Lost Feeling

Lost Feeling
Visiting Ian


__ADS_3

Langit saat itu terlihat tenang. Beberapa waktu ke depan cahaya cerah itu akan menjadi kemerah-merahan dan perlahan menghampiri malam.


Di sebuah tempat tanpa penutup atap, serta kolam air yang terlihat sebiru laut. Sebagian tubuhnya masih berada di dalam sana, dan tangannya masih merasakan sensasi hangat dari rambut yang ia pegang.


"..............."


Kini tangannya mulai bergerak dan meletakkannya pada wajah pria itu dengan kasar, "w-wajahmu terlalu dekat!" Ujar Lazel yang berusaha menjauhkan wajah Hyunjae darinya.


"A-Apa yang kau lakukan? Bukankah aku sedang berbicara denganmu?" Ia berusaha menyingkirkan tangan pucat itu dari wajahnya.


"Aku bisa mendengarmu tanpa harus bertindak seperti ini!" Balasnya dengan tekanan yang semakin menguat.


"Jawabanmu?" Kini Hyunjae kembali pada topik pembicaraan mereka.


Wanita berambut perak itu mengalihkan pandangannya dan menuju langit, "entahlah..."


"????"


"Meskipun nyata... aku juga tidak dapat memastikan perasaanku sendiri," pandangannya kembali pada Hyunjae. "Apalagi harus menebak sesuatu yang masih di andai katakan." Sambungnya dengan wajah yang sedikit heran.


Setelah mendapatkan jawaban dari Lazel. Ia memutuskan untuk tidak mengatakan apapun lagi. Wajahnya pun kini terlihat menunduk dan merasa kurang puas dengan jawaban yang telah diberikan.


"Baiklah! Aku harus pergi." Ujar Lazel yang kembali berdiri.


Hyunjae memalingkan wajahnya ke belakang dan mengadahkan kepalanya ke atas, "huh? Kau mau kemana?" Tanya Hyunjae dengan kedua mata besarnya.


"Mengunjungi Ian, bukankah kemarin aku membelikannya beberapa barang untuknya?" Jawab Lazel yang sudah mengeluarkan kunci mobil dari saku jaketnya.


"Aku ikut."


"Hah?? Untuk apa? Aku hanya mengunjunginya, bukan tidur disana," ujar Lazel. "Hn? Memangnya apa yang salah jika aku memutuskan untuk tidur disana??" Pikirnya dalam hati.


"Tidak usah! Lagipula pendingin ruangan sudah diperbaiki, jadi kau bisa mendinginkan badanmu sekarang." Saat ini keinginan Hyunjae membuatnya sedikit risih.


"Tidak mau! Aku mau ikut!" Gelengnya kuat.


"Memangnya kau anak-anak?!"


...◇• •◇...


Langit-langit ruangan itu nampak bercahaya cerah. Dapat di duga jika langit-langit itu terbuat atau tertanam oleh beberapa lampu.  Sangat jarang mendatangi rumah itu meskipun letaknya hanya di batasi dengan Rumah Kaca.


Hiasan atau figura lainnya terlihat kosong, yang memenuhi seluruh ruangan hampir penghargaan semua serta tumpukkan buku.


Saat kembali mengelilingi Ruangan Tengah tersebut, ia melihat  sebuah alat musik berukuran besar terpajang di salah satu mimbar yang terletak di bagian tengah ruangan tersebut.


Kakinya pun bergerak ke arah benda besar berwarna hitam tersebut, "Piano?" Tangannya meraba beberapa bagian piano tersebut.


"Aku tidak menyangka jika Hyunjae bisa bermain." Tanpa sadar ia mulai mendudukkan dirinya di sebuah kursi mini yang berhadapan dengan piano hitam tersebut.


Kedua tangannya mulai membuka bagian papan tombol yang tertutup.


[Love Moon🎶] mulai mengisi ruangan yang terlihat hampa itu. Kedua matanya terlihat dingin sembari memperhatikan kedua tangannya yang bergerak kesana-kemari.


Cincin emas yang melingkar di jari manisnya menandakan jika dirinya sudah memiliki seorang pasangan. Kukunya yang bercat hitam nampak anggun dilihat.


Rambut peraknya dengan sebuah kupu-kupu di punggung kepalanya membuat seluruh penampilannya nampak cantik.


Tanpa disadari, dirinya terlarut dalam alunan piano itu  sehingga melupakan segala tujuannya.


Sehingga seseorang menghampiri dirinya dan menepuk pundaknya pelan. Dan disaat itulah pergerakkannya mulai terhenti serta wajah yang langsung berpaling ke belakang.


"H-Hyunjae?"


"Kau hebat sekali bisa memainkan benda sulit ini." Pujinya.


