
"Micellia," panggil Venus.
Perempuan yang tengah melepas baju zirahnya itu menoleh. "Saya, Yang Mulia Pangeran," sahutnya.
Venus menghela napasnya, "Sudah kubilang, kalau hanya berdua panggil namaku saja," ucapnya lirih.
Micellia terlihat ragu dan melirik arah lain. Venus menghembus pelan. "Maaf, sebenarnya bukan ini yang ingin aku bicarakan," ujarnya.
"Bagaimana persiapan di luar benteng?" tanyanya.
Micellia menjelaskan dengan jelas. Tutur katanya tegas tanpa keraguan. Setiap situasi baik buruknya diceritakan tanpa kurang.
Venus menyukai sisi Micellia yang tegas seperti ini. Ia bisa langsung berubah sikap dari gadis biasa menjadi panglima terdepan. Gadis itu bisa memisahkan mana hal pribadi dan mana pekerjaannya.
"Bagus, besok kita periksa lagi. Kau jangan memaksakan diri dan beristirahatlah," ucap Venus.
Micellia mengangguk sopan, "Baik, Ya– Venus," ujarnya terbata.
"Selepas membersihkan diri, datang ke ruanganku. Aku akan menunggumu di sana jadi santai saja jangan terburu-buru," pinta Venus.
Ia mengusap sisa debu di pipi gadis itu sebelum pergi dari sana. Tindakannya membuat gemuruh dalam benak Micellia. Ia tak berani menoleh dan memilih untuk mematung.
"Ah, begini lagi..." gumamnya sembari meletakkan tangannya di dada.
Ia bisa merasakan detak jantungnya berpacu. Ia tak bisa melihat merah wajahnya tetapi ia tahu panas rasanya. Venus selalu bisa membuatnya merasa demikian.
Gadis itu menggeleng untuk mengusir pikirannya. Ia bergegas pergi ke kamar dan mandi. Pelayan yang disuruh oleh Venus itu mulai melakukan tugasnya.
"Yang Mulia Pangeran selalu meminta Anda untuk membantu saya?" tanya Micellia pada seorang paruh baya yang sedang membasuh punggungnya.
Pelayan itu mengangguk, "Benar, nona," jawabnya.
Micellia sedikit menunduk. Venus selalu melakukannya selama bertahun-tahun ini. Ia terkadang merasa bersalah karena tak bisa berterima kasih dengan benar.
"Apa saya akan diusir dari istana?" celetuknya.
Hati si pelayan mencelos mendengarnya. "Bagaimana nona bisa berpikiran seperti itu? Kalau Yang Mulia Pangeran Ketiga dengar, Yang Mulia bisa marah," selorohnya.
Micellia memeluk lututnya, "Saya pernah mendengarnya dari cerita-cerita. Katanya, ada seseorang yang diperlakukan sangat baik sebelum akhirnya dibuang atau diusir," cicitnya.
__ADS_1
"Saya percaya Yang Mulia Pangeran Ketiga tidak akan melakukan hal itu pada nona. Saya sendiri menyaksikannya selama 15 tahun ini," ucap si pelayan.
"Saya melihatnya sejak nona singgah ke istana ini. Pangeran tidak pandai menyembunyikan perasaanya," imbuhnya.
Micellia masih ragu. Ia hanyalah gadis biasa yang kebetulan mendapat pekerjaan sebagai prajurit di istana. Sedangkan Venus adalah pangeran besar yang sangat dihormati.
"B–begitu, ya..." gumamnya.
Ia sibuk berkecamuk dalam pikiran. Tanpa sadar dirinya sudah dibalut gaun santai yang hanya dipakai di malam hari. Bukan gaun acara resmi tetapi tetap indah dan nyaman.
"Sebaiknya nona segera bergegas menemui Pangeran," ujar si pelayan.
Micellia mengangguk, "Terima kasih sudah membantu saya," katanya kemudian ia pergi dari kamarnya.
Lorong istana yang sepi membuatnya semakin kalut dalam pikiran. Prajurit yang menyapa dan memberinya salam terkadang sekedar dilewati. Micellia berjalan dengan langkah pelan sampai hampir salah jalan.
Tak berapa lama, sampailah ia di depan pintu besar nan megah. Ukiran khas menandakan bahwa ruangan di dalam adalah milik Venus. Ia mengetuk pintunya dan menunggu respon.
"Micellia? Masuk saja," sahut Venus dari dalam.
