Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Sambutan Hangat Untuk Lucy


__ADS_3

Arzen seketika terpesona begitu Lucy membalikkan tubuhnya. Balutan gaun sederhana berwarna biru itu cocok sekali dengan Lucy. Riasan lembut di wajahnya dan rambut sepunggungnya diurai.


Lucy memegang kepangan rambut yang mengitari ke belakang. "Wah, aku sudah lama tidak berdandan seperti ini," gumamnya.


"Ar– Yang Mulia saya sudah selesai," ujarnya pada Arzen.


Ia menghampiri lelaki itu dan melakukan hormat ala tuan putri. Arzen malah mengalihkan pandangannya dan mengangguk kecil. Lucy berkali lipat lebih cantik dari biasanya.


"Astaga, padahal di dunia manusia memang cantik. Tetapi ini lebih berbahaya...!" ucapnya dalam hati.


"Papa merah!" celetuk Loofyn.


Lucy tertawa mendengarnya. Setelah semua pelayan pergi mereka berbincang santai. Loofyn sudah berlarian lagi di dalam kamar.


"Gaunnya sangat bagus. Terima kasih," ucap Lucy.


"Hm? Mana dirimu yang memanggilku Yang Mulia tadi?" goda Arzen sembari bersedekap tangan.


Hal itu membuat Lucy jadi malu sendiri. "Ah, aku menyesal melakukannya!" rutuknya.


"Habis mau bagaimana lagi? Mereka bisa menangkapku kalau memanggilmu serigala!" katanya.


Arzen tertawa mendengarnya. "Baiklah. Sejujurnya aku lebih suka kau memanggilku seperti biasa," ungkapnya.


"... kalau bisa dengan panggilan khusus..."


"Apa? Aku tidak dengar," sahut Lucy membuat Arzen jadi malu sendiri.


"Sudahlah lupakan. Ayo kita keluar. Venus sudah menunggu di taman belakang istana utama," kata pria itu.


Lucy mengangguk dan segera menggendong Loofyn. Detik ini ia akan keluar dan menampakkan diri pada warga istana. Jantungnya berdegup cepat karena gugup.


Tiba-tiba tangan kekar Arzen menggandengnya. "Tenang saja, ada aku di sampingmu."


Deg!


"Kau malah membuatku lebih gugup, Arzen!" batin Lucy.


Keduanya berjalan bersama ketika pintu terbuka. Terangnya lampu yang memantul ornamen emas membuat silau. Lucy kembali berdecak kagum melihatnya.


"Uh, aku harus menjaga sikap di sini," gumamnya lalu kembali berjalan tegap.


"Kaku sekali. Seperti bukan Lucy," celetuk Arzen.


"A–aku belum beradaptasi etika kerajaan kau tahu!" bisik Lucy.


Arzen tersenyum, "Sudah kubilang santai saja," katanya.


"Kau bilang begitu pun..." Lucy masih merasa canggung.


"Mama mau jalan sendiri!" Loofyn melompat dari gendongan Lucy.


Ia berjalan di depan mereka berdua dengan riang gembira. Arzen menyuruhnya untuk tidak berlari dan tetap berada di depannya. Loofyn menurutinya dan berjalan lurus.

__ADS_1


"Apa tidak apa-apa seorang pangeran jalan seperti itu?" tanya Lucy karena ia merasakan tatapan prajurit dan pelayan tertuju padanya.


"Tidak apa-apa. Jangan pedulikan tatapan itu. Mereka hanya bertanya-tanya siapa dirimu," ujar Arzen.


Tak butuh waktu lama, ketiganya sudah keluar dari lorong yang menghubungkan istana barat dan timur. Kanan kiri lorong adalah taman yang membentang luas. Rasanya bukan lagi taman tetapi tanah lapang baginya.


"Ke sini. Lihat ada paviliun di sana. Aku yakin mereka berdua sudah menunggu," kata Arzen.


"Berdua...?"


Loofyn membulat antusias melihat seseorang di hadapannya. Meski tak setinggi Arzen ia tetap berpostur keren. Badan atletis tersembunyi di balik jubah putihnya.


"Paman!" pekik Loofyn lalu menghambur.


Lucy yang baru saja sampai mengamati pria itu dari bawah ke atas. Ia juga terpana melihat keindahan sosok di depannya. Serba putih bahkan sampai rambut dan wajahnya.


"Seperti salju kulitnya," pikirnya.


Ia tak sengaja menatap mata orang itu karena kebetulan sedang menoleh ke arahnya. Kerlingan mata yang anggun membuat Lucy semakin terpana. Apalagi saat rambut panjang putih itu tersibak angin.


"Cantik," celetuk Lucy tanpa sadar.


"Eh?" Arzen dan Venus terkejut.


Lucy akhirnya tersadar ia sedang menatap seseorang. "Ah, ma–maaf!" Ia membungkuk mengalihkan pandangannya.


"Sa–salam bagimu cahaya bintang kekaisaran, Yang Mulia Pangeran Venus," ucapnya cepat sambil membungkuk.


