Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Heartwarming Room


__ADS_3

Drap! Drap! Drap!


Brak!


"Apa kau ada di sini, Lucy?!"


Serena tiba-tiba datang membuka pintu kamar Lucy. Ia hampir membangunkan Loofyn yang tengah tidur. Beruntung penyumbat telinga yang dibuat oleh Lucy berguna.


Beberapa waktu yang lalu, Serena berhasil dibujuk untuk menyelamatkan diri ke Menara Sihir. Ia menginap di lantai bawah saat pertama kali datang. Saat itu mentalnya belum stabil dan ia memilih untuk beristirahat.


Lalu sehari setelahnya ia mulai bosan karena tidak ada apapun di menara sihir. Dia juga tidak bisa sembarangan bermain alat-alat sihir di sana. Kesalahan kecil pun bisa membuat akibat yang fatal.


Karena itulah ia hanya bisa diam saja dan duduk di kasurnya. Ia baru ingat kalau Lucy dan Loofyn juga tengah berada di menara ini. Serena langsung bergegas mengganti pakaiannya dan mencari dua orang itu.


Rupanya mereka berada di menara sihir yang satunya. Menara yang lebih tinggi dari menara utama dan isinya hanya tangga yang melingkar sampai ke atas dan juga berisi sedikit kamar khusus. Ia sudah mengeluh hanya dengan melihat lingkaran tangga yang hampir tak terlihat ujungnya itu.


"Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa sampai ke atas sana. Apakah manusia memang hobi naik turun tangga?!" gerutunya.


Kata Algre menara ini memang sengaja dibuat demikian. Hanya orang-orang tertentu yang bisa memasukinya. Dan orang tersebut sudah pasti memiliki izin dari kekaisaran.


Algre sedang sibuk dan tidak bisa dimintai tolong untuk membuka akses langsung ke puncak menara. Mau tak mau ya harus menghabiskan anak tangga itu secara manual. Ia tak sehebat Arzen yang bisa secepat kilat sampai atau membuka portal.


Padahal belum habis setengahnya tetapi napasnya sudah tersengal-senga. Meski demikian, Serena tidak pantang menyerah. Ia tetap maju melangkah demi menemui keponakannya.


Ia menjinjing gaunnya agar tak menyusahkan langkah kakinya menaiki tangga. Setidaknya butuh waktu hampir satu jam lamanya untuk Serena sampai di atas. Begitu ia sampai ia langsung berlari menuju pintu di ujung lorong.


"Ketemu! Hah, kenapa hanya ada lima ruangan di sini," ucapnya dengan terengah-engah.


Brak!


"Apa kau ada di sini, Lucy?!"


Ia membuka pintu itu dengan tidak sabar. Serena hampir saja merusak pintu kayu itu karena membukanya dengan kasar. Gadis yang ada di dalam ruangan itu sontak kaget melihat ke arahnya.


Lucy segera menyambut Serena untuk masuk ke dalam dan duduk di sofa. Ia menyuguhkan air minum karena tahu gadis itu pasti lelah setelah menaiki anak tangga untuk sampai kemari. Berbeda dengannya yang sampai ke kamar ini melalui gerbang khusus.


"Nona kenapa tidak melewati gerbang khusus saja daripada harus menaiki anak tangga itu?" tanya Lucy khawatir.

__ADS_1


Serena menghela napasnya lelah, "Hah, Algre tidak bisa diganggu. Orang tua itu tengah meneliti sesuatu bersama murid-muridnya," ucapnya.


Lucy segera menghidangkan makanan untuk Serena. "Maaf, ini tidak semewah saat berada di istana," ucapnya.


"Sudahlah, daripada tidak makan sama sekali." Serena langsung melahap roti itu sampai habis.


Keduanya hanya diam saja Meski Serena sudah menghabiskan makanannya. Lucy duduk merenung di dekat jendela. Ia memangku tangan dan menatap sendu ke arah luar.


Langit yang dilihatnya memang cerah. Lembah bunga yang dilihatnya memang indah. Tetapi semua itu dirusak dengan suasana huru-hara di luar istana.


Lucy menyadarkan kepalanya di jendela menara. Pikirannya melayang memikirkan nasib Arzen yang tengah berperang melawan musuh. Sedangkan di sini ia tak dapat berbuat banyak.


Ia bukan bangsa werewolf seperti mereka. Ia juga bukan keturunan Elf yang bisa menggunakan mantra sihir. Ia hanyalah manusia biasa dari dunia manusia yang tak mengenal sihir.


