
"Ini supermarket?!"
Arzen menatap dongkol bangunan yang ada di depannya. Megah dan berwarna putih kapur. Bangunan itu mengingatkannya pada benteng musuh di dunia magis.
"Apa tidak ada yang lain? Aku tidak suka!" gerutunya.
Lucy menghela napas, "Ini yang terlengkap di Kota Luxeas," sahutnya.
"Di kota lain?"
Lucy menggeleng, "Memang ada tetapi aku tidak mau. Belum semurah yang di sini," ujarnya.
Arzen mendengus kesal. Ia menggendong erat Loofyn seolah tak membiarkannya masuk ke sana. Lucy tepuk jidat melihat Arzen.
"Kalau tidak mau masuk ya sudah aku saja," katanya.
Meski sebal, Arzen tetap membuntuti Lucy. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh area dalam supermarket. Begitu besar dan luas mirip-mirip benteng yang ia maksud.
"Kita pakai ini saja, sini Loofyn." Lucy menarik satu troli dan mendudukkan Loofyn di kursi anak.
"Yey! Yey!" Loofyn berseru kegirangan.
"Kau mau mengirimnya ke bos terakhir?" tanya Arzen dengan curiga.
Lucy menatapnya datar, "Kau pikir ini game petualangan?!" ketusnya.
Lucy berjalan mendahului Arzen. Ia mulai dari bagian makanan. "Apa ini semacam gudang stok makanan musuh?" tanya Arzen.
Lucy menghela napas, "Berhentilah menganggap kita berada di dungeon! Ini supermarket, tidak ada musuh atau raja iblis!" bisiknya sebal.
Tatapan orang mulai menukik ke arah mereka. Tampilan Arzen memang tidak berpakaian mencolok. Namun, wajah tampan, tinggi badan, serta tubuh atletisnya menarik para gadis.
"Hah, sudahlah. Kau mau makanan apa? Pilih saja tetapi jangan yang mahal," ujarnya.
"Bungkus merah itu menarik perhatian. Apa isinya dara—hmpp!"
Lucy membungkam mulut Arzen dan mendapat reaksi terkejut dari orang-orang yang melihat. Ia tahu apa yang akan pria itu ucapkan. Lagi-lagi Arzen menyebutkan kata yang tidak tepat di muka umum.
Ia melotot tajam, "Kubilang jaga pemilihan katamu sebelum bicara, serigala!" bisiknya dengan penekanan di setiap kata.
Arzen tak menggubrisnya. Ia hanya tahu kalau Lucy senang membekap orang lain. Ia segera mengambil makanan yang tadi ia inginkan.
"Ini, bungkusnya merah," ujarnya sembari menunjukkan pada Lucy.
"Oh, itu namanya oat. Dimasak jadi bubur atau sereal juga enak. Masukkan di troli," kata Lucy sembari memberi intruksi.
"Loofyn mau apa? Mau biskuit ini?" Lucy menawari biskuit susu dengan beragam bentuk lucu pada batita itu.
Loofyn meraihnya dengan antusias. Mereka lanjut berbelanja ke bagian-bagian lain. Susu, popok, dan makanan bayi menjadi prioritas Lucy saat ini.
Saat ia membayar di kasir, ia tak lagi terkejut melihat banyak produk bayi di meja. "Wah, bayi mulai menginvasi kantongku," gumamnya.
__ADS_1
Ia mendorong troli sampai ke tempatnya. "Kau bantu aku bawa. Ada dua kantong, kau satu, aku satu," ujarnya.
Dua kantong besar itu ia turunkan dari troli. Loofyn berada digendongan Arzen. Sedangkan Lucy membawa kantong besar dan berjalan di depan Arzen.
"Manusia juga kuat ternyata..." gumamnya.
Lucy menoleh saat mereka sudah keluar dari sana. "Hm? Kau pikir manusia selemah apa?" tanyanya jengah.
"Entahlah, sangat lemah mungkin. Berikan padaku—"
Lucy menggeleng, "Tidak. Ini akan kita kirimkan dengan jasa kurir ke rumah. Jadi, kita bisa jalan-jalan dulu tanpa membawa banyak barang," ujarnya.
Ia pergi menemui jasa kurir dan menitipkan belanjaannya untuk dikirim ke rumah lebih dulu. Dua kantong besar itu tak lagi membebani mereka. Lucy bernapas lega setelah membayar jasa dan keluar tanpa menggendong beban.
"Kenapa dikasih ke orang lain? Kau dermawan, ya?" tanya Arzen.
Lucy terkekeh mendengarnya, "Aku tidak sebaik itu untuk menderma orang. Sudah kubilang, jasa kurir akan mengantarkan barang kita ke rumah," ujarnya.
"Sekarang kita jalan-jalan tanpa beban. Lebih ringan, kan?"
Lucy terlihat antusias dengan senyuman di wajahnya. Arzen dan Loofyn membulat matanya melihat gadis itu. Mereka diam-diam terpesona pada cantik riangnya Lucy.
