
"Apa kau tidak lelah, Tuan Putri?"
Arzen berhenti di belakang Lucy. Gadis itu menoleh dan menggeleng. "Berkat mana Yang Mulia saya jadi lebih segar dari sebelumnya," katanya.
Kini keduanya berada di Westolf setelah mengunjungi benteng depan. Lucy sangat antusias berada di depan bangunan megah itu. Rupanya tak berbeda jauh dengan Eastolf.
"Di sini kamar para tamu, ya?" gumamnya.
Ia tak jadi masuk sebab dari kejauhan ia 9melihat Loofyn sedang berjalan dengan Serena. Ia mengajak Arzen bersembunyi sembari mengamati mereka. Keduanya benar-benar akrab bahkan Loofyn tak mencari Lucy seharian ini.
"Baguslah, ayo kita pergi ke tempat lain. Aku akan melihat Westolf lain kali," ajaknya pada Arzen.
Kali ini mereka berada di ladang bunga sebelah barat Westolf. Lucy langsung menghambur. Sibak gaunnya membuat kelopak bunga bertebaran.
"Di sini harum sekali," katanya.
Arzen diam-diam membuat tiara dari bunga yang jatuh. Mereka masih bersih karena baru saja jatuh dihambur Lucy. Ia menghampiri gadis itu.
"Tuan Putri, aku membuatkanmu ini," ujarnya.
Mata Lucy berbinar melihatnya. Dengan senang hati mahkota itu dipakaikan di kepalanya. "Terima kasih, Yang Mulia," ucapnya.
Arzen tersenyum senang, "Padahal hanya mahkota bunga senangnya bukan main. Bagaimana kalau kau tahu suatu hari nanti akan memakai mahkota ratu?" batinnya.
Ia membiarkan Lucy berlarian sana-sini menyapa bunga-bunga yang ada di sana. Hari menjelang siang dan ia belum juga lelah. Matahari pun kalah cerahnya dengan Lucy.
"Dia berbeda sekali dengan dia saat di dunia manusia," gumamnya.
Dari arah atas, dua orang memperhatikan mereka. Melalui jendela balkon mereka saling berbicara. Anak kecil itu menunjuk ke bawah.
"Itu mama," katanya.
Serena mengangguk, "Iya. Sepertinya dia sedang bersenang-senang," katanya.
"Ayo ikut mama," rengek Loofyn.
Tadinya ingin begitu. Namun Serena berhenti melangkah setelah melihat ada Arzen di sana. Ia mengamati lebih lama lagi.
Ia terkejut melihat pria itu tersenyum bahagia. Padahal selama ini ia hanya melihat raut tegang dan kerasnya. Ia bertanya-tanya apakah yang dilihatnya benar Arzen atau tiruan.
"Sejak kapan dia bisa tersenyum seperti itu?" gumamnya.
Lalu ia beralih memandang Lucy yang tak jauh dari Arzen. "Manusia itu benar-benar bisa mengubahnya?" pikirnya.
Mereka melihat dua orang di bawah sana saling lempar senyum. Tertawa dan bercanda ria. Berbeda dengan dirinya yang hanya menatap dari atas sana.
__ADS_1
"Kak, kalau kalian masih hidup mungkinkah seperti ini yang akan kulihat sekarang?" gumamnya.
"Bibi, ayo ikut mama!" rengek Loofyn menyadarkan lamunan Serena.
Wanita itu menggendong Loofyn. "Tidak hari ini, Loofyn. Kita tidak boleh mengacaukan hari indah Tuan Putri dan Pangeran," katanya.
Tentu saja Loofyn tak mengerti. Namun ketika ia melihat ke bawah ia tahu Arzen dan Lucy tengah bersenang-senang. Ia tak jadi merengek lagi minta turun ke bawah.
Serena tersenyum, "Sebaiknya aku segera pergi atau ketahuan melihat mereka." Ia menutup pintu menuju balkon.
"Kenapa tutup pintu?" tanya Loofyn.
Serena meletakkan telunjuknya di bibir. "Sst, kita sedang bermain petak umpet. Bersembunyi dan bermaim dengan bibi di kamar saja biar tidak ketahuan mama dan papamu," bisiknya.
Loofyn segera menutup mulutnya dengan kedua tangan. Alisnya terangkat, ia menemuka ide Serena menarik. Anak itu mengangguk nurut.
"Bibi jangan pergi," ucap Loofyn.
Serena mengangguk, "Tentu saja tidak. Selamanya bibi akan menemani Loofyn!"
"Lucy!" Arzen memanggil gadis yang sedang asyik menciumi bunga.
"Ya, Yang Mulia?"