"Ah, aku mengacaukannya," batinnya.


"Kau pasti ma– orang yang dibawa kakakku. Nona Lucy?" sambutnya.


Lucy mendongak lalu mengangguk, "Be–benar," sahutnya.


"Ma–maaf anu saya tidak tahu kalau Anda seorang pangeran. Seharusnya saya menyadarinya sejak awal," ucapnya terbata.


Venus tersenyum, "Tidak masalah. Ini bukan yang pertama kalinya bagiku," katanya.


Ia memang dikira perempuan saking anggunnya. Penampilannya tampan dan cantik secara bersamaan. Apalagi rambut panjangnya sampai sedada.


"Aku akan menganggapnya pujian. Jadi tenang saja," ujar Venus.


"Ekhem!" Arzen menegur mereka berdua.


"Jadi, apa aku dilupakan?"


Lucy menggeleng, "Tidak, bukan begitu."


Arzen menggenggam tangan Lucy erat. "Tentu saja kau tak boleh mengabaikanku," gerundelnya.


"Maaf saya baru datang, Pangeran. Ah, Salam bagimu sinar rembulan kekaisaran, Yang Mulia Kaisar Arzen de Woove," ucap Micellia yang baru saja muncul.


Gadis itu sudah tak mengenakan baju zirahnya yang berat. Ia sudah mengenakan gaun yang disiapkan oleh Venus. Kini ia membungkuk hormat memberi salam.

__ADS_1


"Kupikir kau tidak akan datang, Micellia. Perkenalkan, ini Lucy. Dia akan tinggal di sini," kata Arzen.


"Saya Lucy."


Micellia kembali membungkuk hormat, "Saya Micellia de Broof, panglima dan Pilar Ksatria Kekaisaran. Saya siap melindugi Anda, nona Lucy," sambutnya.


Lucy melambaikan tangannya, "Tidak perlu sampai sebegitunya. Panggil nama saja tidak apa-apa," ujarnya canggung.


"Apa katanya tadi, panglima?" batin Lucy terkejut.


Arzen mengangguk, "Aku harap kau bisa menjadi teman untuk Lucy di sini," pintanya pada Micellia.


Gadis itu menatap Venus di sampingnya. "Baiklah, saya bersedia. Panggil saja Micellia, n— Lucy."


Mereka segera duduk di paviliun taman. Para pelayan dipanggil untuk menyuguhkan teh dan kue sebagai teman mengobrol. Lucy benar-benar menikmati suasana nyaman di taman istana.


"Lebih luas dari tamanmu, kan?" tanya Arzen.


"Tentu saja! Di sini kan istana, berbeda dengan rumahku yang luasnya sama dengan kamarmu," sahut Lucy.


"Mama! Mau kue," ujar Loofyn.


"Begitu? Loofyn mau yang mana? Mau coba ini?" Lucy mengambil salah satu kue dari tempatnya.


Ia menyuapi Loofyn tetapi anak itu langsung menyautnya. "Makan sendiri," katanya antusias.


"Lucy, ada yang ingin aku bicarakan dengan Venus. Kau bersama Micellia dulu, ya." Arzen beranjak dari sana bersama Venus.


Tinggalah Lucy dan Micellia dalam suasana canggung. Loofyn malah asyik makan karena dia masih bocah. Lucy curi-curi pandang karena tak tahu harus bicara apa.


"Anu, Micellia," cicitnya.


"Saya? Ada apa?"


"Ah, tidak apa-apa. Maaf kau jadi menemaniku di sini," ujar Lucy lirih.


Micellia menggaruk tengkuknya, "Tidak apa. Malah saya senang bisa duduk bersama dengan Lucy," sahutnya.


"Apalagi setelah Yang Mulia Kaisar bercerita tentang Anda beberapa hari yang lalu."


Micellia menceritakan kembali tentang hari di mana Arzen membawa kue buatan Lucy. Ia juga menunjukkan antusiasnya untuk belajar membuat kue. Tanpa disadari keduanya mengalir begitu saja tanpa lagi canggung.


"Waktu itu saya tahu Lucy sangat hebat. Setelah saya bertemu langsung ternyata benar sangat cantik," pujinya membuat Lucy memerah.


"Kau terlalu memuji," gumamnya.


Micellia menoleh, "Ah, Pangeran Loofyn tertidur rupanya," katanya.


"Kau benar, pantas saja tidak ada suaranya sedari tadi."


Ia melihat Lucy tidur di sampingnya dengan terlentang. Mulutnya masih tersisa remah kue. Kedua perempuan itu tertawa kecil melihat tingkah laku Loofyn.


"Saat ini saya yakin pada Lucy. Lucy bisa menjadi ibu yang baik bagi Pangeran," ucap Micellia dan suasana berubah sendu.

__ADS_1


Matanya menatap sayu Loofyn yang tertidur. "Yang Mulia melarangku menceritakan hal itu. Maaf, Lucy," batinnya.


__ADS_2