
Cahaya putih berkat Dewa Matahari itu mengelilingi tubuh Lucy. Gadis itu sedang khusyuk merapalkan mantra pamungkasnya. Jubahnya membuat perisai yang lebih kuat bahkan api pun padam dibuatnya.
Semakin kuat gadis itu semakin silau cahayanya. Galven menyipitkan mata saking silaunya. Iblis Merah bahkan sesak napas sebelum menyentuh gadis itu.
Perlahan mata Lucy terbuka seiringan dengan langit yang mulai gelap gulita. Tak ada cahaya bintang, tak ada indahnya bulan, bahkan matahari pun enggan bersinar. Itu semua karena Lucy merapalkan mantra tingkat tinggi, gerhana matahari.
Berbeda dengan di dunia manusia, gerhana matahari di sini sama saja kiamat bagi mereka. Sumber cahaya di sini hanya dari jubah gadis itu. Seorang gadis yang tengah menghukum makhluk paling menjijikan di dunia ini.
Mereka yang mengikat janji dengan iblis manapun adalah sampah dari sampah. Sangat menjijikan dan harus lenyap dari dunia ini. Lucy tak kenal ampun atas perbuatan Galven.
Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Sebuah kotak jeruji yang setiap rusuknya menyala-nyala itu muncul di atas Galven. Tatapan dingin Lucy tertuju ke dua makhluk di bawahnya.
Galven menggeram marah. Ia berusaha sekuat tenaga menggagalkan mantra Lucy. Seluruh tenaga ia kerahkan untuk membuat tombak api yang besar.
Sayang sekali, seluruh mana begitu mudah ditampik oleh perisai matahari Lucy. Apapun yang dilakukan oleh Galven berujung sia-sia. Artinya, sama saja ia membuang-buang mana miliknya maupun Iblis Merah.
"Wahai jiwa yang terkutuk, ternodailah dunia yang damai ini karenamu. Kami utusan Dewa Matahari akan menjatuhimu sengsara yang berat lagi pedih," ucap Lucy seiring jeruji sihir itu sempurna bentuknya.
Kotak berbentuk segi enam itu kemudian mengurung Galven beserta Iblis Merah. Setiap cahaya suci menusuk mereka dari segala sisi. Membuat monster itu mengerang kesakitan dan memberontak minta dibebaskan.
Lucy menguncinya rapat-rapat. Ruangannya menjadi sempit sehingga Galven harus bertumpu kedua sikunya. Semakin ia melawan semakin sempit mendesak pula jerujinya.
"Lepaskan aku! Dasar bedebah! Apa yang kau lakukan, hah?!" erangnya.
Lucy tak mempedulikan hal itu. Ia terus merapalkan mantra suci agar jeruji itu terkunci sempurna. Cukup berat sampai ia harus menguras mana yang lumayan banyak.
"Ibu, pinjamkan anakmu ini kekuatanmu," batin Lucy.
Arwah Lumine tersenyum lalu merangkul dari atas sana. "Leluhurmu itu Dewa Matahari," bisiknya.
Lucy tersenyum lalu memejamkan matanya yakin. Ia mengerahkan kotak jeruji berisi monster jahanam itu ke arah laut miasma. Galven kalang kabut dan semakin memberontak.
Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebab itu, ia meronta dan terus berusaha membuat Lucy kewalahan. Gadis itu harus menahan sakit tangannya karena menahan beban.
"Beraninya kau melakukan ini padaku! Lumine!" Iblis Merah berteriak pada Lucy.
"Aku tidak boleh mati sebelum kekaisaran jatuh ke tanganku! Lepaskan aku j*l*ng!" Kali ini Galven yang berteriak.
__ADS_1
Tiada guna, mereka berdua sudah berada dalam penjara suci. Penjara yang tak ada tandingannya. Sangat sulit ditembus, bahkan mustahil.
"Atas nama Dewa Matahari, aku antarkan makhluk biadab ini padamu, Dewa Miasma!"
BYURR!
"Siaal! Brengsek!" teriak kedua makhluk keji itu saat Lucy melemparkannya ke laut miasma.
Blub! Blub! Blub!
Laut miasma mulai mendidih berbau busuk. Setiap cairannya menggerogoti rusuk jeruji. Bahkan letupannya bisa membuat siapa saja pingsan atau mati.
Tubuh Galven sudah sampai lutut yang terendam cairan mengerikan itu. Warnanya hitam legam dan mendidih meletup-letup. Ia menyerap siapa saja yang masuk ke dalamnya.
