Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Shinre Jade Lucy dan Dua Tuan Putri di Istana


__ADS_3

Saat ini, Arzen tengah berada di atas bukit bersama Lucy di sampingnya. Perempuan itu menghabiskan banyak tisu untuk menangis. Arzen mengelus kepalanya dengan ekor lembutnya.


"Apa sudah lebih baik?" tanya pria itu hati-hati.


Lucy menatap tajam Arzen. Lelaki itu terkesiap merasa pertanyaannya salah. Namun, sedetik kemudian Lucy menggeleng.


Ia kembali menangis dan membuat Arzen menghembuskan napasnya. Ia mendekat dan menarik Lucy dalam dekapannya. Ekornya yang besar itu menepuk-nepuk punggung Lucy.


Lucy yang menangis itu perlahan tenang. Ia merasakan kehangatan di tengah malam yang dingin. Mendengar detak jantung Arzen membuatnya nyaman.


"Kau boleh menangis sepuasnya. Tidak akan ada yang terganggu di sini," ucap Arzen.


Lucy sudah lelah untuk melampiaskan semuanya. Hanya air mata yang berbicara sampai membasahi baju pria itu. Ia mencengkeram mantel bulu milik Arzen.


"Bukan salahku, Arzen..." lirihnya.


"Aku tidak melakukan apa-apa kenapa dia membenciku...?" Orang yang ia maksud adalah Karen.


Arzen mengangguk-angguk. Ia membiarkan Lucy bercerita sampai selesai. Gadis itu menceritakan semua yang terjadi di kantor hari ini.


Ia ikut geram ketika nama Sean disebut. Entah mengapa ia kesal tetapi tidak sampai benci pada Sean. Arzen berusaha menyampingkan masalah pribadinya dengan Sean.


"Ah... tetapi aku masih harus bekerja di sana. Bekerja di perusahaan itu adalah impianku sejak masih kuliah," ujarnya sedih.


Arzen mengangguk-angguk, "Mau aku bunuh saja?"


Lucy membelalak, "Tidak, tidak perlu sampai begitu, Arzen. Kau mendengarkanku, tidak?!" Ia membelalak kaget.


Arzen menopang dagunya di pundak Lucy. "Kalau ada yang membuatmu sedih begini, sepertinya lebih baik dilenyapkan saja," bisiknya membuat Lucy merinding.


"Tidak, jangan membuatnya tambah runyam, Arzen..." lirih Lucy.


Arzen tersenyum tipis, "Aku akan menahannya kalau itu maumu," ujarnya.


"Kenapa aku jadi selemah ini setelah bertemu denganmu...?" gumamnya.


Arzen yang masih bisa mendengarnya itu tersenyum. "Kau itu cuma pura-pura kuat," batinnya.


Ia melepaskan pelukannya pada Lucy. Menggenggam kedua lengan gadis itu dan menatapnya lekat. Lucy seolah terkunci netra kelabu Arzen dan menatapnya sendu.


"Aku akan memberimu Shinre Jade," ucap Arzen.

__ADS_1


Ia menatap dalam Lucy, "Aku akan datang kalau kau dalam bahaya," ujarnya.


"Bagaimana bisa?" Lucy tak percaya.


"Aku akan membuktikannya padamu." Pria itu mengatakannya dengan sangat yakin.


Ia menangkup kedua pipi gadis itu. Membawanya mendekat dan mulai memejamkan mata. Semakin menipis sampai habis jarak di antara wajah keduanya.


Di bawah langit malam penuh bintang dan semilir angin berhembus. Di atas bukit dan indahnya lampu-lampu Kota Luxeas yang menjadi saksi bisu. Arzen mengulum bibir ranum Lucy dengan lembut.


Sesuatu yang berwarna merah menyala itu menuruni leher Lucy. Perlahan-lahan hingga sampai dan berhenti di jantung gadis itu. Ia melenguh ketika merasa sedikit sakit di bagian dada.


"Sakit..." cicitnya usai Arzen melepas ciuman.


Arzen mengelus kepala Lucy, "Maafkan aku, ini pertama kalinya aku punya kontrak batin dengan manusia. Aku tidak tahu kalau akan sakit," katanya.


Ia melihat Shinre Jade miliknya bersampingan dengan milik Loofyn. Arzen tersenyum, "Aku percaya padamu dan kau harus percaya padaku, Lucy," ujarnya lembut.


Gadis itu mengangguk, "Sekarang ayo kita pulang saja. Kasihan tetangga yang harus mengurusnya sampai larut malam begini," katanya.


