Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Pasukan Misterius dan Sihir Portal


__ADS_3

Serena menatapnya tak percaya. "Kau membiarkan dia bersama manusia?" tanyanya pada Arzen.


Pria itu mengernyit, "Apa maksud ekspresimu?" protesnya.


Serena terkekeh remeh, "Astaga... apa kau sudah selemah itu sampai memercayai manusia?" hinanya.


Arzen menatap nyalang atas ungkapan yang dilayangkan oleh Serena pada Lucy. Tangannya mengepal kuat. Kalau saja yang di hadapannya ini bukan seorang wanita entah apa yang akan ia lakukan.


"Kau membiarkannya menjalin kontrak bodoh itu? Kau mau diperalat manusia? Kau membiarkan keponakanku diasuh oleh manusia?!" berondong Serena membuat Arzen marah.


Serena berdecih, "Kau gila, Arzen?!"


"Jaga ucapanmu, Serena!" sahut Arzen cepat.


Wanita itu tercengang mendapati dirinya dibentak. Meski sepertinya Arzen tak berniat untuk melakukannya. Ia meraup wajahnya gusar dan menghela napas kasar.


"Hah, sepertinya aku benar." Serena masih tak terima.


Ia tersenyum ironi sedangkan Arzen menahan emosinya. Lelaki itu seolah ingin menghabiskan udara di seluruh dunia untuk membantunya lega. Kelakuan Serena benar-benar membuatnya jengkel kali ini.


"Kau akan menyesal kalau bertemu dengannya langsung," bisik Arzen.


Serena mencibir karena merasa ucapan Arzen tak masuk akal. Bagaimana bisa ia diremehkan dari manusia. Ia mengira Arzen telah termakan sihir manusia.


"Sepertinya kau tersihir," cebiknya.


Arzen tertawa, "Benar. Dia sangat penyayang dan baik hati. Aku tahu alasan kenapa Loofyn lebih sayang padanya daripada dirimu, Serena," ujarnya kemudian ia melangkah pergi dari sana.


Wanita bergaun hitam itu tampak syok mendengarnya. Arzen membandingkannya dengan Lucy membuatnya sakit hati. Apalagi mengatakan bahwa satu-satunya keponakan lebih menyukai manusia daripada dirinya.


"Kau! Kalau memang seperti yang kau banggakan, bawa ke hadapanku! Bawa agar aku bisa membuka matamu melihat buruknya manusia!" pekik Serena pada Arzen yang sudah jauh.


Rahangnya mengeras menggertakkan gigi-giginya. Tangannya mengepal kuat dan kakinya menghentak bumi. Tatapan dari mata yang dibakar api dendam itu ditujukan untuk Arzen.


Pria itu terus berjalan tanpa memedulikan Serena yang kesal sendirian. Ia membiarkan wanita uring-uringan di lorong istana. Senyum miring terlukis di wajahnya.


"Akan aku tunjukan bahwa selama ini kau salah paham, Serena," gumamnya.


"Akan kuperlihatkan siapa dalang dari kematian kakakku dan kakakmu, Serena!"


Ia menatap tajam jalan lurus di depannya, "Kau akan menyesal meremehkan gadisku."


>>><<<

__ADS_1


Brak!


Arzen reflek mengeluarkan cakarnya ketika ia menoleh. Suara pintu yang didobrak membuatnya terkejut. Ia sempat mengira ada penyusup bodoh yang langsung menyerbu kamarnya.


"Kau tahu kau hampir mati di tanganku, Venus," ujarnya.


Ia menarik kembali cakarnya yang hampir menghunus Venus. Pria berpenampilan serba putih keperakan itu bernapas lega Arzen tak membunuhnya. Ia memang gegabah karena datang terburu-buru.


"Cepat katakan ada hal darurat apa sampai kau menggangguku malam-malam begini?" tanyanya.


Hanya Arzen yang duduk menyesap minuman di sini. Venus terlihat cemas, "Aku barusan mendengar kabar," ujarnya sengaja diberi jeda.


"Ada pasukan rahasia yang ditugaskan untuk memburu Loofyn."


KRRAKK!


Arzen meremat gelasnya sampai retak. Gelasnya memang retak tetapi tak sampai melukai tangannya. Ia menatap tajam lurus ke depan.


"Ah, sial. Mengacaukan ketenangan malam saja," gumamnya.


"Aku tak tahu siapa yang membeberkan berita tentang keberadaan keturunan kaisar sebelumnya pada muka umum," ujar Venus.


Arzen bertanya, "Kau tahu siapa mereka?"


Venus menggeleng, "Aku belum menemukan siapa orang di balik mereka," katanya.


"Tetapi, yang bisa membuka portal dengan kekuatan sendiri hanya kak Arzen, ayah, dan penyihir agung yang sudah meninggal," pikir Venus.


