Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Lembur Berujung Cembukur


__ADS_3

"Kau belum pulang, Lucy?" tanya Peter ketika ia melihat gadis itu keluar dari lift lantai 4 tempatnya bekerja.


Gadis itu menggeleng sembari berjalan cepat menuju mesin fotocopy. Sejak pagi teknisi tidak datang dan ia harus bolak-balik untuk menyalin dokumen. Ia memijat pelipisnya yang pening dengan sesekali menghela napas.


Di ruangan itu, hanya ada ia dan Peter yang masih bekerja. Seorang pegawai baru saja pulang dan tinggalah Peter. Padahal sudah jam 7 malam tetapi mereka berdua belum pulang.


"Mau mengerjakan bersama? Kau tidak perlu bolak-balik ke atas agar mudah sewaktu-waktu menyalin dokumen," ujar Peter.


Lucy berpikir tawaran pria itu ada untungnya. "Boleh. Kebetulan laptopnya sudah kubawa. Aku pinjam meja di dekat fotocopy saja," sahut Lucy.


Peter sedikit melengkung bibirnya. Tadinya ia berharap gadis itu menggunakan meja kosong di sampingnya. Namun, Lucy memilih meja yang sedikit jauh darinya.


"Baiklah, kalau kau butuh sesuatu aku ada di sini!" ucap Peter.


"Terima kasih!" Lucy menyahut tanpa mengalihkan pandangannya.


Ia sibuk mengurus banyak data. Tumpukan kertas itu terlihat berat untuk diangkut dengan tangan manusia. Ia bahkan menarik troli untuk membawa dokumennya.


"Hah, kenapa harus salah salin..." helanya pasrah saat ia menemukan ada ratusan salinan yang salah.


Lucy kembali mengeceknya sampai jengah sendiri. Matanya sudah bosan melihat jejeran huruf dan angka di lembar putih itu. Ia sampai tak memperhatikan kucelnya penampilan.


Rapat sudah selesai 30 menit yang lalu. Tetapi di lantai atas masih ada Sean yang berbincang dengan klien. Lucy keteteran mengurus semuanya sendirian karena pegawai yang lain sudah pulang lebih awal.


Tririring~


Notifikasi di ponselnya bertuliskan CEO perusahaan. Ia langsung mengangkatnya begitu tahu Sean yang menelepon. Ia menunggu nada sambung sambil merapikan kertas.


"Halo, ada yang bisa dibantu, pak?" tanyanya begitu ia tahu telepon sudah terhubung.


"Nona Lucy belum pulang? Saya sudah selesai dan klien ingin bertemu dengan nona. Kalau boleh tahu nona ada di lantai berapa?" tanya Sean.


"Eh? Saya bisa ke atas sekarang juga, pak—"


"Nona Lucy tidak perlu ke atas. Kami sekalian mau keluar dari kantor," sahut Sean.


"Baiklah kalau seperti itu. Saya ada di lantai 4, pak."

__ADS_1


Ia menghentikan kegiatannya setelah menutup telepon. Merapikan dirinya seadanya dan bersiap menyambut CEO beserta klien penting. Peter yang mencuri dengar itu ikut berdiri di dekat Lucy.


Nomor lift sudah menunjukkan angka 4, itu artinya mereka sudah sampai. Rombongan orang-orang penting itu disambut baik oleh dua orang. Salah satu dari mereka menjabat tangan Lucy dengan bangga.


Mereka tak melupakan Peter tetapi tetap fokus pada Lucy. Peter tak menyangka ia bisa bertemu dengan para petinggi perusahaan. Selama ini, ia hanya ikut rapat bersama direktur, bukan CEO atau investor lain.


Pria itu diam-diam memperhatikan Lucy. Ia kagum bagaimana gadis itu bersikap profesional saat bekerja. Padahal beberapa saat yang lalu terlihat jengah dan lelah, tetapi sekarang sangat segar dan siap.


"Terima kasih atas kerja kerasnya hari ini, nona. Sampai jumpa besok pagi," ucap Sean sekalian pamit pada sekretarisnya.


Peter mengurungkan senyumnya melihat hal itu. Saat Sean turut menyapanya, ia hanya membungkuk sopan. Ia benar-benar tak suka ketika Lucy berada di dekat Sean.


"Kau sangat akrab dengan CEO, ya?" celetuk Peter setelah Sean dan orang-orang sudah turun melalui lift.


