Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Firasat Tengah Malam


__ADS_3

Deg!


Arzen terbangun dari tidurnya meski matanya masih memejam. Detak jantungnya yang tidak biasa itu membuatnya terkejut. Ia langsung menatap langit begitu membuka mata.


Masih tengah malam di mana hanya ada bintang-bintang yang bersinar. Rembulan tak nampak karena masih awal bulan. Arzen menghela napasnya berusaha tenang.


Ia mengubah posisinya menjadi duduk. Malam ini, ia tidur di atas bukit yang ia kunjungi kemarin. Dunia manusia terasa nyaman karena ia hanya perlu mengaktifkan sihir pelindung level rendah untuk melindunginya saat tidur.


"Hah, terkejut, kupikir ada musuh," gumamnya setelah memperhatikan sekitar.


Ia duduk di tepi tebing yang mengarah ke Kota Luxeas. Angin berhembus sejuk menyentuh tubuhnya yang hanya berpakaian rompi. Matanya mengedar memandang terangnya kota meski sudah tengah malam.


"Huft... firasatku buruk." Ia mengernyit.


"Aku harus ke rumah manusia itu," ujarnya sebelum ia terjun dari tepi tebing.


Mulutnya sibuk merapal mantra hingga akhirnya ia berubah menjadi serigala. Kaki-kakinya langsung mencakar tanah dan mendarat sempurna. Ia langsung memacu kecepatan laksana angin dan menuju rumah Lucy.


Drap. Drap. Drap


Ia melangkah dengan hati-hati sampai ke depan pintu. Ia tahu Loofyn dan perempuan itu tengah tertidur. Ia menahan tangannya untuk menarik knop dan masuk ke dalam.


"Hah, ayolah sejak kapan aku memikirkan hal semacam itu?!" gerutunya dalam hati.


"Huweee!"


Arzen dikejutkan oleh suara tangis begitu ia berbalik badan ingin pergi dari sana. Telinga serigalanya mencuat dari balik rambut hitamnya. Ia yakin suara tangis itu berasal dari Loofyn di dalam rumah.


"Aah, tenanglah... minum susunya kita tidur lagi, ya?"


"Itu suara si manusia?" Arzen memastikan pendengarannya tidak salah.


Lucy sedang susah payah menenangkan serigala kecil yang terbangun di malam hari. Loofyn mengeluarkan ekor serta telinga serigalanya. Benar seperti yang dikatakan oleh Arzen, anak itu masih belum bisa mengendalikannya.


"Sssh... anak manis mau digendong? Ah, taringnya disembunyikan dulu, ya?"


Arzen mengernyit, "Taring?"


Klak!


Pria itu membuka segera pintu begitu mendengar 'taring' disebutkan. Ia disambut dengan tatapan lelah Lucy dengan botol susu di tangannya. Sementara itu Loofyn masih menangis dan bertambah kencang.

__ADS_1


"Ah, aku baru saja datang dan mendengar Loofyn menangis. Tadi kalau tidak salah aku mendengar dia mengeluarkan taring," ucapnya sedikit terbata.


Pria itu berjalan mendekat dan melihat Loofyn yang masih menangis di kasur. Anak kecil itu langsung beringsut setelah merasakan aura kedatangan Arzen. Ia bersembunyi di balik bantal dan mendesis pada Arzen.


"Ha... apa kau tumbuh gigi? Kau tidak mau ikut papamu?" Ia merentangkan tangannya untuk menyambut Loofyn.


Loofyn tak menyahut dan terus melakukan hal yang sama. Ia melompat kabur begitu Arzen mendekat. Terpaksa lelaki itu menggunakan sihirnya untuk menangkap Loofyn.


"Paralyze!"


Lucy dibuat kaget olehnya. Dalam sekejap tubuh Loofyn melemas dan tertidur. Arzen menariknya dan tubuh kecil itu melayang menuju ke pangkuannya.


"Apa itu telekinesis!?" batin Lucy.


Ia tak ada waktu dan tenaga untuk memikirkan apa yang ia lihat. Terbangun tengah malam karena tangisan Loofyn membuatnya lelah. Ia duduk di tepi ranjang setelah bernapas lega.


"Hah, aku kira aku akan berakhir menjadi santapan Loofyn," racaunya.


Arzen tak menyangka akan mendengar ucapan itu dari Lucy. Ia tersenyum sekilas, "Bangsa kami tidak akan memakan manusia dari dunia lain—"


Bruk!


Ia membalikkan badan sesaat suara itu terdengar. Rupanya, gadis itu ambruk dan tertidur di kasur. Arzen merasa napasnya tercekik sekian detik.


