
Sudah seminggu sejak kejadian di taman, hari ini kedamaian kembali di kehidupan sehari-hari Lucy. Gadis itu kembali bekerja meski awalnya ia takut bertemu Peter. Namun sebelum ia berangkat, Arzen menawarkan diri untuk ikut dalam mode kasat matanya.
Rupanya, ia sama sekali tak melihat Peter ada di kantor. Menurut obrolan orang-orang yang ia dengar, lelaki itu tak masuk karena alasan sakit. Hal itu berlaku satu hari saja, keesokan harinya ia kembali melihat Peter bekerja. Tentu saja dengan perban di tangan kanannya.
Lucy terkejut melihatnya. Bekas genggaman Arzen terlalu kuat sampai meninggalkan bekas memar. Katanya, ia juga sementara ini tak bisa mengangkat barang berat.
Saat ditanya oleh rekan kerja yang lain, Peter beralasan bahwa ia jatuh di rumahnya kemarin. Lucy mengira apakah ia diancam Arzen atau tidak. Arzen malah menjawab 'rahasia' padanya.
"Sudah pasti ia mengancamnya," batin Lucy.
Hari ini pun, Peter masih menghindarinya. Bahkan saat tak sengaja berpapasan, pria itu memalingkan wajahnya. Di saat yang bersamaan ia terlihat takut seperti habis melihat hantu.
Padahal Arzen sudah menggunakan mode tak terlihatnya. Mungkin sisa-sisa aura tajamnya kemarin masih menghantui Peter hingga hari ini. Sebetulnya, Lucy sedikit merasa bersalah, tetapi ia tak bisa memaafkanya begitu saja setelah kejadian itu.
"Apa aku keterlaluan, ya?" gumamnya.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya mengusir pikiran itu. Saat ini ia sedang menyiapkan sesuatu yang besar dalam proyek perusahaan. Banyak rekan kerja tengah sibuk dalam bagiannya masing-masing.
Tugasnya di sini adalah membawa perintah langsung dari CEO dan mengatur agenda. Perusahaannya akan menjalin kerja sama besar dengan Perusahaan LX Fashion. Ini harus sukses besar dan mendatangkan keuntungan yang menjanjikan tentunya.
Lucy sudah menggarapnya selama sebulan yang lalu bersama Sean, Hera, dan petinggi yang lain. Investor dan klien eksklusif juga sudah siap mendukung proyek ini. Saat ini sedang dilakukan persiapan syuting iklan bersama ambassadornya.
"Bagaimana prosesnya, nona Lucy? Apa ada kendala?" tanya Sean yang baru saja datang bersama Hera.
"Syukurlah, tidak ada kendala dan semuanya lancar. Hampir 75% seluruh proses selesai," ujarnya.
Hera menatap penuh antusias, "Wah, memang tepat kami mengandalkan Lucy untuk proyek besar ini!" pujinya membuat Lucy jadi malu.
"Anda terlalu berlebihan," gumamnya.
Mereka kembali memeriksa progres yang sudah berjalan. Di sisi lain, Arzen melipat tangan di depan dada. Ia tengah berdiri tak jauh dari Lucy dan bisa mengawasi gadis itu sepenuhnya.
__ADS_1
Tatapannya penuh bangga melihat Lucy yang sedang bekerja. Ia jadi tahu begini cara manusia bekerja memenuhi kebutuhan mereka. Sangat berbeda dengan dunia magis yang rakyatnya hanya tahu cara berdagang, bertani, dan beternak. Atau kadang mereka bisa berburu dan menjualnya di gilda.
Yang lebih penting dari itu, ia melihat seolah Lucy yang paling bersinar di antara orang-orang di sini. Padahal ia memakai seragam kerja yang netral, blouse cokelat muda dan bawahan celana panjang hitam. Namun, dalam pandangan Arzen ia hanya melihat Lucy seorang.
Ia pergi ke toilet pria dan membuka tabirnya. Wujudnya saat ini sudah bisa dilihat oleh manusia biasa. Ia mengamati dirinya yang terpantul lewat cermin.
Beberapa saat yang lalu sebelum mereka sampai di tempat ini, Arzen ingin ikut Lucy secara tampak. "Bagaimana kalau ada yang melihatmu?" tanya Lucy khawatir.
"Hm? Apa kau cemburu ada perempuan yang melirikku nanti?" godanya.
Lucy malah menggebuk dada bidangnya, "Bukan itu, dasar serigala! Bagaimana kalau orang bertanya-tanya tentang dirimu? Aku harus menjawab apa, ha?" ujarnya.
