lalu beralih pada pintu mobil yang terletak di samping Lazel.
Pintu merah itu terbuka dan terangkat ke atas.
"Menjijikan! Bisakah kau menghentikan tingkah anehmu itu?" Tanya Lazel yang sama sekali tidak ingin keluar dari mobil.
Hyunjae sudah bersiap untuk menyeret wanita itu untuk segera keluar dari sana. Namun ia harus mengurungkan niatnya, karena saat ini Tuan Putri sedang dalam keadaan kurang baik, "hei, kau hanya tinggal melangkah ke luar." Ucap Hyunjae dengan wajah yang tertahan-tahan dari emosi.
"Tidak mau." Sahut Lazel yang tidak ingin mendengarkan.
Kedua matanya menyipit, "Lazel! Awas!"
"!!!!" Seat belt yang sudah terbuka membuat ia otomatis terlonjak dari tempat duduknya.
Dengan sigap Hyunjae menggunakan kedua tangannya untuk menahan tubuh Lazel agar tidak terjatuh.
"Haah~ aku ingin merusak wajahmu itu," ujar Lazel yang menatap Hyunjae dari jarak dekat. Wajahnya itu sangat jelas jika suasana hatinya begitu buruk.
"Ohoo~ aku takut~" ucap Hyunjae yang masih menggenggam kedua tangan Lazel.
Lazel pun mengembalikan posisinya dan menarik kerah Hyunjae, sehingga pria itu tertunduk ke bawah.
"Bagaimana jika aku jatuh dasar arogan!" Bentaknya dengan suara lantang yang menggema.
"Aku akan menangkapmu, bukankah itu simpel?" Jawab Hyunjae tanpa rasa khawatir sedikit pun, "ngomong-ngomong... suaramu begitu kuat, sehingga orang-orang menoleh ke arah sini." Sambungnya.
Dengan cepat Hyunjae meraih kepala Lazel ke dadanya lalu menutupinya dengan jaket yang ia kenakan, telunjuk yang terdapat cincin itu berdiri di depan bibirnya, "shh! Sebisa mungkin kita menghindari orang-orang agar tidak terlibat dengan kerumunan yang akan terjadi."
"..............."
...◇• •◇...
Mungkin saat ini sudah dua eskalator yang mereka lewati. Saat ini tujuan samping Lazel adalah mencari buku atau novel untuk mengisi waktu senggangnya.
Setelah mendapatkannya, mereka kembali berjalan dan kini giliran Hyunjae untuk membeli apa yang dia inginkan.
Hyunjae menggunakan celana panjang berwarna putih dan juga topi abu-abu yang ia gunakan untuk menutupi wajahnya.
Sedangkan Lazel menggunakan kaos berlengan pendek berwarna abu-abu serta celana panjang berwarna putih. Sebagai tambahan, ia menggunakan masker hitam untuk menutupi wajahnya.
Rambut peraknya dan juga warna irisnya mungkin sangat mudah untuk ditebak siapa dirinya. Rambut itu terikat biasa ke belakang dengan pita kupu-kupu berwarna putih yang terhias di ikatan rambutnya.
Saat asik berjalan sambil memandangi sekitar, sebuah tempat membuat dirinya tertarik, "Hyunjae... sepertinya aku ingin membeli beberapa pasang jas." Ujar Lazel yang kini beralih pada area jas untuk pria.
Sebelum memasuki tempat itu, Hyunjae memegang pundak Lazel dan membuat wanita itu berhenti, "hei, itu adalah tempat pria. Jas khusus wanita-"
"Tolong jangan katakan jika ini adalah pengetahuan pertamamu mengenai diriku." Ancam Lazel yang melihat Hyunjae dengan sorot kejam.
"Baik Bos."
"Bagus, ikuti aku, babu." Titah Lazel yang berjalan lebih dulu.
"Aku ingin membungkam mulut wanita ini." Batin Hyunjae yang memendam ribuan kesabaran.
...◇• •◇...
Pria bertopi itu berjalan sesuai permintaan Sang Bosnya, layaknya anak kucing yang tersesat. Sedangkan Lazel terus memalingkan wajahnya ke segala arah untuk menemukan setelan yang pas untuk dirinya.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya salah satu penjaga yang sedang berdiri disana.
"Bisakah kau mencarikanku jas berwarna hitam?" Ujar Lazel dengan nada sopan.
