Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Kunjungan Serena dan Pesan dari Kerajaan Eleuxeas


__ADS_3

Klotak! Klotak!


Seorang wanita bergaun merah anggur itu melenggang di sebuah lorong. Tak ada satupun orang di sana, bahkan prajurit tak mencegahnya. Ia terus berjalan hingga sampai di ruangan yang cukup luas.


"Di mana Venus?! Apa dia tak mengindahkan kakak iparnya datang ke sini, ha?!" tanyanya pada seorang pelayan.


Pelayan itu saking gentarnya tak sanggup menjawab. Hingga seorang pria muncul dari arah  pintu besar. Ia menatap datar dua orang di hadapannya.


"Pelayan, kau boleh pergi."


Wanita itu menoleh ke arah suara. "Oh, kau di sini rupanya. Sekarang, di mana Arzen?! Apa dia berniat kabur dariku?"


"Begitukah perilaku 'kakak ipar' pada adik iparnya?" tekan Venus sebelum pria itu duduk di kursinya.


"Kau juga seenaknya masuk ke ruangan orang," sindirnya.


Wanita itu menggeram, "Ck! Aku harap dia tak kabur membawa keponakanku. Hah, memangnya seorang pria bisa apa dalam merawat anak?!" ketusnya.


Venus bergedik, "Tetapi yang jelas, kakakku dan Loofyn bahagia di dunia sana," ujarnya.


"Du–dunia sana... maksudmu mereka berdua sudah—"


"Sshh...! Apa yang kau pikirkan, Serena? Aku mengatakan dunia sana bukan berarti alam kematian," potong Venus sebab ia tahu wanita bergaun merah anggur itu ingin mengatakan apa.


Serena menyibak rambutnya. Ia duduk di kursi yang berhadapan dengan Venus. "Jadi, dunia apa maksudmu?"


"Bukankah aku sudah pernah bilang padamu?"


Serena menganga, "Kupikir kau bercanda!"


Venus menatap malas orang di depannya. Wanita itu hobi gigit bibir bawahnya. Ia sudah lelah dengan permusuhan dua orang itu.


"Hah, sepertinya memang ingin kabur dariku. Tetapi mengapa harus membawa keponakan kesayanganku?!" sergahnya pada Venus.


Pria itu tetap tenang menghadapi Serena. "Aku tak yakin kalau Loofyn sama sayangnya padamu," katanya sedikit mengejek.


Serena melotot kesal. "Kau...!" Ia mendengus kesal.


"Katakan di mana dunia itu?! Akan kujemput sendiri Loofyn dan memberi pelajaran pada Arzen!" bentaknya.


Venus menyeringai, "Kau pikir kau bisa seenaknya pergi ke sana?" Ia berdiri dari duduknya.


"Kakakku saja butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa membuka portal. Kau bisa apa tanpa kakak pertamaku?" bisik lelaki itu pada Serena.

__ADS_1


Ia sudah geram dengan sikap Serena selama ini. Padahal ia tahu semua yang telah terjadi bukan kesalahan Arzen. Namun, perempuan itu seolah tak terima dan memilih dendam pada Arzen.


"Daripada memusingkan kakak dan Loofyn, bagaimana kalau kau urus sendiri kerajaanmu? Aku dengar ada petinggi yang berkhianat minggu lalu. Apa sudah beres?" Venus menyeringai dan menatap tajam.


Serena membelalak tak percaya. Darahnya seperti ingin meluap. Ia sudah tak bisa membendung amarahnya lagi.


"Kau brengs—"


"Paralyze."


Serena terpaku di tempatnya. Sihirnya tak jadi ia keluarkan. Ia kalah cepat dengan Venus yang menyebut mantra pelumpuh sementara.


"Aku yakin Kak Carenine sudah memberitahumu. Apa kau tak bisa menerimanya, Serena? Dari awal aku tak mengerti sumbu dendamu pada kakakku," ujarnya menahan kesal.


Serena menghindari tatapan Venus. Ia menahan air mata di sudut mata. Ia tak bisa menerima kejadian hari itu karenanya ia selalu memburu Arzen.


"Mudah sekali bagi kalian mengatakan hal itu. Kau sama sekali tak mengerti apa yang aku rasakan hari itu...!" lirihnya.


Venus menggedikkan bahunya, "Memang tidak perlu. Kau sendiri yang memulai mengarang cerita," sahutnya.


"Tidak!" Serena berteriak membuat Venus sedikit terkejut.


"Kakakku... kakakku satu-satunya telah pergi karena kalian! Mana bisa aku menerimanya begitu saja!" teriaknya lagi kali ini berurai air mata.


