
Tubuhnya duduk bersantai dia atas sofa yang menghadap jendela. Kedua kakinya menyilang, tangan kanannya menompang wajahnya yang menatapi langit bersalju itu sedingin es.
Wanita yang menggunakan dress hitam itu sedang memikirkan sesuatu. Tangan kiri yang menggenggam gelas kini kembali pecah dan membuat luka di tangannya semakin banyak. Meskipun tidak begitu parah, namun mungkin saja serpihan itu masih menempel pada luka-luka kecilnya.
Rambut peraknya terkibas ke belakang dengan pita kupu-kupu yang selalu menghiasi rambutnya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan melalui pecahan gelas itu tanpa menginjaknya satu serpihan sedikit pun.
Kedua kakinya yang berjalan tanpa alas mendekati arah pintu lalu menggenggam ganggang pintu dan menguncinya.
Tubuh itu berpaling dari pintu, "baiklah... aku harus mengerjakan sesuatu." Ujarnya pelan.
Ia meraih laptopnya yang berada di atas meja lalu menyalakannya.
Di atas ranjang, di dalam kamar yang bernuasa cahaya langit luar dalam keadaan bersalju, wajahnya hanya diterangi oleh cahaya laptop itu.
Ia menyempatkan dirinya untuk bekerja sehingga dirinya tidak mampu untuk berdiri.
...◇• •◇...
Tidak melakukan apapun selain mengurung diri di kamarnya, tanpa dia sadari wajahnya telah terlelap di hadapan laptop yang masih menyala.
Di sisi lain, pria itu sepertinya dalam kondisi tak teratur. Mulai dari rambutnya hingga pakaiannya, semua terlihat berantakan. Kedua kakinya melangkah ke lantai atas dan memasuki kamarnya.
Menurut perkiraan waktu, wanita asing itu sudah pergi meninggalkan mansion beberapa saat yang lalu.
Tangannya membuka pintu itu
Cklek!
"La-" tangannya yang menggenggam ganggang pintu seketika terlepas. "????" Pandangannya tertuju pada isi ruangan itu dan mencari seseorang.
Ia menelusuri ruangan dan akhirnya menemukan sesuatu. Koper berwarna merah milik Lazel tidak disana.
"..............."
Kedua alisnya bertaut, dan pergi keluar dari kamarnya sendiri.
Di lantai dua terdapat lima kamar, dan salah satunya adalah kamar tamu. Hanya firasatnya saja, namun ia yakin jika wanita itu berada disana.
Di hari yang hampir malam, langit-langit terlihat berwarna jingga. Dalam waktu yang masih banyak, Lazel terlelap dalam tidurnya.
Sedangkan Hyunjae telah tiba di depan kamar itu, tanpa mengetuk tangannya langsung memegang ganggang pintu dan bergegas membukanya, tapi... apa yang dia lakukan tidak bisa terpenuhi.
"Terkunci? Dia menguncinya dari dalam?" Ucapnya heran.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan itu berulang kali berbunyi, namun tidak mendapatkan jawaban dari penghuninya. Perasaannya sedikit tak karuan.
"Lazel? Apa kau di da-"
Cklek!
Dari balik pintu bercat putih itu Lazel muncul dengan wajahnya yang terlihat kusut, dengan dress hitamnya yang panjang menyeret lantai.
"Kau ini berisik sekali..." ucap Lazel yang membuka pintu itu dan menampakkan dirinya di hadapan Hyunjae yang masih berpenampilan sama seperti sebelumnya.
Hyunjae menatap Lazel dari ujung kepala hingga ujung kaki, "kau tertidur? Jam segini?"
"Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan?" Tanya Lazel dengan raut kesalnya. Terlebih lagi penampilan Hyunjae yang begitu terlihat tidak sopan di matanya.
"Mengapa kau disini? Kupikir kau meninggalkan-"
"Hm? Bukankah kalian menggunakan kamar untuk melakukannya?" Sela Lazel sambil memperbaiki rambut peraknya.
"????" Karena ucapan Lazel membuat dirinya bertanya-tanya.
Wanita itu tersenyum dan membalad tatapan Hyunjae yang menatap dirinya, "mana mungkin aku menempati kamar itu, lalu dimana kalian akan menggunakannya?" Ujarnya dengan raut wajah yang masa bodoh.
"Apa... maksudmu."
"Aku tidak perlu menjelaskannya bukan." Ucapnya dengan tatapan yang menusuk pada kedua pandangan pria itu.
Kini pikirannya mulai terhubung dengan kalimat yang diucapkan Lazel, oleh karena itu kedua tangannya terjulur dan ingin menggenggam kedua pundak wanita yang ada di hadapannya, "kau-"
Kakinya melangkah mundur dan menatap Hyunjae dengan miris, "jangan menyentuhku," tukasnya dengan aura yang mencekam. "Meskipun kau lebih kuat dariku, tapi aku mampu untuk mematahkan salah satu jarimu." Sambungnya dengan ekspresi serius.
