
Hari hampir sore. Mereka mendapatkan kabar jika keluarganya akan melakukan penerbangan di esok hari sekligus membawa jasad Lena dan juga Gion..
Setelah mendengar hal yang begitu histeris, Hyunjae kembali menguhubungi Ibunya dan meminta menjelaskan kegmbali secara rinci terhadap apa yang menimpa kedua orang tua Lazel. Dan pada akhirnya ia mengerti dan mengetahui alasan di balik kecelakaan itu.
Di sebuah kamar yang sedikit redup, di atas ranjang yang berukuran besar. Seorang pria dengan pakaian tebal itu tengah terduduk sambil mengawasi seseorang yang sedang tertidur di atas pangkuannya.
Untuk saat ini ia tidak bisa menjauh dari wanita itu, dan terus menjaganya dan siap untuk melihatnya kembali menangis. Lazel cukup lama tidak sadarkan diri, tapi ini cukup membantu. Karena Hyunjae ingin membuat Lszel istirahat sejenak setelah mengalami syok berat.
Sedangkan Ian... pria belum bisa menstabilkan perasaannya ,oleh karena itu dia menginginkan waktu untuk sendiri.
"MENGAPA HAL INI SELALU TERJADI PADAKU!"
"LAGI DAN LAGI! UNTUK KEDUA KALINYA AKU MERASAKAN HAL YANG SAMA!"
Dirinya sedikit mengingat teriakan yang diucapkan oleh Lazel. Dari dua kalimat itu, ia merasakan sesuatu, jika yang kini Lazel alami bukanlah pertama kalinya. Hal itu membuat dirinya berpikir, bahwa siapa sosok sebelumnya yang membuat Lazel terlihat sangat depresi.
Lagipula... mereka mendapatkan kabar yang pahit secara mendadak.
Sebagai pria, Hyunjae sama sekali tidak bisa membayangkan apapun pada wanita itu. Selain kedua orang tua, Ian juga memiliki Kakaknya. Namun Sang Kakak tidak akan bisa terus bersamanya.
Sedangkan Lazel... dia sebagai Anak Pertama, sebagai seseorang yang memiliki Adik. Bebannya akan semakin tertumpuk, rasa khawatirnya semakin menjadi, serta pengawasan yang tidak akan lengah.
Sebenarnya Hyunjae merasa sangat penasaran dengan apa yang diucapkan Lazel saat menangis. Saat ini Ian tidak dalam kondisi yang baik, sedangkan Lazel... ia tidak mungkin bertanya langsung pada wanita itu.
Tangannya mengusap kepala Lazel dengan perlahan, "untuk sesaat kau merasa marah... dan seketika kau terlihat baik-baik saja," ia merasa prihatin dengan keadaan yang menimpa Lazel. "Dan disaat segalanya diambil darimu, disitulah dirimu terlihat. Kau memang wanita penuh dengan kesedihan."
...◇• •◇...
Tidak ada orang yang saling menghargai selain memiliki derajat yang sama. Kesombongan akan datang padamu disaat kau memiliki segalanya. Bersama dengan rasa sakit yang berusaha kau sembunyikan.
Manusia adalah Makhluk tempatnya berbohong, sombong serta pelupa. Ucapan yang tidak sesuai dengan tindakan, memperlihatkan apa yang sempurna bagi mereka terhadap orang-orang yang ada di bawahnya. Tidak mengingat apa yang akan menimpa mereka sesuai dengan apa yang mereka lakukan.
Uang tidak akan pergi bersamamu ke alam baka. Namun jika kau tidak menginginkannya di dunia maka uang yang akan membutuhkanmu.
Sama halnya yang dilakukan gadis perak itu. Tidak peduli terhadap apapun, dan yang menjadi prioritasnya adalah sebuah Keluarga dan uang. Selama ada keluarga, ia masih memiliki tempat untuk menangis, selama ada uang ia tidak akan membiarkan keluarganya kelaparan.
...◇• •◇...
Masih di tempat yang sama. Di balik cahaya yang berabu serta jingga itu sedang berdiri dan menempelkan ponsel di telinganya.
"Ya, dia baik-baik saja. Lazel langsung tak sadarkan diri setelah syok berat."
^^^"..............."^^^
"Bahkan aku tidak tahu apa yang harus dilakukan saat dia terbangun. Untuk saat ini aku akan terus bersamanya dan membantu dirinya untuk tetap tenang." Ia berusaha untuk berbicara dengan nada yang pelan tanpa membangunkan Lazel.
Hyunjae mendapatkan panggilan lagi dari Ibunya dan menanyakan keadaan Lazel dan Ian. Ia tidak bisa menjelaskan terlalu banyak, karena dirinya tidak ingin Ibunya terlalu banyak pikiran hingga harus mengkhawatirkan yang lain.
"Ibu, aku akan meminta Ian untuk menjemput kalian besok. Karena mustahil Lazel akan lepas dari pengawasanku."
