Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Keheningan di Tengah Huru-Hara


__ADS_3

Sudah lewat beberapa jam sejak Serena menceritakan kebenaran tentang Loofyn. Kalau ia tidak bercerita Lucy pasti akan menganggap anak itu adalah anak kandung Arzen. Kini ia kembali merenung bersandar di jendela kamar.


Serena sebetulnya merasa bersalah karena telah menceritakan tanpa persetujuan Arzen. Ia mungkin akan dimarahi oleh lelaki itu nanti. Namun setelah ia menanyakan sesuatu pada garis itu ia yakin ia sudah melakukan tindakan yang tepat.


"Apa kau mencintai Arzen?"


Entah harus bagaimana Lucy menjelaskannya pada Serena. Tanpa bercerita pun sebenarnya Serena sudah tahu. Ia hanya ingin memastikan kalau Lucy benar menaruh hati pada Arzen.


"Dengar, aku menanyakan hal ini bukan karena aku ada hubungan dengan lelaki itu. Aku hanya ingin memastikan apakah perasaanmu itu sungguh-sungguh," ucap Serena sembari menatap lekat Lucy.


Awalnya Lucy mengira kalau Serena memiliki hubungan dengan Arzen. Karena itu dia belum berani mengungkapkan perasaannya pada lelaki itu. Meski selama ini Arzen selalu gencar-gencaran mengejarnya.


Lucy jadi merenungkan perasaannya sendiri. Apakah ia benar-benar mencintai lelaki itu ataukah hanya bersimpati padanya? Padahal selama ini ia selalu berdegup kencang ketika berada di dekat Arzen.


"Sepertinya aku benar mencintainya," celetuknya membuat Serena menoleh.


"Benarkah? Arzen pasti senang mendengarnya langsung darimu," balas Serena.


Lucy sendiri tidak yakin dan terus meragukan perasaannya selama ini. Ia jadi bingung apa yang harus ia katakan saat berhadapan dengan lelaki itu nanti. Ia sendiri tidak tahu kapan akan bertemu dengannya lagi di tengah perang yang semakin menjadi ini.


"Tenangkan dirimu. Kau hanya perlu meyakinkan dirimu bahwa kau benar-benar mencintainya," tutur Serena.


Lucy hanya tersenyum tipis lalu kembali melamun menatap langit dia mulai gelap. Seharian ini ia belum mendapatkan surat dari benteng mengenai keadaan saat ini. Tentu saja ia ingin mengetahui bagaimana kondisi Arzen.


"Apakah dia baik-baik saja di sana?" pikirnya.


Suasana di dalam ruangan semakin hening. Loofyn belum bangun dan Serena juga ikut melamun. Mereka tak ada niatan untuk membicarakan sesuatu sekarang.


Makanan yang baru saja diantarkan oleh pelayan itu sama sekali tak disentuh oleh mereka. Bukan karena menahan lapar mati-matian. Tetapi mereka terlalu sibuk memikirkan sesuatu.


"Lucy tidurlah atau makanlah. Kau bisa sakit kalau tidak makan," pinta Serena.


Ia mengkhawatirkan tubuh manusia yang lebih ringkih daripada werewolf. Karena itu ia membujuk gadis itu untuk makan atau minum setidaknya sedikit. Namun Lucy menolak da kembali diam.


Tak lama kemudian anak kecil itu akhirnya bangun. Ia cukup puas tidur siang selama berjam-jam. Hal pertama yang dilihatnya adalah Lucy yang duduk tepat di depannya.


"Mama?" gumamnya.


Serena yang menyadari duluan segera menghampiri Loofyn. "Wah, keponakan bibi yang manis sudah bangun," ucapnya.

__ADS_1


"Bibi mama kenapa?"


Serena menghela napas melihatnya. Ia juga bingung bagaimana menjelaskannya pada anak kecil itu. Tak mungkin anak kecil itu mengerti apa yang tengah dirasakan oleh orang dewasa.


"Mama sedang jatuh cinta," bisik Serena.


"Kenapa jatuh? Mama tidak sakit?" balas Loofyn penasaran.


Serena tertawa kecil mendengarnya, "Tentu saja tidak. Jatuh cinta itu sangat menyenangkan," katanya padahal ia sendiri belum pernah mengalaminya.


"Ah, maafkan aku harus membohongi anak seimut dirimu, Loofyn," rutuknya dalam hati.


Perempuan itu segera mengalihkan topik pembicaraannya pada si anak kecil. Ia bertanya apakah tidurnya nyenyak atau mimpi indah seperti apa yang ia lihat saat tidur tadi. Loofyn mulai antusias dan menceritakan mimpi indah yang ia lihat tadi.


Serena menghela napasnya karena anak itu tak jadi melontarkan pertanyaan yang aneh. Loofyn bisa mengabaikan Lucy sementara. Ia sengaja melakukannya untuk memberi waktu gadis itu menenangkan hatinya.


