
Sejak dua hari yang lalu Loofyn dan Serena berbaikan keduanya semakin melekat. Meski terkadang Loofyn lebih banyak mengalungkan pelukannya pada Lucy. Serena melalukan pendekatan yang lebih gencar.
Ia memberikan semua mainan yang mungkin disukai Loofyn. Ia bahkan memohon untuk tidur bersama Loofyn. Semalam Serena tidur di Eastolf di kamar yang disediakan untuk Loofyn.
"Mereka benar-benar melekat, kenapa aku malah jadi kesepian begini?" keluh Lucy meski sebenarnya ia sangat senang.
Itu berarti ia memiliki peluang untuk menerima maaf dari Serena. Ia jadi teringat saat pertama kali Loofyn dan Serena menghabiskan waktu bersama di taman. Mereka menangis sesenggukan sampai tertidur di paviliun.
Lucy terharu melihat bagaimana tangan Serena memeluk Loofyn. Ia menyelimuti keduanya daripada membangunkan mereka. Ia pergi dari sana membiarkan dua orang itu terlelap.
"Baguslah, kau jadi ada waktu untukku," celetuk Arzen.
Lucy menoleh, "Kenapa jadi kau?"
Arzen mencebik, "Sejak kau datang ke sini, waktuku denganmu jadi semakin sedikit. Itu membuatku sedih," gerutunya.
Memang benar adanya. Ia malah semakin jarang bersama gadis itu daripada saat di dunia manusia. Pekerjaan yang selama ini ia tinggal sangat banyak dan harus ia selesaikan segera.
Saat sudah malam pun ia hanya menilik Lucy yang sudah tidur di kamarnya. Ia semakin sedih karena Lucy meminta untuk tidur di kamar sendiri. Meski sebenarnya kamarnya tak jauh dari kamar gadis itu.
"Tetap saja..." batinnya kecewa.
Ia menggerutu saat berada di kamar sendiri. Meski demikian, ia tak mau memaksa Lucy untuk membiarkannya tidur di kamar. Ia juga menghargai batasan yang ada.
"Hah... aku juga tidak bisa menjamin akan baik-baik saja satu ranjang dengannya," pikirnya.
Lucy menyenggol lengannya, "Kenapa malah melamun?"
Arzen tersenyum kikuk, "Tidak apa-apa. Kau tidak ada kegiatan, kan? Ayo jalan denganku," bujuknya.
Lucy tampak berpikir. Arzen mengguncang-guncang tubuh kecil Lucy. "Ayolah, biarkan Loofyn dengan Serena. Kau kan sudah susah-susah membuat mereka berbaikan," rengeknya seperti anak kecil.
"Haaa, iya iya, hentikan!"
Arzen berhenti mengguncangkan tubuh Lucy. Ia tersenyum senang, "Baiklah. Aku akan membawamu menjelajahi seluruh istana hari ini!" ujarnya antusias.
"Jadi, apa ada hal yang ingin kau lakukan di dunia ini?" tanya Arzen.
"Aku rasa tak akan selesai kalau kusebutkan semuanya," balas Lucy tersenyum lebar.
__ADS_1
Arzen melebarkan matanya, "Astaga, kenapa kau tersenyum cantik seperti itu?!" Ia memegangi dadanya yang bergemuruh.
Pria itu mengulurkan tangannya, "Kalau begitu, mau berangkat sekarang, Tuan Putri Lucy Armeone?"
Lucy tersenyum senang. Ia merasa seperti putri dalam negeri dongeng. Tangannya menyambut uluran tangan Arzen.
"Dengan senang hati, Yang Mulia Kaisar Arzen."
Keduanya mulai mengitari istana mulai dari samping Eastolf. Lucy berdecak kagum melihat hamparan kebun buah. Ia bahkan mencicipi buah yang tidak ada di dunia manusia.
Ada beberapa yang ia tak suka karena aneh. Namun banyak juga yang membuat lidahnya suka. Lucy bahkan belajar bagaimana cara berkebun dengan tukang kebun kerajaan.
"Tuan putrimu sangat bersemangat melakukan ini, Yang Mulia. Aku tak pernah mendengar ada seorang putri yang mau menginjak tanah apalagi membuat gaunnya kotor di kebun," ucap tukang kebun itu.
Arzen tersenyum, "Kau tahu dia berbeda. Apa kau tidak menerima manusia?"
Tukang kebun itu menggeleng, "Saya tidak membenci siapapun, Yang Mulia. Kalau memang Yang Mulia mencintainya, mengapa tidak?"
