
"Mama ini di mana?" Loofyn langsung memeluk Lucy begitu ia terbangun.
Arzen tersenyum, "Apa kau lupa rumahmu sendiri?" tanyanya.
Kedua mata Loofyn membulat lucu. Ia mengitari seluruh kamar Arzen. Ia mencoba mengenali rumahnya sendiri.
"Yah, wajar kau tidak ingat. Saat itu kau masih sangat kecil. Bahkan belum ada satu tahu," gumam Arzen.
Lucy segera turun dari kasur. Ia juga ikut mengitari kamar seperti Loofyn. Tangannya mencoba meraba ukiran emas yang ia lihat.
"Apa kau juga ingin mengikuti Loofyn, Lucy?" Arzen terkekeh melihat Lucy yang berjalan di belakang Loofyn.
Mereka benar-benar seperti ibu dan anak dalam pandangan lelaki itu. Arzen menemukan dirinya bahagia hanya dengan melihat itu. Apalagi saat keduanya menoleh bersamaan melihat ke arahnya.
"Astaga kenapa mereka lucu sekali," batin Arzen sembari menyentuh dada kirinya.
"Ah, maaf. Aku hanya mengagumi keindahan arsitektur di sini. Apa ini tidak boleh disentuh?" tanya Lucy.
"Tentu saja boleh. Kau boleh melakukan yang kau mau di sini," balas Arzen.
Lucy kembali menjelajahi isi kamar Arzen bersama Loofyn. Hanya ada satu tempat tidur besar di dalam sana. Sofa untuk bersantai dan menerima tamu pribadi.
"Ini bahkan lebih luas dari seisi rumahku," batin Lucy takjub.
"Mama kenapa diam?" tanya Loofyn pada Lucy.
Gadis itu terbuyar dari lamunannya menatap interior kamar Arzen. Pria itu sampai heran apa yang membuat Lucy kagum dengan kamarnya. Padahal ia merasa biasa saja tidak ada yang istimewa.
"Kalau begini saja sudah terkagum, apa dia akan pingsan kalau kubawa mengelilingi seluruh istana?" pikirnya.
"Ini sudah pagi, apa kalian tidak mau keluar?" tanya Arzen.
Lucy tampak ragu. Ia takut keluarga kerajaan tak menerima kedatangan seorang manusia seperti dirinya. Arzen sepertinya mengerti apa yang gadis itu katakan melalui raut wajahnya.
"Tidak apa. Aku sudah mengatakan kedatanganmu pada Venus," ujarnya. "Tentu saja dia menerimamu. Kau sudah berbaik hati memberinya kue kering waktu itu," imbuhnya.
Lucy mengangguk, "Baiklah kalau begitu. Aku akan mandi dulu," sahutnya.
Arzen membuka pintu kamarnya. "Baiklah. Pelayan tolong layani gadisku dengan lembut," perintahnya pada 5 orang pelayan wanita.
__ADS_1
"Baik, Yang Mulia," sahut mereka kompak. Entah sejak kapan mereka berada di depan kamar Arzen.
Pria itu memanggil Loofyn, "Kau sini dan mandi bersamaku," ajaknya.
Anak kecil itu menurut dan berlari dengan kaki kecilnya menghambur Arzen. "Ada yang mau kau katakan pada mamamu?" tanya Arzen.
Loofyn melambaikan tangannya, "Mama sampai nanti!"
"Eh? Kalian meninggalkanku?" tanya Lucy sedikit panik saat pelayan itu melangkah masuk.
Arzen tersenyum jahil, "Hm, apa kau mau mandi bersamaku?" godanya dan membuat wajah Lucy memerah sampai ke telinga.
"Bicara apa kau, uh?" balasnya terbata. Ia sangat malu apalagi didengar oleh pelayan-pelayan yang ada di sana.
Arzen hanya tertawa lalu pergi dari sana. Barulah pelayan itu melakukan tugasnya. Mereka membungkuk sopan di depan Lucy.
"Selamat datang nona di Istana Kekaisaran Wolfeuxeas. Selamat datang di Istana Timur Eastolf, " ucap salah satu di antara mereka.
"Perkenalkan saya Relia Xen, ketua pelayan di Istana Timur Eastolf ini, nona. Kami berada di bawah perintah langsung Yang Mulia Kaisar datang untuk membantu keperluan nona mulai hari ini," ucap salah seorang di antara mereka.
Lucy ikut membungkuk sopan, "Terima kasih," balasnya terbata.