Lucy menghela napas, "Yah, bukankah hal biasa? Kami sudah bekerja selama lebih dari 3 tahun," jawabnya.


"Tetapi kita yang sedari SMA tak pernah seakrab itu, Lucy," batin Peter.


Gadis itu kembali ke mode lemburnya. Ia bermesra ria dengan dokumen dan mesin fotocopy. Masih ada satu dokumen yang belum ia selesaikan.


Tuk!


"Kau jangan lupa istirahat. Ini teh hijau kesukaanku kalau lembur, cobalah," ucapnya setelah menaruh minuman itu di meja yang dipakai Lucy.


Gadis itu menghembuskan napasnya panjang, "Aah, akhirnya sudah selesai semua!" ujarnya senang.


Ia menerima traktiran minum dari Peter. "Terima kasih!"


Ia langsung menenggaknya sampai habis hampir setengah. "Uh, ini sedikit pahit tetapi lebih baik daripada tidak minum sama sekali," katanya.


Peter tersenyum senang melihat Lucy kembali bersemangat. Keduanya pulang bersama hari ini. Ternyata tak hanya mereka yang lembur sampai malam.


Setidaknya ada 1 atau 2 orang yang keluar bersama mereka dari kantor. Lucy mengecek ponselnya, ia menerima pesan dari Arzen. Pria itu sudah belajar bagaimana cara mengirim surel melalui ponsel.


"Hm? Dia cepat sekali mahir menggunakan ponsel," gumamnya.


Padahal belum ada 24 jam ia membelikan ponsel untuk Arzen. Ia mengajarinya hal dasar dan sederhana seperti mengirim pesan atau menelepon. Lucy menemukan kalau Arzen sangat tertarik dengan mengirim pesan.

__ADS_1


"Lucu sekali menggunakan stiker," gumamnya lagi.


[Arzen Serigala Besar: Aku ada di depan kantormu bersama Loofyn.] 20.40


"Wah, dia menulisnya dengan rapi," gumamnya lagi dengan tersenyum.


Peter yang masih berada di sampingnya jadi penasaran. "Kau kenapa senyum-senyum terus sambil melihat ponsel?" tanyanya.


Lucy menoleh dan menggeleng, "Karena seru, hihihi," sahutnya.


"Kau punya pacar, ya? Atau dapat diskon dan kupon dari supermarket?" ujar Peter bercanda.


Lucy tak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya tertawa bersama Peter sembari melangkah keluar dari kantor. Ia dan Peter berbeda jalan pulang.


"Aku harus jalan ke sana. Kau pulang hati-hati, ya. Sampai jumpa besok, Lucy!" pamitnya kemudian berbalik badan.


"Sampai jumpa, Peter!" sahut Lucy.


Ia tak sadar tengah diperhatikan oleh dua serigala di depannya. Arzen dan Loofyn berada dalam mode tak terlihat. Lucy tak tahu bagaimana ekspresi datar Arzen saat ini.


"Itu orang yang kau panggil mama, Loofyn," ujarnya pada batita berusia 2 tahun itu.


"Mama! Yangg!" (Mama! Pulang!)


Loofyn berteriak pun tak dapat didengar oleh Lucy. Suara mereka juga tertutup oleh mode tak terlihat. Arzen memutuskan untuk pergi tetapi Loofyn merengek.


Ia putuskan untuk berhenti di bawah pohon dekat halte. Sembari memperhatikan bagaimana Lucy celingukan mencarinya. Gadis itu melihat ponsel ketika satu notifikasi muncul.


[Arzen Serigala Besar: Kau pulang saja dengan orang itu.] 21.05


Lucy mengerjapkan matanya melihat isi pesan. Ia kembali celingukan tetapi tak menemukan Arzen. Lucy menghela napas, ia menyadari bahwa lelaki itu sedang dalam sihir tak kasat matanya.


Lucy hanya berdiri di depan kantor sendirian. Ia menghela napas, "Dia ini kenapa? Kenapa malah menyuruhku pulang dengan Peter? Rumah saja berbeda arah," gumamnya.


Ia memastikan tak ada orang di sana sehingga ia bisa berbicara dengan Arzen. Itu juga agar lelaki itu bisa menyudahi mode tak nampaknya. Setelah aman ia bersiap mengatakan sesuatu.


"Kalau kau tidak muncul, tidak akan ada es krim untuk selamanya."

__ADS_1


__ADS_2