Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Sudah Berdamai dengan Rumor


__ADS_3

Drap! Drap!


"Wah, Pak Sean baru saja pergi, nona Karen."


Lucy berbalik badan menghadap seseorang yang dengan kesal menghampirinya. Ia bahkan sengaja membunyikan langkah kakinya untuk didengar oleh Lucy. Karen menatap tajam karena amarah menumpuk di matanya.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Karen.


Lucy menatap dokumennya, "Saya tidak yakin informasi ini boleh disebar ke orang lain yang tidak terlibat langsung dengan proyek," ujarnya.


Kedua mata Karen melebar. Ia tak menyangka akan dihina seperti ini oleh gadis itu. Lucy tak merasa sedang menyerang seseorang.


Gadis itu hanya melakukan peraturan yang seharusnya. Ia tidak berhak membocorkan data pada pihak yang tidak terlibat. Sayangnya Karen tidak diikutsertakan proyek kali ini.


"Keterlaluan! Kau pikir aku siapa, ha!? Kau lupa aku sudah jadi manager di sini? Aku sudah lebih baik dari karyawan-karyawan itu!" sentaknya pada Lucy.


Lucy menghela napas. Ia ingin membalas tetapi sudah malas meladeni orang seperti Karen. "Manager yang lain tidak ikut tidak protes seperti Anda, tuh," balasnya.


Maksud Lucy adalah untuk memberitahu Karen. Namun sepertinya wanita itu tak terima begitu saja. Ia mengira hanya ia yang tak diajak.


"Kau! Jaga mulutmu! Aku bisa merebut posisimu kapanpun aku mau!" bisiknya mengancam Lucy.


Lucy mengangguk, "Saya akan menunggu nona di hari itu terjadi," balasnya.


Ia tak mengerti mengapa Karen terus menyerangnya. Apalagi di bawah CCTV yang aktif kali ini pun Karen tidak segan-segan. Kalau saja terjadi sesuatu pasti Karen yang kena batunya sendiri.


"Lalu apa tadi?!" bentak Karen membuat Lucy menutup matanya.


Gadis itu menjawab dengan santai, "Yang mana yang Anda maksud?"


"Apa maksud tatapan Sean di akhir?! Kau pikir kau pantas berada di sampingnya!? Kau pikir kau pantas mendapat tatapannya!?" sentak Karen berkali-kali.


Lucy melirik jam tangannya. "Hm? Apa sudah selesai, nona? Saya harus segera rapat setelah ini," ujarnya mengalihkan topik. Ia tahu ia tak perlu menjawab pertanyaan tidak perlu dari Karen.


Merasa diacuhkan, Karen bersiap melayangkan tamparannya. Lucy mencegahnya dengan menampik. Ia menunjuk CCTV di atas mereka.


"Anda bisa kehilangan jabatan manager Anda kalau tetap menampar saya, nona Karen," bisiknya.


Kali ini Karen tak bisa berkutik. Ia hampir saja enyah dari kursi manager. Seharusnya ia hancurkan saja semua CCTV di sini, pikirnya.


"Sepertinya saya terlalu membuang banyak waktu. Saya harus pergi," ucap Lucy lalu berpaling dari sana.


"Lucy!" pekik Karen.

__ADS_1


Lucy menoleh, "Sepertinya manager terlalu banyak waktu senggang hingga bisa mengobrol seperti ini," katanya.


"Saya akan mendiskusikan jadwal untuk manager dengan Pak Sean," ujarnya dengan penuh penekanan di akhir kalimat.


Lucy benar-benar melenggang dari sana. Karen habis dibuatnya bungkam. Wanita itu mengibaskan rambut panjangnya dengan kesal.


"Kau! Dasar jal*ng!" rutuknya dalam hati.


Sementara itu Lucy mempercepat jalannya menuju ke dalam lift. Ia terus menekan tombol agar cepat sampai ke lantai 7 dan orang tak akan ada yang masuk. Ia bersandar pada dinding lift.


Tangannya gemetar, ia menahannya sejak tadi. Ia jujur dalam hati bahwa ia ketakutan tadi. Lucy merasa bahwa tadi bukan seperti dirinya.


Ia merasa menjadi orang lain saat melawan Karen. Jantungnya berdetak begitu cepat. Kakinya lemas ditambah pegal karena seharian memakai heels.


"Apa yang sudah kulakukan? Sebenarnya apa yang terjadi?" batinnya gelisah.