Arzen tersenyum puas mendengarnya. "Baguslah. Aku berencana memperkenalkannya pada seisi istana hari ini. Aku ingin mereka semua mengenal dan menerima tuan putriku ini," katanya.
Tukang kebun itu tersenyum, "Dengan sifatnya yang periang itu, saya yakin semuanya akan mudah menyambutnya dengan hangat," tuturnya.
Dengan senang hati lelaki itu menghampiri Lucy. Ia menemani gadis itu bersenang-senang di kebun sampai puas. Ia percaya masih ada hari esok untuk meski Lucy harus berkebun seharian.
"Di dunia manusia bentuknya bulat, kan? Unik, kan? Hahaha, aku bangga mendengarnya darimu," kelakarnya.
Mereka bercanda satu sama lain. Kemudian berpindah ke menara di Eastolf. Lucy ingin mencoba menaiki tangga sampai ke puncaknya.
"Kau yakin? Aku bisa membawamu dengan cepat—" Lucy menggeleng, "Aku ingin merasakannya dengan kakiku sendiri," katanya.
"Kau akan lelah dan kakimu bisa sakit, Tuan Putri," ujar lelaki itu.
Lucy tersenyum, "Kan kau bisa menyembuhkanku seperti hari itu."
Senyum Arzen merekah lagi. Ia merasa senang ketika Lucy percaya padanya. Mereka berdua memutuskan untuk menaiki tangga yang jumlahnya tak terkira itu.
Lucy hampir saja pingsan setelah sampai di puncak. Arzen harus menopangnya dengan memberikan mana sihirnya. Ia kembali semangat melihat daratan melalui Menara Eastolf.
"Astaga, seharusnya aku membawa ponsel dan memotretnya," katanya.
__ADS_1
"Kau membawa pun sepertinya aku tak bisa mengisi baterainya. Tidak ada yang mengenal benda itu di sini," balas Arzen.
Mereka kembali menjelajahi tempat lain. Kali ini Arzen menggendong gadis itu lalu melompat dari menara. Para prajurit dibuatnya terkejut atas tindakan nekad barusan.
"Yang Mulia, Anda tidak apa-apa?" seru salah satu dari mereka dari atas menara.
Arzen memberikan sinyal bahwa mereka baik-baik saja. Hanya memang Lucy merasa sedikit pusing. Ia kira ia akan melayang saat itu juga.
"Kau mau membunuhku, hah?!" Arzen tertawa mendengarnya, "Tetapi itu seru, kan?"
Lucy tak bisa berbohong. Kemudian ia menarik Arzen pergi ke taman depan. Air mancur megah itu membuatnya tertarik.
"Tinggi sekali," gumamnya.
"Wah, bunga-bunga di sini sangat cantik. Pasti para pelayan merawatnya dengan baik," pujinya.
Jejeran pelayan itu membungkuk mendengarnya. Mereka berterima kasih atas pujian yang dilontarkan gadis itu. Arzen menjentikkan jarinya sekejap lalu hamburan kelopak bunga menghujani mereka.
Lucy berlarian antusias. Ia melupakan sejenak tentang umurnya dan hanya menikmati apa yang ada di depannya. Hampir saja ia terjatuh kalau tidak ditangkap Arzen.
"Tuan Putri yang satu ini cukup ceroboh, ya?" ledek Arzen membuat Lucy tersenyum malu.
Ia meminta para pelayan meninggalkannya berdua dengan Lucy. Kemudian ia menarik tangan gadis itu dan mereka jatuh di hamparan rumput yang luas di tengah taman. Lucy jatuh menimpa dirinya.
"Kenapa kau malah menarikku? Lihat aku jadi jatuh menimpamu," ujar gadis itu.
Arzen terkekeh, "Tidak apa-apa. Aku sengaja membuatmu jatuh padaku," katanya.
Lucy membelalak, "Apa maksudmu? Ayo kita berdiri." Tangannya ditahan olehh Arzen.
"Aku sengaja membuatmu jatuh padaku. Tetapi ini bukan tentang dirimu saat ini jatuh ke tanah," ungkapnya lembut.
Lucy menatap Arzen dengan matanya yang cantik. Hembusan angin menggoyangkan rumput dan tangkai bunga. Pipinya bersemu merah muda.
Arzen tersenyum dan menuntun kepala gadis itu untuk tertidur di dada bidangnya. "Rasakan hembusannya, menenangkan, bukan?"
Lucy mengangguk. Padahal telinganya mendengar gemuruh di dada Arzen. Berdegup tenang tetapi juga berisik.
"Sebentar saja tidak apa-apa kan, Tuan Putriku?"
__ADS_1
Lucy mengangguk kecil, "Iya, Yang Mulia."