Dewa Miasma tak kenal ampun kepada tamunya. Galven dan Iblis Merah dibuat habis hampir seluruh badan mereka. Lolongan menderita itu terdengar memekik di telinga siapa saja yang mendengar.
Lucy berdiri di tepi bukit yang agak jauh tetapi bisa melihat mereka. Tatapannya sangat tajam dan dingin. Berbeda dari aura putih yang memancar dari jubahnya.
Ia menyaksikan bagaimana makhluk keji itu tenggelam dalam laut miasma yang busuk. Perjanjian dengan iblis yang katanya agung itu habis percuma. Bahkan Iblis Merah dibuat tak berdaya dengan laut miasma.
Tak ada lagi teriakan mengerikan. Tak ada lagi monster panggilan atau pasukan mayat hidup yang menyerang. Galven beserta pasukannya mati ditelan laut miasma.
Dunia Magis menjadi senyap gelap gulita. Sayup-sayup angin pun tak terdengar oleh telinga. Lucy menghela napasnya lega sembari perlahan tubuh gadis itu limbung ke tanah.
"Kau sudah bekerja keras, anakku."
Lucy tersenyum mendengar suara yang menenangkan itu. Ia tak sanggup memberikan jawaban. Hampir seluruh mana terkuras dari tubuhnya.
Drap! Drap! Drap!
"Yang Mulia Kaisar!" pekik para punggawa ketika melihat Arzen berlari menuju bukit di mana Lucy jatuh pingsan.
Dengan tubuh yang masih luka ia terus berlari. Pikirannya hanya tertuju pada gadis itu. Saat ia sampai di sana, gadis itu telah menutup matanya.
"Tidak! Lucy bertahanlah!"
Semuanya gelap, hanya jubah Lucy yang masih bersinar. Seolah sumber cahaya di dunia ini adalah gadis itu dan bukan bintang maupun bulan. Arzen memeluk raga yang lunglai itu dengan sedih.
__ADS_1
"Tidak... bahkan kali ini aku gagal melindungimu," isaknya.
Ia terus menyesali ketidakberdayaannya menghadapi musuh. Ia menyesali perbuatannya telah melibatkan gadis itu pada Dunia Magis. Ia merengkuh kuat tubuh gadis yang lemas itu.
Puk!
"Jangan... menangis..." bisik Lucy dengan sisa kesadarannya.
Arzen membelalak mendengarnya. Ia sedikit menjauhkan tubuh Lucy dari dekapannya. "Kau masih hidup?! Bertahanlah! Pasukan akan segera datang dan memberimu pertolongan," ujarnya terburu-buru.
Ia sangat khawatir dan takut. Prajurit di sana tengah berlari-lari menuju ke arahnya. Tempat yang sangat jauh menjadi kendala.
"Cepatlah!" perintah Arzen.
Lucy tersenyum dengan mata yang tertutup. "Jangan terlalu keras," ucapnya terbata-bata.
"Jangan bicara dulu! Hah, apa yang kau lakukan dasar manusia!" Arzen kembali memeluknya.
"Kau ini sangat merepotkan! Aku membenci diriku karena tak bisa melindungimu. Kamu malah melakukannya dengan gegabah!" omelnya.
Lucy tersenyum dengan napas yang semakin pendek. Arzen terus menciumi pipinya membuatnya geli. Lelaki itu berulang kali meminta maaf padanya.
"Bukan salahmu..." batin Lucy.
"Hargh! Aku memang sebaiknya mati saja kalau tak bisa melindungimu, Lucy!" sesal lelaki itu.
Ia merengkuh Lucy, "Tolong bertahanlah! Jangan membuatku tambah susah hati, Lucy..." isaknya.
"Jangan tidur, Loofyn menunggumu di sana. Kau sangat jahat telah meninggalkan anak kecil," ucap Arzen.
Ia menangkup wajahnya di leher Lucy. "Kau juga kejam padaku, Lucy..." bisiknya.
Ia tak henti-hentinya menyesal. Merutuki diri sendiri yang membiarkan Lucy maju sendiri. Meski semuanya sudah berakhir dan musuh sudah binasa, Arzen tetap menyalahkan dirinya.
Perlahan Lucy menutup sempurna matanya. Tangannya yang semula memeluk punggung Arzen terjatuh menggantung. Badannya benar-benar lunglai lemas tanpa tenaga.
"Lucy...?"
__ADS_1