Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Kehidupan Manusia


__ADS_3

Lucy masih saja diam sejak berangkat dari rumah. Bahkan saat ia sampai di halte dan menunggu bus bersama orang-orang lain, ia tetap murung. Begitu bus datang, ia hanya duduk dan diam di bangku belakang.


Ia memang berangkat bersama Arzen dan Loofyn. Namun, begitu melangkah keluar rumah, lelaki itu menggunakan tabir pelindung untuknya dan Loofyn. Selama itu pula, Arzen terus memperhatikan Lucy.


"Aku tidak bisa bertanya padanya, suasana hatinya buruk," batinnya.


Jadilah, ia ikut duduk di sebelah gadis itu. Arzen tak jadi mengamati jauhnya jarak malah memperhatikan Lucy. Sesekali ia menimang Loofyn untuk tetap tertidur nyenyak.


"Bukankah manusia makhluk yang senang berbagi kasih sayang? Mereka senang menyapa bila bertemu..."


"Kenapa ini berbeda dari yang aku bayangkan?" pikir Arzen.


Bagian dalam dadanya sedikit sesak melihat kejadian tadi pagi sebelum mereka berangkat. Seorang nenek tetangga sebelah merusak suasana hati Lucy. Ia tak paham apa alasan orang itu sampai susah-susah berkunjung hanya untuk bergunjing.


"Manusia itu... rumit."


Skitt.


Bus berhenti di sebuah halte. Tepatnya halte di depan kantor tempat Lucy bekerja. Perempuan itu menempelkan kartu untuk membayar ongkos bus.


Arzen ingin mengajak bicara Lucy. Namun perempuan itu hanya terus berjalan. Ia juga tak bisa seenaknya membuka tabir pelindung.


"Apa dia bisa melakukan sesuatu di bawah suasana hatinya yang buruk itu?" tanya Arzen ragu.


Ia kembali mengikuti Lucy dari belakang. Gadis itu masuk melalui pintu yang terbuka dengan sendirinya. Arzen diam-diam mengagumi interior buatan manusia yang berbeda jauh dengan dunia magis.


"Apa itu tadi sihir? Aku tidak merasakannya. Apa manusia juga punya sihir?" pikirnya.


Ia berpikir akan sangat bahaya kalau manusia mempunyai sihir. Apalagi tidak terdeteksi seperti ini. Mereka bisa saja melalukan invasi menyeberangi dunia lain.


"Apa benar manusia tidak punya sihir?" tanyanya lagi dalam hati.


"Arzen?" celetuk Lucy yang tiba-tiba berhenti di lorong yang sepi.

__ADS_1


Pria itu menyingkap tabir pelindungnya. "Apa? Apa sudah sampai? Kenapa sepi sekali?"


"Dasar serigala! Kenapa tidak pakai baju yang benar?! Cepat sembunyi ada kamera yang mengawasi!" bisik Lucy kala ia terkejut Arzen muncul dengan pakaian yang hanya rompi itu.


Ia celingukan setiap sudut ruangan. Beruntung mereka berada di titik buta kamera pengawas. Ia mengajak Arzen pergi ke ruang sekretaris tempat ia bekerja.


Ruangan ini hanya dipakai olehnya karena ia sekretaris pribadi CEO perusahaan. Di dalam sini tak ada kamera pengawas. Kendati demikian, dinding kaca blur di satu sisi itu tetap membuat mereka waspada.


"Pelankan suaramu ketika berbicara di sini!" ucap Lucy memperingati lelaki itu sebelum membuka tabir pelindung.


"Kenapa harus bisik-bisik? Aku bisa memberimu tameng," ujar Arzen yang keluar dari persembunyian.


"Resonance shield!" Ia mengaktifkan sihir pun, Lucy tetap melirihkan suaranya.


Ia khawatir sihir itu kurang ampuh di dunia manusia dan suaranya tetap bocor ke ruang sekitar. Lucy kembali mengomeli Arzen tentang cara berpakaian yang benar di dunia manusia. Ia memberikan beberapa referensi untuk pria itu coba.


"Hah? Untuk apa aku berpakaian seperti manusia? Ini jubah kebanggaanku," tolak Arzen menatap tak suka pada katalog yang ditunjukkan Lucy.


Lucy mencekal kerah Arzen. "Menurut padaku atau kau tak bisa pulang selamanya ke dunia magis?!" ancamnya.


