Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Lucy dan Serena di Istana Tengah Middleof


__ADS_3

Ting!


Dua orang perempuan saling berhadapan di tengah istana tengah. Mereka saling bertatapan satu sama lain. Sedangkan di bawah ada anak kecil yang melongo tak tahu apa yang tengah terjadi.


Wanita bergaun ungu mencolok itu menatap Lucy tak percaya. Ia adalah Serena yang baru saja datang. Wanita itu langsung kemari begitu mendengar kalau Loofyn ikut bersama Arzen.


Tak disangka mereka berdua bertemu di tengah aula istana tengah. Serena menunjuk Lucy, "Apa-apaan kau membiarkan pewaris tahta berjalan sendiri begitu?!" sentaknya.


Lucy tak mengerti mengapa seorang wanita tiba-tiba datang lalu memakinya. Ia baru saja keluar dari kamar karena Loofyn mengajaknya bermain. Ia secara kebetulan berpapasan dengan Serena yang belum dikenalnya.


"Tolong pelankan suara Anda ketika berbicara di depan anak kecil," tegas Lucy.


Serena lebih tak percaya menatapnya. Ia baru saja mendapati dirinya diperingatkan oleh seorang manusia. "Kau berani sekali berbicara seperti itu padaku! Kau pikir kau siapa?!" bentaknya.


Loofyn sudah ingin menangis karen takut. Ia mencekal dress yang dikenakan oleh Lucy. "Mama, takut. Huwee...!"


Gadis itu segera menggendongnya lalu menenangkannya. Ia menepuk-nepuk punggung Loofyn dan mengecup keningnya agar tenang. Loofyn meredam suaranya di dalam dekapan Lucy.


"Anda membuatnya ketakutan, nona," ujar Lucy.


Serena mendengus, "Lagipula itu salahmu. Kau membiarkannya berjalan seperti itu makanya dia kelelahan dan menangis!" omelnya.


"Huwee... bibi jahat!" pekik Loofyn dan menangis semakin keras. Bahkan membuat para pelayan dan prajurit bersiap di sekitar mereka.


Lucy menghembuskan napasnya, "Loofyn, tidak pantas bagi seorang pangeran menangis begitu keras di depan tamu," ucapnya pada anak itu.


Serena menggertakkan giginya kesal, "Tamu katamu?! Kau tidak tahu siapa yang sednag kau hadapi sekarang?!" geramnya.


Ia mengeluarkan taring dan cakarnya yang terisi kilatan. "Kau akan menyesal tidak sopan padaku!" berangnya.


Lucy membelalak melihat apa yang ada di depannya. Wanita itu sampai mengeluarkan cakar di depan anak-anak meski saat ini Loofyn tak menghadap ke depan. Ia bersiap merangkul Loofyn dan menerima kilat petir itu.


"Astaga, aku terlalu gegabah karena membela Loofyn. Bagaimana kalau sampai anak ini terluka?" batinnya panik.


"Manusia tak tahu diri!" Serena mengangkat tangannya tinggi-tinggi bersiap untuk menampar Lucy.


PATSS!


"Akh...!" Serena memekik karena seseorang menahan tangannya kuat.

__ADS_1


Ia menoleh dan mendapati Venus ada di samping. Entah sejak kapan ia datang tetapi refleknya sangat cepat. Venus menatapnya tajam sehingga ia melepas tangannya kasar.


"Kau mencegahku, Venus?! Kau mencegah kakak iparmu?!" cecar Serena.


Venus mendelik, "Kalau kau tidak suka, bersikaplah seperti kakak ipar yang baik, Serena!" tegasnya.


Pria itu memeriksa keadaan Lucy dan Loofyn. "Apa sudah terjadi sesuatu? Bagaimana dengan Loofyn?" tanyanya khawatir.


Lucy menggeleng, "Tidak ada Yang Mulia. Loofyn juga baik-baik saja meski sempat menangis keras tadi," ujarnya.


Sebenarnya Venus datang kemari karena mendengar suara tangis Loofyn yang terdengar sampai luar. Ia menatap semua prajurit yang ada di ruangan. Tak satupun dari mereka bergerak melindungi Lucy.


"Apa kalian membiarkan pewaris tahta diserang dan terluka?" tanya Venus dengan suara keras.


Para prajurit itu menunduk dan menggeleng. Sebenarnya mereka takut melawan Serena. Apalagi kalau Serena sampai mengeluarkan kekuatan petirnya.


"Sekali lagi kalian ragu-ragu melindungi dua orang ini, kalian tahu akibatnya!" ancamnya.


Para prajurit hanya mengangguk lalu membungkuk mohon ampun. Mereka semua kembali ke tempat semula berjaga. Serena tak percaya pada Venus yang ingin prajurit istana menyerangnya tanpa ragu.


