Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Bertemu Pohon Kehidupan, Aden


__ADS_3

Ia tiba-tiba berada di sebuah tempat serba putih. sama seperti saat ia bertemu dengan ibunya. Di dalam sana ia mengenakan jubah pemberian sang ibu.


"Lumine, apa itu kau?"


Seseorang berbicara dari arah belakang. Lucy menoleh dan mendapati sesosok pria tinggi menatapnya tajam. Bajunya serba hitam bahkan rambut dan matanya hitam pekat.


"Hm? Kau penyusup?" tuduhnya.


Lucy langsung menggeleng dan melambaikan tangannya. "Bukan! Aku juga tidak tahu kenapa bisa sampai di sini!" akunya.


Pria itu mendekat dan menyelidikinya. "Meragukan. Kau mirip sekali dengan Lumine," ujarnya.


"Itu nama ibuku," celetuk Lucy.


Pria itu terkejut, "Ha? Kau putri kandung Lumine?"


Lucy mengangguk yakin. Tiba-tiba ranting pohon mencuat dari kepala pria itu. Entah apa artinya tetapi itu membuat Lucy terkejut.


"Kau putriku juga kalau begitu," ujar pria itu.


Lucy langsung berjingkat selangkah ke depan. Membuat pria itu bingung, "Bercanda. Astaga, kau memang mirip Lumine tetapi selera humormu rendah," ujarnya.


"Jadi, kau siapa?" tanyanya pada Lucy.


Gadis itu membungkuk sopan, "Aku Lucy Armeonne."


Pria itu mengangguk. Ia berdiri di depan Lucy dan agak menjauh saat ranting itu semakin memanjang. Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk dijabat Lucy.


"Aku pohon kehidupan. Lumine memanggilku Aden," ungkapnya.


Lucy menyambut tangan itu. Mereka sudah berkenalan dan tiba-tiba saja ia berada di bawah pohon yang rindang. Pria bernama Aden itu mengitari pohon seperti sedang mencari sesuatu.


"Kupikir Lumine hidup kembali, ternyata kau anaknya," ucap Aden membuka topik pembicaraan.


Lucy hanya menatap pria itu polos. "Aku ke sini bukan ingin beramah tamah," katanya.


Aden mengangkat alisnya, "Ya, aku tahu. Aku juga bukan tipe orang yang suka beramah tamah. Sebutkan apa keinginanmu? Apa kau mau mencari tahu siapa jodohmu?" sahutnya bercanda.


Lucy menggerutu, "Aku tak ada waktu untuk bercanda, pohon!"


Aden menggeleng-geleng, "Astaga, aku memang pohon tetapi aku kan sudah menyebutkan namaku," katanya.


Lucy segera menceritakan apa yang ia butuhkan. Aden mendengarnya dengan seksama dari atas pohon. Ia duduk di di salah satu dahan yang kokoh sembari memperhatikan Lucy.


"Jadi, ibumu menemui dalam mimpi dan menyerahkan jubah serta gelangnya padamu?" tanya Aden memastikan.


Lucy mengangguk, "Benar! Ah, aku ingat aku bisa sampai ke sini karena gelang ranting." Ia menunjukkan gelang yang melingkari tangannya.

__ADS_1


Aden langsung turun dan memeriksa keaslian gelang itu. "Hm? Ini punya Lumine," gumamnya.


"Wah, kau asli ternyata. Kupikir jadi-jadian," kelakarnya membuat Lucy jengkel.


"Sudah kubilang aku tak ada waktu untuk bercanda, Aden!" gerutunya.


Aden tertawa terbahak-bahak. "Baiklah, baiklah. Astaga, maafkan aku. Sudah lama sekali tak ada yang mengunjungiku. Lumine menjadi pengunjung terakhir sejak 5000 tahun yang lalu," ujarnya.


Lucy masih saja terkejut dengan lama waktunya yang sampai beribu tahun itu. Kalau diibaratkan manusia pasti entah sudah keturunan keberapa. Lucy tak habis pikir menanggapinya.


"Begitu, ya? Jadi kekacauan yang menggugurkan daun-daun ini adalah iblis merah?"


Lucy mengangguk, "Benar! Aku harus cepat membasmi makhluk itu!" tekadnya.


"Uuu, menyeramkan sekali~ kau memang mirip dengan Lumine. Baiklah, tunjukkan sihir yang kau bisa," ujar Aden.


Lucy langsung memerah wajahnya karena malu. Tak ada satupun yang ia bisa. Ia bahkan muntah saat melakukan meditasi ringan.


"Hah, tubuhmu apakah selemah itu sampai mual dan mengeluarkan makanan yang sudah masuk?" keluh Aden memijit pelipisnya.


Lucy menatap sedih, "Jadi, aku harus bagaimana?"


Aden mengelus dagunya. Itu adalah ciri khasnya ketika berpikir. "Benar juga. Aku akan mencoba dengan cara yang kugunakan pada Lumine dulu," katanya.


"Apa kau tak bisa memberiku sihir atau apalah itu?" tanya Lucy.


"Hm? Kuberikan pun kalau kau tak ada mana yang mengalir tidak akan berguna," jelas Aden.