"Baik," angguk penjaga tersebut. "Hm~ Nona ini memilihkan jas untuk pasangannya, sangat romantis~"
Tujuh menit kemudian...
"Haha! Bagaimana menurutmu Hyunjae?" Tanya Lazel yang saat ini mengenakan jas pilihannya.
"Hm, kau terlihat hebat." Ucap Hyunjae yang duduk di atas sebuah kursi dan melihat Lazel yang sedang mencoba jas pilihannya.
"Hahaha! Benar bukan~" ujarnya dengan wajah bahagia.
"T-Tunggu dulu, jas itu bukan untuk pasangannya? H-Hyunjae? Bukankah itu nama dari Direktur Perusahaan Pietra?" Saat ini penjaga itu termakan tipuan yang baru saja dia harapkan.
"Bagus! Aku pilih ini!"
"B-Baik Nona!"
"Nona? Oh, kau pasti tahu diriku."
"Wanita ini memang sangat bodoh, dia menyebut namaku tentu saja dia mengetahui dirimu dan juga diriku." Batin Hyunjae yang memperhatikan dari duduknya.
Lazel pun kembali ke dalam bersama dengan penjaga tersebut. Dalam beberapa menit, penjaga itu keluar sedangkan Lazel masih berada di dalam.
Di dalam ruangan ganti yang cukup sempit, wanita berambut perak itu merasakan sesuatu yang janggal dari punggungnya. Setelah mencari tahu, wajahnya seketika memucat.
"G-Gawat! T-Tali bra milikku... terlepas!"
Sebuah bencana dadakan menimpa dirinya.
Perlahan ia mengintip dari balik tirai tebal yang menutupi tempat pergantian khusus wanita.
Ia melihat Hyunjae yang sedang bertapa di atas kursi, "psst! Hyunjaeeeee!! Hyunjaeee!" Lazel berusaha memanggil Hyunjae.
Dengan berulang kali ia memanggil Hyunjae, pada akhirnya pria itu menoleh, meskipun dengan wajah yang kurang mendukung.
"Hm? Mengapa hanya kepalamu yang keluar?" Tanya Hyunjae yang perlahan berjalan. mendekati Lazel.
"Jangan kemari!!" Sergah Lazel.
"Kau ini sebenarnya ingin aku apa?" Tanya Hyunjae dengan wajah setengah hati.
"Panggilkan salah satu penjaga perempuan, aku membutuhkan bantuan untuk memperbaiki bra milikku yang terlepas." Jelas Lazel yang bersuara pelan.
"Huft... tunggu disini."
Sepertinya mereka mendapatkan waktu yang pas, mereka melihat penjaga yang tadi menghampiri Hyunjae untuk menyerahkan jas pilihan Lazel.
"Bisakah kau membantu Istriku? Sepertinya dia mengalami kesulitan dalam memasang bra." Ujar Hyunjae dengan wajah biasa.
"E-Eh? K-Kalau kalian sepasang Suami dan Istri... mengapa harus-"
"M-Maksudku tolong jaga ini untuk Lazel," sela Hyunjae dengan keringat dingin. "Gawat... baru saja aku mengatakan sesuatu yang keliru." Batinnya.
Wanita berambut perak itu berdiri dengan kedua kakinya yang hampir mati rasa karena menunggu.
Suara pintu di belakangnya membuatnya merasa lega, karena Hyunjae langsung memanggilkan seseorang untuknya.
"Bisakah kau bantu aku mengaitkannya kembali?" Tanya Lazel tanpa berpaling terlebih dahulu. Wanita itu justru langsung menyingkirkan rambut peraknya dan memperlihatkan punggungnya yang kini hanya terbalut bra berwarna merah.
"E-Ekhem!"
"!!!!" Kedua matanya seketika melebar, secara spontan wajahnya berpaling begitu saja dan melihat siapa yang masuk.
Rasa kejutnya semakin menjadi saat mengetahui siapa yang memasuki ruangan yang sama dengannya, "H-HY-HYU-"
Tangan kanannya langsung menutup mulut Lazel serapat mungkin dengan tangan kirinya yang menempel pada dinding yang Lazel belakangi.
__ADS_1
"Shh! Jika kau berteriak, itu hanya akan membuat orang-orang terlihat bingung."