
Klang!
Suara pedang saling beradu menggema di sebuah ruangan. Napas yang terengah-engah juga turut menyaut. Tatapan tajam yang saling terlontar seolah kobara api yang tak mudah padam.
"Brengsek! Di mana raja yang kau agungkan itu, hah?!" teriak seorang prajurit berbadan kekar.
Otot-otot kuatnya bersembunyi di balik baju besi. Kedua tangannya memegang sebilah pedang menahan musuh. Sementara ia terus mendorong pedangnya agar musuh gentar dan mundur.
"Manusia payah! Kau sangat ingin menyerahkan nyawamu sampai datang ke istana werewolf!" Lawan bercedih dengan senyum miringnya.
"Tutup mulutmu, dasar wanita serigala!"
Zraaat!
"Akh!" Werewolf perempuan itu memekik ketika dirinya tersungkur di lantai.
Darah segar mengalir dari lengan kirinya. Ia lengah dan membiarkan pedang lawan menggores tubuhnya. Kini, manusia yang menjadi lawannya itu tengah bersiap menghujamnya dengan pedang.
"Poisefly summon–akh...!" Wanita itu tak bisa menggunakan sihirnya.
Sihir gelap yang akan memanggil ribuan kupu-kupu beracun itu terlalu menguras mana. Ia hanya bisa mengerang kesakitan ketika mananya habis untuk pemulihan luka. Tangannya gemetar ketika meraih pedang miliknya.
"Maafkan aku, aku harus mengakhirinya, Yang Mulia," batinnya.
Tentara kupu-kupu tak bisa ia panggil. Namun, ada jalan terakhir yang bisa ia gunakan meski harus mengorbankan nyawa. Wanita itu menutup matanya, ia akan membakar diri dengan api dingin bersama manusia itu.
"Blueame!"
Woosshh!
"Ggraaaa!!" Werewolf perempuan itu berteriak kala api mulai berkobar dari tubuhnya.
Prajurit manusia itu terkejut ketika ia mendekat dan hampir tersembur oleh api. Dirinya tak menyangka lawannya akan menggunakan cara membakar diri untuk melawannya. Manusia itu hanya tersenyum miring, ia hanya perlu menghindar sampai siluman serigala itu mati terbakar sendiri.
"Bodoh! Aku tak sangka bangsa kalian sangat bodoh seperti ini! Hahahahaha!" Ia tertawa lebar seolah sudah menjadi pemenang.
Perlahan siluman serigala yang dikelilingi api dingin itu bangkit. Ia seperti seseorang yang tak sadarkan diri. Mana untuk kesadarannya ia gunakan untuk bahan bakar api dinginnya.
"Ini senjata terakhirku, kumohon bergunalah!" batinnya.
Jleb!
"Akh—" Prajurit manusia itu memekik tertahan ketika sebilah belati menancap di lehernya.
"Belati?!" batinnya ketika ia meraba leher.
__ADS_1
Drap! Drap! Drap!
"Elixeurea!"
Swooshh!
Seorang pria berjubah putih dengan cepat mengucapkan mantra sihir. Ia menembaknya tepat ke arah wanita yang berkobar itu. Dalam sekejap, api padam dan menyisakan seorang wanita berdiri tak sadarkan diri.
"Micellia!"
Bruk!
Wanita itu ambruk tepat di pelukan sang pria berjubah putih. Pria itu mendesis ketika efek dingin meraba tubuhnya. Micellia kehabisan mana sebelum berhasil menumpas musuh.
"Micellia, buka matamu!" Pria itu menggerakkan tubuh yang sudah melemah itu.
Ia kembali berteriak memanggil si perempuan, "Micellia de Broof!"
Percuma, wanita itu tak ada tanda-tanda akan menyahut panggilannya. Ia terkulai sangat lemas bahkan hampir tak terasa detak jantungnya. Efek api dingin itu mulai membekukan dirinya kalau tak cepat disembuhkan.
"Dasar serigala...! Apa yang kau lakukan padaku?!" Prajurit manusia itu berhasil mencabut belati di lehernya.
Darah segar mengalir perlahan, sama seperti lengan Micellia beberapa waktu lalu. Ia menggeram, wajahnya memerah marah. Digenggamnya belati itu hingga mengenai tangannya sendiri.
Pria berjubah putih mendelik melalui ekor matanya. Ia menyuruh prajurit dari bangsanya untuk membawa Micellia pergi. Wanita itu harus secepatnya diobati oleh penyihir kerajaan.
Ia nampak tenang meski kilatan benci tersorot dari mata kelabunya. Rambutnya yang berwarna perak itu berkibar tertiup angin. Jubah besar dengan benang perak berkilauan disinari rembulan.