"Ha? Sulit?"


"Yup, bahkan aku tidak bisa memainkannya sedikit pun," ujar Hyunjae yang meletakkan kedua tangannya di belakang kepala. "Tapi... mengapa nadanya sedikit menyedihkan?"


Lazel yang masih duduk di tempatnya melipat kedua tangannya dan memasang tampang kesal, "menyedihkan karena kau adalah orang yang pertama kali melihatku bermain."


"Hohohoho~ tentu sa-"

__ADS_1


"Huh?? Ada apa?" Lazel melihat Hyunjae yang nampak terdiam seperti patung.


"A-AKU ADALAH ORANG PERTAMA YANG MELIHATMU BERMAIN?!" Pria berjaket hitam itu menunjuk dirinya sendiri dengan wajah terkejut.


...◇• •◇...


Kedua tangannya yang terlihat beberapa cincin perak dan salah satu emas di antaranya. Ia memegang stir mobil dengan pandangan yang fokus ke depan.


"Orang ini mendadak aneh." Ujar Lazel dalam hati.


Ia melihat Hyunjae yang duduk di sampingnya memasang wajah bersemangat. Sebenarnya ada sebuah kalimat terakhir yang ia potong, dan dalam sekejap wajahnya menjadi semangat tak terkira.


"Apa kau bisa bermain piano?" Tanya Lazel tiba-tiba.


"Tidak." Jawabnya langsung.


"Melihatmu bersemangat seperti itu membuatku jijik," tutur Lazel. "Jadi untuk apa piano itu disana?"


"Hyunji yang memberikannya sebagai peringatan hari pernikahan kita di tahun lalu." Jawabnya santai sambil memperhatikan ke depan.


"Mengapa aku tidak mengetahuinya?"


"Awalnya kupikir kau tidak menyukai atau tidak bisa memainkannya."


"Kalau begitu bawalah ke rumahku, aku akan-"


"Tidak, piano itu akan tetap di rumahku." Selanya dengan nada yang cepat.


"Kau tidak bisa memainkannya dasar Holang Kayah! Jadi untuk apa benda itu ada  disana?!"


"Jika kau ingin bermain bukankah kau hanya perlu mengunjungi rumahku saja? Jaraknya juga tidak jauh."


"..............."


Kedua tangannya mengarah ke samping kanan kiri menandakan tidak tahu, "bukankah tidak adil jika hanya aku yang terus mengunjungi rumahmu?"


Duak!


"Memangnya sejak kapan aku menyuruhmu untuk mengunjungi rumahku?!"


"Galak! Wanita ini sangat galak!" Tuturnya dalam hati.


Mobil merah itu bergerak semakin cepat dan melewati beberapa mobil yang berlalu lalang.


...◇• •◇...


Sebuah distrik yang letaknya lumayan jauh dari Rumah Utama atau Villa milik keduanya. Jalan tersebut lebih kecil dibandingkan jalan raya. Hampir setangah jam yang lalu mereka tiba di daerah tersebut.


"Hm... aku hampir melupakan tempat ini." Ujar Hyunjae yang memperhatikan setiap jalan dan juga belokan yang mereka lewati.


"Tentu saja. Orang seperti mu memang jarang menemui tempat seperti ini." Jawab Lazel yang nampak biasa dalam tatapannya.


"................"


"Setelah menikah dengan orang kaya seperti mu. Hujatan atau hinaan pasti menimpa seorang gadis itu. Meskipun mereka tidak ada bedanya sama sekali dengan kalimat yang mereka lontarkan." Jelasnya.


"Menikah denganmu dengan tujuan membalas dendam pada keluargaku sendiri. Apa yang mereka lakukan pada Ayah, Ibuku serta Ian. Tentu saja harus ada balasannya."


Hyunjae telah mengetahui semua itu, sesuai dengan apa menjadi kesepatakan yang pernah mereka ucapkan. Keduanya melakukan tindakan besar ini demi orang tua mereka, dan alasan lainnya adalah  demi membalaskan dendamnya.


Sejujurnya Hyunjae tidak menyangka jika keluarganya sendiri akan memperlakukan mereka dengan tidak wajar. Hanya masalah menanggung malu dengan perbedaan harta, mereka selalu menerima hinaan tiada henti.


Hal itulah yang membuat Lazel menjadi sosok yang tangguh seperti yang sekarang ini.


Setelah melewati beberapa tempat, akhirnya mereka mulai melihat rumah dengan bentuk biasa atau tidak semewah yang mereka tempati.


"Hyunjae, jangan hiraukan ucapan orang lain." Ujar Lazel sebelum keluar dari mobil tersebut.


...◇• •◇...


