
"Sebenarnya saya juga ingin meminta sesuatu terkait posisi saya, pak," ujar Lucy serius.
"Saya mau pindah divisi dan bekerja dari rumah."
Pernyataannya membuat Sean sedikit kecewa. Kalau benar begitu, posisi sekretaris akan kosong dalam waktu yang lama. Tak sembarang orang bisa mendudukinya.
"Apa nona Lucy yakin? Saya sangat menyayangkan apabila orang kepercayaan saya tidak ada di sekitar saya," ucap Sean sedih.
Arzen yang mendengarnya pun tak percaya. Padahal gadis itu selalu bercerita bahwa menjadi sekretaris adalah pekerjaan impiannya. Namun hari ini ia malah menginginkan untuk pindah posisi.
"Apa gaji yang saya berikan kurang? Saya akan mempertimbangkan—"
Lucy menggeleng, "Tidak, bukan begitu, pak."
Sean terus membujuk Lucy untuk memikirkannya kembali. "Maaf nona, saya merasa berat untuk mempertimbangkan hal ini," ucapnya.
Sejujurnya Lucy pun demikian. Ia merasa berat untuk melepaskan pekerjaan yang sudah menjadi impiannya. "Kalau begitu, apakah saya boleh bekerja dari rumah meski jadi sekretaris?" tanya Lucy memberikan penawaran.
"Saya akan datang ke kantor saat benar-benar darurat," ucapnya.
"Ada yang harus saya lakukan di rumah."
"Sebenarnya aku ingin merawat Loofyn. Aku merasa bersalah selama ini menitipkannya ke tetangga," batinnya.
Sean berpikir sejenak, "Saya rasa saya bisa mempertimbangkannya. Akan saya pikirkan masalah ini," balasnya.
"Terima kasih, pak," sahut Lucy.
"Ah, benar. Mengenai cuti bagaimana kalau dibahas sekalian?" tanya Sean.
Obrolan santai dalam pesta berlanjut sedikit serius. Keduanya membahas hari cuti yang akan Lucy terima setelah proyek besar ini. Sean menawarinya untuk cuti dua minggu lamanya.
Ini adalah tradisi kantor sejak dulu. Di mana orang yang telah berjasa besar pada perusahaan akan diberikan cuti khusus dan tunjangan yang lumayan. Hal itu tentu membuat Lucy merasa senang dan antusias.
"Apa saya boleh cuti sebanyak ini, pak?" Sean mengangguk yakin.
"Kalau begitu kita diskusikan lagi besok dengan bagian personalia," ucap Sean.
Lucy mengangguk sopan, "Baik, pak. Terima kasih," balasnya.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Arzen saat Sean sudah pergi.
"Sepertinya aku tidak diperbolehkan untuk pindah divisi. Jadi, aku diberikan libur panjang," katanya.
Ia juga bilang bahwa ia akan bekerja dari rumah setelah libur selesai. Jadi ia akan lebih banyak waktu di rumah daripada di luar. Ia bilang ia akan merawat dan memperhatikan Loofyn lebih dari sebelumnya.
"Sebenarnya kau sudah memperhatikan kami, Lucy. Jangan korbankan pekerjaanmu hanya demi kami berdua," ucap Arzen sedikit sedih.
__ADS_1
Lucy menggeleng, "Ini keputusanku. Aku tidak keberatan sama sekali, Arzen," balasnya.
"Jangan sedih. Seharusnya kau ikut senang karena aku libur panjang!" Ia menepuk lengan pria itu.
...>>><<<...
Di sinilah dua orang itu saling berhadapan. Arzen meminta Lucy untuk menunggunya di luar. Ia dan Sean memutuskan untuk bicara.
"Jadi, apa yang akan Anda bicarakan dengan saya?" tanya Sean setelah ia menutup pintu.
Ia juga mempersilakan Arzen untuk duduk. Lelaki itu menghela napasnya, "Tak perlu formal, aku tahu siapa dirimu," ucap Arzen.
Sean mengernyit, "Bukankah ini pertama kali kita bertemu?" Ia menuruti Arzen untuk berbicara lebih santai.
"Liana de Selenon, istrimu, kan?"
Deg!
Kedua netra Sean membelalak lebar. Padahal ia sudah melupakan kejadian pahit itu. Namun sekarang bagaimana Arzen bisa tahu nama itu.
"Kau—"
Arzen tersenyum tipis, "Aku tahu karena dia salah satu rakyatku," ujarnya.
"Rakyat...? Kau mengenal Liana?!" sergah Sean.
"Tetapi suatu hari ia menghilang di usia 20 tahun menurut usia manusia."
Ia melirik Sean, "Kira-kira ke mana ia menghilang?"
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanya Sean terbata.
"Tentu saja aku tahu karena dia salah satu rakyatku. Apa kurang jelas siapa diriku?"
