
"Bagaimana kau bisa tersenyum dan sakit secara bersamaan seperti itu?"
Pertanyaan itu terus berputar di pikiran Arzen ketika ia melihat Lucy. Mereka berada di jalan pulang dari kantor menuju rumah. Arzen hanya terbengong menyaksikan senyum hangat Lucy di hadapannya.
"Astaga, suasana kenapa jadi begini?" Ia menepuk lengan Arzen.
"Ayo, di ujung sana ada minimarket. Aku akan traktir es krim sebagai ucapan terima kasih!" ujar Lucy dengan antusias.
Barusan ia mencairkan suasana dengan mengalihkan topik. Apalagi mengimingi Arzen dengan makanan dingin yang menjadi kesukaannya di dunia manusia. Makanan bernama es krim itu tidak ada di dunianya.
Arzen menyudahi kegelisahannya. Ia mengangguk dan mengekori Lucy menuju minimarket. Gadis itu tidak terlihat ingin membicarakan apa yang sedang ia rasakan.
"Aku akan membeli yang vanila, Arzen bagaimana?" Lucy menyodorkan satu cup es krim berwarna putih susu itu.
Arzen melirik ke dalam kulkas. Ia terbelalak melihatnya. Ia pikir akan sama seperti milik Lucy.
Ada lebih banyak es krim di sana sedangkan Lucy hanya punya satu kotak medium. Arzen tak ada waktu untuk menghitung berapa bungkus yang ada di sana. Ia melihat ke arah Lucy penasaran.
"Apa tidak bisa semuanya?" tanyanya dengan raut wajah polos.
Penjaga minimarket yang tak sengaja mendengar itu menahan tawanya. Seorang wanita paruh baya tersenyum melihat interaksi Lucy dan Arzen yang mampir di kulkas es krim. Lucy tengah mengomeli lelaki itu karena seenak jidat ingin membeli semuanya.
"Kau gila?! Darimana aku ada uang, ha?! Aku bukan kaisar sepertimu yang bisa membeli satu toko!" omelnya.
"Punya uang pun untuk apa membeli semuanya?! Kau mau makan sampai mereka mencair dan basi, ha?!" omelnya lagi.
Arzen cemberut mendengar ucapan Lucy. Kalau ia bisa mengeluarkan telinganya mungkin Lucy bisa luluh. Gadis itu menatapnya tajam dengan mengacungkan jari telunjuk.
"Tidak mempan. Cepat pilih yang mana saja asalkan satu tidak semuanya!" pungkas gadis itu sembari berkacak pinggang.
Arzen menghembuskan napasnya pasrah. "Kalau begitu yang warna hijau. Terlihat seperti darah orc–hmmpp!"
Mulutnya langsung dibungkam oleh Lucy. Ia membungkuk minta maaf pada pengunjung yang datang. Gadis itu takut kalau kalimat Arzen terdengar menganggu dan aneh.
"Baru kali ini seorang kaisar dibungkam oleh rakyat—"
Lucy melotot, "Diam! Kau gila, ha? Perhatikan kalimatmu kalau sedang berbicara di dunia manusia!" omelnya dengan berbisik.
__ADS_1
Ia melepas bekapan tangan dari Arzen. Membuat lelaki itu hampir kehabisan napas sebelum akhirnya mengusap kasar. Ia terkejut dengan keberanian Lucy yang menyentuh wajahnya.
Tidak, kalau dipikir kembali, ia sudah pernah disentuh oleh Lucy. Apalagi yang belum lama terjadi saat ia pulang kehujanan. Tulang pipinya merona merah mengingat hari itu.
"Sial...! Aku terlalu gegabah saat itu!" batinnya.
Ia kemudian keluar saat Lucy membayar belanjaannya. Ia tak bisa berlama-lama dan harus menenangkan dirinya terlebih dahulu. Lucy bisa menertawainya kalau tahu.
"Sial...! Aku tidak percaya kalau dia tidak punya sihir...!" batinnya kesal.
Ia berharap sejuknya angin malam dapat mengusir semburat merah di wajahnya. Ia berharap ketenangan malam menular pada jantung yang bergemuruh. Perasaan asing itu menyesakkan dadanya.
"Apalagi ini?! Hah, kenapa panas sekali padahal sudah malam!" gerutunya.
"Kau kenapa menggerutu seperti itu? Ini es krim teh hijaumu," ujar Lucy yang baru saja keluar dari minimarket.