Kedua tangannya penuh dengan tas beraneka macam corak. Dan semua isinya adalah untuk Adik tersayangnya. Siapa lagi kalau bukan Ian.


Lazel sengaja tidak memberi tahukan kedatangannya pada Ian. Dirinya khawatir jika akan membuat Adiknya merasa repot.

__ADS_1


Tok! Tok! Tok!


Ia mengetuk pintu pintu tersebut menggunakan tangan Hyunjae yang saat ini tidak memegang apapun.


"Siapa?"


"Entahlah." Wajahnya terlihat lesu, namun perasaannya sangat senang jika jawaban itu berasal dari Adik tersayangnya.


"Hei, mengapa wajahmu terlihat sangat pasrah?"  Tanya Hyunjae dalam hati.


Cklek!


"IAAAAAAAN!!" Pelukan serta teriakkannya itu berlangsung dengan bersamaan.


Tas-tas itu terjatuh dengan hampa dan membiarkan kedua tangannya memeluk Adiknya.


"Oh Kakak, lama tidak berjumpa." Ujar Ian yang berada di sisi yang lain serta meratapi Kakaknya yang sedang memeluk orang lain di hadapannya.


Lazel yang melihat kembarannya dengan mata kepalanya sendiri merasakan sebuah kejanggalan besar dalam hidupnya, "HEH?!"


Lazel pun melepaskan pelukan itu dan melihat siapa yang menerima pelukan langka darinya, "I-IAN BERUBAH MENJADI PRIA YANG CANTIK!" Teriaknya histeris.


...◇• •◇...


"Yo, lama tidak berjuma Kak." Sapa Argo yang saat ini berada di ruang tengah.


"Argoo~ kupikir hanya cebol itu yang disini." Lazel membalas sapaan Argo dengan lambaian tangannya.


"Hah? Wanita otot ini, mengapa dia disini?" Cibir Kim yang berada di atas sofa serta memandang ke arah Lazel dengan tak suka.


"Sialan! Apa yang kau katakan dasar cebol?!" Ia pun menarik rambut Kim karena berhasil membuat dirinya kesal.


"G-Gorila! Wanita Gorila ini mulai menyerang manusia!" Kim membalasnya dengan melakukan hal yang sama pada rambut Lazel.


"Ada apa dengan mereka?" Tanya Hyunjae yang hanya meratapi perdebatan mendadak itu.


"Mereka mulai lagi." Batin Argo dan Ian bersamaan.


...◇• •◇...


Kedatangan Lazel dan Hyunjae membuat rumah minimalis itu riuh. Ditambah dengan aungan Lazel dan juga Kim.


Sedangkan Ian, dirinya tidak menyangka jika kedua Kakaknya akan datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu. Jujur saja, kedatangan mereka membuat dirinya merasa tidak enak, bahkan ia tidak memiliki apapun untuk disuguhkan.


"Tadaa~ aku membawa makanan." Ujar Lazel dengan wajah sombongnya.


Hyunjae yang duduk di sampingnya membantu Lazel mengeluarkan makanan dan minuman yang sangat banyak, mereka membeli semua itu sebelum tiba di rumah Ian.


"Uwaaaa!! Kita akan pesta malam ini!" Ujar Argo yang kini terlihat kelaparan.


"Sialan! Orang Kaya memang terbaik!" Ujar Kim dengan semangat yang membara.


"Ohoo~ kau baru tahu~" Lazel yang merasa itu pujian membuat dirinya di ambang kebahagiaan.


"Sepertinya akan menyenangkan jika aku mendapatkan Sugar Momi di suatu saat nanti." Ucapnya tanpa di saring terlebih dahulu.


"BWAHAHAHAHAHAHA!" Tawa Lazel saat ini menggema kuat di seluruh ruangan itu.


"Apa yang kau tertawakan?!"


"Ayolah~ mereka mencari pria yang 'tinggi' dan berwajah 'liar' bukan cute sepertimu." Ejek Lazel di sela tawanya.


"Dasar gorila! Kau pasti membuat tumbal bukan saat menikah dengan Hyunjae?!"


"Ya, tumbalnya adalah anak kecil berwajah cantik." Ejekannya semakin menjadi.


"Dasar kau ini!"


"Mengapa aku terseret dalam perdebatan yang mereka buat." Pikir Hyunjae.


Ian dan Argo menyoraki kedua orang itu yang masih berdebat hebat sehingga hampir mengeluarkan jurus mereka masing-masing.


"Rumah yang kecil... tidak ada kemewahan di dalamnya," ia memperhatikan tawa serta teriakan yang diperbuat oleh pihak lainnya. "Sepertinya sesuatu seperti ini begitu menyenangkan." Senyumnya.

__ADS_1


__ADS_2