Ia menatap Arzen, "Apakah seseorang bisa menyusup melalui portal yang kakak buka?"


Arzen menggeleng, "Aku tidak tahu, Venus." Ia berdecak kesal.


Arzen berdiri dan mengendalikan dirinya untuk tetap tenang. Padahal dalam kepala pikirannya hanya tertuju pada Lucy dan Loofyn. Ia kembali mengenakan jubahnya.


"Venus," panggilnya.


"Iya, kak?"


"Perketat keamanan istana. Aku akan menjemput mereka secepat mungkin," perintahnya.


Venus mengangguk lalu sedetik kemudian gerbang lintas alam terbuka. Baru kali ini Venus melihatnya secara langsung di depan mata. Selama ini ia hanya membayangkannya melalui gambar di buku sejarah.


"Inikah kekuatan kakak?" gumamnya takjub.

__ADS_1


Angin berhembus kuat membuat rambut dan bajunya berkibar. Perlahan Arzen ditelan oleh gerbang itu. Sekejap ia menghilang tanpa jejak seperti tak terjadi apapun.


Venus membelalak mengagumi kehebatan Arzen. Ia segera berlari keluar dari ruangan Arzen. Memanggil Micellia dan prajurit kelas atas lainnya untuk melakukan keamanan ketat.


"Jangan sampai lengah!" perintahnya.


Venus pergi ke Menara Sihir Agung. Ia mencari tetua di sana, Algre de Gradaxa pemimpin menara saat ini. Pria tua itu mulai mengambil alih menara ketika penyihir agung yang menjabat sebelumnya meninggal.


"Algre de Gradaxa! Aku mencarimu!" pekiknya ketika ia sampai di dalam sana.


Asap putih mengepul dan tiba-tiba muncul seorang kakek tua. Jubah sihir dan tongkat sudah menjadi ciri khasnya. Beliau adalah Algre de Gradaxa.


"Ohoho, ada apa Yang Mulia Pangeran Venus sampai mencariku?" tanyanya dengan suara parau.


"Apa kakek bisa membuka portal ke dunia lain?" tanya Venus.


Algre mengernyit dengan keningnya yang keriput, "Hm? Maaf Yang Mulia Pangeran, kakek tua ini tak punya cukup ilmu dan kekuatan sebesar itu untuk membuka gerbang," jawabnya jujur.


Venus terlihat kecewa dan juga cemas. Ia berusaha mencari petunjuk siapa saja yang bisa menggunakan sihir portal. Algre sepertinya tahu apa yang sedang lelaki itu pikirkan.


"Masuklah dan minum teh bersamaku. Aku akan menjelaskannya padamu semua yang kutahu tentang sihir itu, nak," ajaknya.


Venus menurut dan masuk. Algre sendiri yang menuangkan tehnya. Ia menyodorkan teh hijau itu bersama kue bulan.


"Apa di istana terjadi sesuatu? Tak biasanya dirimu yang anggun tergesa-gesa kemari," ujar Algre tepat sasaran.


Venus mengangguk, "Benar, kek. Aku dengar ada pasukan rahasia yang mencari keberadaan Loofyn..." katanya.


"Oho, benar juga. Keponakanmu itu berada di dunia manusia, ya? Pasti akan sangat bahaya kalau pasukan tak dikenal itu menemukannya dengan manusia." Algre mulai membuka buku-buku yang ia tahu.


Ia mulai menjelaskan sedikit tentang sihir portal. Penggunanya terbilang langka, karena itu mereka yang memilikinya sangat istimewa. Seperti Kaisar terdahulu alias ayah Venus dan Arzen dan juga Arzen sendiri.


"Yah, penyihir agung sebelumnya juga bisa membuka portal itu," imbuhnya.


"Apa hanya bisa menggunakan bakat alami?" tanya Venus.


Algre menoleh, "Aku tidak yakin. Tetapi jauh di hutan miasma, ada kekuatan sihir yang besar. Bisa jadi sihir itu memicu bakat untuk membuka sihir gerbang siapapun yang mencobanya," ujarnya.


Venus mendesis kesal. Ia tak mungkin pergi ke sana atau nyawa menjadi taruhan. Tak banyak yang selamat melewati hutan miasma di selatan kekaisaran.


"Apa ada orang yang bisa melakukannya dengan itu, kek?" Algre nampak tak yakin ada orang yang seperti itu.


"Aku tak tahu apakah ini benar atau tidak."

__ADS_1


Ia menunjukkan gambar lingkaran merah dan sosok iblis terkutuk dalam buku sihir. Venus bergetar melihatnya. Terlalu mengerikan dan sangat bejat.


"Melakukan ritual dengan Iblis Hitam bisa membuka pintu ke dunia lain."


__ADS_2