
Satu hal yang tidak ia duga adalah... bagaimana bisa Kakaknya mengatakan sesuatu seperti itu? Bahkan ia baru menyadari sebuah kenyataan bahwa bukan hanya seorang saja yang menyukai wanita itu. Terlebih lagi perasaan tak berbalas itu masih berjalan hingga kini.
Untuk pertama-tama, ia akan menceritakan keseluruhan tentangnya yang menyukai Lazel. Cintanya memang tidak berbalas, namun Lazel menghargai ungkapan seperti itu. Karena pada dasarnya tidak ada atau bahkan mustahil seseorang akan berbaik hati padanya.
"Aku tidak menyangka... jika Hyunji menyukai Lazel selama ini," Hyunjae masih memikirkan sebuah hal yang baru dia ketahui. "Dan... bagaimana bisa dia menyimpulkan bahwa aku menyukai Lazel."
"Jadi bisa kau simpulkan seperti ini. Mungkin saja rasa cintaku pada Lazel juga mewakili rasa cintanya pada Wonhae."
"..............."
"Kau pasti sudah tahu bukan bagaimana Lazel hidup hingga kini, tujuan salah satunya berpacu pada kematian Wonhae."
"Apa Ibu mengetahui hal ini?"
"Tidak, hm... mungkin iya. Tapi sejujurnya hal ini tidak perlu dipermasalahkan karena siapapun pasti menyukai wanita seperti Lazel."
"Aku akan pergi."
"Benarkah? Cepat sekali," keluh Hyunji dengan ekspresi yang tidak sesuai dengan ucapannya. "Semenjak kau menikah, aku harus menjalani kesepian ini seorang diri."
"Hyunji..." kini pria berjaket hitam itu kembali menoleh.
"Hm?"
"Jika aku memang menyukainya... apa dia pantas memberikan hal yang sama?" Tanya Hyunjae yang tidak memperlihatkan raut wajahnya pada Hyunji.
Hyunji mencoba untuk memahami apa yang terjadi pada Hyunjae, namun jika ia memberikan jalan keluar begitu saja, ada sebuah kemungkinan jika Hyunjae hanya membuang waktunya hanya karena sebuah rasa penasaran, "entahlah." Jawabnya singkat.
"Lagipula setelah mendengarmu berkeluh kesah aku sudah mendapatkan jawabannya," ucapnya dengan ekspresi datar. "Aku juga tidak ingin kau mengatakan semua ini hanya untuk mendekatinya lalu meninggalkanya begitu saja." Batinnya.
Dengan tegas, seluruh tubuhnya berbalik dan menatap punggung Hyunji, "hah?! Apa?! Apa yang kau dapatkan?! Cepat beri tahu aku!" Kini Hyunjae berdiri di samping Kakaknya dan menggoyangkan kedua pundaknya.
"Hentikan! Aku mual!" Ujar Hyunji yang memukul tangan Hyunjae. Kini kedua iris abu-abu itu menatap warna iris yang sama pada Hyunjae dengan serius.
Bahkan Hyunjae harus mengambil posisi berlutut di samping Hyunji.
Hyunji meletakkan gelas putih itu ke atas meja, lalu mulai berekspresi serius, "kau itu..."
...◇• •◇...
"Ohoo~ kau berani memulangkan diri setelah Lazel menghusirmu~" ejek Nezra yang mendadak muncul dari tangga.
"Sudah kubilang kami tidak bertengkar!" Tutur Hyunjae yang merasa kesal dengan ucapan Ibunya.
"Sudah pasti bertengkar! Lalu buat apa kau datang kemari hingga larut malam!" Kini Nezra meninggikan suaranya, "wajahmu juga memerah setelah keluar dari kamar Hyunji!"
"Hei! Apa kalian minum?!" Tatapannya kini terlihat menyeramkan yang tertuju pada Hyunji dan Hyunjae.
"Tidak!" Jawab kedua Putranya itu dengan bersamaan.
Hari semakin malam atau memang tepat larut malam. Setelah mendapatkan kalimat akhir dari Hyunji, ia langsung bergegas meninggalkan kamar Kakaknya dan berniat untuk pulang.
Namun kehadiran Ibunya yang menyebalkan membuat dirinya harus berdebat sejenak.
"Ibu tahu... Hyunjae menginginkan sebuah trik bagaimana memikat hati wanita." Sahut Hyunji yang menyandar pada dinding dengan wajah santainya.
"Oh, benarkah?" Toleh Nezra.
__ADS_1
Hyunjae menatap Hyunji dengan kesal, "hei! Kau hanya memperburuk keadaan!"
"Sudah ku duga! Kau ingin memikat hati Lazel karena kau membentaknya bukan?" Tanya Nezra.
