Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Cerita di Atas Bukit Kota Luxeas


__ADS_3

"Apa kau pernah ditinggal mati oleh pasanganmu?"


Pertanyaan yang dilontarkan oleh Arzen membuat suasana menjadi hening. Seperti ada jarak dan kecanggungan di antara mereka. Arzen mengalihkan pandangannya dari Lucy yang tengah termenung.


Kemudian gadis itu tersenyum tipis. "Tidak sampai ditinggal mati. Aku tidak setragis yang kau bayangkan," ujarnya bercanda.


"Yah, yang namanya perpisahan pasti menyakitkan, bukan?"


Arzen setuju dengan itu. Ia memandang ke arah Loofyn yang bermain-main dengan hewan lain. Begitu bahagia tanpa tahu apa yang sudah terjadi padanya.


Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perpisahan antara Loofyn dan ibunya di hari itu. Terlebih ia harus percaya manusia setelah semua yang sudah terjadi.


"Hei, manusia."


Lucy menoleh, "Sudah aku bilang, aku punya nama. Huft... ada apa?"


"Berjanjilah padaku."


Lucy tak mengerti, "Apa maksudmu? Kenapa harus berjanji pada makhluk angkuh sepertimu?" tanyanya dengan bercanda.


Tatapan dalam dari Arzen membuatnya terpaku. Ia sadar ini bukan waktunya untuk bercanda. Pria itu benar-benar memintanya untuk berjanji pada suatu hal.


"Berjanji untuk apa?"


Arzen mengalihkan pandangannya pada Loofyn. "Berjanjilah untuk tidak menyakiti Loofyn."


Lucy merasakan suatu kehangatan dari raut wajah Arzen. Meski dirinya besar dan terkadang bersifat angkuh, Arzen tetap memikirkan serigala kecil itu. Lucy tersenyum melihat Arzen, ia mengangguk.


"Aku tidak bisa berjanji—"


Ia menghentikan kalimatnya karen Arzen tiba-tiba menoleh. Ada tatapan penuh harap serta amarah di sorot matanya. Lucy menghela napasnya, ia terkejut karena mengira dirinya akan dimangsa oleh Arzen.


"Dengar, kau tidak boleh menyela kalimatku."


Lucy meminta agar Arzen berubah menjadi manusia terlebih dahulu. Ia butuh duduk berhadapan jika ingin membicarakan sesuatu yang serius. Pria itu menyanggupinya, kini keduanya duduk berhadapan.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Arzen.


"Alasan kenapa aku tak bisa berjanji atau bahkan memenuhi permintaanmu," ujar Lucy.


Ia menjelaskan bagaimana kehidupannya secara singkat. Sebelum Loofyn datang, ia sama sekali tak ada pengalaman mengasuh anak. Ia hanyalah karyawan biasa yang setiap harinya dipenuhi oleh tugas perusahaan.


"Loofyn beruntung karena ibunya membawanya di hari libur kerjaku. Kalau saja keesokan harinya aku harus bekerja, Loofyn terpaksa aku bawa ke panti asuhan," katanya.

__ADS_1


"Kerja? Kantor? Hari libur? Panti?" Arzen bergumam mengulang kata-kata yang tidak ia ketahui sebelumnya.


Meski begitu, ia tak menyela gadis itu untuk bicara. Ia menunggu sampai Lucy selesai dan mengizinkannya berbicara. Matanya tak pernah lepas dan terus memperhatikan bagaimana Lucy berbicara dengan lembut.


"Yah, kurang lebih seperti itu," pungkasnya beberapa menit kemudian.


Arzen menghela napas, "Begitu, ya? Jadi, kau merawat Loofyn karena kebetulan satu minggu ini tidak ada kegiatan?"


Lucy mengangguk, "Hm, begitulah."


"Apa maksudnya kau harus bekerja di... kantor? Apa itu?" tanya Arzen.


Lucy menangkap ekspresi lucu pria di depannya. Sama sekali berbeda dengan Arzen yang angkuh. Ia bersedekap tangan dengan wajah kebingungan memahami beberapa kata.


Gadis itu menahan senyum jahilnya. Ia berniat menggoda Arzen. "Hm? Serigala yang katanya penerus tahta ini tidak tahu tentang dunia manusia? Hmm...?"


Pria itu menatapnya tak suka. Alisnya mengkerut hampir bertemu. "Jawab saja pertanyaanku, manusia!"


Lucy akhirnya melepaskan gelak tawanya. Ia memegangi perutnya yang geli. Arzen menatapnya semakin dongkol.


"Apa yang lucu, hah?!" sergahnya kesal.


"Dasar, aku tak mengira ada sisi lain dari wajah angkuhmu yang biasanya," ucap Lucy setelah berhenti tertawa.


