
"Lucy, apa kau bisa menemaniku pergi ke suatu tempat? Aku ingin membeli sesuatu dan butuh saranmu," ujarnya melalui telepon.
Lucy mempertimbangkan tawaran Peter. Ia rasa tidak masalah sebab tak ada jadwal lain. Ia juga bisa sekalian membeli stok camilan hari ini untuk dua serigala di rumahnya.
"Baiklah, aku akan menunggu di luar nanti," ujarnya sebelum telepon diakhiri.
Singkat cerita, jam sudah menunjukkan waktu untuk mereka pulang. Lucy yang baru keluar dari kantor itu sedikit terkejut. Rupanya Peter sudah menunggu lebih dulu.
Lelaki itu tersenyum menyambutnya, "Kita pergi sekarang?"
Lucy mengangguk, "Apa kau sudah menunggu lama?" Peter menggeleng, ia memang belum lama berdiri di sana.
Mereka berbincang sembari berjalan menuju tempat yang dituju Peter. Pria itu bermaksud untuk mengajaknya ke taman dekat distrik perbelanjaan. Alasan yang ia sebutkan dalam telepon tadi hanyalah alibi agar Lucy mau menemaninya keluar.
"Jadi, kau mau pergi ke mana?" tanya Peter.
"Hm, aku harus membeli sesuatu untuk mengisi kulkas di rumah," kata Lucy.
Mereka kembali diam, Peter kehabisan topik padahal belum sampai di tempat tujuan. Lucy juga diam saja karena ia terbiasa dan bisa beradaptasi dengan keheningan. Pria itu menggaruk-garuk tengkuknya sedikit gusar.
"Ah, bagaimana pekerjaanmu hari ini? Ada kendala?"
Lucy menggeleng, "Syukurlah tidak ada. Aku sudah bisa menyesuaikan diri dengan orang-orang," ujarnya.
"Begitu, ya? Yah, mungkin sulit menghadapi orang-orang setelah rumor itu. Hah, dasar mereka membesar-besarkan hal tidak berguna saja," sahut Peter.
Lucy sebenarnya tak ingin membahas rumor itu lagi. Ia berusaha melupakannya tetapi Peter tanpa sadar menyingunggnya. Ia berpikir positif, lelaki itu ingin memberinya semangat.
"Yah, begitulah..."
Peter melirik Lucy, "Hei, tunggu di sini." Kemudian ia pergi ke sebuah toko membeli waffle krim.
Krim yang rasa stroberi untuk Lucy sedangkan ia memakan yang kopi. Ia sengaja membeli satu yang pahit agar Lucy memakan yang manis. "Terima kasih, waffle-nya enak," ucap Lucy.
Hati Peter berbunga-bunga mendengarnya. Lucy mengamati waffle yang ia pegang. "Mungkin lain kali aku mengajak Arzen dan Loofyn makan ini," pikirnya.
Sejenak ia lupa tengah berjalan dengan siapa di sampingnya. Arzen dan Loofyn yang paling memenuhi pikirannya. Terbayang bagaimana dua serigala itu menatapnya memelas dan membuatnya senyum-senyum sendiri.
Peter yang melihatnya penasaran. Ia menganggap Lucy senang berjalan dan memakan traktirannya. Kalau begitu ia juga harus tersenyum, begitu pikirnya.
"Wah, kau senyum-senyum seperti itu sedang memikirkan apa?" tanya Peter membuat Lucy salah tingkah.
Tanpa sadar ia melakukannya di jalan. Memikirkan mereka berdua sampai senyum sendiri membuatnya malu. Ia segera mengendalikan raut wajahnya.
__ADS_1
"Sial, dia imut sekali kalau malu-malu begini," batin Peter.
"Tidak ada... aku hanya terpikirkan seseorang," gumam Lucy.
Mereka kembali berjalan dengan bercerita. "Kau punya orang yang spesial, ya?" goda Peter.
"Ah, apa dia menyukai seseorang?" batin Peter tanpa sadar ia mengharap itu dirinya.
Wajah gadis itu kembali memerah. "Ah, bukan apa-apa. Memangnya kau tidak punya orang spesial?" Ia melempar pertanyaan pada Peter.
Pria itu menjawabnya dengan senang hati, "Tentu saja ada!"
Ia seperti mengirimkan sinyal untuk Lucy sadari. Gadis itu malah terkekeh, "Kalau begitu, aku pun juga. Kurasa semua orang di dunia ini punya orang spesial dalam hidup mereka," katanya.
"Eh, apa aku menganggap Arzen dan Loofyn spesial?" batin Lucy.
