Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Arzen vs Loofyn: Sehari Bersama di Dunia Manusia


__ADS_3

"Apa kau harus kerja hari ini?" tanya Arzen dengan suara khas orang baru bangun tidur.


Semalam, ia tidur di sofa depan televisi. Tubuhnya yang terlalu panjang untuk sofa manusia memaksanya untuk menekuk lutut. Baru kali ini ia merasa pegal-pegal sekujur tubuh.


"Tentu saja. Ah, bagaimana dengan Loofyn? Apa jarak rumahku dengan kantor sangat jauh? Apa dia dalam bahaya?" tanya Lucy tanpa mengalihkan pandangannya pada cermin.


Gadis itu tengah membenahi kemeja dan tatanan rambutnya. Ia akan berangkat beberapa menit lagi. Arzen mengamatinya dari belakang.


"Entahlah, sepertinya tidak begitu bahaya..." lirihnya karena ia tak fokus mengamati Lucy.


Ia mendapati gadis itu mengusap bibirnya dengan lipstik. Warna nude sangat cocok untuk penampilannya. Lucy terlihat lebih segar bugar hari ini.


"Kenapa melamun?" Lucy berbalik menatap Arzen.


Pria itu buang muka dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ha, tidak ada... tidak, aku penasaran," elaknya terbata-bata.


"Tentang apa?" tanya Lucy.


"Tentang banyak hal." Arzen semakin membuang mukanya.


Lucy tak ada waktu banyak untuk menanggapi Arzen. Ia hanya mengangguk dan mengemasi tasnya. Loofyn sudah ia siapkan susu yang tinggal dihangatkan lagi sebelum diminum.


"Kau sudah bisa membaca tulisan manusia, bukan? Semuanya sudah kutulis di sini," ucap Lucy sembari memberikan buku catatan.


Arzen berdecih, "Hah? Untuk apa? Aku—"


"Kau pemula di dunia manusia. Iya, aku tahu itu. Kau harus mendengarkanku kalau ini demi Loofyn!" sela Lucy yang keburu jengkel dengan Arzen yang mulai songong.


Arzen menghela napasnya kasar. Lucy kembali menjelaskan bagaimana ia harus telepon jika terjadi sesuatu dengan Loofyn atau rumah. Padahal Arzen bisa langsung ke sana dengan mode tak terlihat.


"Apa kau ingin muncul di antara manusia? Kau mau hari itu terulang lagi?!" tegur Lucy dan Arzen menggeleng.


Perempuan itu lega kali ini Arzen mau mendengarkannya. Ia kemudian mencium Loofyn dan pergi. Arzen mengantarnya sampai depan pintu, ia ingin memastikan tak ada si nenek rempong itu lagi.


"Aku berangkat dulu," pamit Lucy.


Selepas Lucy pergi, Arzen kembali ke dalam rumah. Ia memberi susu Loofyn dan menyuapinya makanan seperti yang tercatat di buku Lucy. Sebenarnya ia sudah bisa membaca berbagai huruf berbeda sejak ia sekolah di sekolah khusus bangsawan.


"Ini berbeda dari apa yang pernah kupelajari dulu. Mereka tak mengajariku istilah seperti ini," gumam Arzen saat membaca buku.


"Papa! Mama!"

__ADS_1


Ia menoleh ketika Loofyn memanggilnya. Ia mengangkat botol susu dan hendak melemparnya sebelum Arzen mencegah. Dipangkunya Loofyn untuk dibersihkan sisa susu yang menempel di pipi.


"Rasa susu ini juga berbeda dengan yang ada di istana. Lebih manis..." katanya.


"Mama! Nanana?"


"Lucy tidak ada di rumah, Loofyn," jawab Arzen seolah tahu batita itu menanyakan apa.


Loofyn langsung cemberut. Ia duduk di pangkuan Arzen menekuk muka. "Hei, apa ini? Kau cemberut ketika bersamaku?" Arzen menoel pipi anak itu.


Loofyn langsung kabur dengan merangkak dan berjalan ke kolong meja makan. Arzen menatapnya tak percaya. Padahal selama di istana ia yang selalu bermain dengannya.


"Kau berani kabur dariku?"


Loofyn kembali cemberut. Ia menghindari Arzen yang ingin mengejarnya. Batita itu kembali berjalan tertatih menuju pintu kamar Lucy.


"Mama!" pekiknya.


"Lucy tidak ada di rumah, Loofyn. Dan juga berhentilah memanggilnya mama, dia bukan ibumu," ujar pria itu.


Brak! Brak!


Loofyn memukul-mukul pintu kamar yang tertutup itu. "Mama! Mama!" ocehnya berulang kali.


