Love Baby Wolf

Love Baby Wolf
Senang-Senang di Hari Libur


__ADS_3

"Aku akan kembali sebentar. Sepertinya Venus membutuhkanku," ujarnya.


Lucy yang hendak menyuapi Loofyn itu berhenti. "Apa terjadi sesuatu yang berbahaya?" tanyanya memastikan.


"Tidak juga. Tetapi aku akan menyelidikinya dulu." Arzen menyudahi sarapannya dan mencuci piring.


Lucy lanjut menyuapi Loofyn sampai selesai. "Baiklah, kau akan berangkat sekarang?"


Arzen mengangguk, "Mungkin nanti malam. Pagi terlalu mencolok karena semua orang belum tidur," ujarnya.


"Ah, baiklah. Aku akan memberimu sesuatu untuk kau bawa."


Arzen mengernyit, "Sesuatu?" batinnya.


Ia menunggu Lucy menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Gadis itu tetap bangun pagi meski ini adalah hari kedua ia libur. Pagi-pagi sekali ia sudah memasak dan membersihkan pantry.


"Kalian mandilah, aku sudah mandi. Hari ini ayo bermain di luar!"


FLOPP!


"Ah, maaf aku tidak sengaja." Arzen menyembunyikan rasa malunya karena telinga dan ekornya mencuat.


Lucy tertawa melihat kedua serigala itu sangat antusias mendengar kata 'bermain'. Mereka kompak menegakkan telinga dan ekor. Lucy menyebutnya insting serigala rumahan.


"Ah, memalukan..." gumam Arzen sembari menunduk terduduk di sandaran sofa.


Lucy tersenyum dan menghampirinya. "Hei, aku suka kalau kau mengeluarkan telinga dan ekormu seperti ini dengan lucu," ucapnya.


Arzen sedikit cemberut, "Lucu?" Ia tak pernah mendengarnya selama ini.


Puk! Puk!


Lucy mengelus kepala Arzen. Sesekali ia memegang telinga yang lembut itu. Ia tak tahu memainkan telinga serigala seperti itu bisa membuatnya dalam masalah.


"Uh... hentikan, apa yang sedang kau lakukan, Lucy?" desahnya.


Lucy tertawa dan masih memegangi telinga Arzen, "Aku hanya memegangnya. Telingamu lembut sekali seperti boneka," ujarnya.


Semburat merah semakin memenuhi wajah Arzen. "Apa kau bilang? Ngh... hentikan," lirihnya.


Lucy mengabaikannya. Ia semakin gencar dan lama-lama 'membangunkan' Arzen. Lelaki itu menyandarkan kepalanya di dada Lucy.


"Kubilang berhenti..."


Grep!


"Akh..!" Lucy memekik saat pinggangnya dicekal oleh Arzen.


Pria itu mecengkeramnya dengan kedua lengan. Setiap jarinya merasakan lekuk ramping tubuh Lucy. Ia berusaha mengendalikan hasratnya untuk 'menyerang' gadis itu.

__ADS_1


Ia mendekatkan tubuh gadis itu dengan wajahnya. "Kau harus sadar sudah membangunkan serigala buas," bisiknya.


"Apa yang kau lakukan, Arzen? Tunggu—"


Cup♡


Lelaki itu mencium perutnya. Membuat Lucy menahan ingin menjerit terkejut. Ia hampir saja meremas telinga Arzen.


"Tunggu, dulu! Arzen...!"


Pria itu menyeringai, "Kau milikku sekarang. Tak akan kubiarkan seorang pun menyentuhmu," bisiknya membuat Lucy tersipu.


"Apa maksudmu?!"


"Tubuh ini semuanya milikku." Jari telunjuk Arzen mengelus dari bawah dada hingga pinggang gadis itu.


Lucy mendesis menahan geli. Arzen tersenyum jahil, "Hentikan, Lucy. Kali ini aku bisa menahannya," ujarnya.


Ia melepaskan Lucy dan mengecupnya di bibir dengan singkat. "Lihat, wajahmu seperti tomat," godanya.


Ia membuat Lucy mematung di tempat. Sementara ia buru-buru pergi ke kamar mandi dan mengunci pintu. Bisa berbahaya kalau ia tetap berada di dekat Lucy tadi.


Ia menenangkan dirinya dengan mengatur napas. "Hah, yang tadi itu berbahaya. Bisa-bisa 'dia' bangun," gumamnya.


Lucy mengipasi dirinya sendiri dengan tangan. Tiba-tiba udara terasa panas dan membuatnya gerah. Ia berusaha melupakan apa yang baru saja terjadi.


Namun, kecupan lelaki itu masih terasa di perutnya. Ia mengusapnya gusar berharap hilang. Arzen membuatnya gila.