"Haah, kupikir apa..." gumamnya lega.


Ia mengelus kepala Loofyn dan membuat efek sihirnya menghilang perlahan. Beruntung, anak itu tidak terusik dan tetap nyenyak. Ia membaringkannya di keranjang.


Arzen yang hendak pergi itu kembali tertahan. Ia merasakan sesuatu yang aneh ketika melihat Lucy. Ada rasa sedikit tidak nyaman melihat perempuan itu tidur dengan kaki ke lantai.


"Haah, kenapa dia tidak merebahkan seluruh tubuhnya di kasur?" gumamnya kesal.


Ia mendekat tetapi tidak membangunkan gadis itu untuk pindah. Wajah damai Lucy saat tertidur harus dihiasi dengan kantung mata yang mulai menghitam. Tidak, saat Loofyn belum datang pun ia memang sudah bermata panda karena kerja lembur.


"Ck, tubuh manusia memang lemah! Tidak tidur saja sudah terluka seperti itu!" batin Arzen yang tidak tahu istilah kantung mata panda.


Telunjuknya yang ingin mengeluarkan sihir itu kembali ia tekuk. Entah sejak kapan nilai moral berlaku pada Arzen. Ia merasa tak etis memperlakukan Lucy seperti ia membawa Loofyn tadi.


"Haa, merepotkan!" decaknya.


Pria itu mengangkat tubuh Lucy. "Astaga, apa manusia seringan ini atau aku yang terlalu kuat?!" batinnya heran ketika ia berhasil menggendong tubuh gadis itu.

__ADS_1


Dibaringkannya Lucy di tempat tidur dengan hati-hati. Ia memperhatikan sejenak apakah posisinya sudah tepat atau belum. Arzen mengibaskan selimut dan melebarkannya untuk menutupi tubuh gadis itu.


Ssraaa~


"Hump!" Arzen menutup hidungnya cepat.


"Ah, apa ini? Kenapa tiba-tiba udara menjadi panas?" keluhnya.


Ia sepertinya tidak tahu, mengibaskan selimut gadis itu membuat aroma yang menempel ikut beterbangan. Sepertinya ia tak sengaja menghirup aroma feromon Lucy dan membuat saraf pembaunya lebih aktif. Hal itu memicu detak jantungnya menjadi cepat.


"Perasaan apa ini?!" Ia mundur perlahan dan menjauh dari Lucy.


Wajahnya memerah sampai ke telinga. Dadanya bergemuruh seperti ingin melepaskan sesuatu. Bagian sensitif di beberapa titik tubuhnya terasa menyiksa.


"Kenapa baunya harum...?"


Deg! Dug!


Ia dilanda emosi tak dikenal yang kuat. Merasa berbahaya, Arzen segera keluar dari rumah Lucy dan berlari sejauh-jauhnya. Aroma harum yang ia hirup tak lagi kentara.


Hosh...! Hosh...!


Napasnya terengah-engah dan Arzen tersungkur di tanah. Ia menutup matanya mencoba menetralisir kondisi tubuhnya. Dengan menghadap ke langit malam, ia menutupi matanya dengan lengan.


"Apa ini? Aku baru pertama kali mengalami hal ini," ujarnya pada diri sendiri.


Ia berusaha melupakan gejolak aneh yang tengah menyerangnya. "Sial, aku mengingat baunya!" rutuknya.


"Apa ini berbahaya bagi Loofyn?! Apa ini alasan anak itu terbangun tengah malam dan meracau?!" pikirnya khawatir.


Bayangan tentang Lucy melintas di pikirannya. "Apa dia menaburi sesuatu di rumahnya? Padahal sudah kuberi sihir pelindung tetapi ia tak percaya padaku, ya? Dasar manusia!"


Ia terlentang di tanah lapang di dalam hutan kota. Napasnya kembali normal tidak memburu seperti tadi. Ia bisa kembali tenang dan berusaha baik-baik saja.


"Apa manusia itu berusaha melenyapkan Loofyn?" tanyanya entah pada siapa.


Ia ingin marah sekarang tetapi tak ada tenaga. Tiba-tiba ia melemas seluruh badan akibat aroma yang ia hirup. Arzen tak menyadari perubahan sesuatu dari tubuhnya sendiri.


"Apa yang harus kulakukan kalau hal ini terjadi lagi padaku dan juga Loofyn?"


Ia mendesis, "Sial, aku tak bisa mendekat tetapi ingin mencium bau itu lagi," katanya.

__ADS_1


__ADS_2