"Jawab saja aku milikmu."
BUAG!
"Hei, kenapa malah memukulku?!" protes Arzen sembari mengelus lengannya yang malang.
Mereka cekcok untuk beberapa menit di rumah. Akhirnya Lucy pasrah dan membiarkan Arzen pergi bersamanya tanpa mode tak kasat mata. Ia meminta lelaki itu memakai pakaian formal agar tak mencolok di antara orang lain.
"Karena hari ini kita akan ke area khusus di belakang kantor utama, jadi kau boleh masuk.... kurasa," ujarnya ragu.
"Ah, pokoknya kalau ada yang bertanya jangan menjawabnya dengan hal aneh. Bilang saja kau partner-ku," putusnya.
Arzen kembali melihat penampilannya di toilet pria. Gadis itu memberinya kemeja biru muda dengan celana hitam. Ia terlihat seperti manusia di sini asalkan ekor dan telinganya tidak mencuat.
Setelah dirasa cukup, ia keluar dari sana dan kembali ke tempat Lucy berada. Gadis itu masih di sana sedang melakukan tugasnya. Ia tak sadar dirinya menarik perhatian orang-orang di sekitar.
Mereka berbisik membicarakan Arzen. Apakah ia adalah CEO perusahaan LX atau CEO perusahaan lain. Para gadis bahkan mulai mencuri-curi pandang.
"Anu, kalau boleh tahu Anda siapa, ya?" tanya salah seorang karyawati di sana.
__ADS_1
Arzen menatap mereka dingin, "Kenapa?" suaranya yang berat sedikit membuat mereka ketakutan.
"Iya, kurasa hanya orang-orang yang memiliki izin untuk datang ke sini..." ujar karyawati itu yang disetujui rekan yang lain.
"Ak- saya partner Lucy," ujar Arzen.
Mereka semua kompak menoleh ke arah gadis itu berada. "Apa Anda orang yang bersama Nona Lucy waktu itu?" tanya salah seorang lagi mengingat rumor yang beredar dari foto.
Arzen sudah tahu dari Lucy dan ia mengangguk. "Benar," ucapnya membuat mereka hampir riuh.
"Wah, memang cocok dengan Nona Lucy, ya? Aku sudah menduganya kalau itu bukan Pak Sean," ujar mereka.
Ada perasaan bangga dalam hati Arzen mendengar kalimat barusan. Ia diakui sebagai partner Lucy dan bukan Sean. Ia tersenyum bangga.
"Ada apa?" tanya Arzen. Mereka ragu untuk menjelaskan dan salah seorang angkat bicara. "Begini, saya tahu ini tidak sopan. Tetapi beberapa hari yang lalu ada rumor kalau Nona Lucy memiliki hubungan dengan Pak Sean," katanya.
"Tetapi setelah melihat Anda kemari dan mengaki sebagai partner Nona Lucy sepertinya rumor itu tidak benar," imbuhnya.
Arzen mengangguk-angguk, "Jadi, pasanganku diakui sebagai pasangan orang lain?" Mereka mengangguk ragu.
"Wah, sepertinya pasanganku sangat terkenal di sini sampai-sampai ada yang mengaku memilikinya," ujarnya mengundang tawa kumpulan karyawati itu.
Mereka sama sekali tak curiga dari mana Arzen berasal. Apakah ia memiliki perusahaan yang lebih besar dari ini atau usaha seperti apa yang dijalankan. Mereka tidak tahu kalau sedang berbicara dengan kaisar dunia magis.
Arzen sepertinya tak perlu repot-repot memikirkan alibi. Hanya dengan mengatakan bahwa ia partner Lucy semua orang sudah paham. Ia jadi penasaran seperti apa pandangan orang terhadap gadis itu.
"Apa dia semacam memiliki kekutan di sini, ya? Orang-orang sangat menghormatinya," pikirnya.
"Hei, apa Lucy bekerja dengan baik di sini? Aku meragukannya..." Ia sengaja berkata demikian untuk memancing kejujuran dari para karyawati itu.
Mereka sontak terkejut, "Eh? Apa Anda belum tahu? Proyek ini adalah ide dari Nona Lucy," kata mereka.
__ADS_1
Mereka bercerita tentang bagaimana Lucy bekerja. Pribadi yang profesional dan mencintai pekerjaannya. Ia juga menghormati rekan-rekan yang lain.
"Nona Lucy bekerja keras. Apalagi dia menjadi orang kepercayaan CEO satu-satunya."