Pria itu tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Lucy segera berlari menghambur dan menubruk Arzen. Keduanya kembali terjatuh di hamparan bunga.
Arzen memeluk gadis itu, "Aku suka dipeluk seperti ini," katanya.
"Yang Mulia, masih ada tempat yang harus kita kunjungi, kan? Ayo segera ke sana!" ajak Lucy seraya berdiri dari sana.
Arzen menghembus kecewa karena ia ingin berlama-lama seperti itu. Namun, ia juga tak bisa menolak permintaan sang tuan putri. Karena itu dengan senang ia kembali mengejar Lucy menuju tempat terakhir wisata hari ini.
Ia menggandeng Lucy dan mengajaknya berlari bersama. Senyum mereka tak pernah luntur sejak tadi. Hingga sampai di tempat tujuan terakhir hari ini.
"Megah sekali," decaknya kagum.
Lucy baru saja sampai di depan Taman Permaisuri. Ia melihat istana di depan tampak megah dan indah. Ibarat manusia yang sedang duduk dengan sangat anggun.
"Kenapa lebih besar dari istana di depan? Padahal istana utama sudah sangat besar," tanya Lucy.
Arzen menyentuh pilar yang ada di sampingnya. "Karena ini istana pemberian ayahku untuk ibuku. Kaisar dan Permaisuri sebelumnya," ungkapnya.
Ia menjelaskan bagaimana ayahnya memperjuangkan ibunya. Bagaimana mereka bertemu dan menikah. Kakek sempat tidak menyetujuinya tetapi akhirnya direstui juga.
"Ibuku sangat cantik, mungkin di dalam istana masih tersimpan lukisan potretnya," ucap Arzen.
__ADS_1
Lucy menatapnya haru, "Kau sangat menyayangi ibumu, ya?"
Arzen mengangguk, "Tentu saja. Karena itu aku juga menyayangimu," katanya.
"Eh, kenapa jadi aku?"
Arzen mencubit gemas hidung Lucy. "Karena kau mirip seperti ibu."
Ia berlari ke tengah taman dan memanggil Lucy dari kejauhan. Gadis itu dengan senang hati menyusul. Mendadak Arzen mengajaknya berdansa di tengah taman.
Langkah kaki anggun memutari air mancur di tengah taman itu. Sore hari yang sangat indah di kekaisaran saat ini. Dansa diakhiri saat Lucy terjatuh dan ditangkap oleh Arzen.
Cup♡
"Bagaimana kalau ada yang melihat kita?" tanya Lucy malu-malu.
Arzen melepaskan tangannya, "Baguslah, aku bisa menunjukkan betapa besar cintaku padamu," ucapnya tulus.
Tatapannya sanggup melelehkan hati Lucy. Membuat darahnya berdesir dan merona wajahnya. Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Bagaimana kau bisa mengatakannya segamblang itu?!" ujarnya malu.
Arzen tertawa melihat Lucy yang salah tingkah. Perlahan tetapi pasti ia menggali jalan menuju hati gadis itu. Ia akan terus mendekatinya bahkan saat menempel pun.
"Sudahlah! Ayo kita masuk, aku juga ingin melihat isinya!" ajak Lucy mengalihkan topik.
Arzen kembali mengikuti gadis itu. Kali ini ia menggandeng tangan Lucy. Keduanya memasuki istana yang sudah kosong.
Hanya ada pelayan dan prajurit untuk berjaga dan merawat bangunan. Chandelier dengan aksen perak membuat Lucy ternganga. Ia juga melihat lukisan yang ada di langit-langit.
"Indah sekali," pujinya.
Lukisan di langit-langit istana itu sebenarnya menggambarkan kisah cinta permaisuri dan kaisar sebelumnya. Arzen jadi bernostalgia bagaimana ayahnya malu-malu saat menjelaskan arti lukisan di atas. Ia tersenyum bangga sekarang.
"Ayah, sepertinya aku juga malu kalau harus menceritakan rasa cintaku pada orang yang aku sukai," gumamnya.
"Arzen! Apa yang diujung sana lukisan potret?" Lucy menunjuk lurus ke depan.
Arzen mengangguk, "Benar, ayo kita lihat," ajaknya.
Lukisan potret yang sangat besar. Kaisar dan permaisuri sebelumnya dalam pakaian kerajaan. Kaisar terlihat gagah dan permaisuri sangat anggun.
"Kaisar Haven de Woove dan Permaisuri Helia Eden," gumam Lucy menyebut nama yang tertera di sana.
"Kau pasti bingung kenapa ibuku tidak memiliki marga seperti ayah," celetuk Arzen.
__ADS_1
Lucy menoleh, "Benar juga. Kenapa?"
"Itu karena ibuku keturunan bangsa malaikat."