"Dan yang lebih gawat, kau bisa kehilangan nyawa dalam sekejap meski menggunakan sihir yang sangat rendah sekalipun," beber Aden membuat Lucy bergedik ngeri.


Ia menatap datar Aden yang ada di depannya. Ia tak menyangka perwujudan manusia pohon kehidupan sangat senang bercanda. Padahal usianya sudah entah berapa ribu atau bahkan juta.


Namun, penampilan dan wajahnya terlihat seumuran dengan Arzen. Lucy berpikir kalau Aden tak pernah menua. Ia pikir namanya pohon kehidupan akan bijaksana seperti yang ia lihat di film-film.


"Ternyata setelah bertemu seperti anak kecil, ya?" celetuknya tanpa sadar.


Aden menoleh dan menyipitka matanya. "Aku memang tak pernah menua tetapi jangan pikir pola pikirku sama dengan bocah-bocah itu," ujarnya memeringati.


Lucy tertawa mendengarnya, "Baiklah. Aku butuh secepatnya agar siap ketika dipanggil maju," ujar Lucy.


Aden menggelengkan kepalanya, "Tidak ada yang serba bisa di sini. Semuanya butuh waktu. Hm, apa ya kalau manusia modern sepertimu menyebutnya dengan kata 'instan' aku bahkan tak tahu itu apa," bebernya.


Aden mengeluarkan tongkat dari tangannya. Tongkat yang ujungnya sepert akar pohon keluar dengan aksen daun-duannan.


"Aku akan menjelaskan sekilas tengangmu."


Lucy mengangguk dan mendengar lelaki itu bercerita. Awal mula pertemuannya dengan Lumine, ibu Lucy. Sampai akhir masalah iblis itu yang sampai menggoncang pohon kehidupan.

__ADS_1


"Merek berguguran sebelum waktunya," gumam Aden.


"Untuk berapa lama aku akan berada di sini?" tanya Lucy.


Aden menoleh, "Hm? Manusia tak boleh berlama-lama di sini. Sangat berbahaya," ujarnya.


Lucy ingin sekali mengetok jidat Aden. Pria itu selalu bercanda padahal ia dirundung masalah serius. Ia akhirnya mengomel dan membuat Aden tertawa.


"Kenapa? Bukankah dunia tempat bercanda?"


Lucy tak bisa menyangkalnya. "Kumohon, Aden," rintihnya.


Aden menghela napasnya, "Baiklah. Aku akan memberimu pengajaran. Kau harus melatih dirimu sendiri sama seperti Lumine," ujarnya.


Kali ini suasana menjadi lebih serius. Aden tak lagi melontarkan lelucon. Ia memberi pengejaran serius meski nada bicaranya santai.


"Bakat ibumu mengalir dalam darahmu. Suatu saat nanti pasti akan bangkit dan menjadi senjatamu," ujar Aden.


Lucy mendengarkan penuturan pria pohon itu. Ia berlatih mengendalikan emosi dan gerakan fisik. Sekarang ia bisa melakukan meditasi meski hanya bertahan satu jam.


Lucy terus berlatih sampai mahir. Dari hari kehari ia berhasil meditasi satu hari penuh. Aden merasa Lucy sudah dalam keadaan matang ketika bertemu lagi di pohon kehidupan.


"Wah, kau terlihat lebih kuat dari sebelumnya," pujinya pada Lucy.


Gadis itu mengangguk, "Bagaimana? Apa aku bisa memiliki kekuatan seperti ibuku?" tanyanya antusias.


Aden kali ini menggeleng. "Tidak. Kau punya potensimu sendiri. Aku tak akan memberitahunya karena tidak akan seru nanti," ujarnya.


"Kau bercanda lagi, Aden?"


Pria itu menoleh, "Ada apa? Kalau kita tahu akhir dari jalan cerita kita tentu rasanya membosankan," ujarnya.


"Kalau kau terburu-buru mencapai akhir kau akan kehilangan sesuatu yang kau lewati," tuturnya.


Lucy mengepalkan kedua telapak tangannya. Ia mendongak melihat Aden yang tengah mencari sesuatu. "Jadi, apa aku sudah bisa?!"


Aden tersenyum, "Aku tahu kau sudah menemukan jawabannya," balasnya membuat mata gadis itu berbinar.


Lucy mengira Aden hanya suka bercanda. Saat inipun ia terasa bercanda. Tetapi sisi lain Aden bisa memberinya banyan pengetahuan baru.


Lucy tersenyum memandang Aden. Ia menggenggam jubah milik ibunya. "Aku sangat yakin sekarang!" tegasnya.


Aden mengangguk, "Kalau begitu kembali dan majulah, Lucy."


Zwooshh~


Lucy kembali ke kamarnya di menara sihir. Setelah lima hari ia bolak-balik ke pohon kehidupan dan mendapatkan pengajaran. Ia juga sempat memasuki dunia roh untuk mengerti sesuatu.

__ADS_1


Kali ini benar-benar siap. Jubah milik ibunya juga sudah menerimanya. Aden bahkan memberinya tongkat yang terbuat dari ranting pohon kehidupan.


Matanya menatap lurus membara semangat. "Aku akan datang padamu, Arzen!"


__ADS_2