"Kau ingin melawanku, hah? Kau membiarkan prajuritmu melukaiku?" cecarnya.


"Akan kutunjukkan kalau aku lebih menyayangi Loofyn daripada gadis itu. Karena akulah bibinya! Aku yang lebih dekat dengannya. Kau yang bodoh membiarkan manusia mengasuh pewaris tahta!" marahnya pada Venus.


Lelaki itu tersenyum miring, "Benarkah? Apa kau yakin kau juga disayang oleh Loofyn?"


Lucy mencuri dengar obrolan dua orang di depannya selagi ia menenangkan Loofyn. Anak itu sudah reda tak lagi menangis meski napasnya tersengal. Loofyn jadi takut pada bibinya sendiri.


"Adik ipar kurang ajar!" desis Serena.


Venus menoleh, "Loofyn, apa kau mau bermain dengan bibi Serena?" tanyanya.


Wanita bergaun ungu itu tersenyum. Ia berusaha ramah dan merentangkan kedua tangannya. "Ayo, apa kau tidak rindu pada bibimu ini?"


Raut wajah Loofyn kembali berubah sedih dan takut. Ia menggeleng dan mengalungkan tangannya ke leher Lucy. "Tidak! Tidak! Takut!" jeritnya.


"Pangeran tidak baik berkata seperti itu pada bibi Pangeran," bisik Lucy berusaha menenangkan Loofyn.


"Mama, Fyn takut!" pekik anak itu lagi. Lucy hanya mengangguk, "Iya, iya mama ini di sini," ucapnya.

__ADS_1


Serena menatap tak percaya. Dirinya ditolak oleh keponakan sendiri. Padahal selama ini ia merindukan anak itu dan setelah bertemu malah menolak kedatangannya.


Venus menahan tawanya, Serena tahu itu. Makanya ia kesal pada pemandangan harmoni yang ada di depan matanya. Ia tak menyangka kalau Loofyn lebih memilih manusia itu daripada dirinya yang ada hubungan darah.


Terlebih saat anak itu memanggil 'mama' pada Lucy. Hubungan mereka lebih dekat dan dalam daripada dengannya. Ia merasa terusir di sini.


"Ck...! Beraninya manusia mengambil keponakanku," gerundelnya.


"Bagaimana, kakak ipar?" tanya Venus sembari tersenyum.


Serena mendongakkan kepalanya yang semula menunduk. Ia menatap tajam dan juga nanar pada Lucy. Wanita itu memutuskan untuk pergi dari sana dengan perasaan sakit hati.


"Ah, tunggu! Aku bisa membujuknya!" pekik Lucy tetapi Serena telah menjauh.


Ia menyenggol Venus, "Sepertinya kau berlebihan, Venus. Kurasa Loofyn hanya terkejut saja. Mungkin ia bingung karena sudah lama tak bertemu dengan bibinya," ungkapnya.


Venus menghembuskan napasnya, "Biarkan saja. Serena memang seperti itu perangainya. Kakakku saja sampai jengah dibuatnya," ucapnya.


"Oh jadi namanya Serena?" batin Lucy.


Ia menatap Venus seperti ingin meminta penjelasan. Sayang sekali pria itu sudah berjanji untuk tidak menceritakan apapun terkait silsilah keluarga mereka. Ia akan membiarkan Lucy penasaran sampai Arzen yang mengungkapkannya suatu hari nanti.


"Maaf, aku tak bisa memberitahumu sesuatu. Aku sudah berjanji," ujarnya sambil mengangkat tangan setinggi dada.


Lucy menghembus kecewa. Pada akhirnya ia tak mendapat cerita apapun. Padahal ia ingin mengetahui sesuatu tentang Serena.


"Dia bibi dari pihak ibu sepertinya," pikir Lucy.


Venus tahu Lucy tengah memikirkan dan menduga-duga sesuatu. "Ekhem, kalau begitu aku harus pergi. Ada yang harus kulakukan. Sampai jumpa nanti," pamitnya.


Lucy mengangguk, "Baiklah, aku juga harus membawa Loofyn ke kamar."


Acara bermain Loofyn hari ini batal karena kejadian tak mengenakkan barusan. Ia tak menyangka akan bertemu dengan bibi Loofyn. Sebenarnya ia kepikiran salah satu ucapan Serena tadi.


Ia bukan anggota keluarga kerajaan. Bukan juga ibu kandung Loofyn. Sama sekali tak ada hubungan darah dengan bangsa mereka.


"Sepertinya kehadiranku di sini tak sepenuhnya didukung," pikirnya.


Ia berjalan sembari menggendong Loofyn. "Apa aku sudah berbuat salah karena datang kemari?" gumamnya.

__ADS_1


"Kau memikirkan apa sampai menekuk raut wajahmu, Lucy?"


__ADS_2