Ia menghela napas, "Jadi, bekerja adalah saat manusia melakukan sesuatu untuk mendapatkan uang—"


Lucy mengangguk saja, "Baiklah tuan serigala... jadi, kantor adalah tempat di mana manusia berkumpul untuk bekerja. Mereka bekerja sama untuk mencapai berbagai tujuan."


"Kalau satu tujuan sudah tercapai, mereka akan mendapat uang," ujarnya.


Arzen masih gak mengerti sepenuhnya. Namun, yang ia bayangkan adalah suatu keadaan seperti pasar di dunia magis. Ada banyak ras di sana yang bekerja bersama-sama dan menghasilkan uang.


"Semacam pasar?" tebaknya dan Lucy mengangguk, "Kurang lebih begitu."


"Lalu, hari libur?"


"Hari libur adalah hari di mana aku tidak melakukan itu. Kantor akan memberikan ketentuan jumlah dan kapan karyawan akan mendapat hari libur," jawab Lucy.


"Kau tidak butuh uang?" tanya Arzen dengan wajah polos.


Lucy tak ingin sakit perut. Ia menahan tawanya, "Aku akan tetap dibayar meski mengambil hari libur," katanya.


"Ha? Tidak masuk akal! Kalau begitu, semua orang akan kaya tanpa bekerja," ujar Arzen.

__ADS_1


Lucy menjelaskannya pada Arzen bagaimana sistem kerja dunia manusia. Meski sempat berputar di kepala, Arzen mulai memahami satu persatu. Ia terkadang memiringkan kepala atau memejamkan matanya kalau tidak mengerti.


"Argh, rumit sekali dunia manusia!" ucapnya gusar.


"Jadi, bagaimana dengan Loofyn kalau kau akan masuk bekerja?" tanya Arzen.


Lucy menoleh pada Loofyn yang tertidur di rerumputan. "Hm, setelah aku mengetahui tentang kalian, aku tak mungkin membawanya ke panti asuhan," ucapnya lirih.


"Aku khawatir Loofyn tak bisa mengendalikan kekuatannya dan malah berbuah di saat yang tidak tepat."


"Ah, bagaimana kalau kalian tinggal di bukit ini sa—"


Arzen sudah menunjukkan wajah tidak setujunya. "Sudah kubilang kalian tak bisa terpaut jarak yang sangat jauh!"


"Ah, benar... kantorku juga jauh dari rumah. Aku juga tidak boleh membawanya ke kantor!" Lucy menghela napasnya berat.


Ia meraup wajahnya, "Ha, seharusnya kau membawanya pulang sebelum kontrak terjalin," ungkapnya.


Arzen merenungi hal itu. Sebenarnya ia tahu kapan kontrak batin antara mereka berdua terjalin. Ia tak bisa mengatakan pada Lucy karena ia sendiri tak tahu apa alasannya.


"Kalian juga tak mungkin tinggal di apartemen... huft, mana ada serigala tinggal di apartemen," ujar Lucy.


Arzen kembali bingung, "Manusia, kau suka sekali menggunakan kata-kata yang asing," katanya.


"Kau saja yang tidak tahu! Padahal ini sudah sangat biasa di sini," ketus Lucy.


"Kau mengataiku, ha?! Dasar manusia!" Arzen bersedekap semakin erat di depan dadanya.


Lucy juga melakukan hal yang sama. Ia memalingkan wajahnya. Arzen terus memanggilnya 'manusia' dan itu membuatnya merasa aneh.


Arzen berdiri menghampiri Loofyn. Ia membawa serigala kecil itu di pangkuannya. Mengelus kepalanya dengan lembut dan menjaganya untuk tetap terlelap.


"Aku akan mencari cara untuk memutus kontrak batin kalian," ucap Arzen setelah beberapa saat hening.


Lucy tersenyum, "Baguslah, kau harus mencari secepatnya dan pulanglah segera. Kalau bisa jangan datang lagi ke dunia manusia!"


"Itu rencanaku."


Arzen menundukkan pandangannya. Ia menatap rerumputan yang bergoyang ditiup angin. "Tetapi sebelum itu aku harus mencari tahu di mana ibu Loofyn berada," batinnya.


"Haaa, kalau kau berencana berada di dunia manusia dalam waktu yang lama, kau harus mencari tempat tinggal secepatnya." Lucy berdiri dan meregangkan otot pinggangnya yang kaku.


"Sayangnya, di kompleks perumahan tempatku tinggal sudah penuh," lanjutnya.

__ADS_1


"Karena itu, aku dan Loofyn akan tinggal di rumahmu sampai aku menemukan caranya."


Lucy membelalak, "Ha?!"


__ADS_2