Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Bertemu Raja Hwooxeas


__ADS_3

"Mama, Fyn takut!"


Loofyn merengek sembari mengeratkan pelukannya. Entah sudah berapa jam mereka berada di kamar di Menara Sihir ini. Padahal jarak mereka sangat jauh dari bentang luar, tetapi suara meriam tetap terdengar.


Lucy memeluk erat anak itu dan menenangkannya. "Tenang saja, papa pasti bisa mengalahkan orang jahat itu!" ucapnya agar Loofyn kembali semangat.


Padahal ia sendiri sama takutnya. Ia cemas apa yang terjadi di luar sana. Bagaimana kondisi Arzen dan yang lainnya saat ini.


Ia sudah merutuki dirinya yang tak bisa membantu Arzen di medan perang. Namun dirutuki berulang kalipun tak akan membuatnya tiba-tiba memiliki kekuatan. Ia menghembuskan napasnya.


"Apa yang aku lakukan? Bukan saat aku memikirkan hal seperti itu," pikirnya.


Ia menidurkan Loofyn di kasur yang tak lebih mewah dari kasurnya di istana. Lucy menggunakan kain untuk membuat penutup telinga Loofyn. Ia berharap ketebalannya bisa meredam suara ledakan di luar.


"Mama jangan pergi."


Lucy menggeleng, "Tentu tidak. Mama juga di sini melindungi Loofyn," ucapnya.


"Arzen, aku akan berdoa untuk keselamatanmu!" tekadnya.


Sementara itu di medan perang yang ada di depan kerajaannya sendiri. Arzen dan Venus menyeringai melihat siapa yang mereka hadapi saat ini. Seorang pria gagah besar tengah berdiri di kereta perangnya.


"Wah, dia sampai menggunakan kereta kuda untuk datang ke istana kita. Apa dia pikir ini semacam kunjungan?" decak Venus.


Pria di sana tersenyum lebar. "Wah, Yang Mulia Kaisar sampai repot-repot kemari menyambutku. Aku sangat terharu," kelakarnya.


Ia menutup satu matanya, "Bercanda."


BOOM!


"Venus minggir!" pekik Arzen ketika sebuah tembakan tiba-tiba diarahkan pada mereka.


Hampir saja Venus terbakar oleh senapan api. Rahang Arzen menegang, "Sial, aku lengah!" batinnya.


Ia sudah menggunakan wujud serigalanya. Namun pria di atas kereta itu masih dalam bentuk manusia. Ia tertawa keras melihat reaksi Arzen.


"Ahahahah, lihat bagaimana wajahmu tadi saat terkejut, Yang Mulia!" ledeknya.


Venus yang tak terima kakaknya diejek langsung menyerang. Ia mengincar leher lawan meski di depannya ada meriam yang siap ditembakkan kapan saja. Serigala putih keperakan itu menembakkan petir ke arah musuh.


"Star Javeline!" Mantra diucap dan tombak petir melaju secepat kilat.


Sayangnya, pria itu langsung menangkisnya dengan mudah. Melihat itu Venus langsung mundur. Ia berpikir seharusnya langsung menggunakan tingkat tinggi.

__ADS_1


"Venus, jangan gegabah!" pekik Arzen.


"Benar, dengarkan kakak tercintamu, Pangeran," ejek pria itu.


Venus menggeram, "Galven!" serunya.


Musuh yang mereka hadapi adalah pasukan dari Kerajaan Hwooxeas. Mereka adalah kerajaan yang menentang kekaisaran. Tak disangka selama sepuluh tahun terakhir mereka memupuk kekuatan untuk melawan kaisar.


Galven de Hwooxeas. Raja yang memimpin peperangan kali ini atas dasar ketidakpuasan pada kekaisaran. Kerajaan Hwooxeas menyatakan akan merebut kekaisaran Wolfeuxeas dari tangan Arzen.


"Ahahahahah, lihat raut wajahmu itu. Sama seperti kakakmu yang sudah gugur!" kelakar Galven.


"Moonlight Wound!"


ZLEB!


"Akh...!" Galven memekik kesakitan sembari memegangi lengan kirinya.


Rupanya Arzen menembakkan sihir cahaya bulan padanya. Sihir itu mampu membuat luka seperti permukaan bulan yang tidak rata. Darah dan nanah keluar karena panas.


"Dasar brengsek!" pekik Galven. Ia melemparkan panah api pada dua serigala di hadapannya.


Beruntung Arzen dan Venus berhasil menghindar. "Ikuti aku jangan bertindak sendirian!" perintah Arzen pada Venus.


