
Sesi pemakaman baru saja usai, setelah itu, kedua saudara yang memiliki ciri-ciri yang sama itu mendapatkan sebuah sambutan serta kalimat maaf. Untuk saat ini hanya Kakaknya yang mengetahui siapa kedua pasangan tersebut.
Jika dikatakan marah tidak, dendam pun tidak. Namun yang dirinya rasakan saat ini masih sulit diungkapkan melalui kata-kata. Karena kesedihannya tidak akan pernah berakhir jika ia tidak mengakhirinya, serta tangisannya hanya akan menjadi penghambat jalan keluar.
Hyunji yang berdiri di sisinya juga telah memberitahukan identitas mereka.
Dan sekarang... pelaku itu menunjukkan dirinya sendiri di hadapannya dan juga Adiknya.
"Maafkan kami! Kami melakukan sebuah kesalahan fatal sehingga menewaskan kedua orang tua kalian." Bahkan tindakan mereka hingga menyentuhkan dahi dari tumpukan salju yang menutupi tanah.
Kini orang-orang yang berdiri di sekeliling mulai bergemuruh dan membuat gosip tersendiri. Sedangkan yang lainnya juga menatapi Lazel dan juga Ian, kedua saudara itu belum mengucapkan sepatah kata apapun pada kedua orang yang sedang bersujud di hadapannya.
"Aku membenci kalian." Ujar Ian yang langsung membuat pernyataan kejam. Tatapannya sangat menunjukkan bahwa apa yang dia katakan adalah benar dan sebuah fakta dari perasaan terdalamnya.
"I-Ibu..." Hyunji memegang kedua pundak Ibunya.
Nezra menepuk pelan tangan Putranya yang berada di pundaknya, "untuk saat ini aku tidak bisa ikut campur. Karena pada dasarnya hal ini menyangkut nyawa seseorang, dan yang lebih merasakannya adalah mereka." Ujar Nezra dengan suara pelan.
Bukan hanya mereka berdua, Adam, Hyunjae dan orang-orang lainnya. Mereka tidak akan ikut campur dalam urusan hal itu.
"Bangun." Setelah terdiam beberapa saat akhirnya Lazel mengeluarkan suara dan memberikan perintah singkat pada kedua pasangan tersebut.
"H-Huh ta-tapi-"
"Huft..." kedua tangannya dengan kuku yang bercat hitam itu meraih kedua tangan pasangan itu dan membantu mereka berdiri.
Setelah tindakannya itu, kedua pasangan itu akhirnya berdiri sesuai dengan perkataannya.
"Akhirnya kalian mau menatapku." Ucap Lazel dengan hawa hangat yang keluar dari rongga mulutnya.
Kini yang mereka lihat adalah sosok manusia yang berjenis kelamin wanita layaknya boneka. Wajah pucat, iris pink yang terang seperti caramel dan berlian, memiliki tubuh tinggi serta rambut berwarna perak. Sehingga seluruh penampilannya serupa dengan Wanita Salju.
...◇• •◇...
Dres hitamnya sudah terhias dengan buih-buih salju seperti kapas, bagian bawah menyentuh salju dan menghiasi sekitar hamparan putih itu.
Ia menolehkan wajahnya ke arah kanan lalu mengangguk seperti sedang memberikan sebuah perintah.
Sehingga datanglah seorang wanita yang berpakaian rapi dengan sebuah amplop di tangannya, lalu ia menyerahkannya pada Lazel.
"Ini," setelah berada di tangannya, ia menyerahkannya lagi pada dua orang itu. "Aku sudah memperkirakan pengeluaran kalian." Ucapnya.
"H-Huh?" Tentu saja mereka nampak kebingungan.
Bahkan keluarganya sendiri merasa bingung dengan apa yang dilakukan Lazel.
"Aku tidak ingin mengambil keuntungan dari kalangan bawah," kini Lazel menjelaskan sedikit dari tindakannya itu. "Karena aku masih sanggup melakukannya." Sambungnya.
"Kak, apa yang kau lakukan? Bukankah mereka adalah penyebab kematian Ayah dan Ibu?" Kini Ian merasa tidak setuju dengan pernyataan Kakaknya.
"Ian, diamlah sebentar." Sahut Lazel dengan wajahnya yang nampak pucat.
"..............." mau tak mau Ian harus diam untuk sesaat.
"Ambilah." Ujarnya dengan menyodorkan sebuah amplop berwarna putih.
"Tidak, kami tidak akan-"
Tap!
Lazel meraih tangan wanita tua itu lalu meletakkan amplop yang diketahui berisi uang itu di atas tangannya.