"Benar, dan mereka akan mengusahakan untuk selalu ada bagi orang terkasih," sahut Peter.
"Selalu ada..." Lucy kembali memikirkan orang yang sama.
Sosok Arzen selalu muncul membayangi Lucy. Raut wajah khawatir dan juga tindakan sigapnya. Tak lupa telinga dan ekor yang mencuat lucu.
Arzen juga tanpa ragu menolongnya kemarin. Pria itu menghibur kesedihannya, bahkan mau memberi Shinre Jade. Ia juga selalu berada di samping Lucy bahkan tanpa diminta.
Ia tak mungkin menoleh ke sana kemari mencari Arzen. Peter akan curiga dan ia tak ingin rahasia dunia lain diketahui orang-orang. Temannya itu masih saja bercerita sana-sini.
Setelah Peter rasa sudah sampai di tempat yang tepat. Ia mengajak Lucy berhenti melangkah. Lebih tepatnya mereka sekarang berada di sebuah taman.
Suasana tiba-tiba serius tanpa Lucy sadari. Gadis itu masih saja memikirkan sesuatu. Di depannya, Peter sudah menatapnya lekat.
"Lucy, sebenarnya aku ingin mengatakan sesuatu," ucapnya.
Lucy memang mendongak membalas tatapannya. Namun, pikirannya tetap pada Arzen dan Loofyn. "Iya?" Gadis itu hanya menjawab sekenanya.
"Sebenarnya, selama ini aku selalu memperhatikanmu," ujar Peter.
Di saat yang bersamaan Lucy teringat ucapan Arzen. Kalau dipikir-pikir lelaki itu selalu memperhatikannya. Arzen yang angkuh itu mau memperhatikan seorang manusia sepertinya.
"Aku menyukaimu, Lucy."
"Eh?"
"Aku mencintaimu. Maukah kau menjadi kekasihku?"
__ADS_1
Lucy melamun setelah pertanyaan itu dilayangkan oleh Peter padanya. Seharusnya ia senang ada orang yang mengatakan mereka mencintainya. Namun, hatinya sesak entah mengapa.
Di kepalanya hanya ada Arzen. Ia tak pernah berpikir Peter akan menyatakan perasaan padanya. Ia sama sekali tak menaruh rasa pada Peter.
Sebenarnya, ia bertanya-tanya seperti apa bentuk cinta itu. Apakah seperti yang Peter katakan melalui bibirnya? Atau seperti Sean yang selalu memperlakukannya dengan baik saat bekerja.
Lucy sering mendengar kalau Sean selalu baik padanya. Ia tahu itu karena Sean juga baik pada semua orang. Namun, ia tak pernah mendengar kalau Peter juga menyukainya.
Sekarang ia bimbang, ia berpikir terlalu dalam. Apakah perasaan seperti itu ada padanya? Bagaimana seharusnya cinta itu ada untuknya?
Tiba-tiba Arzen kembali muncul membuatnya berdegup. Lelaki itu selalu ada untuknya selama ini. Mereka memang beda dunia, tetapi itu bukan halangan, kan?
"Lucy!" Suara Arzen kembali terngiang. Entah sejak kapan ia berhenti memanggilnya manusia.
"Lucy, ini apa?"
"Lucy, ini bagaimana caranya?"
"Lucy, kau harus memperhatikan Loofyn."
"Lucy!"
"Lucy!" Kali ini Peter yang memanggilnya.
Gadis itu sedikit terkesiap. "Maaf, aku—"
"Tidak perlu menjawabnya terburu-buru. Aku akan menunggu," ucap Peter.
Lucy tak mau membuat orang lain menunggunya di saat ia sendiri ragu. Ia tak ingin Peter berada dalam harapan palsu darinya. Ia memantapkan hati.
"Apa aku bisa berkencan dengan orang lain di saat ada seseorang di rumahku?" batinnya.
Ia tak seburuk itu menelantarkan dua orang demi orang lain. Saat ini ia sadar, ia lebih mementingkan Arzen dan Loofyn daripada dirinya sendiri. Karena itu ia akan memberikan jawaban pada Peter sekarang juga.
"Peter, maaf. Aku akan memberimu jawaban saat ini juga."
Deg!
Peter tengah bersiap. Jantungnya berpacu cepat. Jujur, ia sendiri belum sesiap itu untuk mendengarnya.
"Terima kasih sudah mengatakan perasaanmu padaku. Aku menghargainya," ucap Lucy.
"Tetapi maaf, aku tidak bisa menjadi kekasihmu."
__ADS_1