Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Satu Mendekat, Satu Menjauh


__ADS_3

Sean yang hendak menghampiri Lucy itu terhalang Karen yang tiba-tiba datang. Wanita itu semakin gencar ketika dirinya berhasil menduduki posisi manager bagian pemasaran. Karena baginya ini adalah kesempatan untuk mendekati Sean.


"Pak, bagaimana rapat hari ini? Salah satu klien meminta saya menyampaikan pesan pada bapak," katanya.


Sean tak bisa menghindarinya. Ia bukan tipe orang yang menyampur hal pribadi dengan pekerjaan. Tentu saja harus profesional dalam dunia kerjanya.


"Ah, baik. Nona bisa kirimkan emailnya pada saya. Apa ada hal lain yang diinginkan klien hari ini?"


Karen tersenyum, "Saya akan menyampaikan melalui email, pak. Lalu untuk..."


Mereka berdua kembali berbincang mengenai pekerjaan. Sebenarnya, Karen bisa saja menyampaikannya melalui surel tanpa harus bertemu langsung dengan Sean. Ia memanfaatkan segala kesempatan untuk mendekati Sean.


Dari ekor matanya ia melirik garis tegas rahang pria itu. Parfum maskulin menyeruak di indra penciumannya. Karen tersenyum senang karena ia tahu Lucy tengah menjauhi Sean.


"Bagus, memang seharusnya seperti ini," batinnya.


"Akan saya periksa lagi nanti. Terima kasih, nona Karen," ucap Sean.


Kemudian ia kembali mengamati Lucy saat Karen sudah menepi. Sayangnya, gadis itu sudah pergi bersama rekan kerja yang lain. Mereka nampak sibuk berbincang.


Sean menghela napas, "Hah... sudah pergi," gumamnya.


Karen pun pergi dari sana dengan perasaan puas. Ia merasa usahanya berhasil membuat dua orang itu menjauh. Ia berpikir Lucy sangat mudah disingkirkan hanya dengan rumor yang ia sebarkan.


"Aku tinggal naik perlahan," pikirnya.


Di sisi lain, Hera menggeleng-gelengkan kepala. "Sepertinya kau memang sedang dijauhi," ujarnya pada Sean.


"Padahal aku ingin bertanya tetapi dia sudah pergi," katanya.


"Tidak apa-apa. Kau lupa dia sekretarismu satu-satunya, kan? Kau punya wewenang mutlak memanggilnya kapan saja," ujar Hera.


Sean hampir melupakan itu. Ia bisa memanggil Lucy ke ruangannya untuk diajak berdiskusi. Ia juga ingin meminta maaf karena tak tahu berita bodoh itu selama di luar negeri.


"Apa kita bisa melacak dari mana sumber berita itu, Hera?" tanya Sean.


Hera menghembuskan napasnya, "Tentu saja bisa. Ah, kau harus memanggilku kakak! Ingat, aku sudah punya anak dan lebih tua darimu!" ujarnya disertai candaan.


Sean tersenyum, "Kuserahkan padamu, kakak."


...>>><<<...


Peter merasa hari ini Lucy sedikit berbeda. Gadis itu lebih pendiam dari biasanya. Ia juga tak melihat adanya Sean di samping gadis itu.


Padahal biasanya, selalu ada Sean dan Hera kalau ada Lucy. Sampai-sampai ia tak bisa menyapa gadis itu. Sekarang, ia bisa leluasa menghampirinya.

__ADS_1


Seperti saat ini ia melihat Lucy sedang menyalin dokumen dengan mesin di lantai 4. Ia mencuri pandang dari balik bilik kerjanya. Dari pandangannya, ia melihat raut wajah Lucy sediki muram.


"Apa mereka benar menjauh?" batinnya.


"Bukankah ini kesempatan yang bagus untukku mendekatinya? Selama ini aku selalu ragu karena ada orang itu," pikirnya.


Akhirnya, ia memutuskan untuk menghampiri Lucy. Memberikan minuman sebagai alibi untuk menutupi alasan utamanya. Ia memilih latte karena ia rasa minuman manis bisa membantu.


"Lucy, kau bekerja keras hari ini," pujinya.


Lucy mendongak melihat siapa yang datang. "Oh, hai, Peter. Kau juga," ujarnya.


Peter menyodorkan kaleng minuman itu, "Ini untukmu, aku membeli satu dan ini adalah bonus."


Bohong.


Tentu saja Peter berbohong karena ia sengaja membeli dua. Bukan gratis atau promo atau kerusakan mesin penjual otomatis. Hatinya senang ketika ia memikirkan Lucy saat membeli latte itu.


"Terima kasih." Lucy menerimanya.


Keduanya berbincang tentang pekerjaan hari ini. Peter merasa lega melihat Lucy yang sudah bisa tersenyum. Hanya saja pria itu tak tahu apa yang sebenarnya dirasakan oleh Lucy.


Peter terus mengamati netra Lucy yang sudah lebih cerah. Ia terus memperhatikan lekuk wajah gadis itu. Pikirnya, kapan lagi ia bisa melihatnya sedekat dan sedetail ini.