Belakangan ini panggilan terus terjadi. Hyunjae baru saja menyelesaikan percakapannya dengan Nezra melalui ponsel.
Kepalanya sedikit sakit, namun rasa sakit Lazel jauh lebih parah. Dari sana ia memperhatikan wanita itu yang masih memejamkan kedua matanya. Kulit pucatnya semakin terlihat karena terpapar cahaya luar.
Kedua tatapannya terlihat sendu, "Lazel..."
...◇• •◇...
__ADS_1
"Mmm..."
"!!!!" Tidurnya begitu sensitif terhadap sedikit suara. Kini ia mulai terbangun karena wanita yang kini berada di pelukannya mulai terbangun.
Iris pinknya kembali menyorotkan tatapan kehilangan, wajahnya kembali panik dan menatapi sekitar dan mendapati Hyunjae yang tengah mengurung dirinya di dalam pelukan, "Ibu... Hyunjae, Ibu dan Ayahku membutuhkan diriku." Ucapnya pelan sambil memegang kedua lengan besar itu.
"Dingin..." ia merasakan jika jari jemari wanita itu semakin dingin saat menyentuh dirinya. "Kemari." Pria itu tidak akan melepaskan kedua tangannya dari Lazel.
"Tidak! Aku akan menyusul mereka, mereka pasti membutuhkanku." Tolak Lazel dengan kuat.
Pria berambut hitam itu ingin ikut menangis karena ia belum melihat Lazel berhenti meneteskan air mata, "L-Lazel, aku akan menemanimu, aku akan-"
"Aku tidak membutuhkanmu!" Ia mendorongnya sekuat mungkin, "dimana Ibuku! Dan Ayahku!" Wanita itu terus berusaha untuk melepaskan diri dari Hyunjae.
"..............." pria itu semakin perih melihat kondisi Lazel yang sangat berantakan. Ia berusaha sebisa mungkin untuk tetap berada di sisi Lazel tanpa menyakitinya sedikit pun.
Tangisnya kembali pecah, teriakannya kembali terdengar keras.
Di atas ranjang ia memeluk wanita itu dengan erat dan mengelus lembut rambutnya agar perasaannya lebih tenang. Rambut perak itu kini menempelkan kepalanya tepat di dada Hyunjae.
"M-Mereka sudah mengambil Wonhae... sekarang I-Ibu dan Ayahku... apa setelah ini mereka akan mengambil I-Ian dariku?" Lazel nampak tak berdaya dan tidak sanggup untuk memikirkan ke depannya mengenai keluarganya kecilnya yang semakin menipis.
"Tidak, Ian akan baik-baik saja." Ujar Hyunjae dengan perasaan yang kacau balau sambil memeluk erat wanita itu.
Mimpi sebelumnya yang Lazel alami mungkin berkaitan dengan dunia asli, yang memungkinkan akan terjadi sebuah masalah besar.
"Lepaskan aku Hyunjae."
"Tidak."
Ia meraih wajah pucat itu dan membuatnya menatap ke arahnya, "Ibu Nezra... Ayah Adam... apa pendapatmu mengenai mereka?" Tanya Hyunjae.
"AKU TIDAK PEDULI! YANG KU INGINKAN HANYA AYAH DAN IBUKU!" Kekuatannya semakin meningkat seiring emosi yang bertambah.
Hyunjae yang menahannya pun semakin sulit.
Cklek!
Pintu kamar seketika terbuka dan memperlihatkan sosok pria yang memiliki warna rambut yang sama seperti Lazel.
Lazel menoleh ke arah pintu dengan kedua matanya yang terus meneteskan air mata, "huh? Ian..." tangan kananya terjulur ke hadapan Adiknya yang muncul di balik pintu.
Dengan tatapan menunduk ia melangkah ke hadapan Kakaknya secara perlahan.
"Ian... kau pasti pergi kesana bukan? Kalau begitu ayo-"
Sesampainya Ian di dekat Lazel, ia memeluk Kakaknya dan berusaha meyakinkannya bahwa mereka memang harus merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya.
Dengan tangan yang gemetar ia memegang tangan Ian yang memeluk dirinya, "huh? Ian? Kita akan pergi bukan?" Nafasnya terdengar menderu, air mata yang kembali menetes dengan deras.
"Hei Ian, Ibu dan Ayah membutuhkan kita,"
"Apa kau tidak ingin bertemu dengan mereka? Bukankah mereka lebih menyayangimu dibandingkan diriku? Oleh karena itu kita harus-"
"Kak... kita harus menerima keadaan." Sela Ian dengan suara beratnya.
"Tidak, kau tidak bisa menyerah begitu saja, Ayah dan Ibu-"
__ADS_1
"Telah tiada." Sambung Ian dengan hati yang amat sakit.
