
Arzen kembali menitipkan Loofyn pada tetangga mereka. Ia memutuskan untuk menjemput Lucy kalau gadis itu tak pulang tepat waktu. Ia sudah mengirim pesan tetapi tak ada satupun balasan.
"Mungkin dia sedang sibuk...!" Arzen berusaha berpikir positif.
Lelaki itu mondar-mandir di depan halte. Ia ragu untuk pergi ke kantor. "Bagaimana kalau dia risih? Mungkin sekarang sedang melakukan rapat," pikirnya gelisah.
Langit sudah berwarna jingga menuju gelap saat pukul 5 sore. Ia baru saja bangun tidur satu jam yang lalu saat merasakan sesuatu. Ia menghela napas dan memutuskan untuk pulang.
Di saat yang bersamaan, sesuatu yang digenggamnya bersinar terang. Shinre jade yang ia pegang itu terhubung pada Lucy. Arzen mengernyit melihat arti warnanya yang memerah itu.
"Sebaiknya aku pergi saja," putusnya.
Sementara itu di kantor, Peter masih mengamati Sean diam-diam. Mereka bilang Lucy menghilang dari kantor. Tak ada yang tahu kemana gadis itu pergi.
Karen juga tidak bilang padanya. Sean hanya bisa frustasi dan kembali ke ruangannya. Peter menelan salivanya susah payah, ia tak ingin ikut campur.
"Sepertinya ada masalah dalam hubungan mereka. Untung saja aku tidak terlibat," batinnya.
Pria itu terus melanjutkan pekerjaannya. Ia tak lepas dari monitor dan sejenak mengabaikan Lucy. Alasannya, ia mencoba untuk mengalihkan perhatian dari gadis yang dekat dengan CEO itu.
Ia melihat Karen yang kembali dengan muka masam. Perempuan itu masih sama kesalnya dengan tadi saat ia bertanya soal Lucy. Peter hanya bisa mengamatinya dari jauh.
Karen menggumam sebal dan hampir membanting laptop. Ia mengemasi barang-barangnya dan duduk menopang kepala. Hembusan napas kasar terus mengudara.
Singkat cerita, hari sudah mulai malam tetapi Lucy masih belum diketahui keberadaannya. Para karyawan mulai berkurang, pulang ke rumah masing-masing. Termasuk Karen yang langsung menjejak dari sana.
Peter yang menjinjing tas kerjanya itu menaiki lift. Ia bertemu dengan Sean di lantai lobby. Pria itu masih sama frustasinya.
Peter tak ingin bertanya, ia tak ingin terlibat. "Sepertinya masalah kali ini sangat rumit. Aku akan menjauh dari Lucy dulu," pikirnya.
Ia tak tahu kalau Sean tengah memikirkan bagaimana rapat dengan klien pentingnya ini tanpa Lucy. Ia terpaksa menundanya besok hari karena file-nya ada pada gadis itu. Daripada itu, ia juga mencemaskan Lucy.
Tak jauh dari mereka, Arzen mengamati dalam mode tak terlihatnya. Pria itu menatap datar secara bergantian. Ia menunggu saat Sean bertanya pada Peter.
"Apa Anda tahu di mana Nona Lucy?" tanya Sean.
__ADS_1
Arzen ingin tahu mengapa Sean terlihat cemas. Ia mencuri dengar apa yang akan Peter katakan sebagai jawaban. Ia bertanya-tanya mengapa dua orang ini ada hubungan dengan Lucy.
"Saya tidak tahu, pak. Saya belum bertemu dengannya seharian ini," ujar Peter.
Sean mendengus, "Hah... bagaimana ini?' keluhnya.
Peter menimpali, "Kenapa Anda mencari Lucy, pak?"
Sean menjelaskan keadaannya. Barangkali Peter bisa membantu. Namun ternyata sama saja hasilnya nihil.
"Lucy menghilang?" batin Arzen.
"Saya tidak tahu. Saya tidak pernah dekat dengan Lucy. Bukankah bapak yang selalu berada di dekatnya?" ujar Peter acuh tak acuh.
"Kalau begitu saya pamit duluan ya, pak." Ia pergi begitu saja meninggalkan Sean yang berada di samping mobilnya.
Pria itu membuka dokumen dari Lucy, "Padahal harus ada yang ia kerjakan. Kemana sebenarnya Nona Lucy berada?!" gerutunya.