Sean menganga tak percaya. Selama ini ia menyembunyikan fakta dirinya mengetahui dunia magis. Itu bukan karena ia rakyat sana yang kabur ke dunia manusia.
Melainkan karena istrinya adalah penyihir dari dunia magis. Liana de Selenon, ia bertemu dengannya dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka menikah untuk waktu 3 tahun sebelum akhirnya dipisahkan oleh maut.
"Tidak... dia sudah meninggal," gumam Sean.
"Aku tak yakin penyihir akan meninggal semudah itu. Sesuatu terjadi padanya, bukan?" tanya Arzen yang membuat Sean semakin paham siapa yang ada di depannya.
"Kau, kaisar yang sering diceritakan oleh Liana. Arzen de Woove, apa aku salah?"
Arzen tersenyum, "Bagus, kau sudah mengenalku. Sebenarnya, aku bicara padamu bukan karena aku tahu siapa dirimu," ujarnya.
"Aku hanya ingin berterima kasih sudah menjaga Lucy selama ini. Yah, meski terkadang aku tak suka kehadiranmu," katanya.
__ADS_1
"Aku akan membawa Lucy ke dunia magis. Kau tahu duniaku dengan dunia manusia ada jarak waktu yang tidak sebentar. Jadi, kuharap kau tak mengekangnya dengan alasan pekerjaan," paparnya.
Sean mendongak, "Kau mau membawanya? Maksudku, apa manusia bisa ke sana?"
Arzen mengangguk, "Tentu saja. Apa kau berharap aku mempertemukan kau dengan Liana?"
Tepat sekali, Sean mengangguk.
"Sayangnya tidak bisa. Liana sudah meninggal, kan?" lirih Sean.
"Sudah kubilang penyihir tak akan mati semudah itu. Yah, aku tidak yakin kalau Liana mau bertemu denganmu lagi," ujarnya.
Sean mengerti dan hanya tersenyum. "Baiklah, aku tak akan memaksa. Memang lebih baik seperti ini. Dua makhluk berbeda tak mungkin bersatu, kan?" ucapnya pasrah.
"Bukan itu maksudku. Orang di dunia manusia menganggapnya sudah meninggal. Padahal sebenarnya Liana kembali ke dunia magis," ujar Arzen.
"Tak mungkin kalau Liana kembali ke sini tanpa membuat kehebohan. Mereka akan mengira itu adalah roh gentayangannya Liana, bukan?" Sean mengangguk.
"Liana juga semakin sulit untuk ditemui secara langsung. Saat ini aku yakin dia sedang belajar untuk menjadi penerus menara sihir agung yang selanjutnya," jelasnya.
Pria itu menjelaskan bagaimana ia tahu tentang Liana dan Sean. Bagaimana kehidupan Liana sekarang dan apa alasannya memalsukan kematian di dunia manusia. Menjadi penerus menara sihir agung adalah impiannya.
"Kalau begitu, aku sudah mengekangnya, ya?" Arzen menggeleng, "Tidak juga. Katanya, kau malah jadi penyemangatnya sampai sekarang," ucapnya.
"Aku sekarang tahu alasanmu menatap Lucy seperti itu," ucapnya dengan wajah sedikit kesal karena cemburu.
Sean mengangguk, "Mereka mirip. Sama-sama pekerja keras yang aku ingin semangat mereka menular padaku," katanya.
Selama ini ia menjadikan pekerjaan sebagai pelarian. Tak ada yang tahu kalau hatinya sedih mengingat istrinya. Maka dari itu, ia tak tertarik pada wanita manapun yang mendekatinya.
"Karena aku kaisar yang baik hati, aku akan memberimu harapan untuk bisa bertemu dengan Liana." Arzen beranjak dari sana.
"Tentu saja bukan mengantarmu ke dunia magis. Aku tahu pekerjaanmu sangat penting di sini," katanya.
Ia bernegosiasi dengan cara apa ia akan mempertemukan mereka berdua. "Mungkin akan lama. Tetapi kuharap kau masih bisa mengenalinya saat itu terjadi," ucap Arzen.
Sean mengangguk, "Aku akan menunggunya."
"Ah, kau rahasiakan saja obrolan kita dari Lucy. Aku yakin dia akan terkejut mendengarnya," ujar Arzen.
"Ingat, aku akan membawanya suatu saat nanti. Anggap saja dia sedang bekerja dari rumah atau libur," pesan Arzen sebelum ia pergi dari sana.
Sean mengangguk, "Tentu saja. Aku akan menganggap ini sebagai rasa terima kasihku padamu," ucapnya.
Arzen kemudian pergi dari sana dengan perasaan yang lega. Mereka berdua telah menyepakati sebuah pernyataan. Kini, ia bisa lega membawa Lucy tanpa memikirkan keperluan di dunia manusia.
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa lama sekali?" tanya Lucy ketika ia melihat Arzen keluar dari ruangan Sean.
__ADS_1
Arzen tersenyum jahil, "Rahasia."