Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Menumpang


__ADS_3

"Apa maksudmu tinggal di rumahku?!" Lucy meninggikan suaranya.


Arzen menghela napas, "Dengar! Aku tak mungkin membawa Loofyn jauh darimu sebelum shinre jade menghilang—"


"Bukan itu maksudku! Kau kan sudah dengar bagaimana kehidupanku sehari-hari. Aku tak bisa meninggalkan Loofyn di rumah karena aku akan bekerja 3 hari lagi!" sahut Lucy menyela kalimat Arzen.


"Aku bisa menemaninya di rumah saat kau pergi," ujar Arzen.


Lucy bersedekap tangan. "Aku hanya punya satu kamar," ucapnya dengan sedikit penekanan.


"Setiap malam aku akan pergi dan kembali keesokan harinya," sahut Arzen.


Lucy mendelik ke arah pria itu. Ia seperti merasa kalah debat dengannya. Selalu ada jawaban setiap ia menyangkal.


"Apa untungnya aku membiarkan dua serigala di rumahku?"


Sriing!


Arzen mengeluarkan sihir dengan berkas cahaya berwarna biru terang. Ia menunjukkannya pada Lucy untuk membuat gadis itu yakin. Namun, Lucy hanya manusia yang tak tahu apa-apa mengenai sihir.


"Ini sihir pelindung. Aku tak tahu apakah bisa bekerja di dunia ini. Tetapi aku yakin, tak ada sesuatu besar yang membahayakan dirimu kalau kau memakainya," ujar Arzen panjang lebar.


Ia menarik kembali sihir itu dan lenyap dari pandangan Lucy. Arzen menatap Lucy, "Aku bisa memberinya pada rumahmu agar aman," imbuhnya.


Lucy hanya mengerjap-erjapkan matanya. Sihir yang ia lihat masih sesuatu yang baru baginya. Ia merasa percaya tak percaya pada ilmu magis yang Arzen tunjukkan.


"Kau mau bukti?" tanya Arzen.


Lucy menggeleng, dibuktikan pun ia masih tidak paham. Dunia manusia saja sudah rumit apalagi dunia magis. Ia terlalu malas memikirkan dua dunia dalam satu kepala.


Lucy memegang dahinya, "Ah, pusing sekali memikirkan hal ini...!" keluhnya.


Ia mengambil napas dalam dan menghembuskannya cepat. "Terserah kalian, asal jangan mengacak-acak isi rumahku atau membuat tetangga ketakutan!" ujarnya.


"Tetangga? Ketakutan? Kenapa mereka harus ketakutan? Dan, kau punya tetangga?" Arzen kembali menunjukkan ekspresi polosnya ketika bertanya pada Lucy.


Perempuan itu menganga, "Kau mengejekku, ha?! Memangnya kenapa kalau aku punya atau tidak punya tetangga?!" omelnya.

__ADS_1


"Huh, lagipula manusia itu makhluk sosial. Tidak, kurasa semua makhluk juga makhluk sosial..." Ia sengaja menggantungkan kalimatnya.


"Kita semua tidak bisa hidup tanpa adanya orang lain."


Arzen ingin menyangkal pernyataan Lucy. Namun ia urungkan niat setelah melihat raut wajah gadis itu. Ia tahu ia tak berhak bicara tentang dunia manusia.


Ia juga tahu, sejak dulu makhluk sepertinya selalu bersitegang dengan manusia. Arzen tak mengerti, mengapa ia tak ada keinginan untuk menghabisi manusia setelah sampai di dunia ini. Padahal sebelumnya, ia sangat membenci manusia.


"Dasar payah, mereka makhluk penuh manipulasi," batinnya.


Zraah~


Lucy menoleh sesaat cahaya menyilaukan tiba-tiba menghilang. Rupanya Arzen berubah menjadi serigala lagi. Ia membawa Loofyn yang masih tertidur di punggungnya.


"Sudah sore, kau tak ingin pulang?" tanyanya pada Lucy yang terdiam melihatnya.


Perempuan itu menghembus napas ringan. Ia segera menyusul Loofyn menunggangi punggung serigala besar itu. Arzen kembali menyelimuti mereka dengan sihir tak kasat mata.


Dengan begitu, Arzen bisa berlari tanpa mengganggu pandangan makhluk lain. Ia selayaknya hantu, menembus benda dan manusia. Seperti angin yang berhembus kencang ketika mereka melewati kerumunan manusia.


