
"Yang Mulia, pasukan menolak untuk ikut andil dalam perang."
Prang!!!
Piring berisikan buah itu pecah berkeping-keping setelah ia sengaja menyamparnya. Wajah penuh amarah memerah seperti darah. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri kasim yang datang memberi kabar itu.
"Apa yang barusan kau katakan?!" Suaranya memang pelan tetapi penuh penekanan.
Ia menatap nyalang kasim yang tak sanggup mendongak itu. Membuatnya gentar dan terus menunduk. Orang yang dipanggil 'Yang Mulia' itu terus mendekat menginterogasinya.
"Apa yang kau bodoh?! Bagaimana bisa mereka menolak keuntungan besar?!" bentaknya.
Prang!
Ia menendang meja yang di atasnya terdapat hiasan dari kaca. Gusar gelisah jadi satu menumpuk amarah. Ia menatap nyalang kasim yang masih berlutut di sana.
"Siapa saja yang menolak?" tanyanya.
Pria kasim itu menelan salivanya perlahan, "Pasukan Pedang Biru sektor timur, pasukan Tombak Hitam sektor utara, dan pasukan Tanah Api sektor selatan, Yang Mulia," paparnya.
"Tidak... bagaimana bisa pasukan inti malah membubarkan diri seperti ini...?!" gumam pria itu tak terima menanggapi pernyataan sang kasim.
Ia gunakan jubah merahnya untuk berubah menjadi manusia setengah serigala. Ia benar-benar marah sampai harus mengeluarkan petir dari tangannya. Kasim yang melihat hal itu bagai jantungnya diremas kuat.
"Pergi sebelum aku menghujammu dengan tombak petirku!"
Kasim yang mendengar hal itu langsung lari tunggang langgang. Ia pikir akan menemui akhirnya tadi. Ternyata raja werewolf itu masih berbaik hati padanya.
"Ada apa kau berlari seperti itu, kasim Yong?" Seseorang datang mengejutkan kasim yang tengah mengatur napasnya itu.
Kasim Yong mengelus dada, "T–tuan Putri... Yang Mulia sedang marah besar. Sebaiknya, Tuan Putri tidak masuk ke sana," ujarnya terbata setelah itu ia lari dari sana.
Wanita cantik bergaun merah muda itu kesal karena Kasim Yong pergi begitu saja. Ia berdecak sebal dan mengangkat sedikit gaunnya untuk kembali berjalan. Langkah kakinya menuju kamar dengan pintu besar yang terbuka sedikit celah.
Ia mengintip dari celah itu dan menganga terkejut. Apa yang dikatakan oleh Kasim Yong ada benarnya. Pemimpin negeri itu tengah marah sampai harus menghancurkan seisi kamarnya.
Brak!
__ADS_1
Tanpa ragu ia membuka pintu itu dan masuk. Kedatangannya mengalihkan perhatian sang raja yang hendak mengeluarkan petir lagi. Ia berbalik badan untuk menyerang siapa yang berani masuk ke kamarnya.
"Wow! Apa Yang Mulia sedang pesta calamity di sini?! Aku pikir akan dilakukan nanti setelah perang," sindir si perempuan bergaun merah muda itu.
Ia bersedekap di depan dada sembari menatap manusia serigala yang tinggi besar di depannya. "Kenapa tidak mengundang saya?"
Raja werewolf itu menukikkan alisnya. "Apa yang kau lakukan di sini, Sofhia de Xeroof?!" pekiknya tertahan.
Sofhia de Xeroof, calon istri raja yang datang dari Kerajaan Xeroofeuxeas. Wilayahnya sangat jauh dari lingkup Wolfeuxeas. Wajar saja karena wilayah mereka tidak mau tunduk pada kekaisaran.
"Aku yang harus bertanya di sini. Apa yang kau lakukan, Galven?!" tanya Sofhia dengan tatapan khasnya.
Manusia serigala itu terdiam menatap Sofhia. Ia mengurungkan niatnya untuk melempar hujan petir. Tatapan Sofhia terus menekannya.
Galven de Hwoo, Raja Kerajaan Hwooxeas. Wilayahnya sangat jauh dari Xeroofexeas tempat asal tunangannya. Hwooxeas lebih dekat dengan Kekaisaran Wolfeuxeas bagian selatan.
"Kalau kau mau membual kata-kata indah lebih baik pergi saja dari sini!" pekik Galven.