"Bagaimana bisa Anda memberikan ini? Ini sungguh tidak masuk akal."
"Aku membenci kalian, sungguh," sahut Lazel yang memperbaiki jubah hitamnya yang menutupi dress dengan warna yang sama. "Tapi... aku tidak bisa menghindari takdir." Sambungnya dengan sedikit senyuman kecil.
...◇• •◇...
__ADS_1
Orang-orang berpakaian hitam itu mulai membubarkan diri dan meninggalkan tempat.
Masih di tempat yang sama, ia masih berdiri dengan raut wajah yang merenung. Kepalanya tertunduk, rambut peraknya serta kupu-kupu hitam itu menghiasi punggung dan kepalanya.
"Sangat berat melakukannya... bahkan aku hampir tidak bisa mengendalikan tangaku sendiri,"
"Tapi... aku juga tidak bisa membuat diriku terus bersedih atas kepergian kalian, karena separuh dari tujuanku belum tercapai,"
"Dan aku tidak ingin membebani diriku dengan masa lalu, dan segera menemukan sebuah kenyataan."
Ian mendatanginya dan mengajak Kakaknya untuk pergi dari sana. Untuk yang ke sekian kalinya, kedua kaki yang membelenggu dirinya untuk menetap, dengan paksaan serta tekad dalam dirinya, ia memutuskan rantai itu dan mulai menanjak jalan yang penuh dengan duri.
"Nona Lazel dan Adiknya... bukankah mereka berdua tampak memukau?"
"Ya, mereka tidak memiliki wajah yang serupa dengan orang tuanya, tapi parasnya sangat luar biasa."
"Kupikir mereka adalah salah satu Noblees yang dikirim menuju negeri ini."
"..............." disaat-saat seperti ini, mereka masih sempat untuk membicarakan hal lain.
Pujian itu sudah menjadi hal biasa bagi mereka, tapi... sisi lain yang mereka miliki sangat bertentangan dengan apa yang tertera di wajah.
...◇• •◇...
Tangannya memegang kedua pundak wanita itu, "apa kau kedinginan?"
"Tidak, aku baik-baik saja." Jawabnya pelan.
Saat ini Keluarga Pietra akan pergi menuju kediaman mereka dan meninggalkan pemakaman.
Akan tetapi... saat mereka baru saja ingin melangkahkan kaki dari gerbang, sekumpulan orang yang sangat di kenali oleh Lazel maupun Ian mendatangi mereka.
"Lazel... kami turut berduka cita."
"Adik, apa kalian baik-baik saja?"
"Bibi khawatir jika kalian akan terus memikirkan hal ini."
Lazel mungkin dapat menangkis kekesalannya, tapi tidak dengan Ian. Pria muda itu terlalu terobsesi terhadap kebencian pada Keluarga besarnya.
Nezra menekuk kedua alisnya dan memegang Lazel dengan erat, sedangkan Hyunji dan Hyunaje berdiri di belakang kedua wanita itu.
"Ibu... sejak kemarin Cherry dan Gilver belum kuberi makan." Ucap Lazel yang menatap Ibunya.
"Benarkah? Kalau begitu kita harus pulang, tunggu, siapa Gilver??"
Mereka pun kembali bergerak, tapi... Lazel menghentikan sejenak langkahnya dan memberikan sebuah peringatan kecil pada Keluarganya sendiri.
"Yang kumiliki saat ini hanyalah Ian," tatapannya menoleh tajam. "Jika kalian menyentuhnya sedikit saja... mungkin aku mampu mematahkan tangan kalian." Sambungnya.
"..............."
Merasa seperti tak dihargai... namun hal itu masih sangatlah ringan bagai kapas dibandingkan masa lalunya.
...◇• •◇...
Beberapa mobil hitam berderet di sana.
Nezra menempelkan pipinya pada pipi Lazel, "hm~ Lazel sangat berani, aku memang tidak salah memilihmu." Ucapnya dengan perasaan senang.
"Haha~ te-" padahal mereka hampir memasuki mobil, namun tubuh wanita berambut perak itu seketika melemas dan membuatnya hampir terjatuh dari genggaman Nezra.
"!!!!" Semuanya pun terkejut melihatnya.
"L-Lazel! Kau tidak apa-apa?!" Tanya Nezra.
"Kak!"
__ADS_1
"Kemari." Hyunjae meraih tubuh Lazel lalu membawanya ke dalam mobil terlebih dahulu.
"Hyunjae, lebih baik kau bersama Lazel, Ibu tidak mungkin bisa menjaganya." Ujar Nezra yang sedikit merasa keberatan saat membantu Lazel.
"Baiklah."