Ia jadi canggung sendiri karena perbedaan budaya di sini. "Anu, apa saya tidak boleh mandi sendiri?" tanya Lucy malu-malu.
"Kalau begitu kami bisa kena hukuman dari Yang Mulia, nona," ujar Relia Xen, ketua pelayan di Istana Timur Eastolf.
Lucy hanya bisa pasrah membiarkan mereka mengurus dirinya. "Mohon bantuannya, terima kasih," gumamnya.
"Nona tenang saja. Saya akan membuat nona menjadi sangat cantik hingga membuat Yang Mulia terpana," bisik Relia pada Lucy.
Selama dilayani Lucy banyak diam karena malu. Meski diam-diam ia menikmati perawatan dan pelayanan mereka yang membuatnya sangat puas. Ia hanya tak biasa saja karena tak pernah melakukannya di dunia manusia.
"Kulit nona halus sekali. Saya baru pertama kali melihat kulit manusia sedekat ini," puji Relia.
"Terima kasih. Eh, kulit manusia? Kalau begitu..."
Relia Xen mengangguk, "Kami bangsa werewolf kasta paling rendah di dunia ini, nona. Karena itu kami bekerja sebagai pelayan untuk mencukupi kebutuhan," ungkapnya.
"Ini berkat kebaikan dan murah hati Yang Mulia Kaisar terdahulu yang menurun sampai sekarang," timpal seorang pelayan yang lain.
__ADS_1
Lucy banyak mendengarkan cerita Arzen dari mereka. Para pelayan itu tak hanya melayaninya tetapi juga menjadi teman bicara agar ia tak bosan. Lucy menemukan para pelayan itu ternyata menerima kedatangannya.
"Saya jadi lega, nona Relia mau berbicara dengan saya. Sebelumnya saya takut untuk ikut ke sini bersama Yang Mulia Kaisar. Saya takut kalau manusia tidak bisa diterima di sini," ujar Lucy sedikit sedih.
Relia tersenyum mendengarnya. "Nona Lucy tidak perlu bicara formal dengan saya. Ini sudah menjadi tugas saya. Malah saya senang bisa melayani keluarga kerajaan dengan baik," katanya.
"Apa kau sepantaran denganku, Relia? Maksudku kalau kau lebih tua dariku aku bisa memanggilmu kakak," ujar Lucy saat ia menghadap cermin untuk mengenakan pakaian.
Relia terkejut, "Apa boleh seperti itu, nona? Saya bisa dihukum karena lancang pada anggota keluarga kerajaan," ujarnya.
"Anggota keluarga katanya..." batin Lucy.
Gadis itu tersenyum, "Tenang saja. Aku bisa memarahi Yang Mulia kalau dia menghukumu!" ujarnya antusias.
Relia tersenyum, ia kira akan tetap canggung dalam waktu lama dengan Lucy. Ia juga sempat menduga seperti Lucy apakah ia akan dihargai oleh manusia atau tidak. Rupanya Lucy sangat ramah bahkan pada pelayan sepertinya.
"Kalau begitu, panggil saya Relia, nona."
Lucy mengangguk, "Tentu. Kau bisa memanggilku Lucy kalau sedang berdua. Embel-embel nona membuatku terbebani," katanya.
Relia melambaikan kedua tangannya, "Kalau itu saya tidak berani," ujarnya terbata.
"Padahal aku berniat menjadikanmu teman di sini. Aku tak bisa terus di dekat Yang Mulia. Tentu saja aku membutuhkan teman perempuan," kata Lucy.
Relia jadi merasa bersalah karena menolaknya, "Anu, bagaimana kalau saya memanggil nona secara formal saat di depan Yang Mulia dan saat di luar istana?" tawarnya.
"Setuju!" sahut Lucy antusias.
Pertemanan di antaranya sudah terjalin. Tentu saja Lucy tetap menghargai pelayan yang lain seperti layaknya teman. Sejujurnya ia melakukan ini karena belum terbiasa diperlakukan seperti anggota kerajaan.
Saat ini Lucy sudah dibalut dengan gaun yang disiapkan oleh Arzen. Sebagai transisi untuk beradaptasi, ia menggunakan gaun yang masih sederhana. Tidak banyak renda dan pertama seperti gaun tuan putri kebanyakan.
"Dia tahu kalau aku suka warna biru, ya?" gumam Lucy melihat gaunnya di pantulan cermin.
"Aku suka ini, Relia. Sangat cantik!" pujinya.
Relia dan pelayan yang lain membungkuk. "Terima kasih, nona."
Klak!
__ADS_1
"Apa masih lama?"