"Kalau begitu, sampai jumpa." Lucy membawa dokumennya dan pergi dari sana.


Peter tersenyum dan kembali ke mejanya. Ia merencanakan sesuatu lain kali untuk mendekati Lucy. Ia berpikir untuk mengajak kencan kalau gadis itu senggang.


Puk!


"Kenapa tersenyum seperti orang gila?" Karen menepuk pundak Peter.


Pria itu menggeleng meski tak menyudahi senyum senangnya. "Tidak apa," ujarnya.


"Ah, selamat sudah berhasil meraih posisi manager," ucapnya pada Karen.


Wanita itu mengangguk bangga, "Kau harusnya lebih semangat. Siapa tahu naik jadi manager operasional. Bukankah itu akan menguntungkanmu?" ujarnya.


Peter terkekeh, "Benar juga. Terima kasih atas sarannya," balasnya.


Karen tiba-tiba mendekat dan berbisik padanya. "Kalau kau bisa meraihnya bukankah Lucy akan mulai melirikmu?"


Tanpa menunggu jawaban, ia pergi dari hadapan Peter. Pria itu memandangnya dengan tatapan tak dapat dijelaskan. Ia berpikir bagaimana gadis itu tahu bahwa ia melirik Lucy.


Ia tak ingat pernah bercerita pada siapapun mengenai perasaannya pada Lucy. Peter sebenarnya curiga bahwa rumor itu berasal dari Karen. Namun ia tak memusingkan kemungkinan itu.

__ADS_1


"Kalau memang begitu, tetap saja ini kesempatanku untuk mendekati Lucy," pikirnya.


Karen berjalan dengan santai menuju ruangannya. Baru kemarin ia menjabat sebagai manager pemasaran. Hatinya berbunga-bunga saat ia berhasil mencapai satu tingkat lebih tinggi dari orang lain.


"Ini kesempatan emas. Kalau bisa, aku juga ingin jadi sekretaris," pikirnya.


"Seharusnya pria itu berterima kasih padaku karena ada kesempatan untuk mendekati gadis impiannya, kan?" batinnya sembari memikirkan Peter.


Sebenarnya selama ini ia selalu memantau gerak-gerik Peter. Dari situlah Karen tahu kalau Peter menaruh rasa pada Lucy. Sebenarnya ia tak berniat membantu, kebetulan saja saling keterkaitan.


"Hah, tahu begini seharusnya aku minta bayaran dari Peter," gumamnya.


Tiba-tiba ia menghentikan langkahnya. Di depan sana ada Lucy dan Sean yang tengah berbicara. Ia ingin mendekat untuk melancarkan rencananya.


Namun, dari arah lain ada Hera, direktur keuangan yang ikut menimbrung. Alhasil, Karen mengurungkan niatnya. Ia hanya bisa menggertak giginya karena kesal.


"Tidak apa... masih banyak kesempatanku!" batinnya.


Tetap saja ia kesal sebab sebelum Hera datang, Sean nampak dekat dengan Lucy. Pria itu terus menghapus jarak meski Lucy berusaha menjauh. Karen tetap menganggapnya Lucy yang mencari muka.


"Dasar! Apa dia tidak sadar diri juga dengan rumor itu?!" decihnya sebelum pergi dari sana.


Ia berhenti di mesin otomatis tak jauh dari tiga orang di depan. Ia berpura-pura membeli sesuatu untuk menguping pembicaraan mereka. Pandangannya sama sekali tak lepas dari Sean.


"Mereka membicarakan apa, sih?!" batinnya.


"Baik, akan saya ubah jadwal bapak pekan depan. Ada lagi yang harus saya kerjakan, pak?" tanya Lucy. Nada bicaranya lebih dingin dari sebelumnya.


Karen menatap sebal Lucy, "Bukankah harusnya kau senang tugasmu berkurang?! Kenapa malah menambah?! Kau sengaja agar dekat dengan Sean, ya?!" rutuknya dalam hati.


"Tidak ada, nona. Ah, bagaimana kalau kita diskusikan proyek A dengan direktur keuangan saat makan siang nanti?" tanya Sean.


Hera menepuk keras punggung Sean. "Astaga kaku sekali kalian ini! Kau juga kenapa tidak memanggilku kakak saja?! Tak perlu formal begitu padaku!" candanya.


"Nyonya Renderson tahu di sini adalah instansi dan kita dituntut untuk bertindak profesional? Saya bukan tipe yang mencampur urusan pribadi dengan pekerjaan," tukas Sean membuat Hera mendengus kesal dan ingin menggodai Sean lagi.


"Lihat, Lucy. Bukankah sebelumnya dia tidak pernah seperti ini?" rengeknya pada Lucy.


Gadis itu hanya tersenyum tipis, "Baik, pak. Saya akan menyiapkan file-nya," ujarnya. Ia tak tahu harus menjawab apa pada Hera.


"Kalau begitu, sampai bertemu di makan siang nanti, nona Lucy," ucap Sean.


Krrakk!


Tatapan Sean pada Lucy tanpa sadar telah membuat sesuatu menjadi retak.

__ADS_1


__ADS_2