"Siapa kau?! Berani mengganggu obrolanku dengan wanita tadi!" sergah si prajurit manusia.
Pria berjubah putih itu tersenyum. Perlahan ekor dan telinganya muncul. Ia membelakangi sinar rembulan yang masuk melalui jendela besar istana.
"Sebaiknya kau berhati-hati karena ini bulan purnama penuh," ucapnya dengan tenang.
Prajurit manusia itu tetap berdiri menghadang. Ia membawa pedang di tangannya yang siap ia hunus kapanpun ia mau. Hasrat dan ambisi membuatnya ingin membabi buta.
"Sepertinya kau tidak tahu siapa yang menjadi lawanmu di sini," ucap pria berjubah putih.
Ia mengeluarkan cakarnya yang sedari tadi ia sembunyikan di balik jubah. Taringnya menampakkan diri ketika bibirnya menyeringai. Ia berubah menjadi setengah manusia setengah serigala.
"Hakh...! Kau—" Prajurit manusia itu mulai gentar ketika lawannya menampakkan wujud silumannya.
Werewolf seputih cahaya bulan itu tiba-tiba lebih tinggi besar daripada manusia. "Kau sepertinya tidak bisa membaca situasi," ketusnya.
"Kalau aku jadi kau, aku akan berlari mengasihani nyawaku." Raut wajahnya yang semula tertawa menjadi datar.
__ADS_1
"Pa–pangeran ketiga?!"
Terlambat. Petir telah menyambar sesaat siluman itu menyentikkan jarinya. Bilah petir satu persatu menyambar si manusia.
"Aargh...!"
Pria yang dipanggil pangeran ketiga oleh si manusia itu meniup ujung jarinya. Ia tak menunjukkan ekspresi apapun ketika menyaksikan lawannya tersiksa oleh sambaran petir miliknya. Ia menunggunya sebentar menikmati bagaimana akhir hidup seseorang yang berani melawan dirinya.
"Hah, membosankan. Kupikir ada yang menarik di sini," ujarnya kecewa.
Ia kembali ke wujud manusia normal. Bersedekap dada menyembunyikan kedua tangannya di balik lengan jubah yang besar. Sorot matanya terus menatap manusia yang seperti cacing diberi garam.
"Aaarghh...!" Manusia itu terus berteriak kesakitan.
"Tahu begini, aku tidak perlu mengubah wujudku. Hanya buang-buang tenaga saja," decihnya.
Ia menatap ke luar jendela menyambut terangnya rembulan. Matanya memejam seolah menerima siraman cahaya yang terang itu. Rasanya seperti mendapat banyak sekali kekuatan dan mana sihir dalam dirinya kembali pulih.
"Kuagungkan namamu, wahai Dewi Bulan yang indah."
"Berani sekali kau mengambil berkatku padahal kau memiliki debu kejora di tubuhmu." Suara lembut yang menggema itu milik sang Dewi Bulan.
Pria itu tersenyum lembut sembari memejamkan matanya, "Engkau tahu kisah itu, wahai Dewi Bulan yang indah," sahutnya pada suara yang tanpa wujud itu.
"Dasar serakah. Tundukkan kepalamu ketika melihatku, aku akan menurunkan berkatmu sekarang." Suara itu menghilang ditelan malam yang sepi bersamaan dengan awan yang menutup sinar rembulan.
Ia menghela napasnya setelah menerima berkat dari Dewi Bulan melalui cahayanya. Matanya kembali tajam melihat mayat prajurit manusia yang ia hujam dengan petir tadi. Hembusan napas singkat sebagai akhir katanya.
"Ke mana dia saat istana kacau seperti ini?!" gerutunya dalam hati.
Brak!
"Salam secerah rembulan bagimu, Pangeran—"
"Bagaimana keadaan Micellia?" Ia menyela ucapan salam dari para prajurit penjaga.
Wajahnya memang datar, tetapi dalam hatinya ia merasa khawatir. Pintu yang belum ia buka itu adalah ruangan tempat Micellia beristirahat setelah diobati. Penyihir kerajaan yang sudah tua itu berjalan menghampirinya.
Dengan gemetar ia berkata, "Nak, aku hanya bisa memberinya bola mana dari gunung harta. Kalau bola mana itu tidak berhasil, maka..."
Pangeran berjubah putih itu menggeram. "Ck! Manusia-manusia itu harus diberi pelajaran!" decaknya marah.
"Apa kalian sudah dapat kabar dari kakakku?!" tanyanya pada siapapun yan mendengar.
Para prajurit werewolf itu saling pandang. Mereka kompak menggeleng takut. Mereka belum menemukan tanda-tanda pencarian orang yang dimaksud.
__ADS_1
"Haaarrrghh...!"
"Di mana dirimu, dasar kakak sialan!"