Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Ingin Menggantikan Lucy


__ADS_3

Sean menghembuskan napasnya sembari bersandar di kursi. Ia belum menerima notifikasi surel dari Lucy. Padahal sebentar lagi akan ada rapat dan mereka harus datang tepat waktu.


"Apa perlu aku menghampirinya ke ruangan?" Sean memutuskan untuk beranjak lebih dulu.


Ia terkejut menemukan ruangan Lucy terbuka sedikit tanpa ada orang di dalamnya. Sean memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Lucy tak ada di dalam sana.


"Apa dia sudah sampai di lantai 4? Mengapa tidak mengajakku?" batinnya.


Sean kemudian menutup pintu ruangan Lucy. Ia melirik ruangan direktur tak jauh dari ruangan Lucy. Hari ini Hera sedang libur karena sakit.


Ia akhirnya menaiki lift sendiri dan turun ke lantai 4 untuk mencari Lucy. Saat itu, Karen melihat dari kejauhan. Ia langsung merapikan rambut dan memoles lipstiknya.


"Pak Sean! Selamat si—"


"Ah, kebetulan ada nona Karen di sini," ujar Sean begitu Karen sampai di hadapannya.


Karen tak dapat menyembunyikan senyum-senyumnya. Ia berusaha untuk tetap tenang ketika tahu Sean juga mencarinya. Pria itu tengah menatapnya kini.


"Bapak mencari saya?" tanya Karen antusias.


"Hanya kebetulan saya bertemu dengan nona. Sebenarnya, saya sedang mencari Nona Lucy. Seharusnya dia sudah ada di ruangan untuk rapat...."


Karen mengepalkan kedua tangannya di bawah. Rahangnya mengeras menahan kesal. Sean bukan membalas sapaannya malah mencari Lucy.


"Lucy terus! Lucy terus!" batinnya.


Semakin bencilah ia pada gadis itu. Namun saat ini, ia tak bisa memperlihatkannya di depan CEO. Ia harus bisa mengalihkan perhatian Sean dari Lucy.


"Sa–saya tidak tahu, pak. Memangnya ada apa, ya?" tanyanya berusaha menekan nada bicaranya.


Sean mengecek jam tangannya, "Akan ada rapat sebentar lagi dan tugas Nona Lucy sangat diperlukan," ucapnya.


"Jadi, apa Anda melihatnya?"


Karen menggeleng, "Maaf saya tidak melihatnya..." lirihnya.


Sean mengangguk-angguk, "Baiklah, terima kasih. Saya akan mencarinya," putusnya.

__ADS_1


Karen menunduk saat Sean melaluinya begitu saja. "Ba–bagaimana kalau saya gantikan? Saya yakin saya bisa melakukan tugasnya, pak!" ujarnya membuat pria itu menoleh dan berhenti.


Sean mengernyitkan dahinya tak paham. Matanya menyipit untuk memastikan sesuatu. Ia harap ia tak salah dengar.


"Apa maksud nona?" tanyanya menyelidik.


Karen tercekat, "S–saya akan menggantikan Lucy sementara!" katanya.


Sean menggeleng, "Tidak, nona tahu apa yang nona katakan, bukan? Rapat ini bukan ajang bermain-main. Saya butuh Nona Lucy karena dia yang memegang dokumen pentingnya," tegas Sean.


Ia tak mengerti mengapa Karen terlihat mengotot untuk menggantikan Lucy. "Apa Anda mengetahui sesuatu tentang Nona Lucy saat ini?"


Karen terkesiap, ia takut perbuatannya ketahuan Sean. Ia menggeleng patah-patah, "Tidak. Saya sama sekali tidak tahu. Maka dari itu, sampai Lucy kembali saya akan menggantikannya sementara," ujarnya. Ia masih tak menyerah untuk menempati posisi Lucy selama rapat.


"Saya tidak bisa sembarangan menunjuk orang untuk menggantikan posisi untuk tugas penting, nona Karen," tegas Sean.


Sean menghela napas, "Sebaiknya rapat kali ini saya tunda saja sampai Nona Lucy kembali," gumamnya.


Karen berdecak, "Mungkin dia tidak akan datang, pak," ucapnya membuat Sean bingung.


"Kenapa?"


Sean tak menduga kalau Lucy pulang lebih dulu. Ia tak pernah mendengar kalau gadis itu pulang sebelum waktunya. Sean menggelengkan kepalanya merasa tidak yakin.