"Jangan katakan apapun lagi!" Bentaknya.
Sebelum berdebat lebih panjang lagi, Hyunjae memutuskan untuk langsung memasuki mobilnya. Sebelum menancapkan gas, Hyunji kembali memanggilnya.
Hyunji meletakkan tangannya pada punggung tangan Hyunjae yang sedang menggenggam stir dari jendela mobil yang terbuka lalu mengubah ekspresi wajahnya seperti gadis tulen, "kau itu cemburu, dengan perasaan yang seperti itu kau berusaha meletakkan kekesalanmu pada Gyuu, mungkin setelah itu kau akan mulai membenci diri-"
Hyunjae melepaskan tangan Hyunji darinya, "aaaaa! Hentikan! Aku pergi!" Setelah itu ia melesat pergi dari kediaman Ibunya.
"Ahahahahahaha~" tawa Hyunji dengan ekspresi bodohnya.
Seseorang dari belakang menarik pakaiannya, "hei, apa Hyunjae bertengkar dengan Lazel?" Tanya Nezra yang menatap Hyunji dengan bingung.
"..............."
...◇• •◇...
Di tengah-tengah kegelapan itu cahaya lampu kota menyinari sebagian wajahnya. Terlihat samar-samar jika wajahnya itu memerah.
Ia tidak menyangka jika perasaan janggal selama ini ada kecemburuan serta rasa suka pada Lazel.
"A-Apa Lazel sudah tidur?" Ia melihat jam dari salah satu layar monitor mini dari mobil.
Di tengah-tengah rasa campur aduk itu, dirinya tak menduga bahwa rasa kesal tanpa alasan pada Gyuu adalah akibat dari rasa cemburu.
Jalanan masih terdapat beberapa kendaraan meskipun tidak seramai waktu yang biasanya. Namun ia merasa jika tengah berjalan di kumpulan orang-orang.
Jujur saja... perasaan campur aduk itu juga memiliki perasaan senang.
...◇• •◇...
Di sisi lain, sosok wanita berambut perak itu tengah tertidur dengan tubuh yang hampir menjelajahi setiap sisi ranjang. Ponselnya tergeletak begitu saja di lantai, selimut yang tidak beraturan sama halnya dengan pakaiannya yang hampir memperlihatkan lekuk tubuhnya.
Malam yang semakin larut membuat sinar bulan semakin cerah dan terlihat rendah. Bulan itu memancarkan cahaya birunya pada wajah putihnya.
Terdengar suara pintu yang terbuka dengan sangat hati-hati, bahkan ia berusaha untuk tidak membuat keributan kecil apapun yang bisa membangunkannya.
Pintu kamar itu memang tidak terkunci, karena sebelumnya ia sudah memperingatkan wanita itu untuk tidak melakukannya. Hal itu hanya untuk berjaga-jaga, karena kamar Lazel sangat luas dan kedap suara.
Seseorang berdiri di balik cahaya itu dan perlahan mendekat.
Aromanya saat ini sangat menyengat dengan aroma shampo dan juga sabun.
Ia tersenyum tipis, "wanita ini terlihat mengerikan saat tertidur." Ucapnya dalam hati.
...◇• •◇...
Matahari pagi menyilaukan mata dan memberi cahaya terang di seluruh ruangan itu.
"D-Demi Poseidon, Zeus, um... entahlah apapun itu. T-Tubuhku berat sekali!"
Kedua matanya masih terpejam, namun ia merasakan jika tubuhnya seperti tertindih oleh sesuatu yang besar. Bahkan ia hampir tidak bisa bergerak sama sekali, namun dengan ajaibnya ia masih bisa bernapas dengan normal.
Seketika dirinya berhasil membuka kedua matanya dan melihat keadaan. Anggota tubuh yang dapat ia gerakkan hanya kepala.
__ADS_1
"Sia-" tatapanya kaku, kedua matanya melebar. "H-Hahaha~ mimpi yang sempurna untuk melihat tubuh seorang pria dengan kotak-kotak di perut me-TIDAK! INI BUKAN MIMPI!"
Ia berusaha menyingkirkan tangan besar itu yang memeluk dirinya, serta sebagian tubuh yang menghimpitnya.
Untuk sesuatu yang berulang kali terjadi, untuk pertama kalinya ia tidak berteriak.
Lazel terduduk dengan rambut peraknya yang sangat berantakan. Ia menatap pria tanpa busana itu dengan tatapan miris.
Hyunjae tertidur dengan posisi menyamping, salah satu tangannya menyelip pada bantal yang Lazel gunakan saat tidur. Lengannya yang terjulur itu terlihat sangat besar, bahkan kotak-kotak yang ada di perutnya terlihat sangat jelas, sehingga otot tulang rusuknya sangat terbentuk.