Lucy melamun memikirkan itu semua sendirian sejak kemarin. Ia tak dapat tidur karena berisiknya meriam terdengar sampai ke kamarnya. Ia jadi merasa gelisah karena membayangkan betapa banyak korban yang berjatuhan.


Saat inipun Serena juga hanya diam saja di kursinya. Ia meringkuk memeluk lututnya sesekali bergerak untuk melemaskan otot-ototnya yang kaku. Perempuan itu melirik seorang bocah yang tertidur di atas kasur.


"Apa dia sudah lama tidur?" tanya Serena.


Lucy mengangguk, "Mungkin setengah jam yang lalu. Aku sengaja menidurkannya agar dia tidak merengek ketakutan," katanya.


"Tak apa berbicaralah. Berbisik pun aku masih bsia dengar. Telinga Loofyn sudah kulindungi dengan kain itu. Aku tahu cara membuatnya saat berada di dunia manusia," ujar Lucy.


Serena menatap gadis itu, "Jadi, kau benar-benar manusia dari dunia lain?"


Lucy mengangguk, "Benar. Aku sama sekali tak punya sihir. Aku tak bisa bertarung seperti bangsamu," ucapnya.


"Tetapi di duniaku tak ada peperangan seperti ini. Sejujurnya, dunia manusia menganggap kalian hanua sekedar dongeng fantasi," ujarnya.


Serena terhenyak mendengarnya. Kalau ia yang dulu pasti akan memaki Lucy. Namun keadaannya berubah sekarang.


"Maafkan aku, aku tak bermaksud berkata demikian." Serena mengangguk mengerti.


"Baguslah kami dikira dongeng. Itu berarti tak akan ada manusia yang menginvasi kami," ucap Serena.


Ia menatap Lucy, "Lalu bagaimana denganmu? Apa kau menganggap kami fantasi meski sudah berada di sini?" tanya Serena.

__ADS_1


Lucy menghela napasnya, "Bohong kalau aku tak berpikir seperti itu sebelumnya. Aku bahkan masih tidak menyangka bisa menyeberangi portal dan sampai di sini," ungkapnya.


Kedua gadis itu saling melempar pertanyaan dan jawaban. Banyak waktu yang dihabiskan untuk bercerita daripada merasakan kesedihan dan ketakutan. Serena juga merasa lebih baik daripada sebelumnya.


"Bagaimana kalian bertemu? Maksudku kenapa Loofyn bisa ada padamu?" tanya Serena penasaran.


Lucy sendiri tidak tahu awal mulanya. Ia hanya merawatnya saat anak itu datang bersama keranjang di depan rumahnya. Serena merasa teriris hatinya mendengar hal itu.


"Aku minta maaf padamu. Aku tak tahu apa yang sudah kau lalui selama ini dan malah memarahimu tanpa tahu apa-apa," ucap Serena lirih.


Lucy mengangguk dan tersenyum lembut. "Tak apa. Kalau aku di posisimu mungkin juga akan melakukan hal yang sama," katanya.


"Itu berarti kau menyayangi Loofyn sepenug hati," ucapnya membuat Serena tersipu.


"Ah, aku juga minta maaf. Loofyn terus memanggilku mama padahal aku bukan siapa-siapanya. Aku tak bisa melarang anak kecil yang membutuhkan sosok ibu untuk berhenti memanggilku seperti itu," jelas Lucy.


Serena mengangguk, "Aku tahu. Kau pasti sangat repot mengurus anak werewolf di dunia yang tak mengenal werewolf," ujarnya.


Ia melirik lagi, "Lalu bagaimana pertemuanmu dengan Arzen?"


Lucy kembali menceritakannya. Bagaimana ia bingung dan terkejut sampai pingsan melihat wujud serigala Arzen. Serena pun geram mendengarnya dan merutuki Arzen yang sembarangan bertindak.


"Dasar! Dia itu memang...!"


Lucy tertawa saja mendengarnya. Lalu Serena kembali bertanya, "Jadi, apa kau menerimanya? Apa kau menerima werewolf?"


Lucy mengangguk, "Untuk apa aku ada di sini kalau tidak menerimanya?" tandasnya.


"Kau tidak takut pada werewolf? Kau tidak takut pada Arzen?" berondong Serena.


Lucy kembali menggeleng, "Tidak. Awalnya memang aku takut. Tetapi setelah tinggal bersamanya aku tahu dia seperti apa," ungkapnya.


"Dia sangat keren bisa merawat anaknya seorang diri."


Deg!


Serena sedikit membelalak mendengarnya. Matanya kembali meredup sayu. Ia meringkuk menyembunyikan setengah wajahnya.

__ADS_1


"Lucy, sebenarnya Loofyn bukan anak kandung Arzen."


__ADS_2