
"Nona Serena, Zamrud Hitam Mata Iblis itu apa?" tanya Lucy saat ia membuka surat kiriman Venus.
Mereka berdua sedang berada di kamar setelah menerima surat dari medan perang. Saat ini Serena sedang membaca sebuah buku yang ada di lemari kamar itu. Sedangkan Loofyn sedang bermain puzzle yang dibawa Lucy ke dunia magis.
Serena menoleh, "Entahlah. Yang aku tahu sejauh ini benda itu adalah benda terlarang," jawabnya.
Tentu saja Lucy tidak puas dengan jawaban seperti itu. Ia sangat penasaran kenapa benda itu sampai bisa membuat pasukan kekaisaran melemah. Ia menghembuskan napasnya lelah dan bersandar di meja makan usai membaca surat tersebut.
"Aku sangat bosan menunggu di sini karena tidak bisa kemana-mana seperti di istana. Apakah di sini ada perpustakaan yang bisa kita kunjungi?" tanya Lucy.
Serena tampak mengingat sesuatu. Namun ketika ia melihat buku yang ia pegang sepertinya tempat itu memang ada di menara ini. Ia memanggil pelayan dan bertanya apakah mereka bertiga boleh keluar dari kamar dan berjalan-jalan di dalam menara sihir.
"Silakan, nona. Saya sudah bertanya pada pemimpin menara. Tetapi nona-nona hanya diperbolehkan pergi ke perpustakaan saja," ucap pelayan itu.
Serena mengucap syukur. Dia kira ia akan mati kebosanan di dalam kamar ini. Mereka bertiga segera bersiap untuk turun menuju perpustakaan.
Karena Algre masih sibuk dengan penelitian mereka terpaksa menuruni tangga secara manual. Di tengah perjalanan mereka saling bergantian menggendong Loofyn. Serena berjalan di depan, Lucy di tengah, dan seorang pelayan di belakang mereka.
Akhirnya setelah menghabiskan waktu 1 jam lebih mereka sudah sampai di bawah. Pelayan itu langsung mengarahkan mereka menuju perpustakaan. Sampai di sana mereka dijamu dengan makanan kecil dan teh.
"Aku kira kita akan pingsan di tengah jalan," celetuk Serena yang disetujui oleh Lucy.
Sekarang di perpustakaan tiada siapapun selain mereka bertiga dan juga penjaga perpustakaan. Sehingga kali ini diperbolehkan seorang anak kecil masuk karena tidak akan mengganggu siapapun. Setelah puas beristirahat kedua perempuan itu mulai mencari buku yang mereka inginkan.
"Banyak sekali buku-buku usang di sini," celetuk Lucy.
Serena menimpali, "Tentu saja. Ini kan menara sihir yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu," katanya.
Mereka kembali sibuk mencari buku di masing-masing rak. Lalu membawa beberapa buku yang mungkin berkaitan ke meja baca. Beberapa diantaranya menyinggung masalah perjanjian dengan iblis.
__ADS_1
"Sepertinya ini membahas artefak itu," gumam Lucy lalu membuka sebuah buku.
Buku itu seluruhnya berwarna merah menyala. Ketika ia membukanya langsung disambut oleh lukisan potret mengerikan. Gadis itu hampir saja melempar buku itu ke lantai saking terkejutnya.
Ia membacanya seorang diri karena Serena masih sibuk mencari buku yang lain. Sementara itu Loofyn diasuh oleh pelayan yang tadi ikut mereka. Lucy membacanya dengan seksama.
– Zamrud Hitam Mata Iblis –
Batu kristal berwarna hitam legam ini merupakan artefak sihir kuno yang ditemukan sekitar 5000 tahun yang lalu. Penemunya adalah salah satu keturunan manusia suci legendaris yang keberadaannya hingga kini masih belum jelas. Dari namanya saja batu ini sudah jelas berbahaya, apalagi sampai jatuh ke tangan orang yang tidak tepat.
Dalam sejarahnya batu ini digunakan untuk hal-hal yang melanggar etika. Seperti contoh menghidupkan pasukan yang terdiri dari undead alias mayat hidup. Atau juga bisa memanggil hewan neraka atau iblis itu sendiri.
Menurut beberapa penyihir, batu ini ditemukan saat manusia suci itu mengalahkan Iblis Merah. Ia menyegel makhluk itu dan mendapatkan batu hitam itu dari jantungnya. Barang siapa yang menggunakan atau bahkan menyentuhnya akan mendapat hukuman.
