Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Between Lucy and Serena


__ADS_3

Serena keluar dari istana utama. Ia pergi ke istana barat tempatnya singgah jika ke istana kekaisaran. Kamar miliknya berada di lantai dua hampir ujung lorong.


Perempuan itu menjejak bumi selama ia menaiki tangga. Napasnya terengah-engah saat ia sampai di kamarnya. Dikuncinya pintu dengan palang agar tak ada yang masuk.


Ia duduk di kursi dekat balkon kamar. Di depannya terhampar kebun bunga. Ia menghirup napas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Ia menikmati waktu sendiriannya di dalam kamar. Matanya sama sekali tak berkedip. Bahkan saat angin berhembus pelan menerpa dirinya.


Sekali lagi ia menghembuskan napas. Hatinya kacau dan berusaha ia tenangkan. Tiba-tiba mengalir bulir bening dari sudut matanya.


"Kak, aku merindukan kakak," gumamnya.


Serena melepaskan jepit rambutnya. Ia melepaskan perhiasan yang ia kenakan. Tersisa gaun ungunya tanpa perhiasan di tubuhnya.


"Kak, aku harus bagaimana? Aku belum membalaskan dendamu tetapi aku sudah lelah," gumamnya.


"Bahkan anak kakak menolakku," gumamnya lagi.


Kali ini ia tersenyum sendu. Hamparan bunga yang indah sama sekali tak menghiburnya. Malah menambah kesedihan karena ia merindukan seseorang.


"Aku bahkan tak tahu untuk apa singgah di istana ini lagi." Ia terisak.


Serena membiarkan dirinya menangis tanpa suara. Hanya isakan kecil yang mampu keluar. Ia berdiri dan berjalan ke arah balkon.


Sekujur tubuhnya bergedik ngeri saat melihat ke bawah. Kamarnya sangat tinggi dari tanah. Ia membayangkan apa yang terjadi kalau dirinya terjun bebas ke sana.


"Kak Carenine, aku takut. Takut sekali, kak..." isaknya.


Kali ini ia meringkuk di lantai. Memegangi lututnya dan menangis tersedu. Tak ada lagi yang memeluknya seperti dulu.


Carenine sudah pergi sangat jauh meninggalkannya. Hanya ia seorang yang bertahan hidup setelah pertumpahan darah hari itu. Bayangan mengerikan itu terus menghantuinya.


"Aku hanya pura-pura kuat, kak..."


"Aku bertahan karena anakmu masih hidup. Tetapi hari ini anak itu menolakku," gumamnya.


Ia menangis lagi meratapi kesedihannya. Ia merutuki dirinya sendiri. "Seandainya manusia itu tidak ada pasti Loofyn ada bersamaku sekarang," ucapnya menyalahkan Lucy.


"Manusia itu merebutnya dariku! Manusia-manusia itu merebut kebahagiaan bangsa kita. Tetapi kekaisaran sangat bodoh sampai membiarkan seorang manusia menginjakkan kakinya di sini!" racau Serena.


Ia kembali terduduk di lantai. Ia menangis kencang sampai suaranya memenuhi seisi kamar. Ia tak peduli dengan penampilannya saat ini.


Sama kacaunya dengan isi hati dan pikiran perempuan itu. Serena merutuki dirinya dan manusia yang merenggut nyawa kakaknya dulu. Ia merutuki dirinya dan merasa tak berguna.

__ADS_1


"Apa artinya aku masih hidup sampai sekarang, kak?" sesalnya.


Ia menangis cukup lama sampai napasnya tersengal. Berulang kali ia terbatuk sampai dadanya sesak. Tetapi tak juga nangisnya melepas lega.


"Siapa yang akan menolongku, kak...?"


>>><<<


Tap! Tap! Tap!


Seorang perempuan mendorong troli berisi makanan. Ada sup krim ayam, ikan filet, dan juga makanan penutup. Tak lupa minuman yang cocok dengan makanannya.


Ia mendorong troli itu dan sampai di depan sebuah kamar. Ia hendak mengetuknya tetapi urung setelah mendengar suara dari dalam. Matanya membelalak lebar.


"Manusia itu merebutnya dariku! Manusia-manusia itu merebut kebahagiaan bangsa kita. Tetapi kekaisaran sangat bodoh sampai membiarkan seorang manusia menginjakkan kakinya di sini!"


Ia terkejut mendengarnya. Dalam lubuk hati juga merasa bersalah. Karena itu ia tak jadi mengetuk pintu kamar tersebut.


Dipanggilnya pelayan yang kebetulan lewat. Ia meminta tolong untuk menitipkan troli makanan tersebut sampai penghuni kamar keluar. Ia memberikan gelang sebagai hadiah.