Sofhia tak menyerah. Ia malah mendekat dan berkacak pinggang, "Apa kau berniat menghancurkan seluruh istanamu?!" omelnya.
"Aku tahu kau seorang raja, tetapi apakah seperti ini caramu bertindak?!" Ia menghentak marah.
Galven dan Sofhia sudah dekat sejak masih kecil. Maka dari itu, Sofhia dengan bebas memanggilnya hanya nama saja tidak menggunakan embel-embel kerajaan. Galven dan Sofhia sudah bertunangan dua tahun yang lalu.
"Apa maumu, ha? Kau mau batu sihir merah lagi, kah? Aku sedang sibuk sekarang lebih baik—"
Plak!
Sofhia menamparnya, "Kau pikir aku perempuan apa yang hanya memikirkan perhiasan?! Ini bukan saatnya membahas perhiasan!" sentaknya.
Galven memegangi pipinya yang panas. Ia sudah kehilangan kesabaran ditambah tamparan Sofhia. Namun, ia tetap kalah dengan tatapan nyalang perempuan itu.
"Apa begini kelakuan pemimpin tanah Hwooxeas?!" omelnya lagi.
Ia sudah seperti ibu yang memarahi anaknya. Galven hanya diam menggeram berusaha tak membentak Sofhia. Wanita itu sedikit menjauh setelah menamparnya.
Calon istrinya menghela napas kasar. "Hah, kau tahu aku sudah menghadapi tempramenmu selama berapa tahun...?" gumamnya.
__ADS_1
Ia memijat pelipis, "Apa kau tak bisa tenang—"
"Tenang katamu?! Sofhia, kau tidak tahu kalau pasukan inti membubarkan diri?! Mereka pengecut tidak ingin berperang!" sahutnya berapi-api.
Ia gusar dan meraup wajahnya kasar. Bahkan ia tak sadar pecaham kaca merobek kulitnya. Tubuh werewolf memang cepat sembuh jika hanya luka kecil.
"Astaga! Apa mereka tidak ingin membuat negeri ini makmur?!"
"Kau mau menginvasi kekaisaran, wajar saja mereka bubar. Apa kau lupa bagaimana kekalahan kerajaan lain padahal baru sampai di perbatasan istana?!" Sofhia berjalan mengelilingi Galven secara perlahan.
Ia menjelaskan kisah yang ia maksud. Membicarakan berapa jumlah pasukan, bagaimana, dan akhirnya seperti apa semua ia jelaskan. Ia berharap cerita itu mampu mendinginkan kepala Galven.
"Sofhia, kau tidak mengerti—"
Sofhia memekik, "Aku memang tidak mengerti! Aku bukan tuan putri yang seperti ksatria! Tetapi aku tahu cara untuk mengendalikan emosi!"
"Daripada kau menghamburkan kekuatanmu sia-sia, kenapa tidak menggunakannya untuk mereka? Kau harus pintar membujuk orang," ujar Sofhia saat ia mendekatkan wajahnya pada Galven.
Sofhia duduk di sofa tak jauh dari sana. "Lihat kamarmu, pikiranmu sekarang sama seperti itu," katanya.
Ucapan wanita itu tak ada salahnya. Galven jadi terdiam setelah melihat kondisi kamar bagai kapal pecah. Ia kembali menghembuskan napasnya kasar.
"Apa kau tipe yang berpikir saat sedang berantakan?!"
Sofhia menjetikkan jari tangannya, "Apa kau tidur sambil bermain catur?" sindirnya.
Galven sudah mengepalkan tangannya, "Hah, memangnya apa yang tak aku mengerti, ha?"
"Tolong dengarkan aku dulu, Galven!" tegas Sofhia.
Ia mendekat dan berbisik, "Kau tahu kalau kekaisaran sangat benci keributan di wilayahnya..."
"Kau juga tak boleh menyerang gerilya seperti ini, Galven," ujarnya lembut.
Ia berbisik dan mengatakan apa yang ia pikirkan. Ide dan rencana singkat yang sudah ia pikirkan sebelumnya m. Ia tersenyum, merasa kalau ia punya rencana yang bagus.
Galven menghela napas. Ia menyerah untuk mengamuk lagi. Sofhia tersenyum dan menepuk pundaknya beberapa kali.
__ADS_1
"Nasibku dan rakyat ada di tanganmu, Yang Mulia Galven de Hwooxeas.
Sofhia menyeringai, "Pikirkan dengan tenang, aku akan menemanimu malam ini."