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Lucy sembari meraba-raba wajahnya.
"Kau jelek," celetuk Arzen lalu berjalan mendahului Lucy.
Lucy terkejut mendengarnya, "Ha?! Apa maksudmu?!" geramnya pada Arzen.
"Mama manis, ya?"
Lucy berhasil berjalan menyamai langkah kaki Arzen. "Kau bilang sesuatu, ha!? Apa kau mau menghasut Loofyn untuk mengataiku juga?!" sergahnya sebal.
Arzen menangkup seluruh wajah gadis itu dalam sati tangan. Telapak tangannya yang besar muat satu wajah Lucy. Membuat gadis itu terdiam sejenak.
"Diamlah, orang jelek tidak boleh berisik," canda Arzen.
Lucy uring-uringan sampai ia jengah sendiri. Arzen berhasil mendapatkan satu bogeman lumayan keras di punggungnya. Ia tak mengira manusia yang lebih kecil darinya ini sanggup membuatnya merasakan pukulan.
"Hah, rasakan!"
Arzen meringis, "Tangan kecilmu ternyata sekuat ini, ya?" Baru kali ini ia mengakui kekuatan orang lain, apalagi manusia berjenis perempuan.
Lucy tersenyum puas. Cahaya hangat dari toko di sebelahnya menarik perhatian. Ia mampir ke sana dan membeli satu kotak berisi 6 kroket daging.
"Terima kasih, pak!"
Ia kembali pada Arzen. "Ayo makan ini di taman. Ah, mau beli minum? Ada mesin otomatis di taman," ujarnya.
"Mesin...?"
Lucy menarik lengan Arzen yang menganggur. Ia mengajaknya ke taman yang tak jauh dari sana. Langit sudah gelap malam tetapi lampu jalan masih terang.
__ADS_1
"Di sini saja," putusnya saat ia mendapat kursi di samping mesin otomatis.
"Ah, kakiku lega juga setelah berjalan mengelilingi supermarket..." Lucy menghela napas lega sembari meluruskan kakinya.
"Manusia memang lemah ternyata," celetuk Arzen.
Lucy kembali mendengus kesal. Ia tak ada tenaga untuk melawan Arzen lagi. "Terserah kau saja," pungkasnya.
"Cobalah, ini enak, masih hangat juga." Lucy menyodorkan kroket pada Arzen.
Lucy menurunkan Loofyn yang ingin bermain di taman. "Di sini saja, jangan jauh-jauh," perintahnya.
Ia memakaikan hoodie untuk menutupi kepala Loofyn. "Telinganya disembunyikan, ya?"
"Yah!" (Iya!)
Loofyn bermain mobil-mobilan yang tadi Lucy belikan untuknya. Ia duduk di tanah taman yang bersih tak jauh dari mereka. Anak itu sudah bisa mengendalikan telinga dan ekornya untuk disembunyikan dari manusia selain Lucy.
"Wah, adik kecil kau main sama siapa di sini?" tanya seseorang yang juga membawa anaknya.
"Masih kecil! Lucu sekali hoodie kuningnya!" celetuk si anak yang sudah berusia 4 tahun.
Arzen yang melihat itu bersikap waspada. Lucy menghalanginya dengan lengan. "Biarkan Loofyn yang mengatasinya. Kalau kau terus ikut andil, anak itu bisa jadi manja!" bisiknya.
Keduanya memutuskan untuk duduk diam sembari memperhatikan. Loofyn tampak diam dan menunduk. Anak itu menunjuk Lucy dan Arzen untuk memberitahu orang yang barusan bertanya padanya.
"Mama... papa..." jawab Loofyn.
Gadis 4 tahun dan ibunya menoleh ke arah Lucy dan Arzen. Mereka mengangguk ramah, "Halo, anak saya ingin ikut bermain dengan anak Anda," ucapnya kemudian Lucy dan Arzen datang.
"Namamu siapa?" tanya si gadis.
Loofyn berdiri sembari mendekap mainannya. "Fyn... Ufyn..." (Loofyn)
"Namanya Loofyn," sahut Lucy.
"Oh, Loofyn! Menggemaskan!" Si gadis mencubit pipi Loofyn sekilas.
Arzen melihat itu kembali geram. "Kau jangan menghalangiku, dia barusan—"
Lucy melototi Arzen, "Sudah kubilang tidak masalah. Kau ayah yang terlalu protektif, ya?!" bisiknya. Arzen mendengus lagi.
"Riri, adiknya jangan dinakali, ya? Nanti dimarahi mama papa adik," ucap orang tua si gadis.
"Iya, ma!" sahut Riri.
"Mama papa—" Lucy terkesiap mendengar kalimat barusan.
Ia menoleh ke Arzen menduga kalau lelaki itu akan mengelak. Tetapi yang ada lelaki itu malah diam saja. Ia tak terusik dengan ujaran seorang ibu barusan.
"Kenapa melihatku seperti itu, Lucy?"
__ADS_1