
"S–saya minta maaf, pak."
Lucy membungkukkan badannya di depan Sean. Pria itu terkejut melihat Lucy yang tiba-tiba datang ke ruangannya. Gadis itu masih belum berdiri tegap.
"Sebentar, nona Lucy. Anda bisa menjelaskan kenapa kemarin pulang lebih dulu?" tanya Sean.
Lucy mengernyit, "Pulang...?"
"Iya, pulang. Kemarin Nona Karen bilang Anda pulang lebih dulu," ujar Sean.
Lucy sedikit mengangkat kedua alisnya. Ia tak heran lagi kalau perempuan itu yang bilang. Ia tak tahu harus meluruskannya seperti apa karena tak ada bukti.
"Saya sebenarnya tidak pulang, pak. Saya ada di kantor ini seharian."
Sean merasa bingung mendengar ucapan tegas sekretarisnya. "Kenapa nona tidak menghampiri saya untuk rapat?" tanyanya.
Lucy bimbang, "Kalau saya bercerita pun sepertinya bapak tidak bisa percaya begitu saja. Karena saya berada di ruangan yang tidak ada akses orang ke sana," ujarnya.
"Bapak tahu CCTV di lantai 4 dekat toilet rusak? Seandainya tidak rusak saya bisa menjelaskannya dengan mudah," katanya.
Sean mengangkat teleponnya, "Biar saya bilang ke teknisi. Tetapi, kenapa nona ada di sana?"
"Seseorang mengurung saya di dalam toilet, pak. Bapak pasti bingung seharusnya saya berteriak minta tolong, bukan? Saya sudah melakukannya tetapi tak satupun orang yang datang," ujarnya.
Sean terus mendengarkan cerita Lucy sejauh yang gadis itu ingat. Arzen juga bercerita padanya bahwa di depan kamar mandi itu terdapat peringatan toilet rusak. Sean menyelidiki kebohongan di mata Lucy tetapi tak mendapatinya.
"Ar– seseorang menyelamatkan saya dan langsung dibawa ke UGD terdekat, pak," pungkasnya.
Lucy melambaikan tangannya, "Bapak tidak perlu khawatir, saya sudah membaik. Itu juga kalau bapak tidak percaya tidak masalah, saya tidak menuntut bapak," ujarnya terbata.
Ia membungkuk sekali lagi, "Memang sulit dipercaya, tetapi saya tidak berbohong. Kalau bapak ingin menghukum saya, saya akan menerimanya," katanya.
Sean menghela napas dan bersandar di kursinya. Jujur ia bingung bagaimana harus menanggapi masalah ini. Ia juga menyesali CCTV yang rusak di area yang Lucy maksud.
"Eh? Kalau bapak tidak rapat kemarin, klien bagaimana, pak?" Lucy harap-harap cemas.
Sean menggeleng-geleng, "Tidak masalah... kebetulan mereka juga mengubah waktu bertemu," katanya.
"Apa benar, pak? Sa–saya akan bertanggung jawab!"
Sean menghembuskan napasnya lagi, "Tidak, nona Lucy. Anda bisa kembali bekerja kalau tubuh Anda sudah sehat," ujarnya.
__ADS_1
"Saya akan menyelidiki tentang CCTV dan area yang Anda maksud," sambungnya.
Padahal Lucy sudah bersiap mendengar kata 'pecat' dari Sean. Padahal ia sudah siap menerima hukuman atau potong gaji. Namun, sepertinya Sean mencoba untuk mengerti dan berusaha mencari cara.
"Kalau begitu, saya kembali bekerja—"
"Tunggu dulu. Nona tahu siapa yang mengurung nona di sana?" tanya Sean.
Lucy ingin mengatakannya, tetapi ia tak punya bukti. Ia tak ingin membawa buruk orang yang bahkan tak ia kenal. Jangan sampai karena dirinya, orang itu kena masalah di kantor.
"Ka—"
"Ka...?"
"Saya tidak bisa mengatakannya," gumam Lucy.
"Siapa, nona?" desak Sean.
Lucy gelagapan, matanya berkeliling mencari alasan. "Saya lupa, pak. Saat itu pencahayaan temaram jadi saya tidak lihat!" kelitnya.
Sean tahu Lucy sedang berbohong. Ia sudah bekerja beberapa tahun dengan Lucy. Gadis itu berada dalam salah satu orang yang ia amati gerak-geriknya.
"Baiklah, Anda bisa kembali bekerja," putusnya.
Lucy menghela napasnya. Ia kembali ke ruangan sekretaris. Sebenarnya ia sedikit menyesal tidak memberitahu siapa pelakunya.