Lelaki itu mengangguk. Ia juga akan mengamati lebih dahulu sebelum menyerang. Mereka sama-sama mencari titik vital.


"Yakh, Blazing Lizard Summon!"


JEDER!


Kadal api itu meraung dan mengibaskan ekornya. Satu kibasan mampu menyapu seribu orang pasukan. Arzen dan Venus tercengang melihatnya.


"Sial, dia memanggil makhluk panggilan!" desis Venus.


Arzen mengumpulkan tenaganya, "Selen o Dust!" Tiba-tiba saja tornado debu menyerbu kadal itu.


Ia berlari setelah mengalihkan perhatian lawan. Menggunakan Luminous Obstacle untuk menghilangkan hawa keberadaannya, Arzen menyerang titik lemah kadal api itu. Ia tiba-tiba muncul dari belakang kadal itu dan menyerangnya.


"Selen o Javeline!"


BLARRR!


Sebuah tombak raksasa menghujam menembus jantung si kadal. Arzen berhasil menggunakan tombak sinar bulannya untuk menyentuh titik vital lawan. Kadal itu tumbang dan meronta-ronta.

__ADS_1


Galve menggertakkan giginya kesal. Padahal butuh mana yang banyak untuk bisa memanggil kadal api. Arzen menyingkir ketika kadal itu mengibaskan api dari ekornya.


"Sial, dia sangat merepotkan," decaknya.


Venus yang melihat itu seperti melihat peluang. Ia menguatkan tumpuan kaki belakangnya untuk belari. Selagi kadal itu lengah karena kesakitan ia mengincar kepala si kadal yang bisa ia raih.


"Stellar Javeline!"


SRET! ZLEB!


Kadal itu semakin meronta ketika tombak besar menghujam kepalanya. Kobaran api di tubuh kadal itu perlahan padam. Galven gigit jari melihatnya.


Ia menggunakan sihir api untuk membuat perisai. Ia menghilang dalam sekejap dari hadapan Arzen Venus. Hal itu membuat keduanya waspada.


Takut kalau tiba-tiba Galven muncul dan menyerang dari arah tak terduga. Nyatanya, Galven kembali ke tempat persembunyiannya. Ia hampir kehabisan mana sihir.


Bisa parah kalau sampai Arzen menyerangnya tadi. "Sofhia!" pekiknya memanggil seseorang.


Seorang Tuan Putri langsung datang. Ia melakukan sesuatu untuk memulihkan mana Galven. Tentunya bukan cara yang sehat seperti mentransfer sihir.


Dengan bejatnya, Galven menggauli Sofhia yang baru datang itu. Ia seperti 'menghabisi' perempuan itu di atas ranjang. Sofhia hanya bisa terengah mengikuti Galven.


"Terlalu kasar, Yang Mulia! Akh—"


"Diam! Aku harus segera mengisi manaku agar bisa mengalahkan mereka!" bentak Galven.


"Yang Mulia, sakit sekali! Pelan-pelan! Ah..!"


Galven melepas puas saat aliran mana itu masuk ke dalam tubuhnya. Beginilah cara ia mengambil mana dari orang lain. Dengan cara ini, hampir seluruh mana dari orang tersebut berpindah padanya.


Sofhia, tunangannya itu terkapar lemas ketika Galven mencapai puncaknya. Lelaki itu melepaskan diri dari Sofhia begitu saja. Ia pergi meninggalkan Sofhia di tempat tidurnya.


"Hah, masih tidak cukup," decak Galven.


Ia mengepalkan tangannya merasakan mana yang mengalir. Ia rasa kurang tetapi Sofhia sudah lemas. Ia tak bisa memaksa tunangannya untuk melakukan 'itu' lagi.


"Sial! Kenapa Sofhia malah melakukan sihir tidak guna yang menguras mananya?!" geramnya.


Ia memukul tembok yang ada di depannya sampai retak. "Pelayan! Rawat Sofhia sampai dia memulihkan kembali mananya!" perintahnya.


"Baik, Yang Mulia."


Galven pergi dari sana di saat Sofhia kesakitan fisik dan hatinya. Selama ini ia hanya dijadikan alat untuk memberikan mana sihir. Ia tak tahu menjadi tunangan Galven akan menyengsarakan dirinya sejauh ini.

__ADS_1


"Tidak apa, asalkan Yang Mulia senang. Akh, tetapi ini sakit sekali. Aku tak bisa beranjak karena seluruh mana sudah kuberikan," gumam Sofhia.


Galven kembali menggunakan baju zirahnya. "Ayo kita kembali merebut kekaisaran! Aku tidak menerima kekalahan meski hanya sementara!" tekadnya.


__ADS_2