
Hari ini Lucy tidak pergi ke kantor. Sejak pagi, ia sibuk menata ruang tengah dan meja makan. Ia melakukannya sampai matahari sudah muncul.
Meja makannya ia hias dengan taplak berwarna biru muda. Ia sibuk ke sana kemari menyiapkan sesuatu. Satu persatu makanan manis tertata di pirinh saji.
Ting!
Ia segera membuka oven mengeluarkan kue tart kecil. Menunggunya dingin sembari menyiapkan krim. Ia menghiasnya dengan gambar serigala kecil.
Arzen yang masih tidur itu terusik dengan suara dari dapur. Ia memutuskan untuk bangun dan melihat apa yang sedang Lucy lakukan. Ia bingung mendapati keadaan rumah dihias warna-warni di pagi hari.
Warna biru muda mendominasi ruangan. Ia mendapati Lucy tengah menata kue di tengah meja. Ia mendekat karena mencium bau enak.
"Apa ini? Baunya enak," tanya Arzen dengan suara khas orang bangun tidur.
Lucy tidak lagi terkejut mendapati Arzen bangun dengan telinga dan ekornya. Selama mereka di rumah, mereka bebas menggunakan wujud serigala. Dan harus disembunyikan lagi ketika ada orang lain.
"Kau cuci muka dulu sana. Nanti ke sini bantu aku," ucap Lucy.
Arzen yang masih mengumpulkan nyawa itu mengangguk. Ia menurut dan berjalan menuju kamar mandi. Membasuh mukanya dan mendapati dirinya kembali segar.
Lucy memang menyuruhnya untuk membantu. Namun, ketika ia kembali semua sudah tertata rapi. Gadis itu keluar dari kamar dengan menggendong Loofyn.
"Kau mau berbuat apa pada Loofyn? Dia masih tidur," ucap Arzen.
"Kau duduk saja dan jangan sentuh apapun sebelum aku dan Loofyn kembali," perintah gadis itu sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Arzen lagi-lagi menurut saja. Akhir-akhir ini ia menjadi penurut terhadap Lucy. Alasannya, agar Loofyn mendapat tempat tinggal selagi di dunia manusia.
"Kenapa ada tulisan nama Loofyn di sana?" gumamnya ketika melihat kue yang berada di tengah meja.
Ruang penciumannya sudah dipenuhi dengan bau-bau manis. Ia bisa mengetahui stroberi dan anggur hanya sekali hirup. Penciuman tajam menjadi salah satu senjata kuat para werewolf.
Baru saja ia duduk, Lucy kembali dengan Loofyn yang sudah rapi. Tidak seperti orang yang baru bangun tidur. Mereka berpakaian rapi meski baju sehari-hari.
"Apa ini?" tanya Arzen tak mengerti.
Lucy mendudukan Loofyn di kursi bayinya. "Aku ingat kau pernah cerita tentang tanggal lahir Loofyn," ujarnya.
__ADS_1
"Mungkin tidak sama dengan di duniamu, tetapi aku ingin merayakannya dengan caraku di dunia manusia," sambungnya.
Arzen pernah bercerita kapan Loofyn lahir dan apa saja kejadian saat itu. Bagaimana mereka merayakan kelahiran Loofyn dengan megah di istana. Lucy juga ingin merayakannya meski tidak semegah di dunia asal mereka.
"Di dunia manusia namanya ulang tahun. Biasanya dirayakan dengan kue seperti ini setiap tahunnya di tanggal yang sama," ujarnya menjelaskan.
Ia menatap Loofyn dan mencoreng hidungnya dengan krim putih. "Loofyn, selamat ulang tahun," ucapnya lembut.
Kemudian ia berdoa dalam hati dan menuntun Loofyn meniup lilin. Keduanya bertepuk tangan senang dan bernyanyi riang gembira. Arzen mendapato tradisi di sini sedikit unik.
Tidak jauh berbeda dengan dunia magis. Namun, hanya bangsawan yang mampu merayakan hari kelahiran. Mereka mengadakan perburuan dan persembahan serta ritual lainnya.
Di dunia manusia cukup sederhana. Ia tak tahu hal itu bisa dirayakan dengan kue ukuran sedang. Bertuliskan nama Loofyn dan umurnya yang ke-2 tahun lalu bernyanyi bersama.
Ia mendapati Loofyn tersenyum senang. Terlebih lagi Lucy, ia belum pernah melihat gadis itu tersenyum lepas seperti saat ini. Matanya terus tertuju pada dua orang di depannya.