"Arzen gagal melindunginya... gagal melindungi hartaku satu-satunya..." lirihnya nelangsa.


"Kau datang ke sini hanya untuk mengulang naskahmu lagi?" sindir Venus.


Serena membelalak mendengar ucapan Venus. Ia berdiri setelah mantra pelumpuh hilang dari tubuhnya. Menatap nanar Venus dan pergi dari sana.


"Yang Mulia Pangeran– ah, sedang ada tamu," ucap Micellia ketika ia baru saja sampai.


Serena sempat bertatapan dengannya sebelum ia acuh dan pergi dari sana. Micellia merasa bersalah karena ia mengira telah mengganggu pertemuan Venus dan Serena. Ia tak jadi masuk dan hanya berdiri di ambang pintu menatap punggung Serena yang menjauh.


"Apa saya telah mengganggu—"


Venus menggeleng, "Tidak sama sekali. Kau seharusnya sudah hafal dengan drama wanita itu," selanya.


Ia berdecak kesal pada Serena yang telah membuat Micellia gelisah. Gadis di sampingnya mudah sekali merasa bersalah. "Kau tak perlu merasa bersalah untuk orang itu," ucapnya pada Micellia.


"Tetapi sepertinya Nona Serena memang sedih, Pangeran. Saya tahu karena saya perempuan juga. Saya tahu air matanya yang barusan bukan air mata palsu," ujar Micellia.


Venus mendengus, "Sudahlah, aku tak ingin Serena menjadi topik pembicaraan kita. Sekarang apa yang ingin kau katakan padaku?" Ia mengalihkan topik.

__ADS_1


"Benar, perwakilan Kerajaan Eleuxeas akan datang besok untuk membahas mengenai perlawanan terhadap Raja Mezalto VI," beber Micellia.


Keduanya segera membahas lebih lanjut di dalam ruangan. Micellia memberikan surat resminya pada Venus. Raut wajah pria itu berubah serius.


"Apa yang harus kulakukan untuk ini? Apa yang akan kakak lakukan kalau di posisi seperti ini?" batinnya.


Ia mengambil napas panjang. Surat itu disimpannya di laci. "Aku akan mempertimbangkannya nanti," putusnya.


Micellia mengangguk paham, "Baik. Kalau begitu saya—"


"Mau ke mana?" tanya Venus menyela Micellia.


"Eh? Saya harus kembali ke benteng," ujarnya.


Venus menghela napas, "Apa kau tidak bisa di sini sedikit lebih lama?" tanyanya sedikit kecewa.


Ia berjalan mendekati Micellia. "Suasana hatiku buruk sebab kedatangan Serena. Apa kau tak bisa menenangkanku sebentar?" tanyanya.


"Pangeran terlalu dekat..." decit gadis itu ketika tak ada 5 cm dengan dada bidang Venus.


Pria itu mendekatkan wajahnya. "Apa aku tak boleh dekat denganmu?" godanya.


Micellia mengalihkan wajahnya yang memerah. "Bukan begitu, Pangeran. Nanti ada yang melihat..." gumamnya.


"Ini di ruanganku, tertutup pula pintunya. Lagipula, siapa yang berani melihat pilar ksatriaku, hm?" Aroma maskulin menyeruak di penciuman Micellia ketika Venus semakin dekat dengannya.


Pria itu menggiringnya ke tembok ruangan. Ia tak ada jalan lain selain punggungnya yang menabrak dinding. Venus semakin mendekat dengan tatapan khasnya, tajam tetapi memikat.


"Yang Mulia Pangeran..." lirih gadis itu.


"Apa kau lupa harus memanggil apa ketika bersamaku?" bisik Venus.


Micellia menghindari tatapan 'mematikan' itu dari Venus. Jantungnya tak lagi aman. Venus sudah mengungkungnya.


Kedua lengan pria itu membentengi tubuhnya. Ia terkunci di bawah tatapan Venus. "Jangan..." cicit gadis itu ketakutan.


Ia memejamkan matanya berharap Venus mau melepaskannya. Pria itu semakin mendekat dan mendekat. Hidung mereka sempat bersentuhan hingga akhirnya Venus ambruk di pundak kecil Micellia.


Boof!


"Hah, kau membuatku tak bisa menahan diri, Miscent."


Jantung Micellia tak lagi berdetak normal. Wajahnya sudah memerah tambah memerah ketika Venus memanggil nama 'Miscent' padanya. Miscent yang berarti wanita harumku dalam bahasa kuno dunia magis.

__ADS_1


Venus tersenyum puas melihat reaksi Micellia.


__ADS_2