"Sihir apa yang digunakan manusia itu untuk menggaet Loofyn?!" desisnya geram.


"Huwaa...!"


Arzen terkejut saat Loofyn tiba-tiba menangis kencang. Ia terduduk di lantai menghadap pintu yang tak terbuka itu. Arzen langsung menghampiri dan menggendongnya.


"Kenapa kau menangis? Di istana kau tak pernah menangis kecuali lapar." Ia tak memberinya susu lagi sebab tahu Loofyn masih kenyang.


Batita itu memberontak kuat ingin dilepaskan. Beberapa kali ia menyebut 'mama' berharap Lucy datang dan menggendongnya. Arzen tak pernah melihat Loofyn mengamuk seperti ini padanya.


"Hei, tenanglah dulu atau ku—" Ia mengurungkan kalimat berikutnya karena teringat sesuatu.


"Tidak boleh menggunakan sihir!"


Ucapan Lucy kemarin masih terngiang di telinganya. Ia jengah dengan seribu alasan untuknya tak memakai sihir. Padahal itu adalah alternatif paling ampuh di saat-saat seperti sekarang.


"Hm?! Kenapa aku harus menurutinya?" pikir Arzen dan ia mulai mengangkat jarinya lagi.

__ADS_1


Namun, ketika ia bertatapan dengan Loofyn, ia menarik kembali jarinya. Ucapan Lucy kembali terdengar seolah gadis itu meneriakinya. Loofyn sudah ingin menangis lagi melihat Arzen mengangkat tangannya.


"Hah... kau menang!" putusnya.


Ia menimang Loofyn dan mencari cara agar teralihkan dari Lucy. Ini masih pagi dan Lucy belum lama pergi. Arzen membayangkan betaps sulitnya kalau ia harus menghadapi amukan Loofyn sepanjang hari.


Kemudian dahinya mengerut, "Kenapa dia tidak melepas sihirnya? Taringnya tidak muncul," batinnya saat melihat Loofyn.


Hanya telinga anak itu saja yang keluar. "Apa Lucy yang mengajarimu untuk mengendalikan taring dan ekor?" tanya Arzen dan Loofyn mengangguk seolah mengerti.


"Benar, dia sudah mengerti karena sebentar lagi berusia 2 tahun," pikir Arzen.


Hop!


Arzen terkejut saat Loofyn melompat dari gendongannya. Batita itu berdiri di depan Arzen sembari memamerkan telinganya yang bergerak lucu. Ia tersenyum gemas dan menggerakkan telinga lagi untuk menarik perhatian Arzen.


"Uuuh..." Loofyn berusaha keras untuk mengeluarkan ekornya.


Plop!


"Waa!" Ia berbalik dan menunjukkan ekornya yang lembut pada Arzen.


Dengan menggoyangkan pantatnya ia mengoceh dan tersenyum lebar. "Waa! Mama, uh! Naaa!" Ia mencoba menjelaskan sesuatu dengan menunjukkan ekornya.


Arzen takjub melihat Loofyn yang sudah bisa mengendalikan kekuatannya. Dimulai dari hal kecil seperti mengeluarkan telinga, ekor, dan taring. Sekarang, Loofyn juga bisa menyembunyikannya sesuai kemauan.


"Astaga... kau sudah besar!" Arzen bertingkah dramatis dengan berbinar matanya menatap Loofyn.


Loofyn senang mendengarnya. Ia mengangkat kedua tangannya. "Uwaaa!" Sepertinya itu adalah sorak hore untuk merayakan dirinya sendiri.


Arzen yang gemas segera menggendong Loofyn. "Tinggi! Tinggi! Loofyn terbang tinggi!"


"Uwaa!" Loofyn tergelak tawa ketika tubuhnya dilempar dan diayunkan oleh Arzen.


Loofyn yang senang kembali mengeluarkan telinga dan ekornya. Mereka bergerak-gerak menandakan Loofyn sedang sangat senang. Ia sudah melupakan Lucy yang tidak ada di rumah.


"Karena kau sudah meningkatkan kemampuanmu, mungkin aku akan memberimu hadiah," ucap Arzen.


Loofyn terlihat antusias. Batita pun senang mendengar kata 'hadiah' yang terucap. "Apa aku harus memberikannya gelang jade? Tetapi itu tidak ada di dunia manusia," pikirnya.


"Papa! Papa! Uwawawaa!" Loofyn memanggilnya dengan antusias.

__ADS_1


Hal itu membuat Arzen puas dan senang. Saking senangnya, telinga dan ekornya ikut keluar. Mereka sama-sama dalam wujud setengah serigala saat ini.


"Bagus, kau memang harus memanggilku seperti itu," ucapnya.


__ADS_2