
Arzen menegurnya karena Venus
meragukan Lucy karena ia menjalin kontrak batin dengannya. Keduanya saling bersitegang di taman yang asri ini. Bahkan Micellia jadi bingung bagaimana melerai keduanya dan mengusir suasana canggung di antara mereka.
“Anu...” gumamnya.
Ia tanpa ragu meraih kotak berisi
kue kering itu dan menghirup harumnya. “Wah, harum sekali baunya. Apa ini boleh dimakan?” ucapnya terbata.
Sesungguhnya, ia takut salah bicara
dan membuat dua orang itu memarahinya. Arzen menoleh lebih dulu, “Yah, Lucy memang membuatnya untuk dimakan. Padahal ia membuatnya khusus untuk Venus. Tetapi karena si bodoh ini tidak mau, kau boleh menghabiskannya,” balasnya.
Venus memicing ke arahnya. Micellia menelan salivanya, sepertinya suasana bertambah rumit. Ia berinisiatif menuangkan teh pada gelas kosong mereka.
“Lihat, ternyata Nona Lucy sangat mahir membuat kue,” pujinya sembari menunjukkan isi kotak kue itu.
Arzen mengacungkan jempolnya, “Tentu saja,” ucapnya.
“Micellia, kau sebaiknya makan satu dan tunjukkan pada si bodoh ini,” pintanya pada gadis itu.
Tanpa basa-basi Micellia mencoba satu. Ia sudah tahu dari aromanya yang harum. Lidahnya benar-benar dimanja oleh manisnya kue buatan Lucy.
Bahkan ia sampai tak tahu harus berkata apa. “Apa ini dari bahan kualitas terbaik?” tanya Micellia.
“Sejujurnya aku sendiri kurang tahu. Aku tidak tahu apa yang menjadi patokan kualitas di dunia manusia,” ujar Arzen.
“Ini sangat lezat, Yang Mulia Kaisar,” pujinya. Venus mulai tertarik saat mendengar ucapan itu dari Micellia.
Kedua mata gadis itu benar-benar berbinar hanya karena sekeping kue kering. Padahal itu adalah pemberian dari Lucy yang dibuat khusus untuknya. Ada sedikit rasa kesal ketika bukan ia yang menyicipinya pertama.
Arzen mulai menangkap sesuatu yang
menarik. Ia diam-diam tersenyum melihat Venus yang terlihat menginginkan kue kering. Ia berhasil membujuknya melalui Micellia.
“Dia memang melekat dengan Micellia, ya?” batinnya. Ia sebenarnya sudah tak heran lagi dengan cara Venus menatap Micellia.
Tak bisa ia pungkiri kalau itu menjadi salah satu alasan gadis itu diangkat menjadi Pilar Ksatria. Tentu saja agar Micellia selalu berada di bawah pengawasan Venus. Adiknya itu benar-benar tak
melepaskan pandangannya pada Micellia.
__ADS_1
“Berikan padaku,” pintanya pada Micellia.
Gadis itu memberinya sekalian dengan kotak makannya. Venus terlihat ragu meski akhirnya ia ambil juga. Sepertinya mereka berdua tidak berbohong, lidahnya sangat menerima rasa lezat kue kering buatan Lucy.
“Hm, enak juga,” gumamnya.
“Benar, Pangeran. Ini sangat lezat, saya jadi ingin bertemu dan belajar langsung padanya cara membuat kue ini,” sahut Micellia dengan antusias.
Arzen tersenyum bangga. Ia seperti mendapatkan dukungan untuk membujuk Venus menerima Lucy di antara mereka. Dengan begitu, ia bisa membawa gadis itu suatu hari nanti tanpa khawatir.
“Bagaimana? Apa kau mengakuinya meski seujung jari?” tanya Arzen.
Venus mengangguk, “Baiklah. Aku kalah,” ujarnya.
Arzen bernapas lega, “Hah, aku bisa membawanya kemari tanpa cemas kalau begitu,” katanya.
Venus dan Micellia menatap kompak, “Apa tidak apa-apa manusia dari dunia lain pergi ke dunia magis, Yang Mulia?” tanya Micellia.
“Itu sebenarnya sedang kupikirkan. Seharusnya tidak ada masalah. Aku akan menanyakannya ke menara sihir agung nanti,” sahut Arzen.
“Jadi, bagaimana dengan Loofyn? Apa anak itu tak bisa lepas dari manusia itu?” tanya Venus.