"Saya tidak yakin Nona Lucy—"


"Bapak saya lihat selalu mencari Lucy. Apa di antara bapak dan Lucy ada hubungan spesial?" tanya Karen.


Sean mengernyit, "Saya mencari Nona Lucy karena dia sekretaris saya. Tugasnya cukup penting. Lagipula hubungan spesial apa? Anda dapat rumor dari mana?"


Berniat mencari informasi, Karen malah kena serang balik. Ia menggertakkan geraham dengan pelan agar pria itu tak menyadarinya.


"Kalau tidak ada hal penting yang ingin dibahas, saya pergi dulu. Terima kasih, nona Karen," ucap Sean dan pergi dari sana.


Mendengar hal itu hati Karen seperti tergores benda tajam. Sean sudah menjauh dari pandangannya. Ia tak bisa memanggilnya atau mencegahnya lebih lama.


Kakinya menghentak bumi dengan tangan mengepal. "Dasar! Kenapa harus dengan wanita bodoh itu?! Padahal aku juga bisa kalau hanya mengawasi dan mencatat informasi!" gerutunya.

__ADS_1


Ia berjalan berbalik arah kembali menuju kantin kecil lantai 4. Grasak-grusuk hatinya tak beraturan. Ia sangat menaruh dendam pada Lucy.


"Padahal aku juga bisa! Apa tidak mengandalkanku sedikit!"


Ia berpapasan dengan Peter yang baru saja makan siang. Lelaki itu menyapa tetapi tak digubrisnya. Oleh karena itu, ia melambaikan tangannya untuk menyapa.


Suasana hati Karen benar-benar buruk. Ia menoleh kasar sebegai reflek. "Apa?!" sahutnya dengan cemberut.


"Ah, tidak aku hanya ingin tahu—"


"Kau juga mencari Lucy?" sergahnya.


Peter terlihat malu-malu membuat Karen ingin muntah melihatnya. Peter menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia juga gagal menyembunyikan senyuman di wajahnya.


"Jadi, apa kau—"


"Tidak tahu! Kau cari saja sendiri! Aku tidak tahu di mana Lucy berada dan tidak ada untungnya bagiku juga! Pergi!" omelnya membuat Peter terkesiap.


Karen pergi meninggalkan kantin dan entah lergi ke mana. Sedangkan Peter, pria itu akan kembali ke jalan tadi. Ia akan mencari gadis itu sendiri.


Singkat cerita ketika ia sampai di ruangan, ia melihat Sean tengah berbicara dengan beberapa orang. Raut wajahnya langsung berubah sedikit masam. Ia sama sekali tak ingin ada Sean di sini.


"Apa? Tidak ada?"


Peter yang tadinya tak mau peduli itu kemudian berhenti sejenak. Ia penasaran apa yang membuat CEO itu terkejut. Ia mulai menguping dengan pura-pura lewat di belakang kerumuna.


Samar-samar ia mendengar kalau Lucy kabur dari kantor. Sean terlihat kecewa dan frustasi. Peter tak menyangka gadis itu segitunya berdampak pada Sean.


"Sudah kusimpulkan, mereka memang punya hubungan khusus sepertinya," pikir Peter.


Sean jadi hobi gigit bibir bawah. Ia tak menemukan Lucy, ponsel pun tak diangkat ketika ditelepon. Ia jadi ingin percaya ucapan Karen bahwa Lucy pulang lebih dulu.


Peter juga tak menyangka, tetapi ia terlihat masa bodoh. Alasannya, ia tak ingin terlibat dalam masalah orang lain. Peter memutuskan untuk kembali bekerja setelah Sean pergi.


Sean meraup wajahnya kasar. Ia sudah menghubungi bagian personalia untuk menangani klien. Ia tak bisa menghubungi Lucy saat ini padahal sedang penting.


Sementara itu, di rumah Lucy ada dua serigala yang sedang menikmati tidur siang mereka. Siapa lagi kalau bukan Arzen dan Loofyn. Batita itu tidur di atas dada pria itu.

__ADS_1


Tiba-tiba tidur Arzen terusik. Cahaya kelap-kelip merah di bagian jantungnya. Ia melenguh tidak nyaman sebelum matanya terbuka sempurna.


"Lucy?!"


__ADS_2