"Cantik."
Lucy menoleh, "Apa kau mengatakan sesuatu? Kenapa diam saja? Kau tidak ingin merayakan ulang tahun anakmu?!"
Arzen gelagapan setelah menyadari apa yang baru saja ia ucapkan. Beruntung Lucy tidak mendengarnya begitu jelas. Ia tak perlu mengelak dan bersikap seperti biasa.
"Astaga, memangnya harus seberapa megah? Ini saja sudah cukup menyenangkan bagi manusia. Loofyn juga senang, kan?" Ia mencium pipi Loofyn dengan gemas.
"Mamama! Ue! Uwawawa!" Loofyn menunjuk kue tart dengan antusias.
Arzen tersenyum, "Begitu, ya? Selamat ulang tahun bagimu cahaya penerus Wolfeuxeas, Loofyn de Woove." Ia mengambil alih Loofyn dari Lucy dan menggendongnya tinggi-tinggi.
Manik mata Loofyn berubah sekilas. Lucy terkejut, itu sama seperti dulu saat pertama kali Loofyn datang. Arzen masih belum menjelaskannya tentang itu.
"Kau penasaran kenapa matanya berubah sekilas?" tebak Arzen tepat sasaran.
"Itu artinya takjub atau senang. Hampir semua bayi werewolf di sana mengalami hal yang sama. Ini tidak berbahaya dan akan hilang saat sudah berumur 5 tahun," paparnya.
Lucy mengangguk saja. Ia masih mengagumi warna biru muda yang berganti keemasan sekilas tadi. Ia berpikir sejenak sembari menatap kedua orang itu.
"Matanya beda..." batinnya.
__ADS_1
Ia baru sadar kalau warna mata mereka berbeda. Arzen kelabu sedangkan Loofyn biru pucat. "Apa mereka tidak menurunkan sifat melalui gen?" pikir ya.
Arzen sudah memanas wajahnya ketika Lucy terus menatap. "Ada apa?" tanyanya membuyarkan lamunan gadis itu.
Lucy menggeleng, "Tidak ada... hanya saja warna mata kalian sangat indah," pujinya.
Loofyn memang tidak mengerti, tetapi Arzen langsung menunduk. Pupilnya membesar dan berbinar. Ia merutuk dalam hati bagaimana bisa Lucy mengucapnya enteng seperti itu.
"Ada apa? Aku jujur tentang ini, aku tidak berbohong demi apapun!" Lucy mengangkat tangannya setinggi dada.
Arzen meraup wajahnya dan terkekeh. "Kau ini, memang polos atau pura-pura tidak tahu?" gumamnya.
Ia menyibak rambutnya dan memancarkan aura ketampanan khas. Kini, giliran Lucy yang muncul rona merah di tulang pipinya. Ia sepertinya baru menyadari kalau Arzen memang setampan ini.
Ia menggeleng, "A–ahahaha... apa, ya? Ah, ayo kita berfoto dulu sebagai kenang-kenangan!" Lucy mengambil kamera dan memotret mereka.
Cekrek!
Tiba-tiba Arzen menggunakan lengannya untuk melindungi Loofyn. "Apa yang kau lakukan?!" sergahnya.
Lucy menutup mulut, "Maaf, sepertinya aku lupa memberitahu. Ini adalah kamera bukan benda berbahaya. Yang barusan itu namanya cahaya flash, bukan petir atau kilat," paparnya.
Arzen memberi tatapan menyelidik tetapi Lucy berkata jujur. Ia menghela napasnya lega. Masih banyak yang tak ia ketahui di dunia yang asing ini.
"Lain kali kau jelaskan dulu. Untung aku tidak langsung menebasmu," ujar pria itu.
Lucy bergidik ngeri mendengar kata 'tebas' yang barusan diucapkan. Ia tak ambil pusing dan kembali memotret. Ia berdiri di depan Arzen yang membawa Loofyn dan menekan tombol untuk melakukan selfie.
"Apa yang kau lakukan? Kenapa... fo...to? Fotonya seperti itu?" Lucy lagi-lagi menjelaskan hal baru kepada Arzen.
Ia mengambil kaki tiga untuk memasang kamera. "Semuanya lihat ke tengah itu, ya! Aku akan menekan tombol ini dan kita berfoto bersama!"
Cekrek!
14 Desember 20xx
Dari kanan ke kiri: Lucy, Arzen, Loofyn
__ADS_1
Ulang tahun Loofyn de Woove ke-2 tahun