Hyunjae hanya bisa mematung dan memperhatikan kedua Adik Kakak itu yang saling menangis dan berusaha untuk menerima kenyataan yang pahit.
"Tidak Ian... mereka sedang menunggu kita, mereka menginginkan kita datang," seluruh tubuhnya seketika melemah. "Aku tidak mau menerima kenyataan seperti ini lagi... aku tidak mau..."
Kini pundaknya terasa sangat basah karena air mata dari Kakak yang sedang ada di pelukannya.
Hyunjae ingin mengusap wajahnya agar bisa terlebih dahulu menenangkan dirinya, tapi... saat ia memperhatikan telapak tangannya sendiri, beberapa cap darah menodai tangannya.
Dirinya seketika panik, dan lengsung memeperhatikan Lazel secara keseluruhan, "darah?! Dari mana asal-" sepertinya ia tahu berasal dari mana darah itu.
Hyunjae meraih tangan Lazel yang terdapat sebuah gelang perak, "Lazel ada apa dengan tanganmu?" Tanya Hyunjae yang memperhatikan luka tersebut.
Hyunjae sedikit mengengingat luka itu di sebelumnya, saat Lazel menarik paksa tangannya dari genggaman pria itu, gelang yang ia kenakan akhirnya membuat luka yang cukup dalam, namun tidak sedalam rasa sakit yang ada di hatinya.
Pertanyaan dari Hyunjae membuat Ian juga ikut panik dan beralih pada tangan yang berada di genggaman Hyunjae, "Kak, sejak kapan kau terluka?" Tanya Ian.
"Wonhae sudah tiada... aku kehilangan dirinya dalam waktu yang sangat lama. Bahkan hingga kini aku belum bisa melupakan wajahnya,"
"Dan sekarang Ibu... Ayah. Mereka meninggalkanku juga tanpa sepatah kata apapun. Derita yang kualami bertahun-tahun belum pulih sepenuhnya... sekarang aku harus menanggung hal yang sama seperti aku kehilangan Wonhae."
Ian dan Hyunjae hanya mendengarkan keluhan Lazel yang terus terucap sambil mengobati pergelangan tangannya yang terluka, meskipun itu tidak akan membuat dirinya membaik.
Sedangan saat ini Nezra, sedang mengurus jasad Lena dan Gion yang terlibat dalam kecelakaan maut sehingga menewaskan beberapa orang, termasuk mereka berdua. Dan Adam, ia sudah menemukan pelaku dari kecelakan itu dan meminta pertanggung jawaban. Serta Hyunji pergi menuju bandara untuk memeriksa pesawat yang dikirimkan oleh Hyunjae.
Pesawat yang mereka naiki tidak mungkin berniat untuk membawa dua jasad, oleh karena itu Hyunjae langsung mengirimkan pesawat pribadi milik Keluarga Pietra menuju lokasi.
...◇• •◇...
Tubuhnya semakin melemah, wajahnya semakin pucat, kelelahan di dalam dirinya membuatnya kembali tertidur. Namun Hyunjae harus turun tangan untuk menangani Lazel agar lebih tenang.
Mereka tidak bisa meyakinkan jika Lazel kembali terbangun dengam perasaan yang tenang. Kemungkinan besar rasa histerisnya semakin menjadi-jadi.
Setelah membuat Lazel tertidur, Hyunjae mengajak Ian untuk meninggalkan kamar dan ingin membicarakan sesuatu pada Ian mengenai beberapa hal yang membuatnya penasaran.
Di depan sebuah kamar, mereka menyanggah pada pembatas lantai dan menatapi ruangan bawah dari atas sana.
"Ian... bisakah kau memberitaku mengenai pria yang disebutkan oleh Lazel?" Hyunjae bertanya dengan sangat hati-hati, mungkin saja pertanyaannya itu sedikit sensitif bagi Ian.
"Sudah kuduga... kau pasti tidak mengetahuinya." Tukas Ian yang menatap sekitarnya dengan perasaan hampa.
"Memangnya, siapa dia?"
"Sung Wonhae... seorang pria, yang jika hidup hingga kini, ia memiliki umur yang setara dengan Kakakku, meskipun Wonhae lebih tua beberapa bulan,"
"Dia adalah Cinta Pertama Kak Lazel."
"..............." Hyunjae tidak menyangka jika Lazel memiliki seseorang yang pernah ia pandang sebagai cinta.
"Tetapi... sebuah kecelakaan besar membuat dirinya tewas secara mengenaskan. Dan hal itu sudah berlalu dalam sepuluh tahun yang lalu, dimana waktu pernikahan kalian juga berjalan."
"Kurasa aku pernah mendengar mengenai kecelakaan besar di sepuluh tahun lalu itu." Sahut Hyunjae.
"Ya, semua orang memang tahu. Tapi... pelaku sama sekali belum tertangkap."
Ia menoleh dengan wajah terkejut, "h-hah? Belum tertangkap? Selama ini?"
__ADS_1