Gadis itu mendorong pintu dan masuk. Tak lupa ia menutupnya kembali. Ia berbalik dan menemukan Venus yang tengah duduk di sofa empuknya.
Pria itu tengah dalam penampilan santainya. Rambutnya yang terurai itu tanpa hiasan atau mahkota apapun. Jubahnya tak ia pakai, hanya baju tipis untuk tidur.
Gadis itu berbinar menatap sajian di atas meja. Kue kismis, pie cherry, dan teh kamomil ada kesukaannya. Venus tersenyum puas, ia tahu semua tentang Micellia.
"Terima kasih. Pangeran selalu baik pada saya," ucapnya tulus.
Ia menyicip kue kismis dan menyesap teh kamomil. Membuat perasaannya menjadi tenang dan damai. Ia duduk di depan Venus, di sebuah kursi yang lebih pendek daripada sofa panjang pria itu.
"Hari ini lebih dingin daripada biasanya. Aku ingin kau jaga diri, Micellia," pesannya pada gadis itu.
Micellia mengangguk, "Selalu. Pangeran juga jaga diri. Seluruh kekuatan di kekaisaran adalah pangeran," ucapnya.
Venus tersenyum sekilas, "Benar juga. Aku tak boleh tumbang sebelum kakakku kembali."
"Apa Yang Mulia Kaisar masih belum ada kabar?" tanya gadis itu.
Venus menggeleng, "Hari ini belum. Aku tak tahu baginya lama atau tidak, tetapi bagiku ini sudah berminggu-minggu," jawab Venus.
__ADS_1
"Sepertinya, dua dunia memiliki selang waktu yang berbeda," ujar Micellia.
Ia menjelaskan bahwa ia pernah membaca buku tentang dua dunia. Ada yang menyebutnya selisih 3 hari ada juga yang seminggu. Ia sangat bingung ketika membacanya.
"Sepertinya kau ada benarnya juga. Waktu kakakku pulang, dia mengatakan kemarin tetapi bagiku sudah 3 hari." Venus nampak berpikir serius sampai ia mengubah posisi duduknya.
"Menurut tebakanku, satu hari di dunia manusia sama dengan 3 hari di sini. Kakak belum sempat menjelaskannya padaku," jelasnya.
Suasana kembali hening. Venus memutuskan untuk ganti suasana. Ia berjalan menuju jendela dan duduk di sana.
Sinar rembulan tak seterang purnama tetapi cukup untuknya. Micellia bisa melihat aura tampan dan kuatnya seorang Venus yang disinari rembulan malam ini.
Sraaa~
Venus mendongak menengadahkan telapak tangannya. "Micellia, kemarilah," perintahnya lembut.
Gadis itu segera berdiri dan menghampiri Venus. "Ada apa, Pangeran?" tanyanya lembut.
Venus menunjukkan keping salju yang masih utuh di tangan Venus. Ia ingin menunjukkan salju pertama turun pada Micellia. Begitu indah dan damai.
"Wah apa ini salju pertama?" Micellia begitu berbinar menatap kepingan salju yang menakjubkan.
Ia juga ikut menengadahkan tangan. Berharap satu dua keping mampir ke telapak tangannya. Ia sangat senang begitu menantikan hari pertama salju turun.
"Cantiknya..." pujinya pada salju-salju yang mulai deras.
Venus tersenyum, "Ada yang lebih cantik dari ini," celetuknya.
Micellia menoleh, "Apa itu, pangeran?" tanyanya penasaran.
Venus terkekeh lalu menatap Micellia sendu. "Seseorang yang berada di depanku saat ini kalau senyum sangat cantik," ujarnya membuat Micellia tersenyum.
Ia tak menyembunyikan wajahnya yang malu-malu. Malah membiarkan Venus menatapnya sendu. Lelaki itu meletakkan satu keping salju di rambut Micellia sebelum menghilang.
"Jadi ingat salju pertamaku dulu dengamu," celetuknya.
"Meski sudah ke 15 kalinya, tetap indah karena melihatnya bersamamu, Micellia," ucapnya lembut.
Micellia tersenyum tipis. Ia senang mendengarnya tetapi ia urungkan niat itu. Micellia adalah gadis beruntung yang bisa melelahkan hati es beku Venus.
__ADS_1
Malah, sekarang lelaki itu yang akan memanjakan dirinya. Venus menyingkap anak rambut Micellia ke belakang telinga. Menyingkapnya dan membuat sebagian wajah manis gadis itu terlihat.
"Cantik."