Itu memang benar. Hyunjae berkali-kali lebih kuat dibandingkan dirinya, meskipun terkesan masih jauh dibandingkan pria itu, setidaknya Lazel dapat membuat sedikit cedera kecil padanya.
Dan jika Hyunjae tidak mematuhi ucapan Lazel, maka pria itu harus bersiap mendapatkan akibatnya, sedangkan Lazel yang harus menanggung resiko terbesarnya.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak bisa memahami dirimu." Ujar Hyunjae lalu menghilang dari hadapannya.
Kepergian Hyunjae membuatnya bernapas dengan leluasa. Tubuhnya bersandar di ambang pintu lalu melipat kedua tangannya di depan dada.
"Bagaimana mungkin... wanita lain ingin satu tempat dengan wanita lain." Ujarnya dengan wajah yang terlihat santai.
...◇• •◇...
Kakinya menuruni anak tangga dengan cepat.
Drrt!
"Hm?" Di tengah-tengah langkahnya ia mendapatkan panggilan.
Ia meraih ponselnya dan memperhatikan terlebih dahulu siapa yang berani menghubungi dirinya. Dilihat dari wajahnya mungkin tidak ada masalah.
"Ada apa Ian?" Tanya Lazel sambil melanjutkan langkahnya dan tiba di atas sofa.
Di Ruang Tengah bukan hanya ada dirinya saja, Hyunjae sudah beberapa menit yang lalu menyantaikan dirinya disana, namun Lazel turun dan berbicara santai dengan Ian seolah tak ada siapapun selain dirinya.
Ia memperbaiki posisi duduknya, "kau... akan kembali?" Ucapnya dengan wajah yang sedikit terkejut.
Hyunjae yang duduk di sisi lain mengalihkan perhatiannya pada Lazel yang sedang menelpon Ian.
^^^"Bukan akan, tapi aku sudah berada di bandara. Bisakah kau menjemputku?"^^^
"T-Tentu saja, tunggu aku-"
^^^"Kalau bisa biarkan Kak Hyunjae yang menjemputku, sepertinya Kakak kelelahan."^^^
"..............." seketika tatapan mereka bertemu, dimana Lazel ingin melihat apa yang dilakukan pria itu. "Aku yang akan menjemputmu." Ucap Lazel yang beranjak dari tempat duduknya.
Setelah mengucapkan beberapa kalimat, akhirnya panggilan itu berakhir.
"Apa Ian akan kembali?" Tanya Hyunjae pada Lazel yang ingin pergi dari sana.
"Ya, aku akan pergi menjemputnya." Jawabnya.
"Biar aku saja," pria itu berdiri dari duduknya dan mengambil alih kunci mobil yang ada di genggaman Lazel. "Ini musim dingin, aku tidak bisa meyakinkan keselamatanmu."
Kedua alisnya terkekuk, "mengapa kau harus repot-repot melakukannya?"
"Ok," jawab Lazel yang meraih mantelnya. "Aku juga tidak bisa membuat kau dan Ian semakin dekat." Sambungnya.
...◇• •◇...
Tidak seperti biasanya, keduanya saling diam. Apalagi Lazel yang hanya memperhatikan jendela di sebelah kiri.
"Lakukan seperti biasa di depan Ian." Ucap Lazel tanpa menolehkan wajahnya.
"Aku tahu, meskipun kau tidak mengatakannya." Sahut Hyujae yang fokus menyetir.
"Aku juga memutuskan untuk pergi dari Rumah Utama."
"!!!!"
Dalam kecepatan pelan, Hyunjae menginjak rem secara mendadak dan membuat wanita yang ada di sampingnya terkejut.
Mungkin sabuk pengaman membuat dirinya tidak terpental ke depan. Lazel memberikan tatapan kesal pada pria itu, "hei, apa yang baru kau-"
"Kenapa kau melakukannya?" Sela Hyunjae dengan tangan kiri besarnya menyanggah di samping kepala wanita berambut perak itu.
Wajah mereka terlihat sangat dekat.
Kepalanya menyandar di sandaran kursi itu dan memberikan tatapan dingin dan datar pada Hyunjae, "aku tidak mungkin membiarkan Adikku berada disana bukan?"
"Apa kau pikir aku akan berdiam diri mengenai hal ini." Ucapnya lagi.
"Aku juga tidak mungkin melakukannya jika ada Adikmu." Tukas Hyunjae.
"Dan aku lebih memprioritaskan Ian dibandingkan nyawaku sendiri." Ucapnya dengan tegas.