Konon katanya ada orang yang menggunakan artefak terlarang ini. Setelah ketahuan orang itu di menuju kekaisaran untuk dipasung di depan umum. Lalu Zamrud itu dikembalikan kepada penyihir agung untuk disimpan di tempat yang hanya ia dan manusia suci itu yang tahu.
- catatan habis -
"Ah, aku tidak menemukan apapun. Lagipula siapa itu manusia suci legendaris? Kenapa tidak disebutkan namanya?" gumamnya.
Serena akhirnya kembali dari berburu buku. Ia menatap Lucy heran karena gadis itu terlihat berpikir keras. Kemudian ia berjalan mendekatinya.
"Kau ini sedang memikirkan apa sampai alismu bertaut?" tanya Serena.
Lucy menjawabnya jujur. Akhirnya kedua gadis itu sama-sama menghela napas. Sepertinya masalah ini menemui jalan buntu.
Lucy kembali berpikir keras tentang apa yang harus ia lakukan untuk bisa membantu kekaisaran saat ini. Ia tak ingin diam saja sembari menunggu kabar yang tidak jelas. Menurutnya lebih baik langsung terjun ke area lalu menghadapi masalah.
"Apa aku benar tak bisa melakukan apa-apa?" gumamnya.
__ADS_1
Serena menatapnya khawatir. Ia sendiri juga tidak bisa melakukan apa-apa. Kekuatannya tak sebesar mereka yang ada di medan perang.
Ia turut sedih karena merasa berada di posisi yang sama dengan Lucy. Padahal keduanya bukanlah tipe perempuan yang suka menunggu atau duduk manis tanpa kepastian. Lucy menyesap tehnya sampai habis.
"Nona Serena apa mengetahui sesuatu tentang manusia suci itu?" tanya Lucy.
"Tentu saja tidak. Mereka mengubur cerita itu dan mengatakan bahwa itu hanyalah legenda. Aku sendiri pun meragukan keberadaannya," sahut Serena putus asa.
Keduanya kembali merenung menyandarkan kepala mereka di atas meja. Lama-kelamaan mata dan tubuh yang lelah itu membuat mereka mengantuk. Serena dan Lucy tertidur di perpustakaan.
Entah mengapa udara dan suasana hari ini sangat sejuk. Sangat mendukung untuk mereka memejamkan mata. Bahkan pelayan yang mengasuh Loofyn turut tidur di samping anak itu.
Tiba-tiba angin berhembus lembut mengusap pipi Lucy. Gadis itu melengkung karena sedikit terusik tidurnya. Lalu tiba-tiba saja ia bermimpi sedang berada di suatu tempat yang tak ia kenali.
Tanah yang dipijaknya sangat lembut seperti awan. Namun saat ia menoleh ke bawah yang ada adalah genangan air yang sangat jernih sampai bisa memantulkan bayangannya. Lalu di sekitarnya seperti hutan yang rimbun.
Ia bisa bergerak bebas meski bingung harus melakukan apa. Lucy belum menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi. Dari atas pohon berdaun merah muda itu turun seorang perempuan berjubah putih.
Ia mendongak untuk melihat siapa yang datang. Lucy bertanya-tanya mengapa ia seperti emrasa familiar dengan sosok tersebut. Perempuan berjubah putih dengan aksen emas itu tersenyum padanya.
Ia menggunakan tongkatnya untuk mendarat di atas air. Tepat berada di depan Lucy yang juga menapakkan kakinya di atas air. Mereka saling berhadapan dan menatap lekat dari mata ke mata.
Perempuan itu mengetukkan tongkatnya ke air yang ia pijak. Seketika pemandangan di sekitar berubah menjadi di atas langit. Tak ada lagi daun-daun yang rimbun atau pohon yang berdiri kokoh.
Semua yang dilihat Lucy adalah hamparan langit. Awan putih itu menggantikan air yang ia pijak sebelumnya. Tentu saja ia merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi.
"Terasa fana, bukan?" tanya perempuan berjubah putih dengan aksen emas itu.
Rambut hitamnya sama seperti Lucy. Tetapi poni rambutnya itu nampak mengganggu karena menghalangi dahi sampai ke mata. Rambutnya hanya sepanjang pinggang.
__ADS_1
"Apa kau tak ingin menyapa ibumu sendiri, Lucy?"