Ia buru-buru keluar dari lift dan kembali ke dalam ruangannya. Menutup pintu rapat-rapat dan bersandar di baliknya. Padahal sudah duduk tetapi masih lemas sekujur tubuh.


"Sudah... untuk apa aku takut? Aku bisa mengatasinya. Aku bisa melaluinya," gumamnya.


Akhirnya ia menangis dalam diam. Menghindari Sean seharian ini juga membuatnya bingung sendiri. Ia merasa canggung dan takut.


Ia takut tak bisa bekerja dengan baik. Membebani orang yang mempercayainya membuatnya sakit hati sendiri. Lebih mengerikan daripada rumor yang disebarkan oleh Karen.


Ia tak tahu akan ada yang memotretnya diam-diam saat jalan-jalan sore bersama Arzen. Beruntung di foto itu tak menampakkan wajah Arzen. Ia akan lebih merasa bersalah karena melibatkan makhluk dunia lain.


"Arzen..."


Tok! Tok! Tok!


Lucy segera menghapus jejak air matanya. Ia berdiri dan merapikan penampilannya. Suara ketukan pintu itu mengejutkan dirinya.


"Ba–baik," sahutnya.


Ia membuka dan munculah Sean di hadapannya. Pria itu sedang menunggu Lucy untuk keluar. "Apa nona Lucy ada waktu sebentar?" tanya Sean.


Lucy mengangguk, "Ada yang bisa saya bantu, pak?"


"Bagaimana kalau ke ruangan saya? Ada hal penting yang harus dibahas," ucapnya.


Sebenarnya, Lucy ragu untuk berbicara empat mata di ruangan Sean. Ia takut rumor itu terjadi lagi. CCTV juga dipasang di lantai 7 untuk alasan keamanan.


Ia berdiri di ambang pintu sebelum akhirnya Sean memintanya untuk duduk. Pria itu duduk di depan Lucy. Ia menyerahkan sekotak dessert cupcake vanila.

__ADS_1


"Saya mau minta maaf pada nona Lucy atas rumor yang beredar kemarin," ucapnya lembut.


"Eh? Itu bukan salah bapak," sahut Lucy.


Sean mengangguk, "Memang dalam foto itu bukan saya. Tetapi rumornya mengatakan Anda dengan saya."


"Seharusnya saya memberi klarifikasi secepat mungkin. Saya turut menyesal dengan kejadian tak mengenakkan itu," ujarnya.


"Tolong diterima, ini sebagai permintaan maaf saya." Lucy menerima kotak berisi makanan penutup itu.


"Sa–saya juga minta maaf, pak. Seharusnya saya lebih berani dan cerdas mengatasi masalah seperti ini," ujarnya.


"Untuk dessert-nya, terima kasih."


Sean menghela napas dan terkekeh. "Ah, saya kira nona Lucy membenci saya," ujarnya.


"Eh?! Bagaimana bisa saya membenci atasan saya?" Lucy menatap polos.


"Sa–saya menghindari bapak karena saya takut akan ada rumor lain yang menimpa bapak," jelasnya.


Sean menghembuskan napasnya lega. "Saya kira saya akan bekerja dengan suasana mencekam ke depannya," candanya.


"Nona Lucy tenang saja, saya sudah mengunggah klarifikasi. Kalau perlu apa Anda ingin siaran pers?" tanya Sean.


Lucy menolak dengan cepat, "Tidak perlu sampai begitu, pak. Ini hanya rumor di dalam kantor. Tak perlu sampai diperbesar," katanya.


"Begitu? Baiklah, itu berarti masalah ini sudah selesai," ucap Sean.


"Yah, walau saat ini saya masih bersikeras menyelidiki siapa penyebar rumor tak berdasar itu," sambungnya sembari mengelus dahi dengan frustasi.


Lucy menunduk. Kalau ketahuan, Karen bisa saja menyerangnya lagi. Wanita itu akan menuduhnya sebagai pengadu.


"Padahal pak Sean sendiri yang mencari tahu. Hah, lagipula siapa di sini yang membuat onar?" pikirnya.


Lucy mengangguk. Keduanya kembali berbincang mengenai masalah proyek. Mereka tak lagi canggung karena sudah berdamai.


Lucy kembali ke ruangannya dengan perasaan lega. Ia juga memakan cupcake pemberian Sean. Tiba-tiba ponselnya berdering menandakan seseorang meneleponnya.


"Peter? Ada apa, ya?" pikirnya.


Tut!


"Halo, ada apa Peter?"

__ADS_1


"Ah, Lucy. Apa kau ada waktu sepulang dari kantor?"


__ADS_2