Ia mencoba meraih boneka yang terhimpit dengan kepala Hyunjae, "b-bagaimana bisa dia ada disini?" Batinnya.
Ia mencoba dengan perlahan dan mencoba untuk tidak menimbulkan kekacuan. Tapi... sepertinya keberuntungan hari ini bukanlah miliknya.
"!!!!" Saat hampir mendapatkan bonekanya kembali, pergerakkannya terhenti begitu saja karena Hyunjae mulai terbangun dan menatap seorang gadis yang mendekatkan wajahnya.
"Hm~ apa kau ingin memberikan ke-"
"Menyentuhku sedikit saja, tidak akan ku ampuni." Sela Lazel yang perlahan mundur, padahal dirinya sangat tahu jika ancaman seperti itu bukanlah apa-apa bagi Hyunjae yang memiliki body jauh lebih besar darinya.
Dengan wajah yang santai, ia meraih pinggang Lazel sehingga wanita itu terjatuh di atas dadanya yang besar.
"Apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Hyunjae sambil meninggikan kepalanya dengan memperbaiki posisi bantalnya, sehingga ia dapat melihat wajah Lazel dengan jelas.
Bertanya seolah tak terjadi apapun, hal itu membuat pagi Lazel disambut dengan emosi, "bajing-"
"Aku akan menciummu," sela Hyunjae sebelum Lazel menyelesaikan kalimatnya. "Yahh~ kau tahu bukan jika kalimat itu tidak baik untuk diucapkan oleh seorang wanita?" Sambungnya dengan mempererat pelukannya pada Lazel.
"Kepa-"
"Berbicara lagi, aku akan melakukannya hingga kau pingsan." Seringainya.
"M-Melakukan apa?! Bajing*n ini!!!" Sepertinya mencari masalah dengan Hyunjae memang sangat salah untuk dilakukan. Pria bertelanjang dada itu memperlihatkan sorot matanya yang paling Lazel takuti.
"Baiklah~ ayo tidur lagi." Ujar Hyunjae yang masih menahan tubuh Lazel dengan tangan kanannya, serta tangan kirinya yang terangkat menuju bawah bantal yang ia tiduri.
"Tidur?! Sialan! Aku ada pertemuan hari ini!" Ucapnya dalam hati meskipun ia sangat ingin menampar pria itu.
Tapi apa daya, melihat kedua tangannya itu saja membuat Lazel merinding serta nyalinya hilang begitu saja. Tapi... posisi saat ini semakin membuatnya tidak nyaman.
Jika diperhatikan dengan benar, Hyunjae memiliki tubuh yang luar biasa. Tangannya yang terlipat ke atas memperlihatkan beberapa urat yang menonjol. Belum lagi tubuh atasnya yang tertampang bebas tanpa pakaian.
"A-Aneh... dia tidak bau, justru sebaliknya, dia s-sangat harum." Ujar Lazel tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.
"..............." Hyunjae merasakan perut Lazel yang terus bergerak. "Tentu saja sesak, jika dia berusaha untuk tidak menyandarkan wajahnya pada tubuhku." Tuturnya dalam hati dengan ekspresinya yang datar.
"Tidak! Aku tidak akan tergoda dengan tubuh pria yang seksi! Aku harus ku-"
"Bahkan jika kau pingsan aku tidak akan melepaskanmu," ucap Hyunjae tiba-tiba. "Yahh~ mungkin itu adalah waktu yang pas untuk menyerang." Kini senyumannya semakin terlihat mengerikan.
Lazel mengadahkan wajahnya pada Hyunjae dengan memasang wajah panik, "menyerang? Apa yang akan kau serang huh??"
Lazel yang menatap Hyunjae dari jarak dekat membuatnya mati kutu. Sebelumnya mereka selalu melakukan pertengkaran yang heboh, Lazel sebagai wanita sama sekali tidak takut pada Hyunjae, justru ia sangat ingin menghajar wajah arogan itu.
Akan tetapi... saat ini, sepertinya sudah tidak semudah yang dulu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah sesuatu yang sangat buruk. Bahkan dirinya tidak dapat memprediksi apapun yang akan dilakukan pria itu jika dirinya mengucapkan beberapa kalimat.
"Haah~ kau wangi sekali." Ujar Hyunjae yang merasa nyaman dengan adanya Lazel yang berada di atas tubuhnya dengan posisi telungkup.
__ADS_1
Sama sekali tidak ada jalan keluar, itulah pikirannya saat ini, "jika seperti ini pertemuanku akan... terlambat." Ia pun merubuhkan wajahnya pada dada berotot Hyunjae.
"??!!" Hal itu pun membuat Hyunjae memalingkan wajahnya ke arah lain sembari menahan semburat merah di wajahnya.