Arzen kembali terkejut ketika Shinre Jade-nya berkedip lagi. Ia tak ada waktu untuk mengawasi Sean. Pria itu bergegas pergi masuk ke dalam kantor.
Sudah mulai sepi, banyak dari mereka mengemas barang dan keluar kantor ramai-ramai. Arzen tak menemukan perempuan itu.
Pria itu tahu di mana Lucy berada. Ia menemukan sebuah toilet dengan tanda 'toilet sedang rusak' di depan sebelum masuk. Tak salah lagi, pancaran Shinre Jade begitu kuat.
"Kenapa di tempat ini?" batinnya bingung.
Ia terkejut melihat gagang sapu digunakan untuk mengunci bilik. Kecemasannya terbukti benar saat ia berhasil menyingkirkan kunci itu. Pintu terbuka menampilkan sosok wanita terkulai lemas menyandar dinding.
"Tidak... Lucy..." gumam Arzen.
Ia menghampiri gadis yang hampir ambruk itu. Matanya terpejam dan napasnya melemah. Bajunya basah karena air bekas pel.
"Kenapa bisa kotor seperti ini. Apa yang terjadi!?" Ia bertanya tetapi tak ada respon.
Lucy terlalu lelah untuk membuka mata. Tubuhnya menggigil karena dingin dan lapar. Arzen membelalak ketika Lucy ambruk di dadanya.
__ADS_1
Ia segera membawanya pergi dari sana dengan mode tak terlihat. Berlari secepat mungkin dalam wujud manusia. Di tangannya ia menggendong Lucy yang masih terpejam.
"Siapa yang melakukan ini?!" geramnya dalam hati.
Ia tak bisa menyembuhkannya dengan mana sihir. Bukan karena tak percaya diri, ia belum tahu apakah itu aman untuk manusia atau sebaliknya. Oleh karena itu, ia membawanya ke rumah sakit.
UGD segera bertindak dan berhasil ditangani. Arzen masih belum lega meski dokter bilang Lucy baik-baik saja. Ia diperbolehkan membawa Lucy setelah infusnya habis dan gadis itu siuman.
"Haaa...." helanya saat ia duduk di kursi tunggu.
"Aku terlambat menolongnya..." gumamnya.
Ia tak bisa memadamkan api amarahnya. Ia harus mencari siapa pelaku yang mengurung Lucy di tempat itu. Tadinya ingin menyalahkan Sean, tetapi orang itu ternyata juga frustasi mencari keberadaan Lucy.
"Siapa kalau bukan orang itu...?" pikirnya.
Ia tak mungkin bertanya pada Sean secara langsung. Arzen memutuskan untuk mencari tahu sendiri. Saat ini, ia harus merawat Lucy yang terbaring di ranjang rumah sakit.
Ia diperbolehkan masuk oleh dokter. Lucy juga sudah sadar meski sedang tidur saat ini. Arzen duduk di kursi samping ranjang pasien.
Ia mengamati setiap lekuk wajah Lucy. Gadis itu sudah menggunakan baju pasien. Tak lagi kedinginan akibat basah kuyup.
Badannya juga sudah bersih dari air bekas pel. Hanya saja bekas lebam karena menabrak toilet belum hilang. Hati Arzen seperti tergores melihat lengan gadis itu.
Ia menyentuhnya berharap mana sihir bisa menyembuhkannya. Dan itu berhasil, perlahan bekas memar tak lagi nampak. Arzen tersenyum tipis.
"Maaf, aku terlambat," ucapnya.
Meski dokter bilang bukan masalah serius, Lucy sudah lemas bahkan pingsan. Arzen menyentuh tangan gadis itu dan membawanya ke wajah. Ia menciuminya dan memberinya kehangatan.
"Ini salahku, padahal aku tahu Shinre Jade sudah bersinar tetapi aku tidak cepat datang," katanya menyesali diri sendiri.
Arzen menatap nanar Lucy yang tertidur pulas. Napasnya naik turun dengan normal. Ia tak suka melihat tangan gadis itu ditusuk jarum infus.
"Apa tidak ada cara lain memasukkan obat ini ke dalam tubuhnya?" pikir Arzen.
__ADS_1
Pria itu memberanikan diri untuk menyalurkan mana sihir. "Tolong kali ini harus berhasil," gumamnya dan ia menggenggam tangan Lucy.
Pyass!