Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Kekacauan di Istana


__ADS_3

Istana bagian timur rupanya juga tidak baik-baik saja. Arzen hanya bisa menghela napas melihat beberapa ornamen rusak. Ia juga melihat para prajurit terluka di sekujur tubuh.


"Kau ikut masuk denganku," ucapnya pada pelayan yang berdiri di samping.


Pelayan itu sedikit terkejut. Ia berusaha untuk tidak gemetar karena takut. Anggukan dan bungkuk hormat itu menjadi jawabannya.


"Di mana kepala pelayan istana timur berada?" tanya Arzen.


"Ampun, Yang Mulia! Sa–saya yang sekarang menjadi kepala pelayan istana timur! Saya Relia Xen." Pelayan itu sampai bersimpuh di hadapan Arzen.


Lelaki itu tak lagi heran. Kalau gadis muda menjadi kepala pelayan itu artinya kepala pelayan yang lama sudah meninggal. Ia hanya melanjutkan jalannya tanpa bertanya apa alasannya.


"Apa kau bisa menggunakan sihir cahaya?" tanya Arzen.


"Bisa, Yang Mulia! Saya yakin saya bisa menggunakan sihir cahaya meski tidak terlalu besar dampaknya," jawab Relia dengan tegas.


"Purify."


Zraaa~


Debu-debu dan puing bangunan tersingkir oleh sihir angin. "Sudah kusingkirkan reruntuhannya. Kau bersihkan sisanya," perintahnya.


"Hamba laksanakan, Yang Mulia!" Relia bergegas memanggil pelayan-pelayan yang lain untuk membagi tugas.


Sedangkan Arzen pergi ke kamar di ujung gedung. Hanya tempat itu yang masih aman dan bersih dari kekacauan. Ia mengubah wujudnya menjadi manusia dan duduk di kursi yang empuk.


Ia duduk menghadap langsung ke arah taman kerajaan bagian belakang. Hampir seluruh tembok gerbuat dari kaca sehingga ia leluasa mengedarkan matanya. Arzen betumpu satu tangan dan menghela napas.


Di samping kanan terdapat bak mandi mewah tak jauh dari tempat ia duduk. Melepas penat, pria itu memutuskan untuk mandi. Bahkan saat mandi pun ia tak bisa mencapai ketenangan maksimal.


Tok! Tok! Tok!


"Yang Mulia, ini saya Relia Xen selaku kepala pelayan istana timur!" seru seorang wanita dari arah luar.


Arzen yang masih berendam itu menjetikkan jarinya untuk membuka pintu. Ia tak perlu beranjak karena bisa menggunakan sihir. Relia Xen membungkuk sebelum masuk ke dalam diikuti oleh 10 anak buahnya di belakang.

__ADS_1


"Salam kedamaian bagimu Yang Mulia Kaisar Arzen de Woove, cahaya Wolfeuxeas. Dewi Bulan memberkati!"


Arzen hanya mengangguk. Ia kembali bersandar merelaksasi diri di bak mandinya yang mengepul. Sementara itu para pelayan sibuk menyiapkan ini itu untuk keperluan selanjutnya.


Relia Xen datang dengan menundukkan pandangannya. "Apa Yang Mulia Kaisar ingin saya bantu membersihkan diri?" tanyanya.


Arzen menggeleng, "Tidak perlu. Kau bisa memijatku setelah mandi. Ah, siapkan juga wine kesukaanku," katanya.


"Hamba laksanakan, Yang Mulia."


Singkat cerita, lewat sudah setengah jam lamanya pria itu mandi. Relia Xen yang menunggu di balik tirai itu memerintahkan anak buahnya untuk siap di tempat. Arzen keluar dengan jubah santainya.


Aroma maskulin menyeruak kala ia menyibak rambut. Langkah kaki membawanya menuju kursi spa dekat jendela. Ia bisa menikmati pemandangan sembari dirinya menikmati relaksasi.


Tiga orang pelayan termasuk Relia Xen menghampiri Arzen. Mereka semua mulai bekerja setelah mendapat izin dari lelaki itu. Arzen menyesap wine dengan tangan kanannya selagi tangan kiri dipijat oleh Relia Xen.


"Resonance shield," gumam Arzen mengucap mantra penghalang pendengaran.


Ia menghalangi telinga seluruh pelayan kecuali Relia Xen. Hal itu dilakukan karena ia tak ingin mereka buyar fokus karena pembicaraannya dengan kepala pelayan. Relia Xen memelankan gerakannya.


"Baik, Yang Mulia."