Ia sendiri juga tak ada bukti. CCTV rusak, tak ada saksi mata yang melewati toilet itu. Sebenarnya ia bisa menunjuk Arzen sebagai saksi, tetapi sepertinya akan repot.
Mereka tak tahu siapa Arzen dan bagaimana ia bisa menyelamatkan Lucy. Mereka pasti akan menganggapnya gila kalau mengatakan Arzen adalah siluman yang menjalin kontrak dengannya. Helaan napas mengudara, ia hampir saja menjadi raga tanpa jiwa kemarin.
"Sudahlah, lebih baik aku lanjut bekerja saja. Reputasiku akan kuperbaiki perlahan," gumamnya menyemangati diri sendiri.
Tanpa sadar Arzen berada di belakangnya. Seperti biasa menggunakan mode tak terlihatnya ketika mengunjungi Lucy. Tetangga sudah berlangganan mengurus Loofyn selama ia pergi.
Diam-diam Arzen merencanakan sesuatu. Ia akan membantu Lucy membeberkan siapa pelakunya. Pria itu diam-diam mengikuti kemana saja Lucy pergi.
Lalu hari ini, gadis itu pergi ke bagian personalia. Ia menunaikan tanggung jawabnya yang kemarin. Lucy hampir dikenai skors tetapi mereka memutuskan untuk memotong gaji gadis itu.
"Anda tahu CEO hampir membatalkan semua pertemuan kemarin saat Anda tiba-tiba pulang," ujar salah satu personalia.
Lucy mengangguk dan pergi setelah mendapat sanksi. Tatapan dan cibiran tertuju padanya begitu ia keluar. Lucy tak menghiraukan mereka.
__ADS_1
Hari ini, semua orang seperti menjauhinya. Bahkan Peter rekan SMA nya dulu juga acuh tak acuh padanya. Pria itu hanya menatapnya sekilas tanpa berniat menyapa.
"Aku tak tahu bagaimana caramu keluar dari sana. Tetapi sayang sekali semua malah menjauhimu," bisik Karen dari arah belakang.
Lucy menoleh dan menatap tajam. "Apa maumu?"
Karen tersenyum meledek, "Bukankah sudah jelas? Jauhi Pak Sean," ujarnya.
Lucy tak mengerti, "Bawahan tak bisa jauh dari atasan," balasnya.
Berkedut bibir Karen karena jengkel. "Lihat, kau sendiri yang memancing masalah!" katanya.
"Saya tidak pernah berniat memancing keributan dan masalah dari pihak manapun. Saya bahkan tidak mengerti mengapa Anda mengurung saya di toilet hanya karena Anda menyukai Pak Sean," sahut Lucy.
Karen hampir saja ingin menjambak rambut Lucy. Ia mendengus melihat kerumunan mulai menatap mereka. Ia menghentak dan pergi dari sana.
Meski begitu, tetap saja Lucy yang menerima tatapan sinis dari orang-orang. Mereka hanya orang yang tidak tahu fakta sebenarnya. Karen berhasil menarik perhatian dan simpati mereka untuk memojokkan Lucy.
Gadis itu mencoba bersabar dan kembali ke ruangannya. Ia malas menghadapi orang-orang yang mencibir dirinya. Saat ini, ia hanya perlu mengembalikan nama baiknya perlahan.
"Lihat, dia melakukannya lagi pada Karen!"
"Apa dia minta maaf pada Karen?"
"Tidak mungkin. Karen masih saja sedih, bukankah keterlaluan?"
"Benar, kemarin tiba-tiba menghilang sampai membuat CEO kesusahan mencarinya. Dasar genit, segitunya ingin diperhatikan CEO?"
Begitulah bisik-bisik mereka hari ini. Karen hanya mengulum senyum di balik dinding. Sedangkan Lucy menahan hujaman di hatinya.
Arzen yang berada di samping Karen itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tak menyangka pelakunya sesama perempuan. Padahal ia sudah menyiapkan kepalan tangannya.
"Perempuan, ya?" gumam Arzen.
Ia mendesis, "Sedikit sulit tetapi aku tahu cara memberinya pelajaran," pikirnya.
"Jadi dia menyukai orang itu, ya? Aku juga tidak suka Lucy dekat-dekat dengan orang itu. Tetapi aku tidak berpikir harus sampai menyakiti orangnya," gumamnya.
"Apakah karena aku makhluk dunia lain yang terikat pada peraturan tidak boleh menyakiti makhluk di dunia ini?"
Ia pergi dari sana, "Padahal makhluk di sini sama saja saling menyakiti."
__ADS_1