
Sudah 10 tahun lamanya Micellia menjadi Ksatria Venus. Ia berada di bawah perintah langsung dari Venus. Karena itu, ia kerap mendapat ujaran benci dari petinggi yang lain.
Meski begitu, Micellia tetap pada pendiriannya. Ia tegap menghadap ke depan tanpa menundukkan wajah takutnya. Wanita itu menjadi wanita paling pemberani seantero kekaisaran.
Menjadi Ksatria di samping Venus tidaklah mudah. Ia harus siap menerima perintah dan tugas yang berat. Berlatih bermacam sihir bersama Venus yang sama sekali tak menahan diri.
Ia juga harus menerima cibiran dan tatapan remeh dari tuan putri yang menaruh hati pada Venus. Mereka kebanyakan calon tunangan yang ditolak langsung oleh Venus. Sampai Micellia merasa ia adalah jimat busuk penghalang jodoh.
"Yang Mulia Pangeran, sepertinya saya mengundurkan diri saja—"
Belum selesai ia berucap, Venus meliriknya tajam. Ia tak menerima pernyataan seperti itu. Karena itu, Micellia masih terus menjadi ksatria bahkan duduk di Pilar Ksatria sampai sekarang.
Ia memang kuat dan tak kena takut. Namun, Micellia tetaplah perempuan yang berperasaan. Ia memang menahan hujaman pars pembenci, tetapi menyimpan lukanya sampai sembuh sendiri.
Suatu hari, ketika ia sudah tidak tahan lagi dengan omongan orang-orang. Ia tak bisa menatap kepungan mata sinis para tuan putri yang berkunjung saat acara. Ia tak bisa mendengar kata 'perempuan penjilat' dari para petinggi.
Micellia bersimpuh di hadapan Venus. "Yang Mulia Pangeran, lepaskan saya...! Saya akan menyerahkan Pilar Ksatria pada siapa yang layak. Saya akan pergi dan tidak akan menampakkan diri agar Pangeran tidak diserang. Saya mohon....!"
Ia bersimpuh sampai lantai basah karena air matanya. Saat itu Venus menggeram marah. Tidak pada Micellia tetapi pada orang-orang yang berani menghina pilar ksatrianya.
Micellia memohon padanya untuk tidak menghukum orang-orang itu. "Kalau Pangeran melakukan itu, akan lebih banyak orang yang menyerang saya bahkan kekaisaran," ujarnya.
Venus menggenggam tangannya. Ia menariknya mendekat, "Ceritakan padaku apa yang kamu rasakan selama ini dan alasanmu ingin lepas dariku, Micellia?" bisiknya lembut.
Air mata itu tumpah di bahu Venus. Micellia mengakui dirinya tidak tahu malu karena lancang memeluk seorang pangeran. Ia mengatakan apa yang ingin ia katakan.
Venus mengusap punggung perempuan itu. "Pasti berat, ya? Maafkan aku egois karena tidak mau kau pergi, Micellia," ucap Venus.
"Kenapa...?" cicit Micellia.
Venus tersenyum dan berbisik, "Karena Micellia sangat berharga di sampingku."
...>>><<<...
__ADS_1
"Astaga, kenapa aku malah mengingat kenangan hari itu..." Micellia memegangi pipinya yang panas.
Ia kembali ke kamarnya setelah dilarang masuk oleh prajurit. Rupanya Venus memberi mereka pesan sebelum Micellia datang ke perpustakaan. Ia sedih dan kembali dengan raut kecewa.
"Apa Pangeran tidak mau saya membantunya? Apa saya sudah tidak berguna lagi?" gerutunya.
Ia berjalan dengan menunduk. Lantai bercorak khas itu menjadi perhatiannya. Langkah lesunya berhasil membawanya ke kamar.
Ia duduk termenung di tepi ranjang sembari memandang ke luar. Hari sudah malam, tetapi ia masih belum tidur. Venus bisa memarahinya kalau sampai tahu.
Micellia mengganti pakaiannya. Ia membersihkan dirinya dan pergi tidur. Berbaring pun kepalanya masih dipenuhi berbagai pertanyaan.
Punggungnya tersorot sinar rembulan dari luar. Ia menyembunyikan wajah masamnya dari Dewi Malam. Micellia berusaha menjawab satu persatu kerumunan pertanyaan itu.