...◇• •◇...
Di dalam mobil itu terisi dengan empat orang. Hyunji sedang mengemudi, sedangkan Ian berada di sampingnya, dan Hyunjae berada di kursi belakang bersama dengan Lazel yang berada di dekapannya.
"Dia tidak demam." Ujar Hyunjae setelah memegang dahi wanita itu.
"Syukurlah." Sahut Hyunji yang fokus pada jalanan.
"Kak Lazel selalu seperti ini, jika sesuatu yang berat menimpa dirinya otomatis tubuhnya mengalami drop," jelas Ian. "Bahkan saat masih di umur yang sangat muda, bukan hanya sekali hal ini terjadi."
"Hah?? Lazel mengalami hal ini sejak kecil?!" Kejut Hyunji.
"Huft... sepertinya Kak Lazel benar-benar tidak ingin ada yang mengetahui setitik masa lalunya." Keluhnya.
Di sela-sela penceritaan Ian mengenai Lazel. Hyunjae sama sekali tidak melontarkan komentar apapun dan hanya menyimak apa yang dikatakan Ian.
Dan dirinya mulai berpikir jika selama ini Lazel selalu keras kepala, bertindak layaknya penyihir serta mulut seperti kebun binatang. Tapi... wanita itu berusaha menutupi segalanya dan hanya memperlihatkan covernya saja. Apa yang diperlihatkannya itu bukanlah sepenuhnya kebenaran melainkan drama.
Ia menundukan wajahnya dan melihat Lazel dengan kedua mata yang terpejam. Kulit pucat yang dia miliki layaknya salju, sehingga Hyunjae merasa jika dirinya sedang memeluk Manusia Salju.
Sedikit ia mendengar pujian orang lain mengenai Lazel.
"Kulit pucat... iris merah muda seperti berlian..." ia memperhatikan dengan teliti wajah wanita itu. "Benar, wajahnya seperti boneka."
"Hm... apa semenarik itu wajah Kakakku?" Tanya Ian yang menatapi perilaku Hyunjae pada Lazel.
Sontak pria itu terkejut dan menghentikan tindakannya.
"..............." sedangkan Hyunji hanya menatap mereka dari balik kaca, "apa belakangan ini mereka baik-baik saja..."
...◇• •◇...
Untuk sementara mereka akan menetap di Rumah Utama sehingga kondisi Lazel jauh lebih baik. Bahkan Ian juga tidak boleh meninggalkan rumah itu.
Kedua kakinya menapaki anak tangga sambil membawa Lazel di dalam rangkuhannya dan pergi menuju kamar.
"Ian, jagalah Kakakmu hingga aku kembali." Ucap Hyunjae pada Ian.
"Baiklah."
...◇• •◇...
Hari ini adalah malam natal, selama perjalanan kota begitu ramai dengan banyak orang yang menghias pohon natal di beberapa pinggir jalan. Malam ini mungkin akan sedikit meriah, maka di esok harinya akan lebih meriah lagi.
Oleh karena itu, keluarga besar Pietra sama sekali tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Mereka tidak bisa melakukan pesta atau menikmati natal begitu saja setelah apa yang terjadi.
Lagipula perasaan mereka masih dilanda dengan rasa khawatir mengenai Lazel dan Ian.
"Hm?" Hyunji dan yang lainnya berada di Ruang Tengah, ia melihat kehadiran Hyunjae yang baru saja menuruni tangga.
"Hyunjae." Panggilnya dengan jempol yang mengarah pada tempat lain.
...◇• •◇...
Setelah sekian lamanya, kedua saudara itu akhirnya saling berbincang satu sama lain. Sang Kakak yang hingga kini belum menikah di dahului dengan Adiknya. Bahkan pernikaham mereka sudah mencapai sepuluh tahun lamanya.
Mereka saat ini berada di sebuah ruangan kosong yang terletak di Ruang Utama sambil menikmati suasana luar yang penuh dengan salju putih.
"Hyunjae... apa kau-"
"Kau masih membahas yang sama? Apakah kau tidak memiliki hal lain untuk dibicarakan?" Sela Hyunjae yang berbalik menumpahkan pertanyaan pada Kakaknya.
__ADS_1
"Kau itu sangat egois, setelah semua ini apa kau tidak merasakan apapun pada Lazel? Apa kau masih tidak mengerti kondisi ini?" Hyunji sedikit menekankan kalimatnya saat berbicara dengan Adiknya.
"Untuk saat ini aku akan meladeni semua ucapanmu, karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, dan aku membutuhkan pendapatmu." Jelas Hyunjae yang menatap Kakaknya dengan tatapan biasa.