Ia membuka kantong kertas dan menyodorkan es krim milik Arzen. Keduanya memutuskan berhenti sejenak untuk membuka es krim. Arzen nampak curi-curi pandang pada es krim yang dibeli Lucy.
"Apa itu sama seperti yang di rumah?" Ia bertanya.
Es krim teh hijau miliknya terasa lebih segar daripada 'creamy' seperti milik Lucy. Gadis itu menoleh dan menggeleng ragu. "Tidak juga, berbeda rasa tetapi sama-sama manis," katanya.
Lucy terkekeh, "Warna dan namanya saja sudah berbeda, apalagi rasanya."
"Punyamu itu rasa teh hijau, lalu punyaku vanila. Sedangkan yang ada di rumah rasa krim susu," paparnya.
Arzen tak lagi menggigit es kirimnya, "Seharusnya kau memberitahuku dulu..." ucapnya sedikit kecewa.
"Kau sendiri yang memilihnya, kupikir kau suka rasanya," sahut Lucy.
Arzen sudah menghabiskan es krimnya setengah. Sedikit lagi mereka akan mencair bahkan sudah mulai menetes. Lucy yang melihat itu menghela napasnya.
"Dia ini bayi besar..." batinnya.
"Kau mau punyaku?" tanya Lucy sembari menyodorkan es krimnya yang masih setengah juga.
Arzen ingin tetapi juga ragu. Lucy sudah membelikannya dan ia sendiri yang memilihnya. Ini seperti memilih taktik perang, risiko ditanggung sendiri.
__ADS_1
"Tidak, aku akan menghabiskannya punyaku," ucap Arzen dengan lesu.
Lucy mengambil sesuap kecil. "Makan. Makan ini nanti aku juga makan punyamu," ucapnya.
Meski ragu, pria itu akhirnya mengiyakan tawaran Lucy. Ia memakannya langsung dari sendok gadis itu. Kemudian Lucy juga mengigit ukuran besar untuk membantu menghabiskan es krim teh hijau itu.
"Hm, punyamu memang rasanya ada sedikit pahit," ujarnya setelah menelan dan menerka bagaimana rasa es krim teh hijau.
"Tunggu—"
Lucy baru menyadari sesuatu setelah Arzen menelan es krim vanila. Lelaki itu memandangnya dengan tanda tanya di muka. Ia berbalik badan menghadap lurus ke depan.
"Bodoh!" gerutunya.
Lucy berjongkok dan menutup telinganya. Ia gemetar sembari memegangi bibirnya. "A–apa ini ciuman pertamaku dicuri...?" pikirnya.
Ia baru saja menyuapi Arzen dengan sendok yang juga digunakan olehnya. Ia juga mengigit es krim milik Arzen. Lucy berulang kali merutuki dirinya yang menganggap kejadian ini adalah 'stolen first kiss' baginya.
"Aaa, kenapa aku harus melakukannya dengan Arzen...!" racaunya yang berpura-pura menangis.
Arzen yang ada di sampingnya hanya menatap polos. Lagi-lagi wajah tanpa dosa itu ia tunjukkan. Berbeda dari imeji kaisar tegas yang selama ini tersemat pada dirinya.
"Kau kenapa seperti itu?" celetuk Arzen.
Lucy mendengus menanggapinya. Ia kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Arzen. Pria itu benar-benar dibuat bingung oleh tingkahnya.
Alhasil, Arzen harus mempercepat langkahnya menyamai gadis itu. Mereka pulang setelah puas makan es krim. Arzen juga sudah menerima bahwa ia harus menghabiskan es krim rasa teh hijaunya.
"Yah, es krimnya tidak seburuk itu. Rasa pahit-pahitnya seperti bersembunyi dan menampakkan di saat-saat tertentu," ujar Arzen.
Ia menambahkan, "Rasa yang unik!" pujinya pada es krim teh hijau.
"Hei, aku menemukan seperti filosofi pada es krim. Kau tahu, Lucy? Memilih rasa es krim bagiku seperti memilih taktik perang di dunia magis," ungkapnya.
"Aku harus siap setelah mengetahui hasil dan risikon," lanjutnya.
Ia memang bercerita tetapi kali ini Lucy hanya diam. Gadis itu setengah mendengarkan setengah memikirkan hal lain. Lebih tepatnya, tentang momen ia makan es krim dengan Arzen tadi.
__ADS_1
Arzen menoleh pada Lucy, "Kau kenapa? Apa sudah lelah? Aku bisa menggunakan sihir pengubah wujud sekadan," ujarnya sembari celingukan memastikan tiada orang di sana.
"Lucy—"