Mau tak mau, Arzen berganti pakaian untuk berjaga-jaga kalau ada manusia yang tak sengaja melihatnya. Dengan begitu, ia dan Lucy tak akan dicurigai. Lucy juga mengancamnya untuk tidak menggunakan sihir pada manusia.


"Kau duduk saja di sofa itu dengan Loofyn. Aku harus bekerja," katanya.


"Dan jangan pergi keluar kecuali aku memberimu izin!" tekannya di akhir kalimat.


Arzen mencebik, "Bisa-bisanya manusia mengatur diriku," gumamnya.


Bukan Arzen kalau tidak suka dikekang. Ia sudah ingin keluar tetapi mengurungkan niatnya. Ia harus menemani Loofyn yang masih tertidur.


Diusapnya gusar rambutnya yang sudah mulai memanjang. Sampai ia memiliki mullet yang hampir menyentuh punggung. Arzen kembali duduk di sofa dan bersandar pada dinding.


"Kurasa tempat ini cukup jauh dari rumahnya. Loofyn bisa dalam bahaya kalau jauh-jauh dari manusia itu. Dasar, anak ini sembarangan membuat kontrak batin!" gumamnya.

__ADS_1


Ia kembali memakai tabir pelindung dan keluar sendirian. Ia mempercayakan Loofyn berada di dalam kotak sihirnya. Ia membawanya dari istana, kotak itu biasa dipakai Loofyn sewaktu baru lahir dulu.


Arzen tetap tenang memantau Loofyn karena kotak itu memiliki penanda padanya bila terjadi sesuatu. Ia bisa keluar menemui Lucy dan mengawasi gadis itu. Ia juga bisa mengamati keseharian di dunia manusia ini.


"Sekarang, di mana dia?" Arzen menoleh kanan kiri dan mencari jejak Lucy dengan baunya.


Ia melihat dari kejauhan saat Lucy tengah bertemu dengan beberapa orang. Mereka saling berbincang membahas sesuatu. Arzen mencoba untuk mendekat.


"Hah, apa dia tidak ingin memperbaiki suasana hatinya dulu?!" rutuknya.


Arzen berhenti di tempat tak jauh dari Lucy berdiri. Ia terkejut melihat bagaimana Lucy tersenyum dan ramah pada orang-orang. Lucy banyak bicara daripada saat di bus tadi.


"Ha? Apa suasana hati manusia cepat berubah? Bukankah baru saja dia bermuka masam?" pikirnya.


Ia mencoba mendekat dan melihat dari dekat agar lebih jelas. Ia memastikan bahwa yang ia lihat adalah Lucy. Ia memang melihat senyumnya, luar biasa cerah tidak seperti tadi pagi.


"Apa dia punya semacam sihir pengendali suasana hati? Aku tidak pernah tahu ada sihir semacam itu. Tidak masuk akal," gumamnya.


"Kenapa dia tersenyum terus? Orang-orang itu mengelilinginya dan berbicara banyak. Mereka membahas apa?" Arzen mulai penasaran dan mencuri dengar.


Terlalu banyak kata-kata yang tak ia mengerti. Menurutnya, bahasa manusia sulit dipahami. "Excel? Komputer? Data? Direktur?" Ia mengeja ulang setiap kata yang ia dengar.


"Benar. Selanjutnya akan ada rapat dengan Perusahaan The Lab pukul 1 siang. Ini data yang sudah saya siapkan selama cuti. Anda bisa memeriksanya ulang dan menambahkan sesuatu yang kurang. Lalu...."


Arzen berdiri di samping Lucy dalam mode tidak terlihatnya. Diam-diam ia menatap kagum apda manusia yang lebih lemah darinya itu. Perempuan itu melakukan semuanya sendirian dengan baik.


"Apa dia melakukan ini setiap hari?" tanya Arzen.


Ia memikirkan bagaimana bisa manusia lemah itu melakukan banyak hal dalam satu waktu. Ia juga penasaran tentang suasana hati manusia yang cepat sekali berubah. Seperti yang ia lihat apda Lucy, gadis itu bisa merawat Loofyn dan bekerja dalam satu waktu.


"Dia sama sekali tak memakai sihir. Tetapi, bagaimana bisa mereka tidak lelah mengerjakan ini itu tanpa lelah?" Ia berencana akan menanyai Lucy sepulang nanti.


Ck!

__ADS_1


"Kenapa hanya dia yang diperhatikan?! Dari mana pun, aku lebih cantik dan pandai darinya!"


__ADS_2