"Ah, hati-hati dengan Loofyn. Malam berikutnya akan ada bulan penuh. Aku khawatir padanya kalau sewaktu-waktu ia berubah dan tak dapat mengendalikan kekuatannya," ucap Arzen menunjuk Loofyn.


Lucy mengernyit, "Maksudmu?"


"Loofyn sudah bisa menggunakan sihirnya. Lebih tepatnya, sihir mengubah wujud. Ia bisa jadi serigala sepertiku," kata Arzen.


Lucy menganga. Ia berusaha memaklumi meski terkejut. Kepalanya berputar untuk mencari cara agar Loofyn tak menakuti tetangga.


Arzen menghela napasnya, "Sayangnya, bangsa kami baru bisa mengendalikan sihir mengubah wujud saat berusia 5 tahun."


"Apa?! Tidak mungkin! Bagaimana kalau dia keluar rumah sewaktu aku melakukan kegiatan lain? Aku tak bisa terus-terusan memperhatikan Loofyn!" ucap Lucy dengan ekspresi mulai panik.


Arzen menggeleng, "Kalau itu terjadi kau harus bisa menahannya di dalam rumah. Jangan sampai manusia selain dirimu melihatnya!" perintahnya tegas.


Lucy menatap Arzen dengan meminta belas kasih. Ia tak mau direpotkan oleh masalah magis seperti ini. Kehidupannya sebagai manusia saja sudah repot masih harus ditambah masalah makhluk lain.


"Ayolah, apa tidak ada cara lain? Apa aku harus memberinya catnip?" tanya Lucy.

__ADS_1


Arzen mendelik, "Berani sekali kau menyamakan kami dengan bangsa kucing! Lagipula, tumbuhan itu bagai obat perangsang bagi mereka!"


Lucy menutup mulutnya rapat. Ia mengira catnip memberikan efek tenang untuk hewan apapun. Ia baru tahu tentang efek perangsang yang disebutkan oleh Arzen barusan.


Gadis itu menggendong Loofyn dalam dekapannya. "Maafkan aku, aku tidak tahu..." ucapnya terbata.


Arzen hanya menghela napas sebagai jawaban. Mereka masih berdiri di ambang pintu. Padahal hari sudah menjelang malam tetapi Arzen belum juga dipersilakan masuk.


Pria itu akhirnya melangkah masuk tanpa suruhan Lucy. Ia langsung mengambil duduk di kursi tempat ia pernah tertidur di sana. Arzen mengangkat satu kakinya layaknya raja yang duduk di singgasana.


"Kau ini suka melamun. Apa tidak ada sesuatu yang bisa kau suguhkan padaku?" ketusnya.


Lucy memutar bola matanya malas. Ia jengah menghadapi sikap Arzen yang seenak diri di rumahnya. Pria itu seperti tamu yang benar-benar menganggap rumah ini sebagai rumah sendiri.


"Kau menyuruhku membawa Loofyn dan juga menyajikanmu sesuatu secara bersamaan?!" Arzen mengangguk.


Gadis itu hampir menyeruakkan emosinya. Ia menahannya demi Loofyn yang sedang mimpi indah di dekapannya. Dengan langkah kaki yang menghentak, ia masuk ke dalam kamar tanpa memedulikan Arzen.


Blam!


"Hei, manusia!" teriak pria itu dari kursinya.


Arzen memanggilnya sebab khawatir suara keras akan membangunkan Loofyn. Nyatanya anak itu tetap pulas tertidur. Ia tak terusik sedikitpun ketika Lucy menaruhnya di keranjang bayi.


"Dasar! Memangnya dia siapa seenak jidat menyuruhku?!" gerutunya.


Bibirnya sudah cemberut kesal. "Padahal aku punya kenapa selalu memanggil manusia?! Rasanya seperti kami para manusia terlalu diremehkan!" gumamnya.


Ia menatap Loofyn yang terpejam matanya. "Ayahmu itu memang tidak tahu diri, ya?! Sudah menumpang, sifat angkuhnya juga ikut menumpang!"


Gadis itu frustasi dengan meraup wajahnya sendiri. "Hah, kenapa kau mengikat kontrak batin denganku? Asal kau tahu, aku tak sebaik yang kalian pikirkan," katanya.


"Terutama ibumu. Kenapa semudah itu menitipkanmu pada manusia?" batinnya.


Lucy mencoba menenangkan dirinya. Ia duduk di tepi kasur dan menatap ke arah jendela. Bulan sabit dan langit bertabur bintang menjadi pemandangannya.


"Hah..."

__ADS_1


__ADS_2