Relia Xen mulai bercerita di mana kejadian bermula sejak 3 hari Arzen pergi. Awalnya hanya pasukan manusia yang berjumlah 5 ribu orang. Mereka berkumpul di depan benteng dan menodongkan tombak sihir untuk mengancam.


Hampir seluruhnya dapat dikalahkan oleh pertahanan depan. Manusia yang masih kuat beberapa ada yang berhasil mencapai jembatan. Itulah mengapa sungai yang jernih menjadi penuh miasma.


"Kenapa manusia? Kupikir mereka bangsa werewolf dari suku seberang," sela Arzen karena ia mulai penasaran.


"Saya juga tidak mengerti, Yang Mulia. Tidak lama setelah serangan para manusia itu, datang rombongan Orc yang jumlahnya seribu orang," ujar Relia Xen.


"Hei, hei...! Apakah raja bodoh itu ingin mengorbankan seluruh suku di dunia ini?!" geramnya dalam hati.


"Kenapa Orc sampai ikut? Aku pikir ini hanya masalah dengan Raja Mezalto VI dari Kerajaan Mazareth—"


"Mereka mengaku diiming-imingi tanah kosong dekat gurun, Yang Mulia," sela Relia Xen.

__ADS_1


Arzen berdecih, "Hah, dasar bodoh! Apa mereka tidak tahu tanah kosong itu hanya berisi gelombang sihir abstrak? Salah langkah bisa terjebak dalam halusinasi berkepanjangan," ujarnya sembari tertawa.


"Tetapi, Yang Mulia. Tanah kosong itu menjadi perebutan Kerajaan Mazareth dan Kerajaan Saturneth, bangsa peri," ujar Relia menanggapi pernyataan tuannya.


Arzen mendengus, "Apa mereka berniat melenyapkan diri di tanah itu?" decihnya.


Suasana kembali serius ketika ia memejamkan matanya. "Lanjutkan ceritamu!"


Kekacauan kembali terjadi setelah bangsa Orc berhasil kalah di tanah desa. Itu sebabnya Arzen melihat banyak sekali rumah-rumah desa yang hancur. Akan butuh banyak tenaga dan waktu untuk pemulihan.


"Lalu yang terakhir sebelum Yang Mulia kembali..." Relia Xen menggantungkan kalimatnya membuat Arzen mendelik.


Wanita itu menghentikkan gerak tangannya yang memijat. "Salah satu panglima besar Raja Mezalto VI berhasil menembus bangunan utama," ucapnya melirih.


"Apa?!" Arzen mengernyit heran.


Ia sangat yakin bangunan istana seluruhnya dikelilingi oleh sihir pelindung tingkat tinggi. Monster buas bahkan tak bisa mendekat dari jarak hampir 1 km jauhnya. Apalagi manusia biasa yang sangat lemah hampir tak ada sihirnya.


"Saya tidak tahu bagaimana bisa manusia sampai masuk ke istana utama tanpa seizin Yang Mulia dan Pangeran Ketiga," ujar Relia Xen yang ikut penasaran.


"Tetapi yang saya tahu, panglima itu membawa semacam kristal berwarna biru laut di dadanya. Saya melihatnya dari kejauhan saat mengungsi, saya tidak yakin apakah penglihatan saya benar atau tidak," imbuhnya lalu ia kembali memijat Arzen.


Alis Arzen naik sebelah, "Kristal biru laut?" Ia tak pernah mendengarnya atau mungkin samar.


"Apa penyihir kerajaan tidak ada di istana saat kejadian?" tanya Arzen.


Relia Xen nampak terkejut, "Y–Yang Mulia tidak ingat beliau? Penyihir Agung Meradia Heruby sudah meninggal."


Arzen tambah terkejut. Penyihir yang selalu tampak muda itu juga sudah meninggal dunia. Seperti dalam kitab yang ia pernah baca, penyihir Meradia akan meninggal saat mencapai usia ke-1000 tahun.


"Ah... apakah kekaisaran ini akan menemui akhir ceritanya kalau kita kehilangan banyak pilar?" batinnya gundah.


Pijatan yang seharusnya melepas penat itu sama sekali tak berefek. Ia lelah pikiran tak hanya fisiknya. Arzen harus bisa merancang strategi mutakhir karena perang besar bisa saja terjadi sewaktu-waktu.


"Oh, apa yang terjadi dengan adikku? Aku merasa ia sedikit berbeda dari terakhir aku melihatnya," tanya Arzen pada Relia Xen.

__ADS_1


"Yang Mulia, itu..."


__ADS_2