Anak kecil itu sedang mencari mainannya tadi selagi Lucy dan Arzen sibuk berdua. Ia bingung kenapa Lucy semerah itu wajah sampai telinganya. Karena itu Loofyn bertanya kenapa.


"Tidak ada, Loofyn. Tiba-tiba panas udaranya, sepertinya sebentar lagi akan musim panas," ujarnya cepat.


Ia menggendong Loofyn dan membawanya ke taman belakang. "Kau mau mandi sambil bermain?" tanya Lucy.


"Main!" Loofyn berteriak antusias.


Lucy menyiapkan kolam renang anak yang sudah ia pompa. Ia mengisinya dengan air hangat dan mainan karet. Satu keluarga bebek karet menjadi favorit Loofyn saat ia mandi.


"Mama seru!" Anak itu mulai menyipratkan air.


"Aduh, Loofyn mama jadi ikut basah kan bajunya," ujar Lucy.


Ia membiarkan Loofyn bermain air sebentar. Ia bisa berganti baju sebelum pergi nanti. Setelah ia rasa cukup, ia membilas bersih Loofyn dan mengeringkannya dengan handuk.


"Sudah selesai, sekarang ayo ganti baju."


Loofyn berlari dengan telinga dan ekor yang sudah kering. Ia meninggalkan Lucy yang tengah membereskan peralatan. Loofyn belajar bagaimana ia memakai pakaiannya sendiri.


"Mama, baju Fyn, tolong!" Ia merentangkan kedua tangannya ketika tangannya licin untuk mengancingkan baju.

__ADS_1


"Sini mama bantu. Caranya seperti ini. Pelan-pelan saja, ya," ucap Lucy.


Ia menyisir rambut Loofyn. Memberinya minyak wangi bayi dan krim bayi. Loofyn sudah rapi dan wangi sekarang.


"Sekarang Loofyn tunggu papa di sofa, ya? Duduk manis karena Loofyn anak baik," pintanya pada Loofyn.


Anak itu mengangguk dan menuruti Lucy. Sementara itu ia berganti baju dan bersiap. Tepat ia masuk, Arzen keluar dari kamar mandi.


Ia sudah siap dengan hoodie yang Lucy berikan beberapa hari yang lalu. Warna abu-abunya senada dengan kemeja Loofyn. Mereka menggunakan barang 'couple' antara ayah dan anak.


Cklak!


"Sudah siap. Oh, Arzen juga sudah selesai," ujar Lucy begitu ia membuka pintu.


Gadis itu mengenakan dress selutut berwarna kelabu. Bunga-bunga berwarna hitam dan putih menghiasi hampir seluruhnya. Pakaiannya sudah senada dengan dua orang di hadapannya.


"Mama bajunya sama!" Loofyn menunjuk ke arah Lucy.


Gadis itu mengangguk senang, "Tentu saja. Ini namanya couple!"


"Eh?!" Lucy tiba-tiba mengalihkan wajahnya.


Ia menyadari apa yang barusan ia katakan. Tangannya mengibas, "Sudahlah. Tidak apa-apa, sekali-sekali," batinnya.


Arzen tersenyum, "Baju mama cantik, ya?" tanyanya pada Loofyn.


Anak itu mengangguk, "Mama cantik!"


"Terima kasih!" Lucy tersenyum lebar sampai gigi rapinya terlihat.


Mereka bersiap untuk pergi keluar hari ini. Siapapun yang melihat mereka mengira bahwa tiga orang ini adalah satu keluarga harmonis. Keluarga impian semua orang.


Hari ini aura keibuan Lucy terpancar. Bahkan membuat Arzen menahan cemburu karena banyak orang melirik Lucy. Gadis itu hanya tertawa melihatnya.


Mereka bergantian menggendong Loofyn. Ada kalanya Loofyn berjalan sendiri atau digandeng. Mereka benar-benar bersenang-senang hari ini.


"Aku mau membeli sesuatu. Setelah kita belanja kita bisa main sepuasnya! Ups!" Lucy langsung membungkam mulutnya.


Ia takut telinga dan ekor dua serigala itu keluar. Arzen memang berhasil menahannya. Tetapi Loofyn langsung dipakaikan tudung hoodie karena telinganya mencuat.


"Astaga, maafkan aku. Loofyn bisa menyembunyikannya lagi?" tanya Lucy sembari menilik ke dalam tudung hoodie.


Loofyn memegang kepalanya dan mengangguk. "Bisa mama," katanya.


Ia bernapas lega mengelus dada. Untuk tak sampai ketahuan. Bisa-bisa heboh orang mengira mereka membawa hewan peliharaan.


"Yang tadi hampir saja," ujar Arzen.


Lucy menghela, "Ah, aku harus berhati-hati memilih kata, ya?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa... Loofyn sudah pintar dan bisa membaca situasi," kata Arzen.


"Kalau begitu, kita mau ke mana dulu?"


__ADS_2