"Loofyn mau main sama bibi?" tanya Serena.


"Main apa?"


Sherina jadi gelagapan sendiri. Ia lupa mereka sedang ada di atas menara yang sangat tinggi. Tak ada apapun di sana selain perabotan dari kayu dan besi.


Tidak seperti di istananya yang megah sehingga mereka bisa berlarian kesana kemari. Serena juga lupa untuk membawa mainannya. Ia jadi cemberut karena tak tahu harus bermain apa dengan anak itu.


Loofyn ikut cemberut. "Bibi ayo main sembunyi-sembunyi," ujarnya.


Serena tak mengerti permainan apa yang dimaksud oleh anak itu. Rupanya permainan yang dimaksud Loofyn adalah menebak di mana benda disembunyikan di antara tiga gelas yang diacak. Loofyn mengetahuinya dari Lucy saat di dunia manusia.


"Apa mama yang mengajarkanmu permainan ini?" tanya Serena.


Loofyn mengangguk, "Mama main ini sama Fyn. Fyn suka," ujar anak itu kembali ceria.


Keduanya bermain bersama untuk beberapa lama, sementara Lucy masih tenggelam dalam pikirannya. Hari semakin gelap dan ia belum mandi atau makan. Serena yang baru saja keluar dari kamar mandi itu menatapnya sedih.


Ia dan Loofyn sudah rapi dan bersih. Lucy masih kucel dan terlihat kehilangan semangatnya. Loofyn berjalan menghampiri gadis itu.


"Mama kenapa sedih?"


Lucy terkesiap dan menoleh ke arah sumber suara. "Mama tidak sedih, Loofyn. Hanya mengantuk, hehe," ujarnya meski tak berbohong juga.

__ADS_1


"Kalau begitu mama tidul, ya?"


Loofyn pandai membujuk orang dengan kelucuannya. Lucy tak bisa menolak mata bulatnya. Ia akhirnya luluh dan menuruti permintaan Loofyn.


"Kau mandi dulu lalu makan. Jangan membuat Loofyn khawatir," bisik Serena agar tak didengar oleh Loofyn.


Lucy mengangguk, "Baik, maafkan aku." Ia pun bergegas pergi ke kamar mandi.


Setelah itu di malam yang hening ini ketiganya berkumpul di meja makan. Kali ini Loofyn belajar makan sendiri meski belepotan. Ia sendiri yang memintanya.


Kembali terdengar meriam yang ditembakkan berkali-kali. Pedang yang beradu juga terdengar. Sepertinya kali ini Loofyn sudah bisa beradaptasi.


Hanya saja Lucy takut hal itu memicu trauma di masa depan. Ia meminta pada penyihir untuk membuat ruangan mereka kedap suara. Perisai sihir dibentangkan untuk menghalau suara dari luar.


"Sekarang sudah lebih tenang, bukan?" tanya Lucy dan Loofyn mengangguk.


"Aku akan tidur di kamar sebelah. Kau bisa memanggilku kalau ada perlu," ucap Serena lalu pergi begitu saja.


Sebetulnya ia juga membutuhkan waktu untuk sendirian. Ia juga ingin merenung dan mencapai ketenangan batin. Padahal dalam hatinya dari tadi selalu bergemuruh takut.


"Kumohon, jangan sampai kejadian itu terulang kembali," gumamnya.


Serena berbaring di tempat tidurnya. Ia meringkuk dibalik selimut. Air matanya menitik membasahi bantal dan kasurnya.


"Aku sangat ketakutan sekarang," isaknya.


Ia berulanh kali memejamkan mata tetapi tak tertidur juga. Kedua kelopak matanya sudah membengkak karena menangis. Serena juga tidak bisa tidur sama seperti Lucy di kamar sebelah.


Gadis itu juga menidurkan Loofyn. Ia iri pada anak kecil yang bisa tidur di situasi apapun dan kapanpun. Tidak seperti orang dewasa yang selalu dirundung banyak pikiran dan membuatnya tidak bisa tertidur.


Tok! Tok! Tok!


"Lucy, ini aku." Serena mengetuk pintu.


Lucy mempersilakannya masuk. "Maaf mengganggumu malam-malam. Aku sendiri tak bisa tidur," ujar Serena.


Lucy mengerti, ia juga sama lelahnya seperti Serena. Keduanya memutuskan untuk berdiam sampai mengantuk. Hanya ada lilin sebagai pencahayaan dan mulai redup.


"Tak perlu bangunkan aku kalau aku tertidur di lantai," pesan Serena dan Lucy mengangguk.

__ADS_1


Belum sempat Serena memejamkan matanya pintu kembali diketuk dari luar. Seorang pelayan diutus untuk mengantarkan sebuah surat pada Lucy. Raut wajahnya terlihat cemas dan ragu untuk memberikan surat yang digenggamnya.


"Nona, Yang Mulia..."


__ADS_2