Arzen setuju dan ia bangkit dari duduknya. Pria itu menarik lembut Lucy untuk membantunya berdiri. Dalam sekejap, Arzen berubah menjadi serigala besar.


Lucy menunggangi siluman serigala dan berlari dalam gelapnya malam. Menembus angin dan lebih cepat dari hembusannya. Ia sempat memeluk Arzen dari atas dan merasakan lembut bulu perak itu.


"Kau pikir aku landak?" sahut Arzen bercanda.


Arzen membawanya lari menuju pulang. Perjalanan penuh dengan cerita tentang hari ini. Berbagi tawa dan kehangatan sama lain.


"Arzen," panggil Lucy sesaat sebelum sampai di depan rumah.


"Apa?"


Lucy tersenyum, "Terima kasih."


...>>><<<...


Klotak! Klotak!


"Lihat, perempuan itu masih saja berani dekat-dekat dengan Yang Mulia Pangeran Ketiga!" bisik seorang putri bergaun kuning.


Yang bergaun cokelat muda itu menimpali. "Memang tidak tahu malu! Padahal dia gadis kampung bisa-bisanya berjalan setara dengan calon suami kita," katanya.

__ADS_1


Mereka berdua berada di dalam kereta kencana. Matanya saling memicing menatap Micellia dan Venus dari kejauhan. Di balik kipasnya bibir mereka mencibir dengki.


Kemudian mereka turun ditemani dayang dan pengawal. Melangkah menemui Venus yang baru saja sampai di depan taman. Micellia yang mengetahui situasi formal itu segera menyesuaikan posisi.


Ia bertindak sebagai Pilar Ksatria yang selalu berada di samping Venus. Pria itu tak menyuruhnya untuk melindungi dirinya. Ia hanya menyatakan kalau ini sebatas keresmian saja.


"Salam bagimu, Yang Mulia Pangeran Venus," ucap lembut putri bergaun kuning.


"Salam bagimu, Yang Mulia Pangeran Venus," sahut si gaun cokelat.


Venus mengangguk saja, "Apa yang membuat kalian ke sini?" tanyanya.


"Kami diutus untuk memberikan surat dari ayahanda untuk Yang Mulia Pangeran Venus," ucap si gaun kuning.


Pengawalnya menyerahkan surat yang dimaksud. Venus menerimanya, "Akan aku baca dan balas segera," ujarnya.


"Micellia, suruh mereka masuk dan panggilkan beberapa pelayan untuk menjamu tamu kita," perintahnya pada Micellia.


Gadis yang memakai armor itu mengangguk hormat, "Baik, Yang Mulia."


"Tuan Putri Lin dan Tuan Putri Xua, mari saya antarkan ke taman asri," ujarnya.


Dua tuan putri itu mencebik dalam hati. Mereka menahan cibiran sampai Venus pergi. Setelahnya, mereka mulai menyeringai dari belakang Micellia.


Micellia yang memiliki insting tajam itu ingin sekali menghadap ke belakang. Ia bisa saja reflek menarik pedang atau menghembuskan sihir bunganya. Ia tahu apa yang dipikirkan oleh dua tamu terhormat di belakangnya.


Meski begitu, ia tetap melakukan tugasnya dan melayani mereka dengan baik. Para pelayan dipanggil untuk menjamu. Sedangkan ia bertugas menjaga dan mengawal keduanya sampai Venus kembali dengan balasan surat.


"Hei, apa kau perempuan?" celetuk Putri Xua, si gaun cokelat.


Micellia yang merasa dirinya terpanggil itu menoleh. "Benar, Tuan Putri Xua, saya perempuan," ujarnya.


"Apa benar? Kenapa tidak memakai gaun dan malah memakai baju seperti itu? Seperti laki-laki saja," ujar Putri Xua dari balik kipasnya.


"Sepertinya saya terlambat memperkenalkan diri. Saya Micellia, Panglima Pilar Ksatria Yang Mulia Pangeran Venus." Mendengar hal itu dua orang yang duduk di sana membelakak.


Mereka tak jadi minum teh saking tidak percayanya. Putri Lin mendelik, "Mana ada panglima perang perempuan seperti kau!" katanya.


"Benar, padahal tinggal bilang tidak ada uang untuk beli gaun," timpal Xua.


Micellia tak menanggapi hal itu. Ia sudah pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya. Jadi, ujaran sindiran mereka bukan apa-apa lagi baginya.

__ADS_1


"Apa hubunganmu dengan Yang Mulia Pangeran?"


__ADS_2