Venus dan Micellia baru pertama kali ini melihatnya. Arzen selalu gagah perkasa di medan perang. Tak pernah sedikitpun mereka melihat lelaki itu menangis sedikitpun.
Venus jadi merasa bersalah pada Arzen mengenai Lucy. Ia menatap kue kering dalam kotak. Mengambilnya satu keping lagi dan memakannya.
“Hm, ini enak. Aku akan menyambutnya dengan baik saat dia ke sini nanti,” ucapnya.
Arzen sedikit terhibur mendengarnya. Ia kembali ke raut wajah semula tak lagi sedih. Sepertinya Venus sudah sepenuhnya mendukung keputusan yang ia ambil.
“Saya juga akan menyambutnya dengan baik, Yang Mulia!” sahut Micellia antusias.
Tujuan Arzen memilih taman permaisuri hanya untuk bersantai sembari menikmati kue buatan Lucy. Ia mengakui dalam hati kalau sedikit ada rasa rindu pada sang ibunda. Padahal sudah lama sekali permaisuri meninggal, tetapi Arzen masih terus merindukannya.
“Kalau begitu, aku akan kembali ke kamarku. Kalian
berdua nikmati saja tea time-nya,” ujar Arzen lalu beranjak dari sana.
Venus dan Micellia hanya membungkuk sopan dan membiarkan pria itu pergi. Sepanjang jalan melalui lorong luar, ia mengamati setiap sisi istana. Banyak yang berubah sejak perang beberapa tahun yang lalu.
“Hah... aku harap istana permaisuri tidak berubah sampai kapanpun,” gumamnya.
__ADS_1
Drak! Drak! Drak!
Arzen mengernyit kesal. Langkah kaki siapa yang mengganggu kedamaiannya hari ini. Padahal ia baru saja sampai di istana dan ingin beristirahat.
“Kau lagi?”
Seorang wanita bergaun hitam berdiri tak jauh di depannya. Ia menutup kipas dan bersedekap tangan. Wajahnya juga menampakkan raut kesal bertemu Arzen.
“Padahal aku datang ke sini berharap kau membawa Loofyn pulang,” sesalnya.
Arzen mendelik, “Kalau begitu kembalilah ke istanamu karena aku tak membawa anak itu bersamaku,” balasnya.
Wanita bergaun hitam itu mencebikkan bibirnya. Ia sama sekali tak senang dengan jawaban Arzen. “Apa
maksudmu? Apa kau berniat memisahkannya dariku?!”
“Tentu saja. Melihat perangaimu sepertinya aku sudah tepat,” sahut Arzen cepat membuat perempuan itu geram.
Ia melangkah dengan kaki jenjangnya. Sepatu tingginya bergemelotak menginjak lantai. Ia tepat berada di hadapan Arzen sekarang.
“Jaga sikapmu, Arzen! Kalau saja bukan karena kakakku, aku tak akan mengampunimu!” bisiknya tajam.
Arzen menatapnya remeh, “Aku baru dengar ada tamu yang menyuruh tuan rumahnya menjaga sikap, Serena,” balasnya tak kalah sengit.
Tentu saja hal itu mengundang decak geram Serena. Ia menyibak rambut pirangnya ke belakang. “Dasar brengsek! Apa aku tak bisa bertemu dengan keponakanku sendiri?!” Ia mencekal kerah Arzen.
Prajurit yang hendak menghampiri itu dicegah oleh Arzen. Serena menatapnya nanar, “Kau sudah membuatku berpisah dengan kakakku. Lalu sekarang kau memisahkanku dengan satu-satunya anggota keluargaku?” keluhnya.
Bug!
“Biarkan aku bertemu atau melihat wajahnya. Ah, aku bahkan tak tahu bagaimana penampilan Loofyn sekarang...” rintihnya setelah memukul dada pria itu.
Ia terlihat pasrah dan memohon pada Arzen. Sayangnya, sedikitpun lelaki itu tak luluh. Ia memang ada selisih paham dengan Serena sejak kematian Carenine.
Mental Serena tak stabil saat itu karena sangat terguncang. Dari keluarga Leux hanya ia yang masih hidup. Sehingga tak memungkinkan Loofyn diserahkan padanya.
Untuk itulah Arzen yang ditugaskan untuk merawat bayi Loofyn. Ia tak menyangka di saat-saat terakhirnya, Carenine bisa membuka gerbang ke dunia manusia. Dari situlah ia bertemu dan hidup
bersama dengan Lucy.
“Di mana dia sekarang, Arzen?”
__ADS_1