"Ini untukmu sebagai imbalan," katanya.


Lalu ia melepaskan jepit rambutnya. "Ini berikan pada Nona Serena saat beliau keluar nanti," pintanya sembari menyerahkan pita berwarna biru muda itu.


Pelayan itu menyanggupi permintaan Lucy. Gadis itu pergi dengan sedih dari sana. Ia menyembunyikan raut wajahnya di balik rambut poni yang terurai.


"Maafkan aku Serena. Aku tak memikirkannya lebih dalam," ucapnya dalam hati.


Niat semula adalah ia bertemu dengan Serena dan meminta maaf pada wanita itu atas kejadian di istana tadi. Ia juga bersedia dihukum oleh Serena sendiri. Lalu niatnya yang lain adalah ia ingin berteman baik dengan Serena.


Sejak ia menidurkan Loofyn di kamar Arzen, ia bergegas ke dapur. Para pelayan awalnya tak mengizinkan dirinya berkecimpung di dapur. Lucy terus memaksa dan memohon sampai akhirnya diberi izin.


Ia memasaknya sepenuh hati. Ia mengantarkannya dengan suasana hati yang riang. Namun tak ia sangka kedatangannya ditolak sebelum sempat mengetuk pintu.


"Tidak apa... memang sebenarnya seperti ini," gumamnya.


Ia tak menyangka masalahnya lebih rumit dari sekedar Loofyn yang memilih dirinya daripada Serena. Lucy merasa dirinya terlalu naif. Kenyataannya ia tak tahu apapun tentang dunia ini.


"Aku hanya pendatang yang kebetulan mengasuh Loofyn," gumamnya lagi.


Sepanjang perjalanan ia hanya bergumam. Para pelayan dan prajurit memandangnya aneh. Padahal sebelumnya ia berpenampilan seperti putri kerajaan.


Lucy menekuk wajahnya sedih. Ia berjalan lesu melalui lorong ke Istana Timur Eastolf. Tatapan matanya lurus ke depan.

__ADS_1


"Aku sudah keterlaluan sepertinya. Aku akan minta maaf nanti atau besok. Seharusnya aku tidak kabur tadi," pikirnya.


Terlambat, ia akan lebih bingung kalau langsung masuk tadi. Bisa saja Serena langsung menyerangnya. Dan itu bisa membuat suasana semakin runyam.


Ia menggeleng, "Aku akan meminta maaf dengan lebih pantas nanti," tekadnya.


Lucy berusaha mendinginkan kepalanya. Ia harap ada solusi untuk masalahnya dengan Serena. Gadis itu berusaha berjalan sendiri tanpa Arzen.


Ia menggeleng, "Tidak, aku terlalu mengandalkan Arzen sehingga jadi manja seperti ini," pikirnya.


"Apakah ada pengalaman saat aku kerja yang bisa kulakukan di situasi ini?"


Lucy berjalan sambil memikirkan sesuatu. Hingga Venus yang ingin menyapanya jadi ragu. Pria itu hanya mengamati sampai Lucy menjauh.


"Ada apa dengannya?" pikir Venus heran.


Ia menemukan raut wajah Lucy sedih. Tanpa basa-basi ia langsung menghampiri gadis itu. Ia mengejarnya sampai dapat menepuk pundak kecilnya.


"Lucy!" serunya.


Gadis itu menoleh, "Salam Pangeran. Ada apa?" sapanya.


Venus menghela, "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu," katanya.


"Ada apa? Kau terlihat murung dan tidak konsentrasi saat berjalan," ujarnya.


Lucy menangkup pipinya, "Kelihatan, ya? Maafkan aku. Ada yang harus kupikirkan makanya aku terlihat serius," jelasnya.


"Bagaimana? Kudengar kau ingin berbaikan dengan Serena."


Saat itu Lucy kembali menunduk sedih. "Gagal. Aku tak bisa melakukannya," ujarnya.


Venus bingung, "Apa kau terluka? Apa kau diserang? Di mana Serena sekarang?"


"Dia masih di kamarnya. Aku belum sempat mengetuk pintunya. Aku tak seberani itu ternyata," lirihnya.


Venus mendesis, "Apa perlu aku yang bicara padanya?"


Lucy menyeret jubah Venus. Ia menggeleng, "Jangan. Biarkan dia sendiri dulu, aku yakin dia butuh waktu untuk sendiri, kan? Aku juga akan memikirkan cara lain," ujarnya.


Ia mendongak dan berusaha tersenyum. "Ini salahku jadi aku yang harus bergerak minta maaf," ucapnya gemetar.


"Lucy..."

__ADS_1


__ADS_2