"Apa saya memang berharga untuk Pangeran? Memangnya kalau bukan saya yang jadi ksatria tidak berharga?" gumamnya.
"Sebenarnya, apa yang Pangeran maksud? Kenapa akhir-akhir ini Pangeran sangat keras pada saya dan selalu mengawasi saya?" tanyanya.
Ia berbalik badan menatap jendela. "Saya tidak akan kabur dan tidak bisa. Bisa dan maupun, saya kabur ke mana?" batinnya.
Pertanyaan selanjutnya, bukankah ia harusnya bersyukur bisa bertemu Venus kala itu? Pria itu membawanya ke istana megah yang tak sembarang orang boleh menginjakkan kaki di sana. Tetapi ia diperbolehkan bahkan tinggal di sini bertahun-tahun.
"Benar... Micellia kau bodoh. Seharusnya berterima kasih karena Pangeran telah memberikan semua yang kubutuhkan. Mungkin ini pemberian Dewa Kehidupan untukku," ujarnya pada diri sendiri.
Jari telunjuknya mengusap-usap kasur yang ia tiduri. Malam itu ia tidak terpejam seperti biasanya. Mengantuk pun tak bisa memejam, terjaga pun terasa berat.
"Benar, seharusnya saya berusaha lebih lagi agar bisa diandalkan oleh Pangeran suatu hari nanti." Ia menyemangati dirinya sendiri.
Tubuhnya terlentang di atas tempat tidur. Matanya mengitari langit-langit ruangan. Ia memandangi kedua tangannya.
"Apa yang terjadi kalau saat itu Pangeran tidak datang?" gumamnya saat ia mengingat kejadian yang hampir merenggut nyawa.
Bluamme, sihir tingkat tinggi itu tidak boleh digunakan sembarangan. Menguras hampir seluruh mana bahkan nyawa. Ia merutuki tindakan gegabahnya saat itu.
__ADS_1
"Ah... saya tidak bisa memakai sihir itu lagi untuk waktu yang lama..." pikirnya.
"Bagaimana kalau tiba-tiba dibutuhkan..."
Ia terlelap saat larut malam. Saat bintang-bintang mulai meredup dan bulan bersembunyi. Seseorang yang ia pikirkan nyatanya masih belum lelap.
Venus duduk di sofanya menghadap balkon. Ia menikmati hembusan angin malam yang dingin. Jubah putihnya ia sampirkan sementara baju tipis membalutnya.
"Haa..." Hembusan itu mengudara dengan tatapan datar dan sendunya.
Ia menatap taman istana yang bunganya belum mekar. Malam yang sepi sangat cocok dengan karakternya. Venus kembali menghembuskan napasnya lelah.
"Apa dia tidak memandangku sebagai pria?" tanyanya entah pada siapa.
"Apa aku terlihat lemah karena harus berada di sampingnya sebagai orang yang butuh ksatria?" gumamnya.
"Apa dia menolakku?"
Ting!
Ia menuangkan minuman dingin ke dalam gelasnya. Menenggaknya cepat sampai menyejukkan kerongkongan. Ini sudah gelas ke-5 tetapi wajahnya belum merah.
Ia tak mengantuk, memang tatapannya yang lesu. "Aku harus segera bertindak kalau tidak petinggi tidak tahu diri itu terus menggonggong," gumamnya.
Diletakkannya gelas terakhir dan ia beranjak dari sana. "Dasar, kakak malah tidak ada di istana saat terjadi hal seperti ini," decaknya.
Ia membayangkan Arzen dengan kesal. Ia tak bisa seperti pria itu, melintasi dua dunia semaunya. Ia harus melindungi kekaisaran seorang diri di sini.
"Hah... ini sudah hari ke berapa? Rasanya seperti menghubungi kakak di masa lalu," gumamnya.
Ia mengirimkan sinyal itu lagi. Sinyal yang menghubungkan hati dua orang bersaudara. Namun, karena rumitnya ruang dan waktu, sihir itu menjadi terkendala.
"Hah... sebenarnya dunia seperti apa yang kakak kunjungi saat ini? Kenapa dia tak membawa manusia itu ke sini saja?"
__ADS_1
Tatapan tajamnya entah ia tujukan pada siapa. "Aku juga ingin tahu, manusia seperti apa yang sanggup diikat oleh penerus kekaisaran?"