Lazel memang terlihat diam dalam keadaan atau situasi apapun. Namun saat mulutnya mulai dipaksa untuk berbicara, maka tidak ada seorang pun yang dapat menjawabnya.
"Kita putuskan itu pada Ian." Ucap Hyunjae yang kembali ke posisi awalnya dan melanjutkan perjalanan.
...◇• •◇...
Setibanya di bandara, mereka bergegas mencari Ian dan menjemputnya.
__ADS_1
Situasi yang sangat asing saat dilihat, padahal kenyataannya memang seperti itu.
"..............." tatapannya yang menemui sesuatu, tangannya pun langsung menggenggam tangan Hyunjae dengan erat. "Ian ada disana." Ucapnya pelan.
Tidakannya yang mendadak itu, jujur saja membuat Hyunjae terkejut bukan main. Namun mereka harus memainkan drama seperti biasa yang selalu dilakukan di hadapan banyak orang.
"IIAAAAAAN!" Seorang wanita berambut perak itu berlari ke arah pria yang memiliki wajah yang sama dengannya. Dengan kedua tangan yang terbentang, ia langsung menangkap Adiknya ke dalam pelukan.
"K-Kakak, kurasa ini berlebihan." Ujar Ian yang menahan malu karena sikap kekanak-kanakan Kakaknya.
"Aku melindukanmuu~" wajahnya mendekat pada pipi Ian.
Tap!
"Lama tidak bertemu denganmu, Ian." Kini giliran Hyunjae untuk menyapa Adik Iparnya dan menarik kerah belakang Lazel agar menjauh dari Ian.
"Lama tidak bertemu Kak Hyunjae." Sapa Ian.
"Lepaskan aku! Arrgh!" Di tengah sapaan mereka, Lazel mencoba untuk melepaskan cengkraman kerahnya dari Hyunjae.
...◇• •◇...
"Hihihi apa kau menang?"
Suing~
Sebuah piala emas baru saja keluar dari ranselnya dan menunjukkannya di hadapan Kakaknya dengan sombong.
"Dasar sialan! Kau memang hebat!" Ujar Lazel yang merangkul Adiknya sambil menuju parkiran.
"Kau memuji atau menghina?"
"Hm? Aku merindukanmu."
"Bukan itu yang kutanyakan!"
Hyunjae berjalan di belakang kedua saudara kembar itu. Jika diperhatikan dari belakang, keduanya terlihat sangat mirip, bisa saja jika ia gagal fokus akhirnya mengira jika Ian adalah Lazel.
"Aku yang akan menyetir!" Ujar Ian pada Hyunjae.
"Baik~"
"Tolong jangan membuat jalan baru untuk menuju Alam Baka." Sahut Lazel yang merapatkan kedua tangannya.
"Kau pikir aku seperti dulu!"
...◇• •◇...
"Rumah Utama?"
"Ya, aku dan Hyunjae akan tinggal disana hingga Natal dan Tahun baru usai."
"Lebih tepatnya hingga mereka kembali." Hyunjae menambahi.
Lazel memberitahu Ian mengenai situasinya sehingga harus mendiami Rumah Utama. Dan mereka memberikan penawaran untuk Ian agar tinggal bersama mereka, belum lagi Lazel yang keras kepala untuk membuat Adiknya tinggal bersama.
"Hm... sepertinya aku akan tinggal sendiri saja."
"Hah? Kenapa?!" Tanya Lazel yang merasa terkejut dengan ucapan Adiknya.
"Bukankah kalian harus memiliki waktu berdua? Aku hanya akan menganggu jika tinggal bersama kalian." Ujar Ian yang sangat memperhatikan Kakaknya.
"Bukankah ini Natal dan Tahun Baru? Akan lebih baik jika menghabiskan waktu bersama?" Kini Hyunjae berusaha meyakinkan Adik Iparnya.
"Tapi-"
"Apa kau tidak tahu bagaimana keras kepalanya Kakakmu jika kau tidak ikut dengan kami? Mungkin dia akan merengek dan akhirnya akan mengikutimu." Sambungnya.
Duak!
"Ack!" Hyunjae menjerit dalam hati karena merasa sakit pada ujung-ujung jari kakinya.
"Bajing*n ini... apa yang kau katakan pada Adikku yang polos ini hah?!"
Hyunjae dapat mengetahui isi hati wanita itu walaupun hanya menatapi wajahnya saja.
"Benar juga... kalau begitu aku setuju." Akhirnya keputusannya pun terucap.
"Bagus~" ucap Hyunjae yang mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Sedangkan Lazel menunggu sebuah petir yang besar akan menghantam pria yang ada di sampingnya itu, "sialaaaann!!"